Showing posts with label Wisata. Show all posts
Showing posts with label Wisata. Show all posts

Sunday, September 30, 2018

Lawang Kota Tua, Festivalnya Kera Ngalam

Dokumentasi pribadi


Pada tanggal 27 – 29 September 2018, masyarakat Lawang punya gawe. Sebuah festival yang masuk dalam 100 Wonderful Event dari Provinsi Jawa Timur. Acara ini dikurasi langsung oleh Kementerian Pariwisata dan menjadikan acara yang pertama kali digelar di Lawang ini sebagai oase bagi pariwisata Lawang.


Lawang adalah sebuah kecamatan bagian dari Kabupaten Malang yang terkenal akan potensi wisatanya. JIka Sahabat berkendara ke kota Malang maka Sahabat pasti melewati Lawang. Kecamatan ini menjadi kota kecil yang sebenarnya kaya peninggalan sejarah. Karenanya, Lawang diangkat pamornya melalui acara ini, karena sesungguhnya banyak potensi wisata Lawang yang belum banyak dikenal baik oleh warga masyarakatnya, maupun wisatawan dari kota lain.

Ada banyak acara yang digelar di festival yang berlangsung selama tiga hari ini. Acara dimulai dari parade budaya (karnaval) yang diikuti oleh banyak instansi. Acara juga diisi dengan aneka kompetisi mulai dari lomba tari tradisional (Tari Bopeng) dan juga acara Grebeg Sabrang. Lomba musik dengan alat musik tradisional dari bambu, yang lebih dikenal dengan nama patrol digelar di hari kedua dan acara lain seperti lomba fashion show dan lomba kuliner makanan tradisional non beras juga diikuti banyak peserta.

Favorit saya adalah lomba foto bangunan tempo dulu. Foto menjadi bukti keindahan bangunan tempo dulu yang menyimpan banyak kenangan dan sejarah. Saya baru menyadari betapa banyaknya bangunan peninggalan Kolonial Belanda yang berjajar tetap megah walaupun beberapa bagian bangunan terbengkalai. Beberapa bangunan tetap terawat sampai sekarang, sebagian lagi yang tidak diabadikan oleh jepretan peserta lomba masih bisa dilihat di beberapa sudut kota.

Acara yang paling ditunggu oleh masyarakat adalah bazar kuliner tradisional dan modern. Semua pasti bersemangat jika mendengar kata kuliner. Tentu saja stand makanan tradisional diserbu banyak pengunjung. Stand penjual didekorasi sedemikian rupa menggambarkan ciri tradisional tempo dulu. Aneka jajanan yang sudah jarang dijumpai seperti jongkong, gethuk, blendung, dawet campur, ketan sarikaya, gulali, arbanat dan lain-lainnya membuat lidah dan memori dimanjakan kembali pada suasana tempo dulu.

Panggung hiburan yang didirikan di tengah-tengah penjual makanan juga diisi dengan acara seni dan nyanyi yang membuat hangat suasana Lawang. Seluruh warga masyarakat tumpah ruah mencoba jajanan tradisional yang disajikan sangat tradisional dan juga penasaran mencicipi makanan modern kekinian yang jarang ditemukan sehari-hari.
Beberapa pengunjung datang dari Singosari, Pasuruan, dan kota-kota lain. Acara ini telah berhasil mengangkat pariwisata Lawang walaupun belum semuanya terjelajahi dan dengan apik terwakilkan di festival ini. Semoga di tahun depan festival ini bisa diadakan kembali dengan aneka acara menarik lainnya. Yuk berkunjung ke Lawang.

#TantanganODOP3 #onedayonepost #odopbatch6 #nonfiksi

Thursday, September 27, 2018

Pars Pro Toto – Festival Lawang Kota Tua 2018



Sebagai warga baru Kecamatan Lawang Kabupaten Malang, saya termasuk yang antusias dengan festival yang baru pertama kali digelar di kecamatan ini. Namanya Festival Lawang Kota Tua. (Kota) Kecamatan ini memang sudah tua, banyak bangunan bersejarah yang indah. Seperti biasa, banyak yang tidak terawat, termasuk gedung besar yang kabarnya dulu rumah kaum komunis yang makin tak sedap dipandang karena ditutup bangunan dan lapak semi-permanen pedagang Pasar Lawang bercampur dengan gundukan sampah ebrbau di tempat pembuangan akhir. Entah apakah TPA ini memang letaknya di situ atau karena sampah tak punya lokasi pembuangan maka dibuang di situ. Ini hanya intermezzo dari acara festival yang sesungguhnya, Sahabatku. Mohon sabar untuk terus membaca paragraf-paragraf selanjutnya.

Cerita festival ini sebenarnya dimulai dari pengumuman di media sosial yang gencar mengabarkan tentang festival yang akan dikunjungi oleh Menteri Pariwisata Indonesia ini. Festival diselenggarakan mulai tanggal 27 – 29 September 2019, meliputi aneka karnaval, lomba, pameran produk unggulan, pameran foto dan aneka kegiatan yang tujuannya mempromosikan Lawang sebagai salah satu destinasi wisata Jawa Timur. Titik acara tersebar di beberapa wilayah dan walaupun info pengumuman tidak banyak, bahkan minim untuk ukuran salah satu festival yang masuk 100 Festival Unggulan Indonesia, hari ini saya membuktikan bahwa pikiran saya salah. Warga antusias mengikuti acara pembukaan festival ini.

Hari ini dijadwalkan jam 10:00 dilaksanakan karnaval yang diikuti 16 instansi (menurut pembawa acara) dan entah berapa total jumlah peserta. Media sosial lokal banjir animo. Saya mengetahui tentang acara ini hanya sehari sebelumnya juga dari grup medsos yang jarang saya pantau. Warga ternyata tumpah ruah membanjiri jalan-jalan yang akan dilewati rombongan pawai. Banyak hal yang mengherankan saya dan memang akhirnya sungguh-sungguh penuh kejutan.

Pertama, pilihan hari karnaval. Biasanya karnaval dilaksanakan di akhir minggu. Tidak mengganggu kegiatan belajar-mengajar dan aktivitas harian lainnya. Pesertanya datang dari instansi dan sekolah, maka tentu saja para peserta bolos hari itu. Adapun yang tetap sekolah maka dipulangkan lebih awal. Lokasi acara juga menutup akses  beberapa sekolah dan acara penutupan karnaval berlangsung tak jauh dari rumah sakit umum daerah yang harusnya tenang. Pastinya acara karnaval digelar di hari pertama untuk membuka festival, maka…sudahlah abaikan argument saya di bagian ini.

Kedua, tidak ada pengamanan khusus dan pengaturan arus lalu lintas. Berdasarkan pengalaman saya sebagai penonton aneka karnaval, ada sterilisasi jalan-jalan yang akan dilalui peserta karnaval. Tentunya ini untuk keamanan peserta dan juga kenyamanan penonton. Saya mencari polisi tapi tak nampak seorangpun. Lalu lintas dan keamanan diatur oleh petugas berseragam hitam, bukan hansip, saya tak tahu apa nama kesatuannya. Lalu lintas dua arah dibuka satu lajur saja dan di beberapa jalan tetap dibuka seperti biasa dengan kerumunan penonton di kiri-kanan. Tentunya kurang nyaman dan berbahaya bagi penonton.

Ketiga, rute karnaval simpang siur. Dari yang saya baca di poster kenyataannya tak sama dengan yang di lapangan. Ini berkaitan dengan masalah besar lainnya yang saya bahas selanjutnya.
Masalah terbesar adalah manajemen waktu dan manajemen acara yang tidak baik dari panitia penyelenggara. Sesuai info di poster yang tersebar di medsos, acara dimulai jam 10.00 tetapi sampai saya pulang jam 13.00 acara belum dimulai. Molornya acara disebut karena menunggu kedatangan Bupati Malang yang kemudian berdasarkan info dari medsos, tidak membuka acara karnaval.

Konvoi peserta pertama berangkat sekitar jam 14.15 yang diberangkatkan oleh camat. Artinya peserta rata-rata menunggu sekitar 5 jam lebih karena kebanyakan datang jam 09:00. Wow, 5 jam yang sangat melelahkan bukan? DI tengah hangat matahari pagi sampai matahari menjadi sangat terik di jam 12:00 sampai jam 14:00, berkostum lengkap, dan lelah karena menunggu sang pembesar yang ternyata juga digantikan pejabat lain.

Saya yakin keadaannya pasti dilematis. Bagi peserta mereka lelah lahir batin, ingin pulang dan rehat di rumah tapi tekad dari awal sudah bulat untuk berkarnaval. Dengan situasi serba tak mengenakkan ini sangat merugikan peserta karnaval. Bagi penonton bisa langsung pulang ke rumah seperti saya yang lelah menunggu selama 3 jam tanpa kepastian dan tanpa info apa-apa dari pembawa acara. Peserta apalagi.

Dari yang saya baca di komentar para penonton karnaval, acara berlangsung kacau-balau. Banyak peserta yang pulang, yang tertinggal pun sudah lelah dan bersungut-sungut diombang-ambing ketidakpastian acara. Panitia tetap memaksakan menunggu Bupati dan pada akhirnya tetap dibuka camat, yang harusnya sudah siap sedari awal acara. Pun jika beliau  berhalangan tentu tak sulit untuk mencari pejabat lain yang bisa memberangkatkan peserta karnaval, jauh lebih mudah daripada Pak Bupati yang berangkat dari Malang Kota, kantor beliau dan mungkin juga ada banyak acara yang beliau wajib hadiri. Harusnya jadwal yang ada dipatuhi sehingga tidak merugikan banyak orang.

Parahnya, peserta kemudian berpawai tak sesuai rute. Banyak yang potong kompas karena terlalu lelah. Penonton yag sudah menunggu di titik yang harusnya dilewati kecewa dan kebingungan. Sya yang memantau kegiatan lewat media sosial di rumah jadi terheran-heran dan kecewa juga. Tiga jam bukan waktu yang sedikit bagi saya hanya untuk menunggu pawai yang harusnya menyenangkan. Peserta pasti lebih kecewa lagi.

Persiapan peserta mulai dari perlengkapan pawai, kostum, make-up, dan tentu yang paling berharga adalah waktu dan tenaga melebihi segalanya. Kebahagiaan dan semangat ikut meramaikan acara kecamatan tercinta jadi ternoda oleh pelaksanaan acara yang kurang termanajemen dan kurang terkoordinasi.

Entah bagaimana acara lain dari festival ini. Dari kejadian pagi ini saya kemudian punya persepsi bahwa acara lainnya pasti tidak menyenangkan juga. Ini karena sebagian kecil hal membuat keseluruhan tampak buruk. Hal kecil jadi mewakili hal yang lebih besar lagi, walaupun belum tentu benarnya. Pars pro toto!

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6 


Sunday, September 23, 2018

Semanggi Suroboyo, Ikon Kuliner Yang Terlupakan



Semanggi Ssuroboyo, lontong balap Wonokromo
di makan enak sekali, sayur semanggi krupuk puli
bung… mari....
harganya sangat murah, sayur semanggi suroboyo
didukung serta dijual, masuk kampung, keluar kampung
bung.. beli…
sedap benar bumbunya dan enak rasanya
kangkung turi cukulan dicampurnya
dan tak lupa tempenya
mari bung, coba beli, sepincuk hanya setali
tentu memuaskan hati
mari beli, sayur semanggi, bung… beli…


Ini adalah lirik lagu Semanggi Suroboyo, lagu keroncong yang tenar di tahun lima puluhan. Lirik lagu ini sederhana, sesederhana panganan asli Surabaya. Adalah kampung di wilayah Sambikerep Surabaya yang dihuni oleh penjaja semanggi Suroboyo, dikenal juga sebagai pecel semanggi karena wujudnya mirip pecel sayuran pada umumnya.
Semanggi adalah tanaman paku air yang banyak ditemukan di sawah. Tanaman ini menjadi gulma padi dan tanaman pangan lain sehingga kemudian banyak diambil dan diolah jadi makanan. Kini, daun semanggi dibudidayakan, dikembangbiakkan untuk menyuplai penjaja makanan ini.

Daun semanggi segar yang disiangi dari sawah dicuci bersih dan kemudian direbus. Setelah ditiriskan bumbu pecel disiapkan. Berbeda dari pecel yang menggunakan kacang, gula merah, dan bumbu lain pecel semanggi menggunakan ubi kuning dengan sedikit kacang dan ditambah petis untuk memperkuat rasa. Ubi direbus dan kemudian dihaluskan bersama bumbu-bumbu lain. Tanpa daun jeruk, kencur, dan bumbu-bumbu lain, saus pecel ini tetap nikmat. Rasa legit didapat dari manisnya ubi. Petis bertugas sebagai penyedap rasa.  Campuran yang pas dimasak sampai menjadi bumbu yang kalis. Dengan dicampur air maka bumbu pecel ini siap menemani sayur semanggi.

Pada syair lagu Semanggi Suroboyo, kangkung, bunga turi, dan cukulan menemani semanggi. Kangkung tidak banyak dipakai para penjual karena harganya cukup mahal dibanding daun ubi. Maka daun ubi menggantikan kangkung. Bunga turi juga tidak lagi mudah ditemukan, pohonnya makin langka. Jadilah daun ubi bercampur kangkung dan semanggi diguyur bumbu pecel semanggi.

Semanggi dijual oleh penjual yang menyunggi dagangannya sambil membawa seplastik besar kerupuk puli, kerupuk khas semanggi yang jumbo ukurannya. Penjual yang modern memakai sepeda motor untuk menjajakan dagangannya. Tak banyak penjual semanggi Suroboyo sekarang. Selain karena bahan baku daun semanggi yang susah didapat, karena sawah pun berkurang, masyarakat lebih menyukai makanan modern yang kekinian. Orang Surabaya asli pun banyak yang tidak tahu apa itu Semanggi Suroboyo alias pecel semanggi. Kuliner khas ini perlu dilestarikan dan dijadikan ikon wisata kuliner Surabaya selain rujak cingur yang tiap tahun sudah dibuatkan festivalnya.


#TantanganODOP2 #onedayonepost #odopbatch6 #fiksi/#nonfiksi

Sunday, September 9, 2018

Kalimas dalam Langkah Kaki, Menikmati Wajah Kota Tercinta




Jika ditelisik lebih dalam lagi, banyak sisi menarik yang bisa digali dan dikuak dari Surabaya. Walaupun Surabaya kota industri dengan banyak mall  dan pusat perbelanjaan yang bertebaran di hampir semua sudut kota, ada hal yang bisa kita nikmati dari kota ini.  Aneka lanskap kota, sejarah kota, dan orang-orangnya menjadi hiburan tersendiri jika kita bisa menangkap keunikannya.Tidak melulu bersantai hanya dilakukan di tempat-tempat keramaian, gunung, pantai dan lainnya.

Salah satu kegiatan pelesiur sederhana yang menantang dan unik adalah dengan berjalan kaki menjelajah kota pahlawan. Saya salah satu yang pernah menikmati pelesir nyeleneh ini. Adalah sebuah kegiatan yang dinamai Kalimas On Feet dilakukan oleh pegiat sejarah Dhahana Adi, akrab dipanggil Mas Ipung mengajak masyarakat umum di tahun 2013 lalu. Sesuai nama, saya berekreasi menyusuri Sungai Kalimas dan menyelami jantung kota dengan berjalan kaki. Bersama beberapa teman baru, saya bertemu di Taman Bungkul, taman cantik yang dibangun dengan keseriusan dan berbuah banyak penghargaan. Kami menyusuri Sungai Kalimas dari hulu ke hilir berjalan kaki, on feet. Karena hulu Kalimas ada di Mojokerto kami ambil start dari Taman Bungkul berjalan ke arah Jalan Darmokali dan terus masuk ke dalam gang padat penduduk sampai kami menemukan Sungai Kalimas di daerah Ngagel.

Sungai Kalimas dipilih sebagai jalur pelesir kami  karena dulu sungai ini adalah jalur perdagangan utama. Sungai yang membelah kota Surabaya ini adalah sungai penting pada jamannya yang menghubungkan pelabuhan Kalimas dan nadi perdagangan kota. Siapa yang menyangka sungai yang sekarang berbatasan dengan pemukiman padat penduduk di bantaran kalinya adalah sungai yang sudah dipakai sebagai jalur masuk ke ibukota Kerajaan Majapahit di Trowulan. Bahkan menurut catatan sejarah di sungai ini terjadi pertempuran antara Raden Wijaya, pendiri Majapahit melawan pasukan Tartar dari Mongol sekitar abad ke 11.

Pada masa penjajahan Belanda, di bawah VOC sungai ini membawa aneka komoditas perdagangan, pertanian, dan hasil bumi lainnya dari pelabuhan Kalimas,, melewati wilayah pecinan, kampung arab menuju ke pusat kota dan pusat pemerintahan. Pada masa kini sungai ini sudah dilupakan cerita dan keberadaannya oleh warganya sendiri. Rumah warga berjarak hanya sekitar 5 meter dari Kalimas. Ini pun sudah jauh lebih baik daripada dulu kala ketika sungai ini kotor tak terawatt. Melalui elesiran kali ini saya jmenjadi peserta yang ingin mengingat kembali sejarah kota sambil bersantai, mencari keunikan dan cerita kota serta menikmati udara pagi Surabaya.

Hari itu, Minggu pagi sekitar jam 9 pagi saya sampai di daerah Keputran. Hiruk pikuk pedagang Pasar Keputran mulai berkurang. Yang tetap ada bau sampah menyengat yang menemani saya menghela napas sejenak di taman kecil tepat di pinggir Kalimas di persimpangan Jalan Kayoon – Jalan Gubeng. Menyeberangi jembatan Gubeng saya mendapati gjalan kecil yang disebut gang Pattaya oleh masyarakat karena terkenal sebagai tempat berkumpul para gay. Saat itu dinding-dinding belakang bangunan yang memunggungi sungai penuh gambar, coretan, ratapan, makian, dan juga nomer HP para gay. Jalan kecil ini saya susuri terus sampai mengarah ke jembatan Gubeng dekat Monkasel. Ada pemancing ikan dengan kail, jala, dan ada juga yang hanya sekedar duduk-duduk santai.

Terus berjalan di bawah matahari yang mulai terik saya melewati Taman Prestasi. Ada sampan wisata yang bisa dinaiki di taman ini menyusuri Sungai Kalimas sampai ke arah Ketabang Kali. Saya dan teman-teman lainnya memilih untuk berjalan. Saya temukan patok pembatas kecamatan di pinggir jalan sebagai penanda sudah saya lewati kecamatan satu masuk ke kecamatan lain. Yang paling menarik bagi saya adalah kawasan kota tua nya Surabaya. Memasuki wilayah Krembangan saya melihat gedung-gedung tua colonial dengan lebih seksama. Sejarah mencatat gedung Polrestabes punya terowongan yang terhubung dengan penjara Kalisosok di kawasan JMP. Gedung besar di kiri kanan dekat kawasan Jembatan Merah adalah peninggalan bersejarah yang masuk dalam bangunan cagar budaya.

Menyeberangi Jembatan Merah masuk ke Jalan Panggung saya mengarah pada gudang-gudang tua yang membisu dimakan usia. Debu-debu dan jalan yang bergelombang penuh dengan truk terparkir rapi. Di bangunan ini ramai dipakai untuk foto pre-wedding, sayang banyak yang mungkin hanya berfoto tapi melewatkan cerita kejayaan wilayah yang sekarang sepi ini.

Masih ada bekas rel di depan barisan gedung dan gudang tua yang berdiri gagah menghadap aliran Kalimas. Di ujung jalan ada Jembatan Petekan yang jadi jembatan satu-satunya yang bisa membuka bagian bawahnya ketika kapal masuk. Ah siapa sangka dulu kapal-kapal besar pembawa hasil bumi melalui jembatan yang kini jadi kaki tua reyot berkarat di pinggir jalan raya yang tingginya sudah hampir separuh badan jembatan. Sayapun baru melihat jembatan itu, tidak pernah saya tahu jembatan itu sudah ada jauh sebelum kota ini mempercantik diri dalam moderenisasi.

Dengan sisa-sisa tenaga dan panas matahair yang smeakin menyengat saya mengatur nafas kembali dan melaraskam langkah kaki yang gontai. Saya mau mencapai tujuan akhir saya, pelabuhan Kalimas. Pelabuhan ini pun sekarang lalu lintas hilir mudiknya sudah hilang digantikan oleh Pelabuhan Tanjung Perak.  Semakin asing ujung kota ini bagi saya. Yang ada hanyalah gudang-gudang dengan nama PT ini itu yang dipenuhi truk-truk besar. Tidak ada rumah penduduk terlihat. Gersang dengan warung-warung kecil dan tukang tambal ban berceceran. Inikah akhir pusat geliat warga Surabaya? Nampaknya memang seperti itu. Kawasan ini tidak bersahabat untuk pemukim, cocok untuk berniaga dan berekspedisi kirimmengirim barang.

Toh tujuan tercapai. Dengan usaha keinginan terpenuhi. Usaha untuk berjalan kaki, melawan panas, merancang tak memaknai semua detil kehidupan kota yang saya susuri. Perjalanan saya terhenti di pelabuhan tradisional Kalimas. Saat itu sekitar jam 1 siang. Pelabuhan yang dipunggungi rumah sakit pelabuhan ini bertembok tinggi tak Nampak pelabuhan dari luar. Rasa puas melawan lelah kaki dan kekaguman akan cerita kota membawa saya pada perasaan campur aduk. Apalagi saat saya benar-benar melihat eprahu tradisional. Yang punya layar, yang badannya dari kayu bukan badan besi, yang berhenti entah dalam perbaikan atau sudah lelah berlayar. Saya puas. Saya benar-benar sampai di pelabuhan. Tempat semua perasaan saya dalam pelesir ini berlabuh. Capek tapi puas.

Saya sudah menangkap cerita kota dalam lensa pandang saya. Inilah wajah kota dan manusianya. Hidup dalam rutinitas hari Minggu yang tidak biasa. Jika hanya dimaknai sebagai kehidupan biasanya orang biasa maka tidak ada menariknya pelesiran saya. Tapi saya mencoba memahaminya sebagai sebuah wisata manusia kota dan sejarahnya. Ada selalu hal menarik mata, hidung, dan batin saya. Ada rumah-rumah dengan pompa air tangan jadul di depan rumah yang sekarang sudah jarang ditemui. Ada perahu tambang yang menyeberangkan kami dengan 2000 Rupiah per orang dari jalan kampung ke arah Ngagel, dekat hotel Novotel. Ada tempat yang akrab disebut BAT oleh warga, yang  dulunya kantor British American Tobacco. Ada nelayan pencari ikan sapu-sapu dalam sampan-sampan kecilnya, ada anak muda pamer skill berdiri seimbang di papan skateboard, ada cerita kota tua pecinan, daerah gay, taman mesum yang jadi taman keluarga, dan banyak cerita lainnya. 

Wajah kota pun terus berganti sejalan dengan langkah kaki kami.Betapa menarik kehidupan masyarakat kota berubah wajah hanya dari bentuk bangunan, pilihan coretan mural, pilihan warna tembok rumah, dan nama jalan. Kaya, sungguh kaya warga kota ini akan kemajemukan dalam segala aspek kehidupan.


#komunitasonedayonepost
#ODOP_6 


Thursday, August 23, 2018

Ketika Bromo Tak Seindah Itu

sumber: malangtoday.net



Ketika mencari destinasi wisata terbaik Jawa Timur maka dengan mudah saya googling dan ketikkan kata kunci. Bromo pasti masuk sebagai salah hasil pencarian. Lebih tiga belas tahun setelah berhasil mencapai puncaknya, saya meyakini ini adalah tempat wisata dengan kenangan paling berkesan. Bukan keindahan si maha tinggi, tapi kenangan anak dan ibu yang terpintal disana.

Apa yang paling indah dari gunung ini? Pasirnya? Waktu saya ke sana lautan pasir menghampar. Wajarnya memukau saya, tapi karena datang terlampau siang dan kembali ke hotel terlalu cepat, jadi bagi saya lautan pasir yang seharusnya wow itu jadi biasa saja.

Kawah gunung yang indah harusnya jadi salah satu pesona. Saya pikir juga begitu, tapi ketika saya naik ke puncak, ya terlihat seperti kawah saja. Saya mengharapkan sesuatu yang lebih. Mungkin saya naik ke puncak yang salah, atau saya melewatkan upacara Kasada yang termasyur itu sehingga kawah tak ubahnya ceruk besar dengan asap yang sedikit mengepul.

Sunrise? Oh saya tidak melihatnya. Matahari sudah tinggi dan saya lupa keindahan apa yang berbekas dari sang surya. Saya meninggalkan hotel hampir jam enam pagi. Matahari sudah muncul dan tentu saja the sun has risen, matahari telah terbit.

Perjalanan melewati lekuk dataran tinggi sampai ke Gunung Bromo wajibnya indah. Saya tak terlalu menikmati karena jantung berdebar takut melewatkan matahari terbit. Akhir cerita saya memang pengunjung yang datang terlambat. Jalanan yang indah jadi biasa saja tak istimewa. Oh ya, sehari sebelumnya saya dan rombongan sudah nyasar sampai terlambat dari rombongan lain tiga jam lamanya. Saya sudah puas naik turun bukit sampai mual. Mungkin karena ini perjalanan dari hotel ke Bromo jadi biasa saja, bisa jadi saya terlalu takut mual lagi.

Bicara tentang mual, kemualan itu justru salah satu yang indah. Mama membaringkan saya di pangkuan beliau dan memijat leher agar saya tak mual sore hari sebelum sampai di Bromo. Pasir yang menghampar tak seindah kekaguman mama akan kuasa Allah yang menaburkan jutaan pasir jadi satu lautan. Kawah gunung yang jadi penghabisan saya menaiki puluhan anak tangga ke puncak tak semenantang berkuda dari parkiran mobil ke undakan pertama menuju puncak. Berkuda bersama mama melewati kerikil dengan kuda yang mendengus jauh lebih menarik.

Oh ya, tentang sunrisenya? Tak sehangat kala saya menikmati sarapan di hotel sesudah perjalanan super singkat ke Bromo sambil menghirup teh panas. Dibandingkan kemolekan sang gunung yang angkuh berdiri dihujani decakan kagum pengunjung, semua masa yang saya habiskan bersama mama adalah yang paling indah.

Tiga belas tahun dan saya masih mengingat dengan baik apa yang kami lakukan berdua di sana. Bukan gunung dan segoro wedi (1) yang membekas di memori, tapi perjalanan singkat saya dan mama menuju Bromo, menghadiri kawinan sepupu yang dimantu lurah desa di kaki Bromo, dan cerita-cerita antara kami berdua di bus dan mobil sewaan dari Mojokerto, Tulungagung, dan Probolinggo.

Kenangan itu adalah liburan terakhir bersama mama. Kenangan paling indah, perjalanan wisata mama di bumi yang peghabisan. Jika saya bisa kembali ke masa itu, bukan Bromo yang saya perlukan. Cukup tidur bersebelahan sambil memijat mama sepanjang malam.


(1) lautan pasir

Sang Kala

Sumber gambar: https://www.huffingtonpost.com/2013/12/31/time-art_n_4519734.html “Ceritakan padaku apa yang perlu kudengar.” “...