Showing posts with label Relationship. Show all posts
Showing posts with label Relationship. Show all posts

Tuesday, October 23, 2018

Pak Suami

https://bit.ly/2jNS8p6

Semua orang bilang jika sudah menikah maka setiap hal baik dan buruk suami akan lebih nampak daripada ketika masih tahap kenalan. Saya yang melalui hubungan jarak jauh sekitar hampir dua tahun bisa dibilang masih sedikit tahu tentang sosok suami yang sebenarnya. Ketika kami bertukar sapa via daring dengan saat kami berduaan di kehidupan nyata terasa jauh berbeda. Suami lebih sabar dan tak seketus chat.

Peribahasa don’t judge the book by its cover tak pernah salah. Dalam kasus saya lebih tepatnya don’t judge him by what he wrote, jangan menilai dia dari apa yang dia tulis. Sampai sekarang pun chat dengan suami selalu kaku tapi percakapan kami yang nyata, mesra dan penuh canda.

Pernikahan saya baru akan mencapai empat bulan, November nanti. Setiap saya menatap suami di malam hari saya masih takjub bagaimana bisa ia ada di samping saya. Perasaan saya berkata baru kemarin kami kencan dan ternyata sekarang kami bersama. Saya masih mengagumi keberadaan suami yang bagi saya seperti magical, kok bisa ya ia di sini. Kok bisa saya jadi istrinya, dan perasaan semacam itu. Teramat gembira dan bertanya-tanya. Endingnya saya mengucap syukur, betapa bahagianya saya dan betapa kebahagiaan itu mudah tapi luar biasa besarnya yang dianugerahkan-Nya pada saya.

Jika saya mengingat kembali masa kencan kami berdua saat itu, betapa banyak kekonyolan dan hal lebay yang sudah saya dan suami lakukan. Kami menertawakannya bersama sekarang. Sungguh hal-hal yang amat tak bermanfaat yang telah kami lakukan di masa lalu, tangisan yang sia-sia, dan amarah yang percuma. Sekarang, mengingat ke masa lalu hanya membuat kami tertawa-tawa kecil.


Rahasia besar tentang suami yang baru saya tahu adalah ia mahir urusan rumah tangga. Ahli kerapian, berberes, dan rajin mencuci piring. Tak terhingga saya bersyukur dan berterima kasih padanya tiap selesia mencuci gunungan piring dan perabot masak kotor karena kepala saya pusing tak terhingga. Kadang juga dilakukannya tanpa ada alasan. Begitu juga dengan pakaian kotor saya, tak sungkan dicucinya, tanpa ba bi bu langsung dicuci bersih, dibilas, dan dijemur. Kenikmatan mana lagi yang saya ingkari sebagai istrinya? Sungguh beruntungnya saya, terima kasih Allah atas hadiah terindah-Mu


#komunitasonedayonepost
#ODOP_6 

Sunday, October 21, 2018

Surprised Party

Photo by Ivan from Pexels

Sejatinya surprised party adalah pesta kejutan yang dibuat dengan tujuan mengejutkan orang yang punya hajat. Misal saya berulang tahun di hari ini, saya tidak mengadakan pesta dan tiba-tiba keluarga saya mengejutkan saya dengan datang di kantor lengkap kue, kado, dan lainnya.

Pesta kejutan yang saya terima adalah yang terindah dalam hidup, sekali seumur hidup dan sangat menyenangkan. Bukan pesta ulang tahun, tapi pesta pernikahan. Katanya pernikahan sederhana?
Ide awalnya begitu. Sejujurnya acara pernikahan membuat saya puyeng di awal. Tentu saja menyangkut biaya dan lokasi. Walaupun mengundang kerabat dekat dan teman kerja tapi saya ingin menyajikan hidangan yang layak. Karena tidak memungkinkan untuk masak di rumah saya berpikir untuk mengajak semuanya makan bersama di rumah makan. Ide lain membeli dari caterer, penyedia jasa catering dan disajikan per porsi untuk tamu. Belum lagi memikirkan tendanya. Saya tinggal di rumah kontrakan di Surabaya saat itu jadi untuk membuat acara yang tidak mengganggu kenyamanan tetangga juga sulit, saya bukan warga asli jadi saya harus memikirkan bagaimana nyamannya acara ini. Mengadakan di rumah saya di domisili asal lebih tidak memungkinkan karena rumah sudah lama ditinggalkan dan keadaannya jauh lebih tidak layak lagi untuk dibuat tempat hajatan.

Oh tentu saja, acara “pesta” di Surabaya dikubur dalam-dalam karena akad nikah hanya bisa dilakukan di domisili sesuai KTP dari pihak perempuan atau laki-laki. Surabaya bukan domisili kedua pihak maka dalam keruwetan pikiran yang sibuk sendiri itu keluarga suami menghendaki acara dilakukan di kediaman mereka. Oh ya, ibu saya sudah meninggal dan bapak saya terkena stroke menahun. Saya tinggal bersama saudara kandung yang masing single, jadilah acara ini dimudahkan dan diatur oleh keluarga pihak laki-laki. Beruntung bukan?

Saya tidak pernah menginginkan pernikahan besar jadi ketika ibu mertua saya menghendaki acara dilaksanakan di kediaman mereka dengan kesederhanaan acara maka saya tidak menolak. Bahkan sampai hari H saya tidak diminta membantu apa-apa sama sekali. Saya hanya menyediakan souvenir yang dikerjakan sendiri oleh saudara kandung saya.

Kejutan lainnya adalah acara yang awalnya dibuat sederhana ternyata dibuat lebih dari sederhana. Ada pelaminan berhias bunga, makanan yang disajikan a la buffet alias prasmanan, fotografer sewaan dan make up artist yang membuat saya jadi ratu sehari. Alhamdulillah betapa mudahnya urusan jika dipasrahkan pada-Nya. Seluruh biaya pengeluaran kecuali ditanggung oleh pihak laki-laki, hal yang amat sangat jarang terjadi. Karena, sekali lagi menurut adat, pihak wanita yang menentukan seperti apa pernikahan yang diinginkan, sesederhana apapun adatnya dilaksanakan di pihak wanita, kami memang menabrak aturan adat tapi sekali lagi patokannya adalah aturan agama dan negara.

Kami hanya mengundang kerabat dekat, saudara, dan tetangga. Total undangan sekitar 200 orang saja. Dibanding dengan pernikahan lainnya juga acara kami masih terbilang sederhana. Toh yang terpenting kebahagiaan kami dan makan-makan prasmanannya adalah berkah yang ingin dibagi oleh keluarga. Semuanya terwujud karena Allah memudahkan jalan untuk saya dan sekali lagi, pasrahkan saja semua urusan pada-Nya. Ada biaya tapi selama bukan gengsi yang utama maka semuanya bisa mudah dan murah.


#komunitasonedayonepost

#ODOP_6 


Nikah Butuh Biaya, Tapi …


Sengaja saya awali judul postingan ini dengan pernyataan yang berbeda dengan kebanyakan artikel lain yang judulnya, Nikah Tanpa Biaya, Nikah Gratis dan lain sebagainya. Tapi tenang, semuanya akan mudah dengan bantuan-Nya. Apapun latar belakang ekonomi Sahabat, semuanya akan mudah jika dipasrahkan pada-Nya. Satu lagi, menikah tak butuh gengsi. Tanpa gengsi biaya jadi masuk akal.
Berdasarkan pengalaman pribadi, saya dan suami dari keluarga sederhana. Sejak belum mengenalnya salah satu impian saya adalah pernikahan sederhana. Mengundang saudara dekat dan teman dekat saja. Beberapa tetangga boleh lah. Dan itulah yang terjadi, ini kekuatan mimpi. Jika dibayangkan terus dan diupayakan ya ini yang terjadi. Tapi ini kan hal mudah, jika pernikahannya sederhana tanpa mimpi pun bisa terlaksana bukan? Simak cerita saya untuk tahu kejutan-kejutannya ya.

Dimulai dari biaya lamaran. Semua juga tahu adat istiadat mengharuskan calon pengantin pria datang dengan segala hantaran dan biasanya proses lamaran terjadi balas berbalas. Setelah calon pengantin pria datang melamar, maka jawaban pengantin perempuan akan membalas dan memberi jawaban lamaran calon pengantin pria. Umumnya proses ini dilakukan dengan mengajak beberapa keluarga dekat lengkap dengan acara pesta kecil, tukar cincin, aneka seserahan dan lain sebagainya. Ini jika mengacu pada adat. Jadi, ya butuh biaya banyak.

Berbeda dengan saya yang tidak mengacu pada adat, acuan saya agama dan aturan negara. Tata cara lamaran itu tidak ada di agama saya dan tidak ada dalam hokum negara maka bisa diskip. (Calon) suami saat itu datang dengan kedua orang tua, kakak, dan adik ibunya dengan buah tangan kue dan buah. Bukan hantaran aneka rupa. Sejujurnya bahkan saya tidak tahu kedatangan hari itu adalah lamaran, karena diberitahukan sebelumnya keluarga akan berkenalan dengan orang tua saya. Dalam pembicaraan yang santai tersebut disampaikan keinginan untuk meminang saya dan acara berjalan lancar. Ini tujuan utama lamaran, jadi hantaran hanya bagian dari adat yang jika tak dilaksanakan tak bikin kualat.

Kebutuhan uang yang utama dari sebuah pernikahan adalah ketika mengurus administrasi 
kelengkapan dokumen pernikahan. Awalnya saya berusaha mengikuti alur pengurusan dokumen mulai dari surat keterangan RT, RW, dibawa ke kelurahan, kemudian ke KUA untuk disahkan. Nah biasanya ada uang amplop untuk pengurus-pengurus RT/RW dan petugas kelurahan, tapi pada kasus saya tidak ada biaya sepeser pun. Harusnya begini sih, masalahnya karena saya tinggal di desa maka langsung dari kelurahan saya diarahkan untuk mengurus segala sesuatunya ke mudin. Mudin ini seperti pengurus kegiatan keagamaan di desa. Dan ada pernyataan, “Nanti sudah diurus sama mudin nya tinggal bayar berapa gitu Mbak.” Nah lo, ini dia biayanya.

Maksud hati ingin minta formulir dengan pengesahan pak lurah untuk dibawa ke KUA yang ada saya diarahkan ke mudin. Karena tempat tinggal saya jauh dari domisili maka saya langsung ke mudin dan seluruh kelengkapan diminta. Kelengkapan calon suami juga diminta dan intinya mudin yang mengurus segala sesuatunya. Dalam waktu sehari semuanya beres. Keesokan harinya saya sudah mendapat kabar kelengkapan sudah beres. Oh ya, biaya pengurusan lewat mudin di kampung saya 250.000 rupiah. (Calon) suami di kampungnya dikenai biaya 300,000. Teman saya di Gresik dikenai biaya 275.000 rupiah. Masukkan ini dalam daftar biaya, Sahabat!

Dari mudin semua dokumen sudah lengkap. Sudah ditandatangani oleh lurah setempat. Pernikahan akan lebih murah jika dilaksanakan di KUA pada jam kerja. Biayanya 0 rupiah alias gratis. Tapi, dari pihak suami menghendaki pernikahan dilaksanakan di rumah pada akhir pekan. Jadi ada biaya pernikahan di luar kantor KUA sebesar 600.000 rupiah. Ini berlaku sama di seluruh Indonesia, tidak ada biaya lain (seharusnya) karena uang disetor langsung ke rekening Departemen Agama. Dalam kasus suami dia membayar 900.000 total ke mudin untuk diserahkan ke KUA dan untuk pengurusan dokumen.

Sekali lagi, jika bisa diurus sendiri maka tidak perlu minta bantuan mudin, jadi tidak ada biaya lain-lain Sesuai alur pengurusan dokumen kelengkapan pernikahan. Oke, jadi menikah butuh biaya ya, paling tidak siapkan 500,000 rupiah untuk pengurusan dokumen dan buah tangan untuk mempelai wanita jika Sahabat pihak pria. Ini pun jika mau tidak mengikuti adat yang mengharuskan acara ini itu dan hantaran sejumlah ini itu juga.

Tidak mahal kok, tapi ada biayanya kan? Usahakan menikah di KUA untuk menekan biaya. Tentu saja semua kembali pada niat Sahabat dalam menyelenggarakan pernikahan. Demikian pula dari pihak orang tua, jika semuanya sudah sepakat menyelenggarakan pernikahan mengikuti syariat agama dan aturan negara tanpa mengikuti adat maka biayanya murah.

sumber:https://bit.ly/2S2YNrX

Selamat merencakanan pernikahan dan simak sambungan kejutan-kejutan pernikahan di sini ya.



#komunitasonedayonepost
#ODOP_6 

Wednesday, September 26, 2018

Kapan Nikah? Sahabat Perlu Waspadai Pertanyaan Ini


sumber: https://bit.ly/2Obsatc

Saat ini jomblo? Usia sudah tiga puluh tahunan? Jika ya, berapa kali Sahabat dapat pertanyaan “Kapan Nikah?” Sering? Waspadai jika Sahabat baper berat dengan pertanyaan ini, karena ada beberapa hal yang menyebabkan Sahabat tidak bahagia. Ayo cek hal-hal yang perlu Sahabat waspadai dari pertanyaan “Kapan Nikah?”. La Vita è bella, life is beautiful, jangan membuat susah hidup yang sudah penuh masalah ini.
Kurang Sabar
Sering dengar orang bilang,”Jodoh itu di tangan Tuhan. Sabar dan terus berdoa.” Atau, “Ya…memang belum jodohnya.” Ketika usia masih dua puluhan sebagai perempuan mendengar hal ini masih bisa dijawab dengan senyuman, jokes, atau kata-kata remeh-temeh. Nah, jika usia sudah tiga puluhan tahun dan bahkan mencapai hampir empat puluh tahun maka apa reaksi Sahabat? Masih tetap senyum tulus? Atau senyum yang dipaksakan sambil membatin, “Iya iya…tahu belum jodohnya. Harus sabar. Cerita lama nih diulang-ulang.” Seperti itukah pikiran yang ada?

Pernyataan tersebut muncul setelah pertanyaan “Kapan Nikah?” Sebenarnya yang tidak sabaran dengan urusan kita menikah itu Sahabat sendiri atau orang lain sih? Terdengar seperti mereka yang lebih ingin menikah ya daripada Sahabat? Padahal, pasti keinginan Sahabat untuk menikah itu jauh lebih kuat lagi. Nah, bagaimana cara membuat moodmu tetap enak dan pikiran tetap fokus di jalannya, tidak gundah gulana setelah pertanyaan dan pernyataan tentang menikah tadi? Mudah, yakin saja bahwa cinta pasti datang.

Sabar dan sabar terus jika orang bertanya, kapan nikah? Tunjukkan tingkat kesabaranmu melebihi mereka. Merekalah yang kurang sabaran menanti Sahabat yang masih asyik menjomlo, begitu bukan?
  
Kurang  apresiasi

Pertanyaan kapan nikah yang menusuk itu sering kali membuat perempuan mengasihani diri sendiri. Merasa kurang cantik, kurang kaya, kurang menarik, kurang gaya. Oh tidak, you are beautiful.

Ketidaksempurnaan seseorang itulah yang membuatnya menarik. Pernah ke toko baju? Ada banyak model baju di sana, pun model yang sama dibuat dalam warna yang berbeda. Sama seperti Sahabat yang berbeda dengan perempuan-perempuan lain di dunia.  Baju juga dibuat beraneka ragam menyesuaikan keinginan pembeli. Dari banyak pajangan baju pasti ada yang sesuai, walaupun harus pindah toko. Nah ibarat baju, Sahabat juga sama. Sahabat punya pilihan menentukan mana lelaki yang tepat buatmu dan sebaliknya, laki-laki juga memilih perempuan mana yang sesuai buat dia. Sering kurang pas, maka perlu dicari yang pas dengan hati-hati.
Stop bandingkan dirimu dengan perempuan lain. Sahabat cantik dan punya kelebihan lengkap dengan kekurangan yang akan membuat Sahabat sempurna. Mana ada sih manusia hanya punya kelebihan tanpa kekurangan? Kesempurnaan itu terwujud karena ketidaksempurnaan pad adiri Sahabat. That’s it! Ayo hargai diri sendiri, Sahabat adalah orang yang istimewa.

Kurang Sadar
Setelah punya kesabaran berlipat Sahabat juga perlu kesadaran bahwa setiap orang ditakdirkan untuk hidup berpasangan. Percayalah itu. Hanya soal waktu yang membuat masing-masing orang jadi semangat atau tak bersemangat menyambut si dia yang ada entah di mana. Kalau Sahabat percaya jodoh pasti ada di suatu tempat, ya jangan sedih bermuram durja dong.

Sadarlah bahwa dunia ini luas. Jumlah lelaki di dunia ini lebih dari 3 milyar penduduk, baik itu yang menikah atau yang belum. Jadi, Sahabat masih bisa mendapatkan salah satu di antaranya. Kesempatan untuk bertemu orang-orang baru juga terhampar luas. Upgrade hubungan dengan teman-teman, pakai koneksi Sahabat agar dikenal lebih banyak orang, gunakan media sosial sebijak mungkin untuk bertemu teman baru. Percayalah bahwa the right man at the right time and place itu nyata. Pasti ada laki-laki yang tulus mencintai Sahabat. Sadari bahwa perjalanan mencari cinta ini memang tidak mudah, tapi juga tidak mustahil.

Sadari juga bahwa alam ikut berbicara. Ia bukan makhluk mati. Apa yang Sahabat yakini itu yang akan terjadi, alam pun membantu. Jadi buang pemikiran negatif untuk memancing energi positif  tetap ada bersama Sahabat. Semakin Sahabat positif menyongsong cinta, semakin kuat alam bekerja untuk Sahabat.

Kurang Ilmu

Tenang saja, ilmu yang dimaksud bukan ilmu hitung nan rumit. Bagaimanapun ilmu ini tidak bisa dihitung di atas kertas. Ilmu apakah itu? Jwabannya, ilmu mencari cinta.

Coba Sahabat datangi teman-teman yang telah menikah di usia mereka yang sudah tiga puluh tahunan lebih. Dengarkan kisah mereka dan bagaimana mereka berhasil membesarkan hati dan menjaga semangat mereka sehingga kemudian mereka berhasil menjawab pertanyaan “Kapan Nikah” dengan undangan pernikahannya.

Teman-teman ini bisa memberikan ilmu bagaimana mendapatkan cinta, jatuh cinta, dan menjalin hubungan sampai ke jenjang pernikahan. Mereka pasti bisa memberikan nasihat yang objektif sesuai situasimu. Mendengar cerita mereka akan menambah ilmu baru untuk mendapatkan cinta sejati Sahabat. Ayo belajar lebih banyak dari mereka.

Saya sendiri menemukan cinta sejati setelah ulang tahun ke-35 saya. Saya menikah ketika teman-teman seusia saya sudah berumah tangga lima sampai dua belas tahun. Saya pernah berada di titik masa bodoh karena desperate. Untungnya, datang waktu ketika saya menyadari betapa banyak kekurangan saya yang jika dikumpulkan jadi empat hal wajib untuk diwaspadai. Kurang sabar, kurang apresiasi, kurang sadar, dan kurang ilmu.

Setelah saya mengatasi kekurangan itu, cinta datang tak dinyana.  Sampai sekarang saya masih amazed dengan bagaimana Tuhan bisa mengirimkan laki-laki istimewa ini untuk saya, dan saya masih mengagumi hal-hal menakjubkan darinya. Saya yakin Sahabat juga pasti menemukan pelabuhan cinta terakhir Sahabat. Ingat dan selalu waspada pada pertanyaan “Kapan Nikah?” ya?



#komunitasonedayonepost
#ODOP_6 


Tuesday, September 18, 2018

Di Rumah Saja, Tetap Asyik Tak Terusik

sumber: https://bit.ly/2Nolb06


Apakah Sahabat seringkali menghadapi pertanyaan, “Di rumah saja? Emang enak? Bisa apa kalau di rumah saja? Yakin ga sayang dengan kuliahmu dulu kalo di rumah saja?” Alhamdulillah siapa bilang berdiam di rumah bikin bosan? Semua jadi membosankan tanpa kegiatan, tapi jika ada rutinitas yang dikerjakan walau di rumah semua terasa menyenangkan. Saya akhirnya meninggalkan pekerjaan dan diam di rumah. Bukan diam tidur-tiduran tanpa kegiatan tapi malah mengerjakan hal-hal yang saya suka.


Ketika saya mengambil keputusan inipun banyak yang meragukan keinginan saya. Ada yang meragukan keadaan finansial saya jika tidak bekerja seperti biasa, ada yang menanyakan kemantapan hati dan mental saya, ada pula yang meragukan kemampuan saya bertahan di rumah saja mengingat dulu saya orang kantoran dan cukup workaholic. Mendengar beberapa pendapat ini sebenarnya saya sedikit kesal, toh ini hidup saya, saya berhak memilih dan ini tidak ada urusannya dengan hidup dan pendapat pribadi orang lain. Bagaimanapun juga saya sendiri yang kemudian bisa membuat kesimpulan tentang hal positif yang saya dapat dari keputusan untuk beraktivitas di rumah dan meninggalkan sektor formal (bekerja kantoran). 


Banyak hal positif dan menyenangkan  yang saya dapat dari aktivitas di rumah. Sejauh ini tak ada yang negatif sih. Akhirnya saya bisa banyak membaca. Dulu ketika bekerja kantoran, membaca satu buku bisa sampai dua bulan. Sekarang bisa dibaca dua atau tiga hari. Alhamdulillah. Membaca menyegarkan otak saya. Latihan menulis juga lebih intens, ini juga kebahagiaan tak terkira. Membuat kerajinan tangan di rumah juga bisa nyaman dilakukan.


Memang tidak ada income seperti dulu, tapi saya tidak khawatir. Tugas yang penting adalah menjadi istri. Toh mencari nafkah bukan kewajiban. Saya berhenti dari pekerjaan karena keinginan pribadi, bukan karena dorongan suami. Tiba-tiba saja ingin mengubah kebiasaan dan gaya hidup kantoran jadi rumahan.


Tetapi jika saya pikir lagi, kemerdekaan mengatur waktu berarti mahal harganya. Alhamdulillah semua bisa teratasi. Niat jajan hilang, yang ada semangat membaca. Saya tidak menyesali keputusan _resign_ hidup saya sekarang jauh lebih nikmat daripada sebelumnya. Ternyata kebahagiaan itu sederhana. Banyak hal yang bisa disyukuri. Banyak sekali.


Jika dulu saya sering meratapi saldo rekening tabungan, Alhamdulillah sekarang bisa lebih bahagia tanpa memikirkan debit kredit lagi. Benar-benar menulis dan membaca itu nikmat sekali. Dan untuk kenikmatan tersebut apalagi yang bisa dilakukan selain terus bersyukur dan memuja Allah. Rencana Allah adalah yang terbaik. Apa yang sudah digariskan-Nya adalah yang terindah. Sungguh besar karunia-Nya dan tak terbatas berkah-Nya, tinggal saya yang harus terus mengucap syukur. Alhamdulillah.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6 

Sunday, September 16, 2018

Kehadiranmu

sumber: https://bit.ly/2qYlIHv


“Adi, aku senang bertemu denganmu lagi.”
kutatap lekat mata Adi dalam senyuman terbaikku.

“Hai cantik, aku juga senang bisa ada di sini bersamamu.” Adi merengkuh tubuhku, memelukku erat. Hangat, bahagia itu ternyata berupa kehangatan romansa kami berdua. Sudah lama, lama sekali kami berpisah, tak dinyana ternyata hari ini kami bisa bertemu kembali.

Cuaca hari ini indah, langit kuning jingga. Sore menjelang dan siang enggan pulang. Aku bahagia bisa menemui Adi dalam pakaian terbaikku. Gaun putih panjang, klasik tapi cantik. Sederhana dan ada ruffle di bagian bawah gaunku, pita manis mengikat pinggangku melengkapi indahnya gaun yang ringan bergoyang diterpa angin sore.

Kamu tidak banyak bicara, begitu juga aku. K
ami berdua saling tersenyum, berdiri di tanah lapang dan sesekali berdekapan. Kamu masih ingat bagaimana seharusnya laki-laki berbuat romantis bagi wanitanya. Dulu kamu tak begini, Adi. Aku bersyukur, saat ini aku menemuimu dalam masa yang berbeda. Masa yang jauh lebih baik, dirimu yang jauh lebih lembut dan penuh cinta.

Adi kembali melingkarkan lengannya di pinggangku, menyorongkan tubuhku dekat dengan tubuhnya. Kusandarkan kepalaku di bahunya, kami bersama menatap sang surya yang menghilang perlahan, malu cemburu oleh kemesraan kami. Kurasakan tegap tubuhnya tidak berubah. Erat genggaman tangannya sama, kuat yang melembutkan hati, menggamitku dalam ketabahan jiwanya.

Dulu jauh berbeda. Ia tidak dingin tapi juga tanpa kehangatan yang berarti. Kami banyak tertawa tapi aku banyak menangis di malam-malam sendiriku. Adi menatapku, hanya menatapku. Ia tak berkata apa-apa, bisu. Tapi aku merasakan kebahagiaan yang membuncah entah darimana asalnya. Tak sama, sedikitpun tak sama dengan girangnya aku saat dulu bersamamu. Ah, yang lalu biarlah berlalu, kini kami ada di sini tersenyum dalam bunga-bunga suka cita.

Aku masih mengagumi gaun putihku, merasakan angin semilir yang menemani sore dan menikmati detik-detikku bersama Adi. Tiba-tiba gelap. Hanya gelap. Semua menjelma rupa, berganti cuaca, cahaya, dan citra absurd. Adi di mana?

Aku terbangun
dari tidurku. Bersyukur dan tersenyum kecil, senang hati sudah bersamamu.  Betapa otakku menyimpan ribuan gambar rupamu, kenangan tentangmu, dan keinginan tak terwujud ketika bersamamu dulu. Aku tahu kamu miliknya dan memilihnya, bukan aku. Aku juga kini berlaga kasih dengan kekasihku yang sekarang. Tapi aku bahagia, nostalgia ini menyenangkan, sangat menyenangkan. Adakah aku dalam bunga tidurmu?

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6 

Thursday, September 6, 2018

Jomlo, Kenapa Tidak? Jadilah Jomlo berkualitas dengan 4 Hal Ini

sumber gambar: https://bit.ly/2wMLt1I


Sahabat, tahukah Sahabat apa arti kata jomlo? Sahabta sudah membaca kata ini dengan benar “jomlo”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang betul adalah jomlo bukan jomblo. Artinya? Tentu saja pria atau wanita yang belum punya pasangan hidup.

Siapa yang jomlo, angkat tangan. Eits, jangan salah Sahabat, menjadi jomlo bukan hal yang memalukan dan bukan juga hal yang membuat minder. Bahagialah jadi jomlo. Kok bisa? Nah coba simak alasan-alasan Sahabat wajib bahagia walau jomlo, karena jomlo pun bisa berkualitas.

1. Berbahagialah dengan Kondisi Sahabat Sekarang

Banyak orang yang berlomba-lomba mencari pasangan (pacar) atau pasangan hidup (suami). Tak ada yang salah dengan hal ini, tapi tak ada salahnya juga Sahabat tidak menghabiskan waktu memikirkan hal yang satu ini karena yang terpenting adalah menikmati apa yang Sahabat miliki saat ini.
Banyak cara untuk menjadi bahagia walau tanpa pasangan. Caranya adalah tingkatkan kebahagiaan dengan cara banyak bersyukur. Terdengar mudah dan klise ya? Memang mudah kok, tapi nyata. Bersyukur atas apa yang dimiliki sekarang dan bersyukur atas hal-hal kecil di sekitar akan membuat Sahabat lebih menikmati hidup. Coba tuliskan setiap hari hal-hal yang patut disyukuri, saya yakin daftarnya bisa ratusan, atau mungkin tak terhingga?

Jangan lupa untuk mencari hal-hal yang membuat Sahabat bahagia, orang-orang yang membuat Sahabat senang, datangi mereka dan belajarlah lebih banyak dari mereka. Bersenang-senanglah dengan mereka dan berbahagialah dengan hal-hal baru yang Sahabat temukan.
2. Cari Tahu Diri Sahabat yang Sesungguhnya

Pernahkah Sahabat menemui seseorang yang berubah ketika ia dekat dengan pasangan barunya? Berubah menjadi orang lain bukan seperti ia yang dulu? Ternyata hal ini umum terjadi, hubungan dengan lawan jenis bisa mengubah seseorang. Jika jadi lebih baik sih oke, tapi jika lebih buruk? Nah, ada baiknya Sahabat mulai mengenali diri sendiri. Eksplorasi diri dengan mengikuti aneka kelas-kelas online dan offline, yang gratis atau yang berbayar. Cari potensi diri dan temukan kebahagiaan Sahabat yang sesungguhnya. Pada akhirnya Sahabat akan menyadari bahwa jadi jomlo pun bisa bahagia dan bermanfaat untuk diri sendiri dan lingkungan.

3. Jatuh Cintalah Pada Diri Sendiri

Ini bukan narsis, ini hal yang hakiki (meminjam istilah kekinian). Hubungan yang terpenting bukan melulu hubungan kita dengan lawan jenis, tetapi hubungan Sahabat dengan diri sendiri. Bagaimana berdamai dengan diri sendiri, mengelola konflik, mengejar cita-cita, membahagiakan diri, dan menghargai segala capaian diri betapa pun kecilnya.

Cobalah mengumpulkan lebih banyak rasa kasih sayang dan kembalikan rasa sayang itu pada lingkungan sekitar. Lihat orang-orang yang bisa bahagia hanya dengan membantu sesama. Ketika Sahabat tidak repot memikirkan pujaan hati tapi fokus pada diri sendiri, untuk selalu menumbuhkan rasa sayang, maka ini akan mewujud juga pada kasih sayang kita terhadap sesama, outer circle kita.

Rasa mencintai diri sendiri juga muncul dalam aneka kegiatan positif loh. Coba Sahabat ingat sudahkah sahabat mengonsumsi makanan yang bergizi dn berimbang? Sudahkah Sahabat berolah raga untuk menjaga tubuh agar sehat? Seberapa sering Sahabat membiarkan tubuh terpapar racun dan hal yang membahayakan akibat konsumsi makanan tak sehat, rokok, dan gaya hidup amburadul? Rawatlah tubuh Sahabat sembari merawat jiwanya, niscaya jadi jomlo pun hidup tetap berkualitas.

4. Lakukan Apa Yang Sahabat Suka
Jangan biarkan orang lain menghalangi Sahabat mencoba hal baru dan melakukan hal yang diinginkan, tentu saja dalam koridor positif ya, bukan kegiatan yang merugikan badan, jiwa, lingkungan, dan negara. Walaupun banyak orang mencibir, jangan menyerah. Toh ini adalah hidup Sahabat yang perlu diisi dengan hal-hal yang menyenangkan. Ibarat pepatah, anjing menggonggong kafilah tetap berlalu. Coba dan kerjakan dulu.

Saya sendiri sudah menerapkan hal ini. Saya berpikir profesi penulis itu menyenangkan. Bisa dikerjakan di mana saja, membuat diri sendiri bahagia dan bisa menularkan kebahagiaan bagi orang lain. Maka saya belajar dan diam-diam mengikuti aneka kelas menulis saat saya sedang kerja kantoran. Ketika saya bercerita saya ingin menjadi penulis di masa depan, saya mendapatkan cibiran dari rekan kerja sekaligus atasan saya. Pekerjaan sebagai penulis tak akan menjamin finansial saya, begitu ungkapnya.

Saya tak menggubris dan tetap belajar. Tentunya saya belum menghasilkan uang dari kegiatan menulis saya, namanya juga pemula. Tapi, saya mendapatkan kebahagiaan luar biasa dari kegiatan menulis. Lama kelamaan saya berpikir bukankah kebahagiaan adalah hal yang lebih penting daripada uang?

Jadi, jangan minder dan galau jika Sahabat jomlo. Jadilah jomlo yang berkualitas dengan banyak menonjolkan kualitas positif Sahabat. Kesuksesan dan cinta akan mendatangi Sahabat. Jika pun bukan cinta dari lawan jenis, maka mungkin akan ada banyak cinta dari orang-orang dan lingkungan sekitar yang menghujani Sahabat. Yuk, jadi jomlo bahagia yang berkualitas.



#komunitasonedayonepost
#ODOP_6 

Friday, June 8, 2018

Surat untuk Si Lampion

https://goo.gl/5J62aV


Dear Calon Suamiku,

Sayang, kamu tahu lampion kan? Yang warnanya merah bulat seperti tomat raksasa, terbuat dari kertas dengan pendar cahaya dari dalam. Kamu tahu itu kan? Kamu lampionku.

Bukan, kamu tidak bulat merah. Ah, sudah kubilang kamu bukan tomat raksasa. Jadi stop cemberut dan bertanya-tanya. Kujelaskan dulu ya?

Lampion itu jenis lampu, penerang. Dulu di zaman Dinasti Han di tahun pemerintahan 25 – 220 Masehi, mereka membuat lampion dari kertas dilapisi kertas atau sutera merah yang ditopang  rangka dari bambu. Di malam hari orang berjalan, membaca, dan melakukan kegiatan lain ditemani lampion. Lampion juga dipasang pintu masuk, teras rumah, dan lama kelamaan dipakai para biksu untuk melakukan ritual mereka. Kerennya pemerintahan dinasti selanjutnya memakai lampion sebagai perayaan untuk penanda Tahun Baru Cina sudah selesai.

Sayang, jika kamu sering bertanya-tanya seperti apa kehidupan nanti untuk kita setelah menikah, jawabku selalu SEMANGAT! Tapi kamu terus bertanya. Sering kamu ragu dan menanyakan kesetiaanku dalam gelap badai rumah tangga nanti seperti apa sikapku. Masa kamu meragukanku?
Ingatkah kamu bahwa apa yang kita punya sekarang jauh merosot dari apa yang kita punya dulu. Aku tahu untuk kasusmu pasti berat. Tapi aku selalu mendukungmu. Yakinlah itu. Jangan lagi mengeluh tentang cukup atau tidaknya nanti uang belanja bulanan untukku dan anak-anakmu kelak. Semua pasti teratasi dan karena kamu lampion, kamu pasti bisa.  

Buatku kamu lampionku. Kamu akan terus berpijar. Aku tak butuh kamu menyala kuat berkobar seperti obor sampai bau minyak tanahnya kemana-mana. Cukup kamu jadi nyala lampion yang terlihat kecil tapi terus ada untuk hidup kita yang rimbanya gelap. Aku yakin kamu pasti benderang. Kamu akan selalu berjalan menerangi langkah-langkahku. Biarpun nyalamu tidak menyilaukan mata, berkilat seperti lampu LED dari motor dan mobil yang katanya kekinian itu, kamu akan sealu menyala terlindung dari angin karena ada kertas yang setia menjadi tamengmu.

Jadikan kebaikan hatimu, kesabaranmu, dan semua hal-hal positif untuk terus melingkupimu. Biar keserakahan, kerakusan dan lainnya tak mampu menembus dirimu.

Pasti kamu bilang, “Ah mau ngomong apa sih kok pakai lampion-lampion segala?”

Ish….kamu memang jauh dari romantis. Aku sudah memikirkan puluhan kalimat yang bisa menggambarkan lampion agar sesuai dengan dirimu. Atau sebaliknya, aku sedang mencari kualitas-kualitas bagus dirimu yang bisa kukiaskan dengan lampion, karena setelah kupandang-pandang, lampion yang gemuk itu melambangkan kesejahteraaan. Apalagi warnanya yang merah, itu lambang kemakmuran. Bukankah jika aku berbakti padamu dan mendukung semua yang kamu usahakan untuk keluarga maka kita akan hidup makmur dan sejahtera?

Seperti biasa, setujulah dengan pendapatku. Seperti apa yang biasanya kamu lakukan.

Oke, kamu lampionku. Jangan bosan menyala, wajib terus menyala. Kamu harus terus ada dan bisa
terang jalanku, bisa tenang hatiku.

I love you.

Silvana


Monday, May 28, 2018

Rezeki


http://mitsloan.mit.edu/newsroom/articles/probing-the-origins-of-happiness/


Bagaimana Sahabat memaknai rezeki? Apa sih rezeki itu? Anyway, penulisan yang benar sesuai KBBI adalah rezeki bukan rizki atau rejeki. Dalam kamus rezeki adalah kata benda (nomina) yang artinya segala sesuatu yang dipakai untuk memelihara kehidupan (yang diberikan oleh Tuhan); makanan (sehari-hari); nafkah. Sebagai kata kiasan rezeki artinya penghidupan; pendapatan (uang dan sebagainya untuk memelihara kehidupan); keuntungan; kesempatan mendapat makan.  Nah bagi saya rezeki adalah segala sesuatu yang berasal dari Tuhan yang terlihat maupun kasat mata yang meringankan kehidupan kita yang datangnya segera maupun nanti.

Saya rasa semua yang kita miliki saat ini adalah rezeki dari Tuhan. Kesehatan itu rezeki, buktinya ada ungkapan, kesehatan itu mahal harganya. Nah jika dinilai berarti besar sekali nilainya, maka ini juga rezeki kan? Di zaman dulu ungkapan paling tren adalah banyak anak banyak rezeki, jadi anak itu rezeki kan? Walau ungkapan ini bisa jadi kurang relevan sekarang, tetapi nyatanya anak adalah rezeki kan? Buktinya? Pasangan yang belum dikaruniai anak perlu bersabar dan terus berusaha berharap buah hati segera hadir dan selalu berkata, “Belum rezeki, ngga apa-apa, terus berusaha mungkin belum rezeki.”  Nah, rezeki lagi kan?

Rezeki datangnya tidak diduga. Nah kalimat ini menunjukkan pada rezeki yang bersifat nomina, countable, berkaitan dengan uang, dalam konteks ini saya rasa begitu. Karena kedatangannya bisa Anda rasakan. Misal, ketika lapar tiba-tiba ada yang mengantarkan sekotak nasi dan lauk pauk dari tetangga yang punya hajatan. Nah, rezeki juga kan?

Rezeki nomplok! Menyambung cerita tentang saya yang lapar dan tiba-tiba ada nasi kotak diantarkan langsung ke rumah. Setelahnya ada teman datang dan membawakan buah tangan sekilo apel dan sekilo jeruk keprok, maka saya bisa berkata. “Wah..rezeki nomplok nih.” Rezeki yang melimpah. Ah sesungguhnya hal seperti ini sudah bisa membuat saya sangat bahagia. Maka rezeki adalah sesuatu yang memberikan kebahagiaan, bukankah begitu Sahabat?

Rezeki apa yang baru saja Sahabat nikmati? Share yuk?


Thursday, May 24, 2018

How I Met Him – 9 Cara Ketemu Calon Pendamping Hidup

http://sozotoday.com/2016/04/11/hand-in-hand-3/

Masih galau bagaimana cara Sahabat bisa menemukan tambatan hati? Oke, sebelum membahas lebih lanjut harus ada hal yang diyakini yaitu jodoh di tangan Tuhan. Terdengar basi tetapi ini nyata pasti. Seberapa beratnya Sahabat berusaha jika bukan jodoh pasti tidak akan berhasil. Sebaliknya jika sudah jodoh jalan seterjal apapun tiba-tiba semua terasa ringan. Banyak kemudahan yang muncul.
Berikut adalah beberapa cara Sahabat bisa bertemu orang baru yang mungkin bisa membawa Sahabat pada calon pendamping hidup.
1.       Komunitas
Ini adalah tempat Sahabat bisa mendapat banyak kegiatan bermanfaat, manfaat yang melimpah, dan tentunya teman-teman baru. Coba cari minat Sahabat di bidang apa, kemudian cari komunitas yang bisa mewadahinya. Saya tidak pernah tergabung secara khusus dalam sebuah komunitas. Tetapi ada kelompok pegiat jalan kaki keliling Surabaya yang saya tahu. Saya pernah ikut beberapa kegiatannya dan melalui peserta-pesertanya kemudian saya mengenal beberapa orang yang ternyata ada yang getol donor darah, jadi pendongeng anak, salah satu pejabat Bank Indonesia yang gemar fotografi melayang, pegiat sejarah, dan lain sebagainya. Pasti banyak orang yang punya kegemaran lebh dari satu. Apakah saya menemukan si dia di komunitas ini? Tidak. Sahabat juga mungkin tidak bertemu dengan si ehem saat itu juga di satu komunitas tetapi mungkin dari saudara teman di komunitas itu, teman lamanya teman, atau siapa saja bisa ditemui mungkin bisa mengenalkan kita pada seseorang sengaja ataupun tidak. Jika belum ketemu jodoh? Jangan khawatir, niatkan saja menambah relasi dan pengetahuan, pasti ada manfaatnya.
2.       Perpustakaan
Sahabat suka baca? Jangan hanya baca di rumah. Manfaatkan waktu dengan mengunjungi perpustakaan di sekitar sahabat. Bahkan di RW biasanya ada taman baca. Silakan dikunjungi dan mungkin bisa kenal pustakawannya, keluarganya, tetangga kiri kanan, pengunjung perpustakaan lain dan yang jelas biasanya ada event yang diselenggarakan perpustakaan ini. Ayo, ini peluang loh. Jadi walaupun Sahabat suka menyendiri sambil membaca buku, kali ini bawa hobi Sahabat ke level yang berbeda.

3.       Event gratis
Ada banyak event gratis yang diselenggarakan di daerah. Mulai dari acara car free day, karnaval budaya, dan lain sebagainya. Amati sekitar dan nikmati event yang Sahabat kunjungi. Kegiatan ini bisa jadi membuka mata Sahabat untuk mengikuti kegiatan lain yang lebih bermanfaat dan membuka peluang bertemu relasi baru
.
4.       Kelas gratis
Tahukah Sahabat bahwa ada banyak kelas gratisyang ditawarkan online dan offline? Ada kelas yang sifatnya akademik misalnya dari IndonesiaX, Coursera, Udemy dan banyak lainnya lagi. Selain kelas gratis ini ada juga kelas untuk meningkatkan skill Sahabat, terutama berkaitan dengan dunia tulis menulis. Biasanya ada grup WhatsApp gratis yang bisa diikuti. Sahabat juga bisa mengecek Instagram di @lesinggrisgratis yang membuka kelas belajar bahasa Inggris gratis dan berbayar. Kelas-kelas ini akan menambah pengetahuan dan wawasan Sahabat. Kelas ini juga bisa membuat Sahabat kenal dengan banyak teman baru. Siapa tahu dari sana cinta bersemi.

5.       Reuni
Yang satu ini dikenal sebagai ajang ketemu jodoh. Saya sendiri tidak pernah sekali pun menghadiri
acara reuni sekolah, kecuali reuni keluarga. Saya tinggal jauh dari acara dan saya pribadi kurang
menggemari acara ini, mungkin karena saya kurang nyaman bertemu dengan teman-teman masa lalu.
Tetapi jika Sahabat punya pendapat yang berbeda saya sangat menyarankan Sahabat unuk ikut di
acara reuni sekolah, ini benar-benar kesempatan besar bertemu dengan mantan guru-guru, teman
lama, dan calon tambatan hati.

6.     Kegiatan sosial
Kegiatan sosial adalah kegiatan mulia yang membawa Sahabat bertemu orang-orang berjiwa mulia.
Bayangkan betapa bahagianya Sahabat jika bisa bertemu dengan calon suami melalui kegiatan
ini,pastilah orang ini luar biasa. Seorang pecinta kemanusiaan, pecinta kesejahteraan bagi sesama
adalah mereka yang getol berkegiatan sosial. Sahabat bisa melatih empati di sini dan semoga si dia
dipertemukan dengan Sahabat atas ijin-Nya.

7.       Silaturahmi
Silaturahmi adalah hal yang sangat dianjurkan di agama. Bahkan menjaga silaturahmi punya
kedudukan yang tinggi. Dalam kehidupan bermasyarakatpun ini adalah hal penting. Silaturahmi yang
tetap dijalin akan mendekatkan Sahabat untuk menjaga hubungan pertemanan dan persaudaraan.
Makin sering kita berinteraksi maka makin banyak kesempatan kita mengenal banyak orang.

8.       Online Matchmaker
Ini ada terobosan lain yaitu website biro jodoh. Sudah ada banyak yang berhasil da nada pula yang
tertipu, bukan ditipu pihak website tetapi ditipu oleh kenalan online di sana. Jadi tetap waspada. Biro
jodoh ini banyak yang berbayar, tetapi saya rasa ini justru menunjukkan jaminan keamanan bahwa
biro jodoh ini benar-benar kredibel. Sebenarnya ini buan jaminan utama. Segala sesuatu di dunia
maya harus dicek berkali-kali. Pastikan website bukan yang abal-abal. Cari tahu di banyak forum dan
kemudian baca testimony di luar website biro jodohh sehingga Sahabat bisa tahu sepak terjang
website biro jodoh tersebut sejauh ini.

9.       Online chat
Dahulu ketika zaman MIRC jadi  tren, online chat adalah hal yang sangat menyenangkan. Saya
banyak bertemu dengan teman-teman chat yang memang baik dan menyenangkan dari dunia maya. 
Sekarang Online chat memang bergeser menjadi tempat ngobrol tak senonoh atau scamming alias
penipuan online. Saya suka online chat dan dulu sempat ketagihan, hidup hampa jika tidak ngobrol
online dan saya pun bertemu dengan calon suami lewat aplikasi onlice chat di gawai telepon pintar
saya. Ketika orang bertanya bagaimana kami bertemu dan saya menyebut online chat maka reaksi
orang selalu berganti menjadi kurang antusias. Tanggapan banyak orang memang sangat negatif
terhadap hal ini tetapi nyatanya ini berhasil mempertemukan saya dan calon suami
.
Aplikasi chat memang saya akui banyak berisi chat yang tak bermutu daripada yang tulus berniat berkawan. Apalagi mencari calon suami, sebenarnya sangatlah susah mengingat banyak profil dan status palsu di dunia online chat. Jika Sahabat mengikuti jejak sata maka harap sangat berhati-hati dan tidak mudah percaya. Sebenarnya salah satu teman saya dulu juga bertemu dengan suaminya lewat chatting online. Mereka hidup bahagia sampai sekarang. Sekali lagi berhati-hatilah Sahabatku jika ingin mencoba online chat.



Monday, April 2, 2018

Life is a Race?

sumber gambar: https://goo.gl/ma3d1h/




Sahabat suka nonton film India? Pernah nonton film 3 Idiots yang dimainkan Aamir Khan dan ? Saya mengutip salah satu kalimat yang diucapkan profesor Viru, salah satu tokoh penting di film itu. I berkata, “Life is a Race, you run or you die. Simple” Begitu katanya. Apakah menurut Sahabat hidup ini adalah perlombaan?

Sebagai wanita tiga puluh tahunan maka perlombaan paling nyata bagi saya adalah mencari suami. Garis finishnya adalah pernikahan. Bagi saya pribadi sepertinya ini adalah perjuangan dan perlombaan maha berat. Tiap tahun silih berganti undangan dan kabar pernikahan berdatangan. Setiap datang acara reuni keluarga dan pertemuan keluarga pembahasan selalu pada “Gimana? Sudah dapat calon? Jangan lama-lama. Segera cari, ayo jangan di rumah saja. Bla blab la.” Tidakkah Sahabat merasakan betapa hidup ini tidak tenang? Saya harus berlari dan mencari garis finish itu?

Saya, sama seperti umumnya wanita Indonesia lain merasa bahwa pernikahan memang sebuah perlombaan. Siapa cepat dia tenang. Karena topic pertanyaan dalam aneka acara keluarga berkaitan dengan urusan ini. Bertemu teman lama pun pertanyaannya berputar pada masalah ini. Jadi, oke menikah sama dengan lomba. Tetapi ini pemikiran yang terlalu picik.

Menikah bukanlah perlombaan tetapi adalah sebuah komitmen antara pria dan wanita dewasa yang dibuat atas kesadaran yang dipertanggungjawabkan pada diri sendiri, keluarga, negara, dan agama. Ini definisi saya pribadi. Pernikahan adalah sebuah komitmen artinya ada kesepakatan dan kesungguhan yang dibuat untuk hidup bersama sampai ajal datang. Mengapa saya sebut komitmen antara pria dan wanita dewasa? Karena bagi saya hanya yang dewasa yang bisa melakukannya. Dewasa itu usia berapa? Bagi saya pribadi, bagi yang secara psikologis dan psikis sudah dewasa. Jika usia masih awal dua puluhan dan dibilang masih terlalu muda tetapi sudah bisa berpikir dewasa maka why not? Sama halnya jika yang bersangkutan sudah merasa dewasa tetapi fisik masih enam belas tahun maka saya rasa belum layak juga.

Saya menyebut pernikahan dibuat atas kesadaran karena memang ketika punya keinginan menikah harus benar-benar sadar. Ingat kan dengan drama Korea yang sering menunjukkan adegan tidak sengaja menikah karena mabuk? Bisa juga dalam kasus pernikahan dini karena adat, saya ambil contoh Mahatma Gandhi yang menikah pada usia 13 tahun karena pernikahannya diselenggarakan bersamaan dengan pernikahan dua orang kakaknya, agar irit budget maka diselenggarakan bersamaan. Padahal ia sendiri tidak tahu arti pernikahan. Komitmen dibuat oleh orang tua tanpa kesadaran penuh pihak yang menikah. Betapa bahayanya jika ini terjadi.

Terakhir komitmen yang dibuat dalam kesadaran penuh ini harus dipertanggungjawabkan pada banyak pihak. Yang pertama pada diri sendiri. Karena sudah memilih untuk menikah maka saya, misalnya, harus bertanggung jawab atas pilihan saya kepada diri saya yang utama. Bahwa ini adalah sebuah pilihan dan sebuah tanggung jawab yang saya emban dengan suka cita. Kemudian saya juga harus bertanggung jawab atas pernikahan saya pada keluarga besar. Ketika saya menikahi seorang pria, saya juga menikahi seluruh keluarga besarnya. Saya harus menikmati tinggal bersama sanak saudara yang bertambah banyak jumlah dan karakternya.

Pertanggungjawaban juga  saya berikan pada negara. Kok negara? Lha iya, kan saya akan mencatatkan pernikahan pada lembaga negara, maka saya tunduk pada peraturan yang mengikat saya dan suami nantinya. Saya juga harus bertanggung jawab memelihara keluarga baru saya untuk bisa hidup bahagia di negara ini dan tunduk pada aturan-aturan negara. Misalnya, punya kartu keluarga yang susunannya baru, melaporkan jika ada kelahiran, mencatatkannya, kemudian mendidik anak saya untuk menjadi manusia Indonesia yang baik.

Hal maha penting lainnya adalah mempertanggungjawabkan pernikahan saya pada agama, pada Allah, Tuhan yang saya puja. Maka bukankah segala tindak tanduk saya harus selaras dengan tuntunan agama dan wajib dipertanggungjawabkan kelak?
Pernikahan bukan sebuah lomba. Pada lomba, Sahabat mempersiapkan diri dan menikmati menjadi pemenang. Segala persiapan menuju pernikahan adalah persiapan lombanya, dan ketika Sahabat sudah sah menjadi milik sesorang maka mahar adalah pialanya? Saya rasa tidak seperti itu. Pernikahan adalah sebuah rahmat yang diterima untuk dipelihara dengan komitmen kuat. Ia bukan lomba, tetapi hadiah yang wajib dirawat.

Jangan takut jika Sahabat belum bertemu someone special yang akan dinikahi. Hadiah datang ketika tiba saatnya. Ini bukan perlombaan tetapi ini adalah usaha kita manusia untuk selalu berusaha berperilaku baik terhadap sesama dan mengharap hadiah dari-Nya segera datang untuk kita. Life is not a race. Life is a bless and we have to nurture the blesses. Hidup bukan perlombaan. Hidup adalah berkah dan kita harus merawat berkah itu (untuk mendapatkan keberkahan lainnya).


Sang Kala

Sumber gambar: https://www.huffingtonpost.com/2013/12/31/time-art_n_4519734.html “Ceritakan padaku apa yang perlu kudengar.” “...