Monday, April 2, 2018

Life is a Race?

sumber gambar: https://goo.gl/ma3d1h/




Sahabat suka nonton film India? Pernah nonton film 3 Idiots yang dimainkan Aamir Khan dan ? Saya mengutip salah satu kalimat yang diucapkan profesor Viru, salah satu tokoh penting di film itu. I berkata, “Life is a Race, you run or you die. Simple” Begitu katanya. Apakah menurut Sahabat hidup ini adalah perlombaan?

Sebagai wanita tiga puluh tahunan maka perlombaan paling nyata bagi saya adalah mencari suami. Garis finishnya adalah pernikahan. Bagi saya pribadi sepertinya ini adalah perjuangan dan perlombaan maha berat. Tiap tahun silih berganti undangan dan kabar pernikahan berdatangan. Setiap datang acara reuni keluarga dan pertemuan keluarga pembahasan selalu pada “Gimana? Sudah dapat calon? Jangan lama-lama. Segera cari, ayo jangan di rumah saja. Bla blab la.” Tidakkah Sahabat merasakan betapa hidup ini tidak tenang? Saya harus berlari dan mencari garis finish itu?

Saya, sama seperti umumnya wanita Indonesia lain merasa bahwa pernikahan memang sebuah perlombaan. Siapa cepat dia tenang. Karena topic pertanyaan dalam aneka acara keluarga berkaitan dengan urusan ini. Bertemu teman lama pun pertanyaannya berputar pada masalah ini. Jadi, oke menikah sama dengan lomba. Tetapi ini pemikiran yang terlalu picik.

Menikah bukanlah perlombaan tetapi adalah sebuah komitmen antara pria dan wanita dewasa yang dibuat atas kesadaran yang dipertanggungjawabkan pada diri sendiri, keluarga, negara, dan agama. Ini definisi saya pribadi. Pernikahan adalah sebuah komitmen artinya ada kesepakatan dan kesungguhan yang dibuat untuk hidup bersama sampai ajal datang. Mengapa saya sebut komitmen antara pria dan wanita dewasa? Karena bagi saya hanya yang dewasa yang bisa melakukannya. Dewasa itu usia berapa? Bagi saya pribadi, bagi yang secara psikologis dan psikis sudah dewasa. Jika usia masih awal dua puluhan dan dibilang masih terlalu muda tetapi sudah bisa berpikir dewasa maka why not? Sama halnya jika yang bersangkutan sudah merasa dewasa tetapi fisik masih enam belas tahun maka saya rasa belum layak juga.

Saya menyebut pernikahan dibuat atas kesadaran karena memang ketika punya keinginan menikah harus benar-benar sadar. Ingat kan dengan drama Korea yang sering menunjukkan adegan tidak sengaja menikah karena mabuk? Bisa juga dalam kasus pernikahan dini karena adat, saya ambil contoh Mahatma Gandhi yang menikah pada usia 13 tahun karena pernikahannya diselenggarakan bersamaan dengan pernikahan dua orang kakaknya, agar irit budget maka diselenggarakan bersamaan. Padahal ia sendiri tidak tahu arti pernikahan. Komitmen dibuat oleh orang tua tanpa kesadaran penuh pihak yang menikah. Betapa bahayanya jika ini terjadi.

Terakhir komitmen yang dibuat dalam kesadaran penuh ini harus dipertanggungjawabkan pada banyak pihak. Yang pertama pada diri sendiri. Karena sudah memilih untuk menikah maka saya, misalnya, harus bertanggung jawab atas pilihan saya kepada diri saya yang utama. Bahwa ini adalah sebuah pilihan dan sebuah tanggung jawab yang saya emban dengan suka cita. Kemudian saya juga harus bertanggung jawab atas pernikahan saya pada keluarga besar. Ketika saya menikahi seorang pria, saya juga menikahi seluruh keluarga besarnya. Saya harus menikmati tinggal bersama sanak saudara yang bertambah banyak jumlah dan karakternya.

Pertanggungjawaban juga  saya berikan pada negara. Kok negara? Lha iya, kan saya akan mencatatkan pernikahan pada lembaga negara, maka saya tunduk pada peraturan yang mengikat saya dan suami nantinya. Saya juga harus bertanggung jawab memelihara keluarga baru saya untuk bisa hidup bahagia di negara ini dan tunduk pada aturan-aturan negara. Misalnya, punya kartu keluarga yang susunannya baru, melaporkan jika ada kelahiran, mencatatkannya, kemudian mendidik anak saya untuk menjadi manusia Indonesia yang baik.

Hal maha penting lainnya adalah mempertanggungjawabkan pernikahan saya pada agama, pada Allah, Tuhan yang saya puja. Maka bukankah segala tindak tanduk saya harus selaras dengan tuntunan agama dan wajib dipertanggungjawabkan kelak?
Pernikahan bukan sebuah lomba. Pada lomba, Sahabat mempersiapkan diri dan menikmati menjadi pemenang. Segala persiapan menuju pernikahan adalah persiapan lombanya, dan ketika Sahabat sudah sah menjadi milik sesorang maka mahar adalah pialanya? Saya rasa tidak seperti itu. Pernikahan adalah sebuah rahmat yang diterima untuk dipelihara dengan komitmen kuat. Ia bukan lomba, tetapi hadiah yang wajib dirawat.

Jangan takut jika Sahabat belum bertemu someone special yang akan dinikahi. Hadiah datang ketika tiba saatnya. Ini bukan perlombaan tetapi ini adalah usaha kita manusia untuk selalu berusaha berperilaku baik terhadap sesama dan mengharap hadiah dari-Nya segera datang untuk kita. Life is not a race. Life is a bless and we have to nurture the blesses. Hidup bukan perlombaan. Hidup adalah berkah dan kita harus merawat berkah itu (untuk mendapatkan keberkahan lainnya).


Sang Kala

Sumber gambar: https://www.huffingtonpost.com/2013/12/31/time-art_n_4519734.html “Ceritakan padaku apa yang perlu kudengar.” “...