Sunday, October 14, 2018

Gadis Penggenggam Hujan - Bagian 1

https://www.pexels.com/photo/adult-autumn-beauty-blue-268791/



“Darimana kamu? Seingatku bukan sekarang giliranmu mengatur hujan.” Pluie bertanya dalam curiga melihat Pioggia yang berjalan cepat melewatinya dengan kikuk. Ia merasakan ada yang ganjil dengan temannya itu.

“Aku hanya menjalankan tugas.” jawabnya singkat.

“Siapa yang menugaskanmu?”

“Dewan.” Piaggio menjawab lirih dan segera berlalu, ia bahkan tidak lagi melihat mata Pluie sahabatnya.

Pluie makin curiga dengan apa yang terjadi pada tanah Aros akhir-akhir ini. Semua terasa berbeda. Yang jelas semua orang menghindarinya, semua orang mengacuhkannya. Ini sudah berlangsung barang 10 hari. Apakah ini karena hubungannya dengan Marie diketahui orang lain? Ia berpikir dalam gelisah. Berteman dengan manusia bukan hal yang baik walaupun tidak juga dilarang. Mencintainya? Itu perkara pelik yang bisa mengancam kaumnya dan manusia, bukan hanya dirinya pribadi.

Pluie melangkah ragu menuju ke Sala, tempat berkumpul para tetua dan dewan. Setiap hari para dewan akan berkumpul, berdiskusi tentang banyak hal dan melakukan aneka penunjukan serta pengangkatan. Ketika berkumpul mereka selalu menghidangkan zaitun dan quiche sayur, tentu saja tidak ada daging dan unsur hewani karena kaum Aros hanya makan tumbuhan. Zaitun dan quiche jadi menu wajib di Sala. Setiap menghadap angota dewan, Pluie selalu menahan nafas karena ia sudah mual membau makanan yang bertahun-tahun terhidang di meja dewan. Ia bahkan sempat berpikir makanan yang terhidang mungkin diberi pengawet sehingga ibu-ibu di dapur utama tak perlu repot-repot memasak hidangan yang sama berulang kali.

Diskusi yang dilakukan juga membahas aneka hal yang terjadi di tanah Aros. Mulai penamaan bayi yang baru lahir, pemakaman kaum Aros yang wafat, penentuan hari berkabung, perbaikan rumah, pembersihan Sala dan rumah kaum, dan banyak hal lainnya. Masalah terpenting tentu saja adalah penentuan jadwal pembuat hujan. Itu tugas utama kaum Aros. Hujan di bumi didatangkan Pluie dan semua kaum Aros. Tentu saja ada ketentuan mengenai kapan, siapa yang mendatangkan hujan, dan hujan seperti apa yang didatangkan. 

Pluie adalah golongan Palladium. Ia sudah naik tingkat dari golongan terendah, Rhonium yang hanya bisa mendatangkan rintik hujan. Golongannya, Palladium bisa mendatangkan hujan gerimis. Ia sangat menyukai kenaikan pangkatnya. Hujan gerimis banyak disuka manusia. Hujan tidak lebat, ada, tapi tak terlalu membasahi bumi. Cukup sebagai penawar dahaga tanaman yang mendamba hujan, bisa juga menyejukkan cuaca sejenak sehingga hewan-hewan bisa tidur santai melingkar di bawah pepohonan.

Ia dulu juga diangkat dan dinobatkan naik golongan oleh anggota Dewan Aros. Ini tugas terpenting mereka, menentukan siapa yang layak naik kelas, pindah ke golongan yang lebih tinggi atau bahkan  menurunkan dan yang terburuk, mencopot mereka dari golongannya ke golongan yang lebih rendah. Ada ujian dan pantangan yang mentukan seseorang bisa naik atau turun golongan.

Ujian panjang bernama ketekunan, keikhlasan, kesungguhan, dan kerja keras selama tujuh hari siang malam itu dinilai oleh para dewan yang sudah berada pada golongan tertinggi, Rhodium. Di tangan mereka hujan badai dengan petir menyambar bisa tercipta. Mereka hanya mengeluarkan rapalan doa dalam pejaman mata tanpa nyanyian suci untuk mendatangkan hujan selebat dan semencekam itu. Sedangkan Pluie yang hanya golongan Palladium perlu bermeditasi, menyanyikan lagu pengiring datangnya hujan dalam pujian yang menyayat hati, dan melakukan tarian lembut dengan tongkat berbahan logam palladiumnya yang gerakannya sudah dipelajari susah payah selama lebih dari dua bulan dan diuji dalam ujian kenaikan golongan.

Kini Pluie berhadapan dengan pintu besar berbahan kayu oak yang berukir lambang kaum Aros. Ukiran dibuat oleh kakek buyutnya, dihiasi lingkaran daun zaitun dan awan mengembang di bagian paling atas. Dia sudah sampai di Sala. Tempat yang minggu lalu masih merupakan tempat biasa baginya untuk melapor ia telah mengundang hujan datang, tapi kini tempat ini jadi asing dan mencekam. Tidak ada pilihan lain ia mendorong pintu besar itu dan seketika deheman saling bersahut dan obrolan para anggota dewan berhenti seketika.

“Masuklah Nak.”seorang anggota dewan golongan Rhodium menyilakannya masuk ke dalam Sila.

“Terima kasih Pak.”Pluie masuk, langkahnya terdengar jelas menyapu lantai, padahal ia sudah mengayun tinggi-tinggi kakinya tetapi ia masih juga terseok berjalan dalam degup jantungnya yang tak lagi berirama.

“Duduklah.”orang yang sama menyilakannya. “Tunggu sejenak, setelah ini Ame akan memulai pembicaraan kita hari ini.”

“Ya Pak.”jawab Pluie. Seketika tenggorokannya tercekat. Ia tahu ini perkara pelik. Tak mungkin anggota dewan memanggilnya tiba-tiba hari ini. Jadwal pembuat hujan hari ini sudah ditentukan, jatuh ke tangan Pi, ia bertugas membuat hujan lebat tanpa angin hari ini, ia dari golongan yang sama dengan Pluie, lalu mengapa Pluie masih datang melapor ke para dewan di Sala?

Seorang laki-laki berjenggot putih lebat dengan uban berbaur rambut abu-abu berdehem dan merapatkan buku-buku jari tangannya, seakan ia mencengkeram telapak tangan kosongnya. Wajahnya sedikit memerah dan alisnya mulai menyatu berkumpul di tengah dahi. Ia menatap lurus ke Pluie yang duduk tegak, tegang, di kursi beludru yang sedikit apek baunya. Terlalu banyak orang Aros yang duduk di atasnya menghadap dewan sehingga pasti pengurus Sala tidak sempat mencucinya. Demi citra dirinya Pluie duduk tegak memantaskan dirinya tegar di depan Ame, ketua para dewan. Apa yang diucapkan Ame adalah titah. Ia pemegang janji, penegak janji, dan penjaga janji tanah Aros.

“Pluie! Pergi kau dari Aros. Sekarang juga!”

Pluie terhenyak kaget dengan ucapan Ame yang tiba-tiba dengan suara menggelegar itu. Ucapan itu adalah hal yang paling ditakutinya, hal yang sudah diperkirakan mungkin terjadi tetapi tetap tak dinyana akan benar-benar terjadi. Pluie merasakan seluruh keringat dinginnya bercucuran seirama dengan detak jantungnya yang berlarian kesana-sini. Lututnya serasa hilang tempurung dan rahangnya mencengkeram kuat barisan gigi geligi di sekitarnya. Getaran hebat bibir atas dan bawah diredam dari perintah otak yang sebenarnya tidak lagi bisa berpikir.

Semua orang di Sala tidak ada yang bereaksi. Tidak satupun membela Pluie. Ia tahu pamannya ada di sana tetapi diam membisu. Sekilas dari sudut matanya ia bisa melihat tak satupun anggota dewan menunjukkan rasa belas kasihan kepadanya.

“Tahu kau apa salahmu! Pergi dan jangan pernah kembali ke Aros! Tanggalkan semua yang berasal dari tanahmu ini. Lupakan Aros. Pergi!” hardiknya terakhir kali.

 Setengah lemas Pluie menanggalkan semua yang ada di tubuhnya. Ia menelanjangi tubuhnya, lembaran toga putih tak berjahit pun dibuat di Aros. Semua yang melekat padanya adalah dari Aros, ia pun orang Aros. Jika bisa dikuliti tubuhnya ia akan melakukannya dan meletakkan seluruh badannya tanpa jiwa di depan Ame dan para dewan.

 (bersambung)

#komunitasonedayonepost

#ODOP_6 


Melepasnya dalam Khidmat



“Biiiir, ayo cepet keluar.” suara nyaring ibu Sabir melengking memekakkan telinga di Minggu yang tenang. Dua ayam kate di halaman rumah hening seketika mendegar lengking suara pemilik rumah. Mereka tahu sedikit bergerak bisa membuat segalanya jadi runyam. Jika pemilik rumah berkehendak, segala sesuatu tidak bisa lagi diprediksi. Hanya pemilik rumah yang mampu melakukan hal-hal magis seprti ini, ha yang membuat para ayam teriam dari cerewet kotekannya. Tak seperti di dongeng hal magis mengambil tempat lama sekali, di dunia nyata hanya beberapa detik membungkam ayam-ayam itu.  Tak lama, mereka berkotek sibuk sambil menggoyang leher, sudah hilang kaget rupanya.

Yang bernama Sabir masih sibuk mematut diri di depan cermin. Memastikan setiap pori wajah sempurna. Dia butuh ketenangan di saat ini. Momen genting. Salah perhitungan bisa gawat. Hal yang paling dibencinya adalah saat ini, ketika konsentrasi ditajamkan dan kesunyian diperlukan tapi suara wanita yang paling ditakuti di rumah memecah kontemplasi yang sudah dilakukan hampir lima menit.

“Sabiiir! Ngapain kau di dalam nak?”bukan bertanya, suara ibu Sabir lebih seperti penyanyi opera bersuara sopran yang naik darah.

“Iya!!!. Tunggu sebentar!”Sabir menyahut tak kalah keras, memastikan ibunya tak memaksa minta dibukakan pintu kamar setelah mendengar jawabnya.

Sabir memicingkan matanya, mendekatkan wajah ke cermin. Ia menyibakkan rambut yang menutup sisi dahinya. Ia mengernyitkan dahi dan menelengkan kepala sampai dirasa dicapai sudut yang pas untuk mengobservasi penuh inci demi inci dahinya. Ia mendengus sambil mengernyit. Mundur sejenak karena sedikit lelah menatap wajah dengan terperinci. Ia mencoba lagi.

Akhirnya muncul tekad kuatnya. Ia berkhidmat lagi, mengumpulkan niat.  Disorongkan wajah hampir menempel cermin dan dikumpulkan dua jari telunjuknya mengarah pada satu gumpalan sangat kecil berawarna kemerahan di pangkal dan memutih segelap susu di ujung. Sabir sudah yakin. Kedua jari telunjuk menjepit gumpalan mini itu dan dipencetnya kuat-kuat. Cairan bening keputihan dengan bintik putih keluar dan diikuti sedikit darah.

Lega hati Sabir, selamat tinggal jerawat.




#komunitasonedayonepost

#ODOP_6   

Talam Balapis

sumber: resep nusantara



“Abi sudah diberikan ke Pak Hamid nak titipan Ibu?”

“Sudah Bu. Pak Hamid bilang terima kasih banyak.”
“Anak pintar, kebanggan Ibu. Gitu dong, jika ada amanah jangan lupa disampaikan, dikerjakan.” Lanjut ibu.

“Amanah itu apa bu?” tanya Abi.

“Amanah itu sesuatu yang dipercayakan untuk dijaga, dilindungi, dan dilaksanakan. Hari ini ibu memberikan amanah pada Abi untuk memberikan kue talam ubi dan balapis yang dibuat ibu untuk Pak Hamid. Ketika Abi menjaga kue-kue tadi untuk kemudian diserahkan pada Pak Hamid, artinya Abi sudah menjaga amanah dan melaksanakan amanah dengan baik.” Ibu menjelaskan pada Abi sambil terus megiris loyang berisi balapis, kue berlapis-lapis dari tepung beras dan santan yang diwarnai daun suji dan diberi pandan wangi. Abi menganggukkan kepalanya sambil melirik terus ke loyang kue.

“Bu, kotak perkakas ayah mana? Tadi di sini.” tanya ayah yang sudah berdiri di dapur bersama Abi dan Ibu.

“Loh, yang mana Yah?” tanya ibu.

“Tadi, ada di sini. Kotak isi obeng, mata obeng, gunting kawat,  yang seperti kotak makan itu bu. Kumasukkan plastik hitam di atas meja bambu itu.”

“Loh? Plastik hitam? Itu apa?” ibu menunjuk pada plastik hitam di atas meja bamboo, dekat ayah berdiri.

“Ini kue talam dan balapis. Bukan kotak perkakas Bu.” ayah menjawab keheranan setengah kesal.

“Ha? Kalau itu kue talam, jangan-jangan yang diberikan ke Pak Hamid?” Ibu tercekat tak berkata-kata.


#TantanganODOP5 #onedayonepost #odopbatch6 #fiksi

Ceres


https://www.pexels.com/photo/sky-space-telescope-universe-41951/

“Tim, kamu tidak berangkat kuliah? Profesor Kale akan datang memberikan kuliah umum hari ini kan?” Kemal sibuk menyelesaikan laporannya sambil bertanya pada Tim yang terkulai di kasur akibat clubbing semalam.

I know. Aku tahu ia akan datang. So what? Aku juga masih punya jatah bolos kuliah.” Tim kembali memejamkan matanya sambil menggeliat dan menekuk kaki.

“Kupikir kedatangannya berarti sesuatu untukmu. Maaf.” sambung Kemal.

“Ia berarti untukku jika ia ada untukku dan ibuku puluhan tahun yang lalu. Apa kerennya jadi profesor kosmologi kalau asal usul keluarga dan bagaimana menguatkannya saja ia tak paham.” Tim masih menjawab kesal.

Whatever Tim. Apapun itu yang jelas kalian berdua berkutat di bidang yang sama. Profesor Kale di bidang kosmologi dan kau mengawini astrofisika. Bukankah kalian berdua tergila-gila pada alam semesta ini? Seperti ini kau masih menolak kejeniusan ayahmu yang mengalir pada dirimu? Kalian memusingkan bagaimana alam ini terbentuk dan bagaimana sifat fisik berpadu, urusan bertatap muka saja saling menghindar.” Kemal menghela nafas dan kembali menatap layar laptopnya.

“Ah..shut up.” Tim melempar bantalnya mengenai punggung Kemal, sambil terus memainkan game console dengan khidmat. Kemal terkekeh melihat sahabatnya yang seunik tata surya. Penuh debris, pecahan batuan angkasa yang datang tak terduga, melayang-layang, tampak anggun, kecil tapi mematikan. Begitulah Tim. Ia mungkin mahasiswa yang terlihat biasa saja di kampus, tak terkenal, tak punya banyak teman, tapi sebenarnya jenius.

Kemal membalik majalah sains yang editornya ayah Tim sendiri, ayah tiri Tim lebih tepatnya. Ia kembali melihat sampul depan majalah itu, bukan edisi baru, edisi setahun yang lalu. Ia berhenti di halaman ke-56. Bukan judul yang membuatnya terhenyak, tetapi catatan di secarik kertas yang sudah menguning.

Ada perhitungan rumit yang baru dilihatnya dan simbol-simbol matematika yang cukup umum di memorinya. Kemal membalik kertas dan nampak kesimpulan yang mengejutkannya, estimation of impact probability, perkiraan peluang bertabrakan 98% 25 Oktober 2018 , dua hari lagi. Kemal melihat kembali judul artikel tempat kertas itu diselipkan. Penelitian Profesor Kale tentang asteroid Ceres, terbesar di kelasnya. Masih ada di orbitnya, sejauh ini.

“Eh…Tim, apakah ini Metode Monte Carlo?” Tanya Kemal penasaran dan gugup.

“Apa?” Tim melirik sepintas ke arah kertas yang ditunjukkan Kemal.

“Ini, perhitungan ini. Apakah ini Metode Monte Carlo? Untuk menentukan tumbukan asteroid dan benda luar angkasa lain dengan bumi.” Lanjut Kemal.

“Oh, itu. Bukan. Itu Vavilov dan Medvedev, aku pakai teori mereka. Belum diajarkan di kelas kita.” jawab Tim santai.

“Apapun itu, waktu bertabrakannya dua hari lagi?”

“Oh ya? Aku lupa. Larilah kalau kau mau.” Tim menjawab acuh tetap fokus pada game nya.

Kemal menghambur keluar mengapit majalah dan kertas hitungan sahabatnya di tangan. Kampus sasarannya. Jika benar hitungan Tim maka kurang dari 48 jam bumi belahan utara dihantam Ceres. Peluh deras menemani Kemal yang pontang-panting berlari hampir menabrak tong sampah di depannya.  

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6 

Pamit

Photo by Amornthep Srina from Pexels


Hari itu adalah hari yang biasa saja. Tidak istimewa hanya biasa seperti semua hari-hari yang lain. Buatku ini juga bukan sesuatu yang istimewa meskipun hari ini terakhir kali aku di sini. Seperti semua siklus hidup di dunia ini yang digariskan penciptanya, ada awal dan akhir, ada pertemuan dan perpisahan. Selalu, di tiap peristiwa hidup, ada manfaat yang bisa diambil. 


***
“Ayo kita bergegas.” Kawan baikku menyenggol tubuhku memintaku bergegas pergi.

“Sebentar aku ingin melihat rumah ini lebih lama lagi, sebentar saja, kataku bergeming sambil menengadah dan memutar kepalaku ke kiri, kanan, atas, dan bawah. Kulemparkan padanganku sejauh yang aku bisa.  Akhirnya aku akan meninggalkan rumahku dan berpindah ke rumah baru. Entah seperti apa tidak ada yang pernah tahu, tidak ada juga yang memberitahuku.

Aku sudah tinggal cukup lama di rumahku yang sekarang. Sudah lebih dari 5 bulan. Tapi aku masih beruntung, banyak kawanku yang tidak pernah berpindah rumah barang sekalipun dalam hidup mereka. Bagi manusia sering berpindah tempat tinggal dan beradaptasi dengan lingkungan baru bukan hal yang menyenangkan. Kebanyakan bersedih dan terbawa aneka kenangan dari tempat yang sudah mereka tinggali cukup lama. Tak sama bagiku. Pindah rumah itu menyenangkan.

Aku, darah, mengucapkan selamat tinggal pada rumahku. Saat ini aku berbaris bersama ribuan kawan lainnya, bergerak rapi keluar perlahan mengikuti sedotan selang berkepala jarum yang menempel pada lengan pemilik rumahku. Dengan lengan mantap bersandar, perlahan tapi pasti mengantarkanku keluar menuju kantong bening berlabel yang bergoyang kiri-kanan dengan selaras.

Wahai pemilik rumahku, sudah 5 bulan berselang, kelak cukup 3  bulan saja kau membiakkan kawan-kawan  baruku dan segera kirim mereka keluar dari tubuhmu. Saatnya kau mendapatkan darah baru, tenaga baru, yang segar dan penuh semangat, yang bisa memberimu jutaan ion , protein, dan air pembawa kemakmuran bagi seluruh tubuhmu. Jumlahku tak banyak, hanya delapan persen dari seluruh bobot tubuhmu dan aku sekarang menjadi bagian kecil dari koloni baruku. Aku pamit. Tugasku sampai di sini.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6 

Terdesak si Rakus

Photo by Kat Jayne from Pexels


“Aih geser dong.”ada yang berteriak ketika aku menyeruak masuk dalam kerumunan. Bukan hanya dua baris yang kulewati, mungkin lebih empat baris. Semuanya saling berhimpit dan berdesakan. Aku berusaha meliuk ke kanan dan ke kiri, ke bagian yang paling memungkinkan bagiku untuk masuk. Dalam usahaku yang bukan main sulitnya itu ada yang memarahiku karena aksi serobot yang kubuat. 


“Hei, kamu kan baru datang jangan asal main serobot dong.”suara lain menggerutu menghardikku. Aku tetap berusaha mencari tempat di lorong yang panjang dan sempit itu. Lorong ini bergerak menjepit, berdenyut  memastikan aku dan semua yang ada di dalamnya bergerak lurus mengikuti gravitasi ke kantong bawah yang kuat.

“Ini tempatku, coba kau cari di sana!”masih ada suara kesal menyuruhku mencari tempat di sisi lain. Banyak sekali yang menyuruhku menyingkir jauh. Mereka juga butuh tempat.

‘Awas!!!”tiba-tiba terdengar seruan kencang dan belum sempat aku minggir sudah kena seluruh bagian tubuhku oleh gelontoran cairan pekat kehitaman penuh kafein. Aku terangkat terombang-ambing ke kiri kanan. Mengapung tak ada kekuatan untuk bertahan di posisiku. Cairan ini asam dan membuatku muak. Warna dan baunya sungguh bukan sesuatu yang harusnya masuk bersamaku. Bukan hanya aku yang terapung bimbang, sekelilingku juga bernasib sama.

Ini aku, remahan makanan dalam lambung bekas pemilikku. Aku sedang berusaha mencari tempat dalam lambungnya yang terus saja diisi sampai penuh. Itu pun masih dimasukkan lagi kopi dan entah apalagi setelahnya. Hampir tak ada ruang kosong untuk gas hilir-mudik. Semuanya makanan, minuman, yang bergizi dan tak bergizi. Yang bermanfaat bagi tubuh pemilikku dan yang bukan.

Sebentar lagi aku akan dilumatkan oleh aneka enzim yang mengubahku menjadi pasta, itu tandanya aku masuk ke dalam usus. Di sini, di dalam lekukan dan tikungannya yang berkelok-kelok, ada  nutrisi, air, dan limbah yang sibuk diserap. Kandungan diriku yang baik juga terserap di sini, tapi gelontoran cairan pekat kafein tadi membuyarkan segalanya. Andai para manusia tahu, mereka harus menyisakan ruang dalam perutnya agar aku tercerna sempurna. Dasar rakus!


#komunitasonedayonepost
#ODOP_6 

Monday, October 8, 2018

Furrever Home - Perjalanan (Bagian 3)

Photo by Tatiana from Pexels



“Luz…kamu di mana? Jangan tinggalkan aku.” panik, aku mencari Luz. Baru sekejap aku membersihkan badanku mengapa ia sudah menghilang. Aku melihat sekelilingku dengan seksama. Bisa kulihat hari malam di luar karena sinar bulan yang masuk ke dalam got sangat sedikit. Bayanganku terpantul di dinding got besar. Aku bersyukur mataku bisa terbuka lebar. Luz pasti telah menjilat wajahku dengan mulut busuknya. Tetapi mengapa ia berbau busuk? Mengapa ia menjiatiku dan Sangmin? Mengapa ia kotor sekali? Kurasa badannya penuh lumpur. Mengapa ia menyuruhku membersihakn diri dan ia sendiri menghilang?

Aku senang tapi sedih. Merasa bebas tapi terkekang di dalam saluran pembuangan besar ini.  Aku meringkuk tak jauh dari pancuran. Tempat yang kering hampir tak ada. Kujilat bulu-buluku, kasar lidahku menyikat permukaan buluku. Aku berusaha untuk tenang tapi aku sebenarnya takut. Sebentar-sebentar aku berhenti menjilat dan melihat sekelilingku. Luz menghilang.
Aku tetap memanggil namanya, “Luz…kamu di mana? Luz…” kupanggil berulang kali dan tanpa jawaban aku tertidur dalam lapar yang mendera. Sulit bagiku untuk tidur, kepalaku mulai pusing dan aku membayangkan sardin lembut yang kumakan bersama ibu dan saudaraku.

“Uk! Bangun Uk!” suara yang kukenal membangunkanku, bau busuk itu datang lagi.

“Luz?”

“Ah kamu, Nak. Belum terbiasa kupanggil Yusha. Dari tadi aku memanggilmu mengapa kamu diam saja? Dipanggil Uk baru menoleh.”

Aku diam saja dan girang dalam hati, akhirnya Luz datang kembali.

“Ayo, cepat kita keluar. Kamu sudah bersih kan? Tunggu di sini.” perintahnya dan sejurus kemudian Luz membersihkan badannya di bawah pancuran. Dia kini tampak sedikit menyerupai sesamaku, badannya kurus, tulangnya kuat terlihat walau tertonjol tanpa tutupan daging. Mungkin usianya setua ibu. Rahangnya kuat dan mirip sepertiku kumis kami jarang-jarang. Ah kupikir hanya aku yang punya kumis jelek rupa. Dia pun sama.

“Ikuti aku.” perintahnya

Aku mengikutinya dalam hening.  Aku bahkan tidak tahu ke mana tujuan kami. Ajaibnya badan Luz tak bau lagi. Aku masih ingin bertanya mengapa baunya lebih sepuluh kali bau busukku yang terjebak entah berapa lama di got besar ini.

Kami berjalan menyisir pinggir got yang seidkit berlumpur. Kaki kecilku kotor, ringkih, tapi masih kuat untuk menahan badanku limbung akibat lumpur lengket di got. Yang kuingat kami melewati belokan pertama, tempat sekeluarga tikus bersarang. Mereka hanya mendesis tipis saat kami melewati. Luz berjalan sambil mengangkat dagunya pongah tanpa menoleh kea rah ereka, jadi kuikuti gaya berjalan dengan dagu terangkat, kecuali aku tetap menoleh kea rah mereka. Tak jauh dari tempat itu ada bagian got yang bersampah menggunung. Barisan kecoak sibuk keluar masuk sibuk tanpa kantuk. Dan kemudian kami bertemu dengan jenis kami yang lain. Luz memberi isyarat padaku untuk dekat dengannya, sambil berbisik dia berkata,”Tundukkan kepalamu.” maka aku mengikutinya.

Aku tidak berani memandangnya, karena Luz juga berjalan hati-hati, telinganya tegak lurus dan mulai bergoyang-goyang, bibirnya juga kulihat sepintas datar tak lengkung ke bawah. Ia waspada sekaligus gugup, maka aku pun ikut gugup. Aku membau teritori jantan yang tidak mau dilanggar. Mungkin dia adalah yang berkuasa di sini. Air seninya pasti sudah dilepaskan di sana sini agar Luz dan aku tahu kami sudah masuk ke wilayahnya, tidak bisa asal kami keluar masuk. Kejadian menegangkan ini berlangsung beberapa saat saja, untungnya, dan kami kemudian berjalan lurus tanpa suara sampai kami menemukan tangga naik ke permukaan got. Suara mulai terdengar bising ketika aku melangkah naik ke atas.

“Yusha, ayo cepat. Cepat!”

Aku bergerak cepat mengikuti Luz dan kami sampai di luar got. Baunya aneka ragam. Aku membau ikan, gurih, amis, keringat, sampah, bau aneh lain. Hidungku sibuk mengendus dan Luz berhenti berjalan sambil memandangku.

“Tadi itu tomcat yang berkuasa. Jangan sekali-kali kamu berurusan dengannya. Maaf tadi kita harus cepat-cepat melewatinya. Jangan kau Tanya padaku siapa namanya Nak, yang penting jauhi dia. Kamu tahu kita ada di mana?”

“Tidak.” jawabku.

“Ini dunia Nak. Kita sudah ada di lingkarannya.” Luz terdengar bangga saat mengucapkan kata dunia.
Aku tahu dasar lumpur berbau sudahh berganti dengan jalan padat yang kasar permukaannya. Walau bulu-bulu menyembul di antara  telapak kakiku tapi aku bisa tetap merasakan kasar jalanan. Aku mendengar bising di sana sini. Beda dengan kebisingan di dalam got yang terdengar bersahutan berulang, menggema memantul di dinding got. Mataku juga silau dengan sinar yang berkelebatan. Bau, sudah kubilang tadi bau aneka rupa ada di sini. Kadang aku membau sardin tapi kadang bau itu berganti bau lain. Dan aku paling tertarik dengan banyak benda bergerak cepat dan bersuara lantang, sambil masih berdiri tak lama kemudian aku belajar mereka disebut manusia.

“Yusha, perhatikan aku baik-baik Nak. Perjalanan kita dimulai hari ini. Kamu harus selalu berani, itu membuatmu tetap hidup. Jika hidup kamu akan bahagia. Perayalah, Nak. Dan dalam perjalanan ini aku akan mengajarkanmu banyak tentang manusia. Ingat-ingat pesanku, mereka pintar tapi juga bodoh. Cakap, tapi juga ceroboh. Kejam, tapi bisa juga lembut. Ini perjalananmu Nak, kamu siap?” pertanyaan Luz menutup petuahnya.

“Ya.” hanya kata itu yang terucap. Aku tidak juga siap, kesiapan apa yang kupunya sedangkan aku tak tahu apapun tentang dunia dan manusia. Tentang hidup dan masa laluku saja aku tak tahu. Tapi aku tertantang dengan perjalanan ini. Perjalanan, ya…kurasa ini penuh petualangan.

Brak!

Aku tiba-tiba limbung dan telingaku sakit oleh suara keras yang menjatuhkanku. Gelap…

(bersambung) 

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6 





Gadis Penggenggam Hujan - Bagian 1

https://www.pexels.com/photo/adult-autumn-beauty-blue-268791/ “Darimana kamu? Seingatku bukan sekarang giliranmu mengatur hujan.” ...