Showing posts with label Kesehatan. Show all posts
Showing posts with label Kesehatan. Show all posts

Sunday, November 25, 2018

Senggugut

Photo by rawpixel.com from Pexels



Tari meremas sprei kasur yang menghangat karena ditimpa tubuhnya semalam. Keriput sprei mengikuti gerak tubuhnya yang beringsut, mengejang, menggelinjang, diikuti peluh dan kernyitan kedua alis mata dari tengah malam. Matanya terpejam rapat selaras dengan bibirnya yang terkatup. Terkadang bibir jadi korban digigit gigi yang menikuti riuhnya situasi perut.

Di rahim otot-otot saling serang, menegang, mengencang, menjadi-jadi ketika dindingnya meluruh. Pembuluh darah menyerah pada tekanan otot dan memutus suplai darah dan oksigen. Keluar bahan kimia alami bernama prostaglandin yang melahirkan jutaan rasa nyeri. Senggugut.

Tari tetap berada di kasurnya yang tidak lagi nyaman. Semua terasa berat dan menyakitkan. Ia tidak akan masuk kerja hari itu. Tak berdaya ia menunggu sesorang datang dan menerobos masuk kamarnya, mungkin ada yang iba membuatkannya teh panas atau membantunya menegakkan punggung.


#ODOPBatch6
#OneDayOnePost

Sunday, October 28, 2018

Hantu Bernama Demensia

sumber: pexels.com


Sahabat, pernahkah Sahabat mendengar kata kognitif atau frase kemampuan kognitif? Biasanya banyak digunakan untuk membahas tentang tumbuh kembang anak. Kali ini berbeda. Bukan perkembangan kognitif yang akan dibahas, tetapi sebaliknya, tentang kemunduran atau hilangnya kemampuan kognitif. Sebelum mengetahui lebih lanjut tentang topik yang dibahas kali ini, saya sengaja mengajak Sahabat semua untuk memahami arti kata kognitif.

Kemampuan kognitif artinya kemampuan untuk mengenali. dan fungsi kognitif ini bisa mencakup kemampuan berbicara, memahami informasi, memahami ruang gerak, menilai, memberi perhatian dan daya ingat. Dari kecil ada perkembangan tahapan kemampuan kognitif yang berkembang dan makin berkembang maksimal ketika diberikan rangsangan yang tepat.

Seperti halnya banyak hal yang lazim terjadi di dunia, ada awal maka ada akhir. Ada perkembangan maka ada pula penurunan, ini juga terjadi pada kemampuan kognitif manusia. Adalah sebuah gejala sekelompok penyakit yang mempengaruhi otak. Jika kemudian sesorang mengalami ketidakmampuan melakukan kegiatan sehari-hari yang menjadi tanda berkurangnya kemampuan kognitif akibat fungsi otak yang banyak terpengaruh, maka ini yang disebut dengan demensia atau yang umum disebut sebagai kepikunan. Berbeda dengan pikun yang hanya lupa nama, demensia lebih dari itu dan lebih serius dari pikun yang mungkin Sahabat tahu.

Pada dasarnya dokter akan menentukan seseorang terkena demensia atau tidak dilihat dari beberapa (dua atau lebih) fungsi kognitif yang terganggu. Orang-orang yang terkena demensia bisa berubah kepribadian, emosi jadi labil, dan juga sulit mengenali lingkungannya. Tidak hanya sulit mengingat nama anggota keluarga, tapi tak bisa mengingat siapa anggota keluarga tersebut. Orang dengan demensia bahkan tak tahu mengapa ia harus makan, mengapa ada kancing di baju, apa gunanya bola, dan lain sebagainya.

Tahukah Sahabat apa yang terjadi di otak jika seseorang terkena demensia? Beberapa sel syaraf di otak berhenti beroperasi, lepas dari sel lain dan mati. Sering kita dengar manula yang pikun kemudian mudah dibilang,"Ya biasalah pikun, namanya juga orang tua." Sebenarnya kepikunan yang dimaksud bukan sekedar lupa saja, tapi ketika sudah tidak bisa lagi mengenali lingkungan seperti beberapa contoh yang saya uraikan sebelumnya. Ini bukan penyakit yang muncul ketika seseorang menua. Demensia adalah penyakit di otak, kebanyakan diderita oleh orang tua. Sekali lagi demensia tidak lantas muncul ketika seseorang menua. Demensia bisa terjadi pada orang usia di bawah 65 tahun juga. Bahkan demensia bisa terjadi karena faktor genetik, dan ini adalah salah satu yang terlangka.

Sahabat perlu mewaspadai jika ada anggota keluarga yang berpnyakit jantung tapi tak diobati, tekanan darah tinggi, dan kurang aktif secara fisik dan mental adalah mereka yang punya resiko tinggi terkena demensia. Penyebab demensia sendiri dipicu beberapa penyakit yang menyerang otak. Sekali lagi demensia adalah istilah untuk merujuk pada gejala sekelompok penyakit yang mempengaruhi otak, jadi demensia bukan satu penyakit yang spesifik. 

Penyebab demensia salah satunya adalah alzheimer. Alzheimer diakibatkan oleh kumpulan protein abnormal yang membentuk plak dan kemudian bersama dengan serat membelit syaraf di otak. Akibatnya komunikasi antar sel syaraf terganggu dan kemudian mati. Awal mula serangan alzheimer dengan hilangnya daya ingat.

Sementara penyakit lain yang mengakibatkan demensia adalah demensia bvaskuler. Pembuluh darah di otak rusak sehingga terjadi stroke. Ada pula penyakit lewy body yang ditandai oleh gumpalan protein abnormal di dalam sel saraf otak. Akibatnya ada perubahan dalam bergerak, berpikir, dan berperilaku. Bisa saja pendeita penyakit ini mengalami halusinasi, kadang normal kadang kumat.

Ciri-ciri umum demensia adalah:
  • ·         Sering lupa, semakin lama semakin berat
  • ·         Merasa bingung
  • ·         Perubahan kepribadian
  • ·         Tidak peduli dan menyendiri
  • ·         Kehilangan kemampuan melakukan pekerjaan sehari-hari

Sejauh ini tidak ada obat untuk demensia. Demensia belum bisa disembuhkan tetapi bisa dikurangi gejalanya. Pendampingan maksimal dari keluarga adalah yang terampuh untuk mengurangi gejala demensia.

Kerennya kegiatan menulis dan membaca termasuk yang ampuh menangkal demensia loh. Karena kedua kegiatan ini aktif melibatkan otak untuk berpikir kritis dan menganalisis. Kegiatan lain adalah dengan aktif berolah raga, aktif berkomunitas dan selalu aktif bergerak. Nah mari mulai dari hal kecil yang sangat mudah dilakukan seperti rajin membaca dan menulis. Ayo diniatkan untuk mengobati diri dan mencegah demensia di masa yang akan datang. 



Sumber:
https://www.dementia.org.au/files/helpsheets/Helpsheet-AboutDementia01-WhatIsDementia_indonesian.pdf




#komunitasonedayonepost
#ODOP_6 

Memori

sumber: Photo by Matthias Zomer from Pexels



“Bu, ayo makan.”aku mengajak ibuku makan.

“Nggak mau. Sudah. Pergi. Sana pergi!” hardik ibu padaku.

“Ibu belum makan. Sudah waktunya makan malam ini bu. Dari tadi ibu belum makan.”aku mulai meninggikan nada suaraku. Aku memaksanya makan. Kusorongkan sendok penuh isi nasi, sayur labu siam dan sesuwir ayam goreng ke mulut ibu yang rebahan di ranjang.

“Nggak mau!” Ibu menjerit dan menepis keras tanganku sehingga sendok terpental jatuh ke lantai dengan nasi, sayur, dan lauknya berhamburan.

Aku beranjak pergi dan dengan kesal kulempar piring ke dekat ember penuh air untuk menyuci piring. Prang…piring itu pecah dua keping di lantai. Aku membuka pintu depan rumahku dan duduk di teras rumah.

Sudah beberapa hari ini ibuku malas makan. Setiap ditanya jawabnya sudah makan, padahal aku tahu ibu belum makan. Ibu hanya tidur dan terus tidur. Kutanya apa yang diinginkan, ibu hanya menjawab tidak mau. Padahal aku belum menawarkan apa-apa.

Semalam lebih parah. Ibu tiba-tiba memanggilku sekitar jam sepuluh malam ketika aku asyik membaca di kamarku. Ibu menanyakan di mana ayah dan Tante Rosida. AKu bilang mereka sudah tiada dan ibu berargumen panjang lebar bahwa mereka datang ke rumah kemarin, mereka masih hidup, aku durhaka mengatakan yang tidak benar, aku pembohong, dan segala macam hal. Tadi pagi ibu masih menanyakan lagi tentang mereka, sampai kubawa surat kematian ayah dan kubacakan keras-keras tulisannya agar ibu mendengar tapi ibu tetap membantah semua fakta jelas itu.

Aku juga mulai jengkel karena ibu di kamar mandi lama sekali. Sejak ibu banyak tidur, ibu sering mandi dengan durasi dua kali lipat dari biasanya dan sering lupa mengancingkan baju. Ada saja kancing yang belum masuk ke lubangnya. Ibu juga sering mengomel tentang sandal kesayangan beliau yang katanya tidak enak dipakai. Padahal letaknya terbalik  sisi kiri dan kanan, pernah juga ibu menginjak sol bagian luar dan diseret saja di dalam rumah.

“Rin! Ibu mau ke rumah Bu Dar.” Ibu keluar dari kamar beliau sudah rapi dengan baju tunik beliau dan celana panjangnya.

“Ibu, jilbabnya dipakai dulu. Aduh…masa lupa sih?” aku berseru mengingatkan. Tumben ibu ingat hari ini ada arisan PKK, pikirku.

Ibu berbalik masuk kamar dan keluar sudah memakai jilbab. Jilbab kemarin lusa yang digantung di belakang pintu kamar dipakai lagi. AH sudahlah, mungkin memang keinginan beliau begitu. Susah berdebat dengan orang tua pikirku lagi.

“Assalamualaikum.” Ibu memunggungiku dan pergi keluar pintu. Kujawab salam ibu sambil meletakkan gelas di atas lemari pendingin dan kemudian berjalan mematikan TV. Setelahnya aku berjalan menghampiri pintu hendak menutup pintu dan ibu sudah tidak terlihat lagi di teras. Dan lagi-lagi pagar rumah tidak ditutup ibu. Ibu pikun sekali.

Tiba-tiba jantungku berdegup kencang. Pikun! Otakku berseru membangunkan kesadaranku. Apa ibu mulai pikun? Demensia? Aku membuka gerbang dan menuju ke rumah Bu Dar yang hanya di sebelah rumah. Kucari ibu dan beliau tidak ada, tidak ada yang melihat ibu. Aku membalik badan dan kucari ibu dalam kendaraan yang lalu lalang di depan rumahku. 

Nihil.

Catatan:
Pikun atau demensia adalah penyakit yang mempengaruhi kinerja otak. Baca selengkapnya di sini.




#komunitasonedayonepost
#ODOP_6 

Sunday, October 14, 2018

Melepasnya dalam Khidmat



“Biiiir, ayo cepet keluar.” suara nyaring ibu Sabir melengking memekakkan telinga di Minggu yang tenang. Dua ayam kate di halaman rumah hening seketika mendegar lengking suara pemilik rumah. Mereka tahu sedikit bergerak bisa membuat segalanya jadi runyam. Jika pemilik rumah berkehendak, segala sesuatu tidak bisa lagi diprediksi. Hanya pemilik rumah yang mampu melakukan hal-hal magis seprti ini, ha yang membuat para ayam teriam dari cerewet kotekannya. Tak seperti di dongeng hal magis mengambil tempat lama sekali, di dunia nyata hanya beberapa detik membungkam ayam-ayam itu.  Tak lama, mereka berkotek sibuk sambil menggoyang leher, sudah hilang kaget rupanya.

Yang bernama Sabir masih sibuk mematut diri di depan cermin. Memastikan setiap pori wajah sempurna. Dia butuh ketenangan di saat ini. Momen genting. Salah perhitungan bisa gawat. Hal yang paling dibencinya adalah saat ini, ketika konsentrasi ditajamkan dan kesunyian diperlukan tapi suara wanita yang paling ditakuti di rumah memecah kontemplasi yang sudah dilakukan hampir lima menit.

“Sabiiir! Ngapain kau di dalam nak?”bukan bertanya, suara ibu Sabir lebih seperti penyanyi opera bersuara sopran yang naik darah.

“Iya!!!. Tunggu sebentar!”Sabir menyahut tak kalah keras, memastikan ibunya tak memaksa minta dibukakan pintu kamar setelah mendengar jawabnya.

Sabir memicingkan matanya, mendekatkan wajah ke cermin. Ia menyibakkan rambut yang menutup sisi dahinya. Ia mengernyitkan dahi dan menelengkan kepala sampai dirasa dicapai sudut yang pas untuk mengobservasi penuh inci demi inci dahinya. Ia mendengus sambil mengernyit. Mundur sejenak karena sedikit lelah menatap wajah dengan terperinci. Ia mencoba lagi.

Akhirnya muncul tekad kuatnya. Ia berkhidmat lagi, mengumpulkan niat.  Disorongkan wajah hampir menempel cermin dan dikumpulkan dua jari telunjuknya mengarah pada satu gumpalan sangat kecil berawarna kemerahan di pangkal dan memutih segelap susu di ujung. Sabir sudah yakin. Kedua jari telunjuk menjepit gumpalan mini itu dan dipencetnya kuat-kuat. Cairan bening keputihan dengan bintik putih keluar dan diikuti sedikit darah.

Lega hati Sabir, selamat tinggal jerawat.




#komunitasonedayonepost

#ODOP_6   

Pamit

Photo by Amornthep Srina from Pexels


Hari itu adalah hari yang biasa saja. Tidak istimewa hanya biasa seperti semua hari-hari yang lain. Buatku ini juga bukan sesuatu yang istimewa meskipun hari ini terakhir kali aku di sini. Seperti semua siklus hidup di dunia ini yang digariskan penciptanya, ada awal dan akhir, ada pertemuan dan perpisahan. Selalu, di tiap peristiwa hidup, ada manfaat yang bisa diambil. 


***
“Ayo kita bergegas.” Kawan baikku menyenggol tubuhku memintaku bergegas pergi.

“Sebentar aku ingin melihat rumah ini lebih lama lagi, sebentar saja, kataku bergeming sambil menengadah dan memutar kepalaku ke kiri, kanan, atas, dan bawah. Kulemparkan padanganku sejauh yang aku bisa.  Akhirnya aku akan meninggalkan rumahku dan berpindah ke rumah baru. Entah seperti apa tidak ada yang pernah tahu, tidak ada juga yang memberitahuku.

Aku sudah tinggal cukup lama di rumahku yang sekarang. Sudah lebih dari 5 bulan. Tapi aku masih beruntung, banyak kawanku yang tidak pernah berpindah rumah barang sekalipun dalam hidup mereka. Bagi manusia sering berpindah tempat tinggal dan beradaptasi dengan lingkungan baru bukan hal yang menyenangkan. Kebanyakan bersedih dan terbawa aneka kenangan dari tempat yang sudah mereka tinggali cukup lama. Tak sama bagiku. Pindah rumah itu menyenangkan.

Aku, darah, mengucapkan selamat tinggal pada rumahku. Saat ini aku berbaris bersama ribuan kawan lainnya, bergerak rapi keluar perlahan mengikuti sedotan selang berkepala jarum yang menempel pada lengan pemilik rumahku. Dengan lengan mantap bersandar, perlahan tapi pasti mengantarkanku keluar menuju kantong bening berlabel yang bergoyang kiri-kanan dengan selaras.

Wahai pemilik rumahku, sudah 5 bulan berselang, kelak cukup 3  bulan saja kau membiakkan kawan-kawan  baruku dan segera kirim mereka keluar dari tubuhmu. Saatnya kau mendapatkan darah baru, tenaga baru, yang segar dan penuh semangat, yang bisa memberimu jutaan ion , protein, dan air pembawa kemakmuran bagi seluruh tubuhmu. Jumlahku tak banyak, hanya delapan persen dari seluruh bobot tubuhmu dan aku sekarang menjadi bagian kecil dari koloni baruku. Aku pamit. Tugasku sampai di sini.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6 

Terdesak si Rakus

Photo by Kat Jayne from Pexels


“Aih geser dong.”ada yang berteriak ketika aku menyeruak masuk dalam kerumunan. Bukan hanya dua baris yang kulewati, mungkin lebih empat baris. Semuanya saling berhimpit dan berdesakan. Aku berusaha meliuk ke kanan dan ke kiri, ke bagian yang paling memungkinkan bagiku untuk masuk. Dalam usahaku yang bukan main sulitnya itu ada yang memarahiku karena aksi serobot yang kubuat. 


“Hei, kamu kan baru datang jangan asal main serobot dong.”suara lain menggerutu menghardikku. Aku tetap berusaha mencari tempat di lorong yang panjang dan sempit itu. Lorong ini bergerak menjepit, berdenyut  memastikan aku dan semua yang ada di dalamnya bergerak lurus mengikuti gravitasi ke kantong bawah yang kuat.

“Ini tempatku, coba kau cari di sana!”masih ada suara kesal menyuruhku mencari tempat di sisi lain. Banyak sekali yang menyuruhku menyingkir jauh. Mereka juga butuh tempat.

‘Awas!!!”tiba-tiba terdengar seruan kencang dan belum sempat aku minggir sudah kena seluruh bagian tubuhku oleh gelontoran cairan pekat kehitaman penuh kafein. Aku terangkat terombang-ambing ke kiri kanan. Mengapung tak ada kekuatan untuk bertahan di posisiku. Cairan ini asam dan membuatku muak. Warna dan baunya sungguh bukan sesuatu yang harusnya masuk bersamaku. Bukan hanya aku yang terapung bimbang, sekelilingku juga bernasib sama.

Ini aku, remahan makanan dalam lambung bekas pemilikku. Aku sedang berusaha mencari tempat dalam lambungnya yang terus saja diisi sampai penuh. Itu pun masih dimasukkan lagi kopi dan entah apalagi setelahnya. Hampir tak ada ruang kosong untuk gas hilir-mudik. Semuanya makanan, minuman, yang bergizi dan tak bergizi. Yang bermanfaat bagi tubuh pemilikku dan yang bukan.

Sebentar lagi aku akan dilumatkan oleh aneka enzim yang mengubahku menjadi pasta, itu tandanya aku masuk ke dalam usus. Di sini, di dalam lekukan dan tikungannya yang berkelok-kelok, ada  nutrisi, air, dan limbah yang sibuk diserap. Kandungan diriku yang baik juga terserap di sini, tapi gelontoran cairan pekat kafein tadi membuyarkan segalanya. Andai para manusia tahu, mereka harus menyisakan ruang dalam perutnya agar aku tercerna sempurna. Dasar rakus!


#komunitasonedayonepost
#ODOP_6 

Sunday, September 16, 2018

Lebih Baik Sakit Gigi, Daripada Sakit Hati?

https://bit.ly/2D2iFYQ

…….
daripada sakit hati
lebih baik sakit gigi ini
biar tak mengapa
“rela” “rela” “rela” aku “relakan”

Sahabat pernah dengar lirik lagu di atas? Ya, itu adalah penggalan lirik dari lagu Sakit Gigi dari Meggi Z. Penyanyi dangdut legendaris ini sukses membawakan lagu yang masih banyak dibawakan penyanyi dangdut zaman now.  Benarkah sakit gigi lebih baik dari sakit hati karena dikhianati kekasih? Untuk saya, berlaku sebaliknya. Sakit gigi rasanya menyiksa sekali. Lebih baik bermasalah dengan pacar daripada dengan gigi.

Sahabat, kesehatan gigi adalah salah satu yang sering diabaikan. Bagian kecil dari tubuh kita ini sering diabaikan dibanding organ tubuh lainnya. Tapi tahukah Sahabat, ada banyak cerita unik tentang gigi dan kesehatannya yang Sahabat perlu tahu.

Sejarah sikat dan pasta gigi

Pasta gigi pertama terbuat dari ranting pohon. Sejak 3500 tahun sebelum masehi masyarakat Babylonia sudah mulai membersihkan gigi dengan mengunyah ranting. Literatur Tiongkok juga mengisahkan dari tahun 1600 SM sudah ada ranting kayu dari pohon aromatik yang dikunyah.

Sementara dalam sejarah Islam dikenal ranting kayu siwak atau miswak. Kayu ini berasal dari tanaman Salvadora persica. Tanaman ini bentuknya seperti pohon kecil dengan batang yang bengkok dan tidak terlalu besar ukuran pohonnya.Baunya wangi dan menurut WHO , Badan Kesehatan Dunia PBB disebut sebagai bahan alami untuk kesehatan mulut dan gigi.

Untuk pasta gigi, bangsa Yunani Kuno menggunakan campuran batu apung, bubuk batu karang, talk, dan batuan alabaster. Sementara Bangsa Romawi menggunakan campuran dari cangkang kerang dan tulang yang diremukkan. Penggunaan bahan-bahan kimia dipakai sejak pasta gigi diperkenalkan secara modern di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri istilah “odol” muncul setelah orang-orang dari Hindia Belanda memperkenalkan pasta gigi pertama buatan Jerman bermerk Odol. Pasta gigi ini dibuat oleh Dresden chemical laboratory Lingner, yang sekarang dikenal sebagai Lingner Werke AG.

Soda dan Apel Musuh Gigi?

Sahabat, apakah soda salah satu minuman favorit Sahabat? Baiknya hindari soda karena orang yang minum 3 gelas soda atau lebih tiap harinya kemungkinan besar mengalami pembusukan. Hindari juga terlalu banyak konsumsi apel. Berdasarkan penelitian King’s College London-The Dental Institute, makan empat buah apel sehari bisa merusak gigi. Dibadingkan soda, unsur karbonasi apel ternyata sangat tinggi melebihi soda. Tentu saja jika konsumsi apel Sahabat sangat banyak ini tidak baik untuk kesehatan gigi.

Kunyah Dengan Benar

Tahukah Sahabat ternyata kebiasaan kunyah dipengaruhi oleh kidal atau tidaknya kita? Jika Sahabat kidal, maka cenderung akan mengunyah dengan gigi sebeah kiri, demikian juga sebaliknya. Saat kita mengunyah, mulut memproduksi banyak saliva alias ludah yang sebenarnya diperlukan untuk membersihkan gigi. Jika mengunyah hanya di satu sisi saja maka sisi lainnya kekurangan saliva dan akibatnya terbentuk plak. Plak yang mengeras menghasilkan karang gigi. Karenanya mengunyah harus di kedua sisi gigi.

Waktu terbaik untuk menyikat gigi adalah setelah sarapan dan sebelum tidur. Ini yang sering salah ya? Coba Sahabat ingat, apakahh Sahabat menyikat gigi setelah bangun pagi dan setelahnya kemudian meikmati sarapan pagi? Ternyata menyikat gigi terllau awal berpotensi membiarkan asam menyerang email (lapisan) gigi. Terlalu banyak menggosok gigi hingga 3 atau 4 kali malah bisa memicu erosi pada email gihi. Gigi akan mudah berlubang dan terkena infeksi gusi

Jumlah Gigi Berapa ya?

Pernahkah Sahabat menghitung jumlah gigi Sahabat? Perlukah diketahui? Perlu dong, karena terlalu banyak juga tak baik untuk kesehatan. Pada orang dewasa jumlah gigi adalah 32 yang terdiwri dari 16 gigi pada rahang atas dan 16 pada rahang bawah. Jumlah gigi yang melebihi jumlah normal  disebut supernumerary teeth. Gigi tambahan ini bisa muncul di mana saja di rongga mulut, dan terkadang terbenam saja dalam tulang dan tidak tumbuh.

Jumlah gigi yang terlalu banyak bisa menimbulkan beberapa penyakit seperti susunan gigi yang tidak rapi, mengganggu pertumbuhan gigi tetap, radang gusi, karang gigi parah di daerah yang sulit dijangkau, bahkan sulit perawatan lewat pemasangan behel.

Jika pada manusia dewasa jumlah gigi mencapai 32, maka anjing ternyata punya gigi lebih banyak dari manusia. Anjing punya 42 gigi. Uniknya babi punya lebih banyak gigi yaitu 44 gigi dan belut yang mulutnya kecil mempunyai lebih dari 25.000 gigi. Ngeri yaa….

Sakit Gigi Sakit Semua

Gigi berlubang bisa bikin hidup runyam. Setuju kan Sahabat? Ya gigi yang berlubang paling banyak disebabkan oleh plak yang terkumpul akibat kuman dan bakteri. Jika lubang gigi kecil biasanya rasanya tidak sakit, tetapi jika lubang pada gigi semakin membesar, maka bisa mempengaruhi saraf, sehingga dapat menimbulkan rasa sakit pada gigi dan gusi, sakit kepala, demam, pembengkakan Kelenjar getah bening, dll.

Sahabat, ternyata sakit gigi berlubang mulai terbentuk di gigi dalam waktu 20 menit setelah makan loh, Jadi jika tidak dibersihkan segera maka kerusakan yang membuat gigi berlubang pun akan segera tercipta. Waduh, gawat nih. Karenanya sangat penting untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut. Jangan lupa juga Sahabat wajib melakukan pemeriksaan ke dokter gigi secara rutin. Kabar baiknya, pembersihan karang gigi juga termasuk yang ditanggung oleh BPJS Kesehatan loh. Karena plak yang mengumpul menjadi sumber penyakit gigi yang lebih parah. Jadi, tunggu apalagi ayo segera ke dokter gigi dan bersihkan plak membandel serta control kondisi gigi Sahabat sekarang juga.


#komunitasonedayonepost
#ODOP_6 


Referensi

https://sains.kompas.com/read/2018/04/05/203300323/penemuan-yang-mengubah-dunia--sikat-gigi-bermula-dari-ranting-kunyah. 

http://www.femina.co.id/health-diet/4-musuh-utama-gigi

https://www.klikdokter.com/rubrik/read/2700655/ketika-gigi-berjumlah-lebih-dari-normal

Wednesday, September 12, 2018

Mematut Maut

sumber gambar: https://bit.ly/2Qonsq8



“Bang, rokok satu dong.” 

“Nggak ngecer Bur. Kerjaan enak masih aja beli rokok ngeteng. Beli sebungkus lah.” Tohari menggoda si pelanggan warung yang sudah lama dikenalnya. Burhan sudah seperti saudaranya sendiri. Dulu ia sering iri karena Burhan selalu juara di sekolah, walau jadi adik kelasnya. Pekerjaannya pun mapan, berulang kali ikut proyek pembangunan jalan tol. Kadang pulang tiga bulan sekali. Kadang lama di kampung, tapi ia selalu berkantong tebal. Semua orang di kampung tahu Burhan beruang, bulan lalu baru membeli motor baru. Tunai, tidak seperti para tetangga yang menyicil motor dan berhutang sana-sini.


Tohari lantas memberikan sebatang rokok pada Burhan. “Nih, sebiji aja? Ga kurang? Tiga lah ya?”

“Jangan lah Bang. Aku kurangi rokok. Calon istriku tak suka aku banyak merokok.” Burhan berkelit sambil mengambil hanya sebatang dari beberapa yang disodorkan Tohari.

“Loh, sebatang juga kalo dibakar bakal nagih Bur. Kurang lah.” Tohari tertawa mengejek sambil memasukkan sisa rokok ke dalam wadah kaleng kecil dan memasukkan ke etalase kaca warungnya. 

“Sejak kapan kamu jadi manut sama perempuan Bur?” Penasaran Tohari bertanya sambil duduk berdekatan dengan Burhan.

“Ah kamu ini Bang. Calon istriku ingin aku sehat, katanya biar aku hidup lebih lama, bisa menjaganya selalu. Jadi aku disuruh berhenti merokok. Ya susah, tapi mulai aku kurangi. Ngeri aku Bang, dua temanku kemarin sekarat kena kanker tenggorokan dan satu lagi mandul. Lah sekarat juga itu namanya Bang. Ngeri aku, yang terakhir itu paling ngeri lah dibanding kanker.” Burhan tertawa kecut.

“Kalo mati ya mati aja Bur.” Tohari mengejeknya.

“Ya beda lah Bang. Sama kaya makan, ga usah makan juga ga masalah kalo tujuannya mati. Kita kan berusaha hidup. Rokok itu kaya ulat Bang. Lamban tapi habis sepohon, pelan tapi menggerogoti paru-paru Bang. Parahnya ya itu…bikin mandul. Apes banget lah Bang kalo itu, mana ada gagahnya laki-laki mandul Bang.” kali ini Burhan tertawa keras, mungkin membicarakan kemandulan terlalu menggelikan buatnya.

“Terserah kau lah Bur.” Tohari berdiri meninggalkan Burhan yang hanya mencium sebatang rokoknya tanpa disulut. Ia lalu melayani pembeli lain yang datang memesan kopi hitam. Sambil menjerang air Tohari membuka laci meja warungnya dan meraba sekilas amplop coklat lebar yang merebah lesu di sana bersama lembaran uang dan beberapa logam uang receh. Diingatnya hasil foto rontgen dua bulan lalu. Kata dokter, PPOK*. Namanya terlalu seram untuk dihafal.

Tohari berhenti berobat dan memilih untuk menikmati hidup versinya. Merokok dan berjualan seperti biasa. Toh nasib sudah diatur Tuhan, begitu pikir Tohari. Jika maut datang dia tinggal menyambut. Tak perlu seperti Burhan yang mematut maut agar tak datang cepat, supaya hidupnya lebih berkualitas, untuk bisa hidup lebih bahagia. Buat Tohari hidup ini tak perlu muluk-muluk. PPOK cukup dibabat dengan minum jamu buatan istrinya. Ini kesimpulan dari konspirasi jahat akal buntu dan kelemahan imannya. Toh itu yang keyakinan Tohari.

Diliriknya Burhan yang tersenyum-senyum sambil menatap layar gawai. Ia bercakap-cakap manja dengan pacarnya. Suara keduanya bercampur dengan bau kopi dan gorengan pisang, ketela, dan ubi yang menguar dari meja warung. Rokok tetap ada di antara jari tengah dan telunjuk kiri Burhan, diam di situ tak disulut. Sudah diajarkan si pemilik untuk ikut mematut maut.


*PPOK = Penyakit Paru Obstruktif Kronik

#tantanganODOP1
#onedayonepost
#odopbatch 6

Sang Kala

Sumber gambar: https://www.huffingtonpost.com/2013/12/31/time-art_n_4519734.html “Ceritakan padaku apa yang perlu kudengar.” “...