Showing posts with label Fiksi. Show all posts
Showing posts with label Fiksi. Show all posts

Sunday, March 10, 2019

Sang Kala

Sumber gambar: https://www.huffingtonpost.com/2013/12/31/time-art_n_4519734.html




“Ceritakan padaku apa yang perlu kudengar.”

“Aku tak yakin perlu atau tidak aku bertukar cerita padamu. Aku terlalu sibuk memikirkan tentang masa depan. Tidakkah kau punya hal lain untuk dikerjakan?” kuusir sosok pengganggu yang duduk tenang di sampingku.

“Ah, kau hanya memikirkan tentang hal yang sudah tidak bisa berganti. Sudah mutlak. Percuma kau pikirkan itu. Lagipula siapa yang bisa memperkirakan masa depan? Manusia tak punya kekuatan untuk mengubah apa yang sudah digariskan, sudah tertulis di buku kehidupan. Diberitahu pun manusia terlalu bodoh untuk membuat persiapannya. Manusia terlatih untuk menyesali masa lalu. Itu  sudah paten, manusia memang pandai membuat hatinya gundah karena masa lalu. Ayolah, kau ceritakan saja apa yang menarik dari masa lalumu. Aku siap mendengarkan.” katanya.

Aku hampir tak bisa mendengar ceramah panjang pengganggu itu sampai selesai. Apa yang dikatakannya memang benar semuanya. Aku terlalu khawatir tentang hal yang berada jauh dari kuasaku, masa depan. Bagaimanapun aku tak biasa bercerita pada orang asing. Apalagi ia datang tiba-tiba ketika aku benar-benar ketakutan dan sedang tidak ingin berbicara apapun karena aku sibuk memikirkan apa yang akan terjadi pada nasibku.

Setelah keheningan yang melintas di antara kami berdua, tepatnya setelah ia selesai membetulkan jubah hitam yang mengganggu posisi duduknya, akhirnya aku menyerah. Lebih baik bercedrita untuk mengusir rasa cemas dan sepiku di sini. Senyampang ada yang menemaniku, tak mengapalah kuceritakan tentang masa laluku.

“Baik, kurasa aku punya sesuatu yang ingin kau dengar.” ujarku.

“Akhirnya! Aku siap mendengarkanmu.” Kulihat sudut mulutnya sedikit terangkat, ia puas aku menyerah pada tawarannya.

“Jadi, dulu aku orang yang merugi.”

“Tahu darimana kau merugi? Pernah kau hitung untung rugimu? Sudah kau timbang dengan baik?” baru satu pernyataan dariku dan ia mematahkannya.

 “Aku rugi karena telah terbuang waktuku yang ternyata amat sangat sedikit ketika akhirnya ibu meninggal. Kupikir saat itu ia hanya sakit biasa, kambuh dan keadaan baik-baik saja di rumah. Tapi ketika ayah memintaku pulang dan aku masih pulang dengan enggan. AKu ingin menghabiskan wkatu lebih banyak di kota S dengan kekasihku. Tapi ternyata ketika aku pulang, keadaan ibu sangat parah. Belum dua jam aku di rumah, ibu sudah dibawa ke kota S untuk dirawat lagi. Aku kembali ke kota S dan sedikit menggerutu, mengapa aku harus pulang jika ternyata ibu dibawa ke kota S, aku tidak perlu bolak-balik kan. Hanya lima hari kemudian ibuku meninggal. Aku menyiak-nyiakan waktu yang bisa kuhabiskan bersamanya, aku merugi.”

“Kau yakin ini cerita yang perlu kudengar? Memang terdengar menyedihkan tapi kurasa kau masih punya hal yang lebih buruk dari ini.” jawabnya enteng.

“Aku pergi pulang dari rumah sakit ke rumah tempatku tinggal di kota S, menjalankan kewajibanku sebagai pekerja seakan semuanya biasa saja seperti hari-hari sebelum ibuku tidur lemah di rumah sakit. Jika aku tahu ibu meninggal setelah lewat hari kelimanya di kota S, aku tak akan meninggalkannya hanya untuk pekerjaanku yang upahnya tak seberapa itu. Aku ingin punya lebih banyak waktu dengannya. Aku merugi.”

“Lalu? Apalagi?” si pengganggu masih ingin tahu.

“Ibu ingin minum sari buah jeruk saat sakit di malam pertamanya di kota S. Tepat ketika aku menghabiskan sari buah di dekat kasurnya dan aku tak bisa membelikannya segelas saja. Sampai sekarang aku masih mengingatny. Hanya karena aku malas mencari penjual sari buah untuk menghilangkan rasa pahit di mulutnya. Aku menyesal dan aku merugi.”

“Hm…menarik. Tapi masih ada yang jauh lebih menarik dari ceritamu itu.” tanggapannya atas ceritaku.

Dan mendengarnya mengatakan hal itu makin membuatku merasakan sesak di dada, seakan banyak beban berusaha menyeruak keluar dan sebaliknya rasa bersalah masuk merayap ke dalam tubuhku. Penyesalanku yang sudah kukubur dengan baik sekarang menjadi dan perlahan berkuasa atas diriku. Semuanya terasa pedih dan menyakitkan.  

“Ibu meninggal dalam usapanku, hanya bersamaku. Di saat ia mengembuskan nafas terakhirnya aku sedang menyeka wajahnya dan aku tak tahu jika tarikan nafas terakhirnya pagi itu adalah penanda jiwanya sudah pergi, hanya raganya yang masih bersamaku. Aku merugi, harusnya aku bangun lebih pagi dan menatap wajahnya lebih lama. Harusnya malam sebelum ia meninggal aku tidak tidur, memijit kaki atau sekedar mengajaknya bicara, aku yakin ibu bisa mendengarku walau ia sudah tak lagi sadar. Aku merugi.”

“Oh ya, aku banyak mendengar cerita penyesalan seperti ini.” Sekali lagi tanggapan dingin meluncur begitu saja dari ucapnya.

Aku makin tertantang untuk menceritakan hal-hal dramatis dari masa laluku padanya, untuk membuatnya lebih iba padaku. Maka kulanjutkan lagi, “Aku dulu tak pernah dekat dengan ayahku. Jarang berbicara dengannya dan tahu-tahu ia lumpuh akibat darah tinggi yang kemudian membuatnya makin sulit bicara. Harusnya aku lebih banyak mengajaknya bererita tentang apapun. Aku adalah darah dagingnya dan tanpanya aku tak ada di dunia. Aku merugi.”

Si pengganggu hanya diam. Maka kupikir aku sudah sedikit mendapat simpatinya. Kuingat lagi hal buruk yang kusesali di masa laluku dan kuceritakan lagi padanya.

“Aku membuang masa mudaku untuk memadu kasih dengan banyak laki-laki. Tak ada yang memberiku cinta sejati, sampai saat ini. Semuanya busuk. Aku membuang waktu untuk hal yang tidak berguna.” Sambil mengatakan empat kalimat ini semakin sedih aku dibuatnya, jauh lebih sedih daripada ketika kuceritakan bagian orang tuaku padanya. Aku merasa sudah menyia-nyiakan waktu hidupku benar-benar untuk hal yang tak berguna. Melakukan hal yang tak disukai kedua orang tuaku, bahkan sejujurnya aku sendiri juga benci mengakui bahwa aku tidak pernah menginginkan seorang pun dari mereka menjadi suamiku.

Si pengganggu sedikit memalingkan sisi wajah sebelah kirinya, ke arahku. Aku tahu aku mulai mengatakan hal yang menarik buatnya, dan kemudian tanpa kusadari kalimat berikutnya meluncur dari bibirku.

“Aku sangat merugi. Kuhabiskan waktuku untuk memuja lelaki, mengejar kehidupan duniawi, menghadiri aneka acara pelesiran yang menguras kantongku tanpa hasil yang berarti, kubuang waktuku untuk bersenang-senang karena aku ingin bahagia di dunia. Aku merugi karena tidak kupakai sedikit waktuku untuk beribadah pada-Nya, memuji nama-Nya, berjalan ke rumah-Nya dan memohon ampunan-Nya. Aku sangat merugi tak bisa menjaga tubuh yang sudah diberikan-Nya padaku, tak bisa menggunakan akal sehatku untuk hal yang baik, dan tak menjaga ucapanku dari hal yang sangat dibenci-Nya. Aku manusia yang merugi!” pekikku tak terkontrol dengan air mata mengucur deras membasahi pipiku.

“Itu yang ingin kudengar. Baguslah jika kau mampu mengingatnya. Semua kini sudah terlambat, jangan sibuk memikirkan apa yang akan terjadi dan tak perlu lagi kau ingat apa yang sudah kau lalui. Semuanya sudah tercatat rapi dan pasti terjadi. Jadi sekarang nikmati saja penyesalanmu dan aku pamit.” Si pengganggu meninggalkanku.

Cepat sekali ia pergi seperti sekelebat bayangan. Aku sendiri lagi di tanah lembab ini. Ragaku kaku terbujur dalam balutan kain mori menunggu siapa lagi yang akan datang dan membuatku nyeri mengingat hidupku di dunia kala itu.  
  


Monday, December 3, 2018

Merah Darah

https://bit.ly/2AI3wHK




“Gimana tadi Dik sekolahnya?”tanyaku pada Siti putriku.

“Tadi ada orang dari puskesmas Ma. Cerita-cerita gitu di depan kelas. Kasih tau kalo ga boleh jajan smebarangan.”celotehnya.

“Oh ya? Berapa orang yang datang Dik? Ada dokternya?”tanyaku lagi.

“Tadi itu…2 orang Ma. Yang satu pakai baju coklat yang satu lagi pakai baju batik Ma.”jawab Siti.

“Kenapa ga boleh jajan sembarangan Dik?”aku mencoba menguji putriku apakah ia mendengarkan penjelasan petugas penyuluhan puskesmas di sekolahnya atau tidak.

“Ya itu Ma, pakai pewarna Ma. Kan warnanya merah, ijo, kuning menyala gitu ma. Kata pak dokter tadi itu pewarna berbahaya. Terus banyak jajan yang digoreng pakai minyak hitam. Tadi dikasih liat gambarnya Ma, hitam banget. Itu katanya pak dokter sudah dipakai goreng lebih sepuluh kali tapi nggak diganti.”Siti bersemangat menjelaskan. Senang putriku bisa mengingat pesan [enyuluh kesehatan dengan baik.

“Trus apalagi?”aku terus bertanya.

“Ya itu Ma, jajan depan sekolah sering ga dibungkus. Tar dihinggapi lalat. Terus bawa penyakit. Bisa mencret Ma.”

“Gitu ya Dik? Ya sudah makan dulu.”Aku menghentikan penjelasannya sambil menyodorkan mangkuk bakso berkuah bening dengan butiran bola daging besar menggugah selera. Kami mampir makan bakso di warung bakso Pak Di langganan kami.

“Adik pakai kecap saja ya?”ulasku sambil menuang beberapa tetes kecap manis ke mangkuk baksonya

“Iya Ma. Loh mama pakai saus?”Kan tadi kata pak dokter ga boleh ma pakai saus merah. Katanya itu pewarnanya ngga bagus ma”Siti berargumen ketika melihatku menuangkan saus tomat berwarna merah darah pekat ke dalam mangkukku.

“Ngga apa-apa. Mama udah besar. Siti masih kecil jadi ga boleh pakai saus merah.”jawabku singkat sambil terus menuang saus merah darah  dari botol kaca ke dalam mangkuk sampai kuahnya mengental merah darah. Kutambah 3 sendok sambal dan kusantap.

Siti melongo melihatku.



#ODOPBatch6

Sunday, December 2, 2018

Penantian


https://bit.ly/2zBn40M


Perlahan jariku menggerakkan kelambu tebal berwarna hijau muda yang membatasi tempatku berbaring dengan pasien lain. Kupegang lengan kananku dan kupencet perlahan bagian bawah lipatan dalam tanganku, tegang dan keras. Jarum infus masih menempel di dekatnya. Aku menengadah ke atas dan silau lampu ruangan membuatku mengerjap, kuingat-ingat berapa lama aku sudah ada di sini. Kuhitung sudah lima hari sudah lamanya.

Aku gerakkan perlahan lengan kananku yang berinfus, kugeser bantal yang menopangnya agar lenganku bisa jatuh ke kasur, sejajar dengan lengan kiriku. Sedikit pegal rasanya. Kugerakkan ujung jari tangan kananku dan kuraba selimut lembut yang wangi cairan desinfektan. Cukup lembut selimut ini untuk ukuran rumah sakit umum daerah pinggiran.

Kurasakan sakit yang aneh di bagian perut bawahku. Aku penasaran apa sayatan itu berbekas. Bagaimana para dokter itu mencabikku di meja operasi, apa mereka sudah memperlakukanku sebaik-baiknya dengan membuat guratan pasca operasi yang layak. Atau mungkin nanti berbekas lebar? Kubuang pikiran jelek itu dan aku kembali terpekur dalam penantianku.

Ada hal yang lebih penting lagi. Sudah lewat 12 jam, ah salah sudah sehari semalam dan dua jam lagi, tepat dua jam lagi akan masuk hari kedua pasca operasiku dia tak kunjung datang. Aku tidak bisa membuatnya berjanji dan aku tahu dia juga tak bisa menjanjikan apa-apa padaku. Tuhan tolong segera kirim dia, kini aku ketakutan sendiri di ruangan tempat aku berbaring. Dulu aku acuh menganggap kehadirannya. Sering malu aku dibuatnya jika orang lain tahu tentang keberadaannya. Sekarang aku teramat sangat membutuhkannya. Tuhan yang Maha Pengampun, ampunilah dosaku dan tolonglah umatmu ini, aku memejamkan mata sembari berdoa.

“Ma, gimana?” suamiku datang kembali dari kamar obat dan mengambil kursi duduk di sampingku.

“Belum Pa.”jawabku.

“Belum kentut Ma?” suamiku menatap wajahku yang memelas.

“Belum, gimana nih pa?”aku merengek setengah khawatir.

“Coba kutanya perawat jaga ya. Tunggu ya Ma?”suamiku bergegas keluar ruangan.

Duh kentut mengapa kamu belum juga datang? Kamu maha penting melebihi segala urusan duniawiku pasca operasi. Datangnya dirimu pertanda usus dan organ tubuh dalam lainnya di pencernaan sudah bangun dan sudah bisa bekerja mengolah makanan. Kentutku, segeralah datang.


#ODOPBatch6
   

Kawan Lama

https://bit.ly/2lPjAkF


Sore ini seperti biasa selepas Ashar wanita berdaster itu berjalan menyusuri gang. Usianya sekitar 56 tahunan. Kadang ia memakai jilbab, kadang rambutnya dikonde cepol kecil. Ia selalu memakai gaun rumah yang dibuat longgar. Setiap hari selalu salin pakaian, berbedak dan berjalan tergesa langkah teratur.

Hari ini dijinjingnya kursi kecil dari plastik. Tujuannya satu, ke ujung gang, Ia akan menunggu temannya datang. Temannya selalu datang dan mereka akan bercengkerama, bicara ngalor-ngidul tentang topik apa saja yang menarik hati mereka berdua. Mereka selalu bertemu di pos kamling RT lima.  Posnya tepat di sisi jalan raya di sebelah mulut gang. Pos selalu terkunci dengan beberapa kursi plastik tempat orang duduk meronda di malam hari,  jadi wanita tua berdaster membawa kursi kecilnya sendiri.

Ia sampai di pos kamling. Sedikit membungkuk ia mencari tempat yang pas untuk kursinya. Diperiksanya kerikil pinggir jalan, dicungkil satu yang menurutnya tidak pada tempatnya dan diletakkan kursinya. Pas! Giliran pantat diparkir di atas kursi. Nyaman sudah, tinggal temannya yang belum datang.

Tak lama berselang ia mulai tertawa. Bahagia hatinya temannya sudah datang tidak terlambat. Wanita tua berdaster mulai bercerita tentang kegiatan belanjanya kemarin. Ia memasang wajah kesal, harga-harga naik dan ia bertemu musuh masa kecilnya. Bicaranya mulai berapi-api, ia mengingat semua kebencian pada teman masa kecilnya itu. Sedikit sumpah serapah terlontar juga dari mulutnya sambil bercerita. Kesal hati dan dendamnya membuatnya tak henti bercerita tentang belanjaan dan musuhnya.

Ia terus mengajak teman ngobrolnya bicara tentang banyak hal. Kadang ia tertawa karena memang lucu ceritanya, kadang nadanya datar, dan kadang penuh amarh, seperti cerita belanja kemarin hari yang tak sengaja bertemu musuh. Ia tak henti bercerita, sesekali melihat sekilas ke arah segelintir orang yang melewatinya cepat-cepat. Ia tak peduli dan terus bercerita.

Hari makin senja dan menjelang waktu Maghrib ia berpamitan dengan temannya. Sedikit tertawa terkekeh ia berpamitan dan beranjak pergi. Tak lupa ia ambil kursi plasti kecilnya dan berjalan masuk gang kembali ke rumahnya. Esok di jam yang sama ia akan kembali ke pos kamling, temannya pasti menunggu. Ia berjalan melewati ibu-ibu yang baru pulang dari pengajian di masjid kampung di gang itu. Ia tidak menyapa dan terus berjalan ke rumah.  Para ibu tadi melihat wanita tua berdaster dan mulai membahas hal yang sama, mengasihani wanita tua berdaster yang berkawan dengan khayalannya, berbicara dengan angin setiap hari di jam yang sama tanpa terlewat satu hari pun. Kadanga bicara dan kadang memaki tanpa ada teman bicara. Ibu pengomentar mengingatkan kelompoknya agar selalu rileks, tidak stres, agar tidak gila. Ia menutup komentarnya sambil tertawa terkekeh dalam nasihat yang dibungkus dengan nada melucu. 


#ODOPBatch6

Sunday, November 25, 2018

Senggugut

Photo by rawpixel.com from Pexels



Tari meremas sprei kasur yang menghangat karena ditimpa tubuhnya semalam. Keriput sprei mengikuti gerak tubuhnya yang beringsut, mengejang, menggelinjang, diikuti peluh dan kernyitan kedua alis mata dari tengah malam. Matanya terpejam rapat selaras dengan bibirnya yang terkatup. Terkadang bibir jadi korban digigit gigi yang menikuti riuhnya situasi perut.

Di rahim otot-otot saling serang, menegang, mengencang, menjadi-jadi ketika dindingnya meluruh. Pembuluh darah menyerah pada tekanan otot dan memutus suplai darah dan oksigen. Keluar bahan kimia alami bernama prostaglandin yang melahirkan jutaan rasa nyeri. Senggugut.

Tari tetap berada di kasurnya yang tidak lagi nyaman. Semua terasa berat dan menyakitkan. Ia tidak akan masuk kerja hari itu. Tak berdaya ia menunggu sesorang datang dan menerobos masuk kamarnya, mungkin ada yang iba membuatkannya teh panas atau membantunya menegakkan punggung.


#ODOPBatch6
#OneDayOnePost

Macet

sumber: https://cookpad.com/id/resep/4653108-lontong-kikil



Hari ini Dewi tersenyum lebih lebar dari biasanya ketika menyapa Bu Parman tetangganya sebelum berjalan keluar gang menunggu datangnya angkot. Sesekali ia tersenyum kecil, tersipu-sipu dengan masih berdiri bersama calon penumpang lain. Bibirnya dikulum beberapa kali, kebiasaannya sejak kecil jika semua berjalan manis.

30 menit kemudian Dewi sampai di depan SMA nya dulu. Setelah membayar ongkos ia merapikan bajunya dan membetulkan letak tali tas di bahunya. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya, jri tangannya seketika sedingin es, dan tak disadarinya senyum di bibir tetap mengembang.
“Dewi, sorry lama ya tunggu aku?”suara merdu dan sekelebat wangi tubuh membuatnya menoleh. Indra, teman SMA nya datang menghampirinya. Wajahnya tetap sama, air mukanya juga sama, hanya bidang dadanya yang melebar, tegap tubuhnya juga berbeda dari dulu.

“Oh Indra, apa kabar?” Dewi menutupi gejolak hatinya dengan basa-basi bertanya kabar.

“Baik. Ayo Wi langsung aja yuk?” Indra tanpa basa-basi mengajak Dewi menuju ke sisi samping sekolah, jalan kecil dengan jajaran rumah dinas kosong tak berpenghuni dan beberapa waruung kecil di kedua sisi jalan. Pandangan Dewi langsung menuju ke salah satu warung tenda besar yang mungkin bisa menampung lebih dari 50 pembeli. Ia mengikuti Indra dan segera mengambil tempat di salah satu kursi kosong depan laki-laki tua sekitar 75 tahunan yang asyik menyeruput kuah dari mangkuknya sampai berbunyi ramai.

“Pesen seperti biasanya kan WI?”Tanya Indra memastikan.

“Iya.” Dewi menjawab singkat dan kemudian larut dalam obrolan panjang bersama laki-laki yang selalu dikaguminya itu.

Hampir tujuh menit berlalu dan seorang pelayan membawa nampan berisi dua piring lontong dan dua mangkuk sup kikil sapi. Ia dan Indra terdiam dan kemudian kompak mengambil sendok dan garpu di wadah di atas meja. Dewi melihat mangkuknya dengan takjub. Irisan daging berlemak dari bagian kaki sapi berpadu dengan kuah kuning kunyit dan aneka rempah lain. Wangi gurih semerbak menggelontorkan liur dari pangkal leher memenuhi mulutnya.  Bawang goreng yang berenang bebas di atas permukaan sup membuatnya kalap untuk memasukkan tiga sendok penuh sambal dan mengaduk perlahan campuran daging kaki sapi, otot, dan lemak.

Dewi ingat betul dokter memintanya untuk berhenti makan lemak hewani yang gurih tiada tara dari masakan apapun. Kolesterolnya jahat membuat sendi-sendi kehilangan kelicinan ketika saling berpadu. Tapi ini hari khusus. Ada Indra yang mengajaknya bertemu membicarakan desain interior karyanya yang dipesan kantornya minggu lalu, ada juga ajakan menikmati semangkup sup kikil sapi dari Inda pujaannya dulu dan sekarang.

Dewi menyorongkan sendok melewati tumpukan dadu lontong dan sepotong lontong berhasil menempel di sendoknya. Ditanamkan sendok itu pada limpahan daging kaki sapi yang berlemak. Diambilnya potongan yang paling besar ditelannya dengan penuh keyakinan.

Mendadak nafasnya tersengal. Dewi berusaha menelan potogan daging dan mengambil nafas di saat yang bersamaan. Tenggorokannya tercekat. Makin ditelan makin tersiksa. Tangannya dikepal-kepalkan seakan kekuatan menelan terkumpul di situ. Ia menepuk bahu Indra, sambil membuka rahang selebar-lebarnya. Daging kaki sapi macet mandeg di kerongkongannya. Keras menutup rongga kerongkongan.  Hanya di tangan Indra ia berharap ada bantuan.



#ODOPBatch6
#Fiksibebas

Review Cerpen Ketika Kucingmu Pergi Sebentar


Ketika Kucingmu Pergi Sebentar ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia 

Dari sekian banyak cerpen yang ada di lakonhidup, ada satu yang langsung menarik hati saya. Cerpen ini berjudul Ketika Kucingmu Pergi Sebentar. Saya pilih karena saya adalah penyuka kucing, jadi saya berharap akan membaca cerita yang menarik.

Buat saya cerpen ini indah dari susunan kata dan kalimatnya. Penulis yang sudah banyak menerbitkan karyanya tentu punya jam terbang tinggi tetapi isi dan alur certanya biasa saja. Konflik kurang greget. Walaupun sejalan dengan ide awal yang dibangun, tentang apa yang terjadi ketika si kucing pergi, tetapi cerita ini terkesan biasa saja. Untuk cerpen yang diterbitkan di harian besar saya punya ekspektasi lebih.

Cerpen menggambarkan tentang dua orang pedagang pasar yang kenal baik, bahkan sudah seperti saudara yang kemudian saling hajar dan mengakibatkan pasar terbakar karena si kucig menghilang. Salah satu pedagang, Rusli dituduh sengaja menghilangkan kucing liar yang disayang Matondang. Nah, di cerpen ini tidak dijelaskan bagaimana Matondang menyayangi kucingnya. Kucing liar yang tak sengaja tidur di depan lapak milik Rusli diusir, kemudian diterima oleh Matondang. Penulis tidak jelas menggambarkan bagaimana kuatnya ikatan hati antara Matondang dan si kucing yang diberi nama Roro Kendul.

Roro Kendul digambarkan membawa rezeki. Ini pun tak jelas seperti apa kedahsyatan Roro Kendul sehingga kepergiannya layak dibayar dengan adu jotos yang berujung terbakarnya pasar. Bagi saya yang suka kucing, walaupun hanya menawarkan tempat tidur dan makan, saya bisa menggambarkan kesedihan hati saya ketika, misalnya si kucing hilang. Saya juga bisa menceritakan mengapa kucing sangat berharga buat saya. Tapi di cerpen ini tak dijelaskan sedramatis itu.

Rusli juga diceritakan mengusir Roro Kendul ketika pertama kali ditemukan di toko. Tidak diceritakan jika misalnya Rusli punya perangai buruk, suka menyiksa kucing dan lain sebagainya. Jadi saya menyimpulkan Matondang berperangai sangat buruk sehingga mudah emosi ketika tak bisa menemukan Roro Kendul. Tak ada hal istimewa di diri Roro Kendul tapi hanya Matondang yang beringas. Maka kemudian saya jadi bertanya-tanya, lalu apa spesialnya si Roro Kendul ini. Benarkah ia pembawa rezeki dan keberuntungan?

Terbakarnya pasar karena kedua toko milik Rusli dan Matondang yang tetap menyala sampai pagi menjadi penutup cerita yang dramatis. Tapi penambahan drama kebakaran ini buat saya jadi kurang natural. Alur dan jalan ceritanya bagus tapi isi ceritanya kurang menggigit.

Bagaimana pendapat Sahabat, tertarik membaca cerpen ini? Silakan baca dengan klik link disini.



#ReviewCerpenLakonHidup
#ODOPBatch6
#TantanganReviewCerpen


Monday, November 19, 2018

Partitur Piano di Sobibór

https://bit.ly/2ToO7o6


Adina menuntun sepedanya sepulang dari balai kota. Dengan cepat ia melintasi jalanan yang sedikit lembap karena kabut datang terlambat pagi ini. Senyum menghiasi wajahnya dibantu oleh paduan apik bandana merah jambu dan jas wol rajutan tangan bibinya dari Austria. Dengan baju lapis seteal itu pun ia masih merasa dingin perlahan membuat kaku buku-buku jarinya. Ah, dia gugup. Seperti hari-hari yang lain ketika ia bertemu Heinrich.

Mereka akan bertemu di restoran milik Hermann, sahabat Heinrich. Tidak, restoran yang menyajikan kopi terbaik di Warsawa tepatnya. Bahkan orang dari kota lain jauh di hulu Sungai Wolbórka juga sibuk datang ke restoran Hans. Padahal restoran ini baru buka menjelang makan siang, tapi biasanya belasan orang sudah mengantri di depan pintunya. Adina membayangkan secangkir kopi dengan roti bakar dan buah segar. Biarlah musim menjelang ke awal musim gugur, buah-buahan kering masih pas menemani hari yang merangkak siang.

Adina tiba di restoran itu dan langsung menuju ke pintu samping menghindari tiga orang lelaki setengah baya yang mengantri untuk secangkir kopi dengan bagel atau mungkin muffin. Ia menuju dapur karena di situlah Hermann dan Heinrich berada.

Adina dan Heinrich selalu bercengkerama sampai waktu makan siang usai, dengan atau tanpa Hermann. Ia terlalu sibuk dengan tukang masak dan pelanggan restorannya. Seringkali riuh restoran membuat keduanya pindah duduk ke lorong samping restoran. Cerita tentang keadaan di gedung balai kota dan kelas piano adalah topik yang tak ada habisnya untuk diobrolkan. Hari ini Adina sudah menyiapkan cerita tentang Izaak, pegawai baru yang mengacau di hari pertamanya bekerja. Ia juga membawakan beberapa buku partitur piano yang tak sengaja ditemukan di tumpukan kardus bekas milik atasannya, khusus untuk Heinrich.

Suasana sambutan yang dingin dan kurang ramah diterima Adina baru saja setelah tuntas memarkir sepeda dan selangkah masuk ke pintu belakang restoran. Hermann meludah kecil sambil spintas melihat ke arah Adina.

“Sebaiknya kau pergi hari ini.” Heinrich merangkul bahu Adina dan membawanya keluar restoran.
“Ada apa? Mengapa Hermann begitu?”

“Kau pulang saja. Tolong, jaga dirimu baik-baik. Dengarkan aku baik-baik, jaga dirimu, kau haru berjanji padaku. Ingat kau harus menjaga keselamatan keluargamu, terutama dirimu sendiri. Langsung pulang dan ajak kedua adikmu. Beri tahu orang tuamu untuk segera berkemas. Tinggalkan Warsawa.” Heinrich berkata tegas, jelas, tapi entah mengapa Adina tak memahamii barang sepatah kata pun yang didengarnya.

“Heinrich, apa maksudmu? Mengapa aku harus pergi. Bagaimana dengan rencana liburan kita ke Vladivostok? Katamu kita akan membicarakan tentang liburan kita berdua hari ini.” Adina protes dan menolak pergi dari restoran.

“Adina, dengarkan aku. Sekali ini saja, jangan buat aku mengulangi lagi perkataanku. Demi keselamatanmu dan keluargamu segeralah berkemas dan tinggalkan kota ini. Pergilah ke rumah pamanmu di selatan atau ke rumah adik ibumu di Zaslaw.” Nada suara Heinrich yang serius untuk kedua kalinya meyakinkan Adina bahwa sesuatu akan terjadi dengan kotanya. Ia melangkah menuju sepedanya.
“Kau masih mencintaiku kan?” tanyanya pelan, kali ini matanya mencoba menangkap jawaban dari mata Heinrich.

“Cinta tidak kita butuhkan di masa seperti ini. Usah kau tanyakan lagi.” Jawab Heinrich datar. Ia berjalan masuk kembali ke restoran dan menikmati remuk redam hatinya. Sikap kasarnya akan menyelamatkan Adina. Makin ia berlama-lama dengan gadis yang baru dikencaninya tiga bulan ini, makin berat tanggungan siksa di batinnya. Heinrich merogoh saku celananya. Kotak beludru dengan dua cincin itu masih ada di sana. Lamaran yang dipersiapkan untuk Adina ketika nanti berlibur di Vladivostok harus dikubur. Saat ini waktu berkejaran dengan bahaya, cinta tak perlu ada di masa seperti ini. Toh adanya cinta takkan menyatukan mereka.

“Sudah kau usir gadis Yahudi itu?” tanya Hermann

“Ya.” Jawab Heinrich singkat kemudian duduk dan mencecap kopi di cangkir tua yang sedikit dingin.
 
“Mereka hanya sampah.” Hermann sengaja membuat Heinrich dengan jelas mendengar kata sampah. Lalu ia bercakap-cakap dengan kokinya.  

***
8 Oktober 1939

Dua hari setelah Adina dicampakkan Heinrich, ia dan keluarganya tiba di Sobibór. Mereka berencana akan mengunjungi adik ibunya di Zaslaw tapi kereta api tak lagi beroperasi. Mereka menumpang truk pengangkut ternak bersama keluarga Friedman tetapi kemudian dihentikan tentara Schutzstaffeln tepat sebelum memasuki Sobibór.

Adina dan ibunya dipisahkan dari kedua adik laki-laki dan ayahnya. Ia berbaju terusan dengan garis vertikal yang sedikit apek bau keringat. Seluruh barang pribadinya sudah digeledah dan disita oleh tentara Schutzstaffeln wanita, belakangan diketahui namanya Bett. Hanya buku partitur untuk Heinrich yang berhasil disembunyikannya. Ia menghuni barak besar dengan lima belas ranjang susun yang beralas tipis. Sudah ada enam wanita di dalamnya sebelum ia datang. Semuanya sama, berbaju garis.

Suara perintah dalam bahasa Jerman didengarnya pagi sampai malam. Raungan sirine untuk ini dan itu dipelajarinya hanya dalam waktu sehari. Bersama ratusan penghuni kemp ia bekerja pagi sampai sore hari untuk segala kebutuhan tentara Schutzstaffeln. Ia bertani dan ibunya di bagian jahit-menjahit,

Setelah dua bulan ia bekerja di sana, hanya sekali melihat ayah dan kedua adiknya. Setelah itu hanya sekelebat gerak ayahnya yang tertangkap mata. Kemp untuk laki-laki terpisah dari wanita. Di saat malam yang melelahkan datang, ia memeluk buku partiturnya. Diucapkan doa untuk Heinrich agar ia juga selamat dari kerja paksa yang membingungkan ini.

***
2 Januari 1940


Setelah hampir tiga bulan di tempat ini, jumlah penghuni wanita bertambah hampir tiga kali lipatnya. Mereka datang dengan kereta yang berhenti di dekat batas kota Sobibór. Wajah penumpangnya kusut masut dan lemas. Adina tak tahu kereta tak berjendela itu mengangkut ratusan orang yahudi dari berbagai sudut kota untuk disatukan di kemp tempatnya bekerja.

Adina melihat ke arah pendatang baru dan dilihatnya sesosok pria tegap dalam seragam Schutzstaffeln. Ia mengernyitkan muka dan mencoba memusatkan padangannya melihat sosok itu dari kejauhan. Itu Heinrich. Tampak gagah dengan seragam Schutzstaffeln nya. Adina senang, Heinrich rupanya sangat memperhatikan keadaannya. Ia akan keluar dari kemp ini. Seketika langkahnya ringan dan senyumnya terkembang. Diangkutnya karung benih dengan riang. Ia akan pulang.

“Mengapa kau tersenyum?”Anet, teman sebarak bertanya padanya ketika mereka menanam bibit bersama.

“Aku akan pulang.” jawab Adina singkat.

“Darimana kau tahu?” tanya Anet heran.

“Aku yakin. Kekasihku di sini.”

“Kekasih? Yang mana? Baru datang?”

“Ya.” jawab Adina singkat.

“Semoga itu benar terjadi. Ibuku tak kembali dari semalam. Sudah kutanyakan pada petugas, katanya ibuku dipindah ke bagian lain. Ibu, nenek dan bibi Agata yang sudah tua juga tidak kembali. Bahkan ada tiga hari lamanya. Dora juga mengalami hal yang sama. Adik-adiknya yang masih kecil tak lagi terlihat sudah seminggu. Aku heran ada apa dengan kemp ini. Kemana semua orang-orang tua dan anak-anak pergi.” Anet tetap bekerja walau ada nada getir di suaranya.

“Sebentar, aku akan kembali.” Adina meninggalkan Anet dan menyelinap dari pengawasan petugas menuju ke baraknya. Ia menghambur ke kasur ibunya dan tak ada lagi bantal, selimut, dan sedikit barang ibunya. Semuanya lenyap. Dicarinya buku partitur kesayangannya di antara sela tempat tidurnya. Ada di sana. Ia menemukan secarik kertas lusuh dengan tulisan tangan yang sangat dikenalnya. Tulisan ibunya.

“Adina. Jaga dirimu baik-baik. Semoga kau bisa keluar dari sini. Jangan pernah lengah. Maaf ibu selama ini diam, ini semua demi keselamatanmu. Kau harus tenang dan gunakan otakmu untuk kabur dari sini. Waktu ibu tak lama. Mereka membunuh semua orang tua dan anak-anak. Kabarnya mereka dibakar hidup-hidup, ada yang bilang ditembak di ladang jagung di ujung kemp. Ibu tak tahu kebenarannya. Ibu hanya berdoa yang terbaik untukmu, adik-adik, dan ayahmu. Semoga mereka baik-baik saja. “ begitu isi suratnya.

Adina menengok ke luar jendela, hujan abu datang lagi. Sudah hampir seminggu setiap jam Sembilan pagi abu turun setelah diterbangkan angin. Mungkin batu bara mengeluarkan polusi, ataukah ini abu pembakaran mayat ibu , nenek, dan bibi nya Agata dan Dora? Ataukah…

Dor! 

Suara keras memecah gelisah batinnya. Perlahan ia keluar dari barak dan melihat di kejauhan seorang pria terkapar dengan kepala berlumuran darah. Dua orang laki-laki lainnya berlutut dengan gemetar di samping sang pria malang. Seorang tentara SS – Schutzstaffeln menodongkan pistol ke tempurung kepala lelaki kedua. Tentara itu Heinrich.





Catatan:
Sobibór adalah kemp pemusnahan masal yang dibangun dan dioperasikan oleh SS, satuan organisasi langsung di bawah kepemimpinan Adolf Hitler dan partai Nazi. Kemp ini dibangun di dekta rel kereta api pada Perang Dunia Kedua. Tercatat lebih dari 250,000 orang Yahudi dibunuh di sini.






#TantanganFiksiHistoris
#ODOPBatch6

Sunday, November 18, 2018

Sang Penjaga

Photo by Burak K from Pexels



Aku mengerling pada temanku di sisi lain ruangan, aku menguatkannya, mencoba menabahkan hatinya. Ia akan melalui hari-hari yang panjang. Ia harus menemani ibu muda yang baru saja kehilangan bayi pertamanya. Perlukah kukatakan, calon bayinya? Hilang nyawa dalam rahim ibu, yang katanya bagian paling kuat dari manusia, tapi tetap saja jabang bayi itu meregang nyawa.  Bukan nasib baik untuknya.

Sendu dan kelabu wajah kawanku, dalam hidupnya yang sudah payah ia kembali redup, ibu bayi diselimuti kesedihan sambil mengejan mengeluarkan si kecil tak bernyawa itu dari tubuhnya. Bisa kurasakan pahit derita kawanku.

Di sebelahnya, kawanku yang lain berbinar benderang menunggui kasur yang tak berpenghuni. Tidak, ia tidak bahagia. Hatinya pun gundah, penuh kebosanan. Hanya saja ia berusaha tetap cemerlang seperti biasanya. Rumor banyak beredar, siapapun yang di bawah penjagaan kawanku akan bernasib buruk. Kejamnya manusia dan mulut lancangnya.

Aku? Aku selalu mencoba berbahagia. Aku menyaksikan kelahiran demi kelahiran di bawah pengawasanku. Belum ada nyawa menghilang di sini seminggu terakhir. Tawa dan tangis kebahagiaan deras berderai. Ah, manusia, tangis dan tawanya sungguh tak kumengerti.
Tak pernah aku tertidur dalam tugasku. Selalu aku dibuat terjaga, menyala

Tekad Kuat

sumber: detikfood




“Adin, nggak makan?” sahabatku menepuk pundakku dan mengajakku pergi ke kantin kampus. Sudah jadi ritual harian kami, setelah kuliah pertama hari Senin kami mengobrol santai sambil jajan di kantin Bu Eko.

“Nggak, Mit. Sorry lain waktu ya?” pintaku tanpa memindahkan mataku dari buku yang baru kubeli semalam di acara diskon buku besar di kotaku.

“Tumben Din. Yakin nih nggak lapar? Kamu puasakah? Eh, tadi kamu baru minum air setengah botol, jadi kamu nggak puasa.” Mita meralat sendiri pernyataannya.

“Iyalah, sekali-sekali.” Kujawab singkat, aku tak ingin Mita tahu aku sedang berdiet. Walaupun sahabat dekat, jika menyangkut hal-hal positif baru pasti dia akan menanggapinya dengan suka cita yang menurutku terlalu berlebihan. Atau dia akan menceritakan pada teman-teman lain dan menjadikanku sebagai role model atas suatu perbuatan yang menurutku biasa-biasa saja dan malah membuatku merasa tak nyaman.

“Hm…lagi diet ya?”Mita menggodaku dan kurasa nada bicaranya mengandung unsur investigasi. Ah, tak ada hal tentangku yang ingin dia lewatkan.

“Nggak diet Mit, cuma tadi sudah kenyang aja.” kujawab bohong dengan alasan paling humanis dan masuk akal yang bisa kubuat. Kuyakin Mita akan berhenti mengajakku atau menanyakan banyak hal padaku hanya karena aku tidak ikut ritual jajan hari Senin.

“Ya udah deh. Kalau kamu mau ikut nanti tinggal kabari ya? Jawabnya sambil menggoyang gawainya, menekankan padaku betapa pentingnya berkabar soal jajan di kantin itu.

“Iya, beres.” Jawabku singkat sedikit tersenyum.

“Oke lah. Aku ke kantin dulu ya Din? Mau antri nih, teman-teman ingin coba menu baru di Lezato. Warung baru sebelah kantin Bu Eko. Jualan mi ayam ceker pedas loh. Saking enaknya sampai harus antri.” ujar Mita mengakhiri deskripsi rencananya.

“Mi ayam ceker pedas?”kutelan ludahku membayangkan kaki ayam berselimut bumbu merah kecoklatan dengan resep tumisan yang aduhai. Diletakkan di atas tumpukan mi kenyal berkuah bening dengan apungan lemak ayam di permukaan kuahnya. Tambahan daun bawang dan bawang goreng yang melimpah dipadu acar mentimun yang asam manis. Oh nikmatnya.

“Aku ke kantin dulu ya Din?”Mita membuyarkan lamunanku.

“Ikut Mit.” Jawabku tak ingin tertinggal antrian mi ayam yang kabarnya termasyur di kampus.




Lara Brizo

Photo by Emiliano Arano from Pexels


“Kita tidak akan mungkin bisa bersama.” Brizo berkata lembut dengan penuh kesedihan dalam suaranya. Aku menatap matanya yang berlari menghindari tatapanku. Aku tahu hari ini akan tiba. Brizo mengangkat dagunya dan melempar pandang jauh ke horizon. Aku menikmati keindahan paras Brizo dengan rambut jahe menyala hangat yang selalu menyala di batinku.

“Akhirnya hari ini datang juga.” aku berkata pasrah. Kebas rasa tubuhku, inikah perasaan orang yang ditinggalkan seseorang yang dicintai? Karena terlalu menyakitkan sampai tak ada rasa yang tersisa? Apakah besok atau lusa rasa pedih itu menyerang? Datang terlambat?

“Kau sudah menduganya? Atau sudah lama memikirkannya?” Brizo bertanya tanpa menoleh ke arahku. Ia tetap melihat jauh ke lepas pantai.

Aku diam saja tak menggubris pertanyaannya. Aku berusaha menjaga semua akal sehatku setelah berbulan-bulan lamanya rehat untuk mengalah pada keyakinanku. Seberapa kuat aku menjaga kewarasanku toh kisah cinta dua alam ini takkan bisa dipertahankan. Sudah berkali-kali aku menerima, menolak, menimbang, mempertanyakan, dan menjawab, apakah mungkin cintaku pada dewi air ini bisa kekal abadi. Bagaimana nasibnya dan apa yang terjadi padaku jika kami bersatu?

“Aku tak akan melupakan pengorbananmu saat menolongku kala terhunus pedang Aegaeon. Aku takkan lupa amukan badai yang dibuatnya sampai kau dan awak kapalmu hampir meregang nyawa. Dalam keadaan seperti itu Tuhan membuka matamu, melihatku bertarung dengan setan badai dewa Aegaeon, entah kekuatan apa yang kau punya tapi kau selamatkan aku darinya. Siapa yang menyangka baling kapalmu mengenai rantai emas yang terikat di tubuhnya. Jika kau tidak istimewa, kau tidak akan bisa menyelamatkanku. Melihat kami pun kau tak bisa. Maka aku berjanji akan selalu menjagamu.”

“Tapi kemudian kau meninggalkanku.” kujawab dengan pertanyaan paling egois yang kutahu pasti menyakiti Brizo.

“Aku menjaga nelayan dan mereka yang berlayar. Sampai kapanpun tugasku adalah panggilan jiwaku.” jawabannya kurang memuaskanku walaupun apa yang dikatakannya benar.

“Maka kembalilah kau ke alammu. Jaga kapal-kapal yang berlayar di lautmu. Aku tak akan pergi melaut lagi. Aku tak ingin mengingat kisah ini kembali. Melihat lautan seperti menaburi luka dengan garam. Kau takkan pernah tahu betapa besar cintaku padamu. Aku tak bisa memaksamu tapi aku juga tak bisa memaksa diriku untuk berlapang dada menerima pahitnya kisah ini. Kau tahu jalan pulangmu.” aku meninggalkan Brizo, berjalan menjauhi pantai perlahan tanpa melihat lagi ke arahnya. Perpisahan paling kejam yang bisa kulakukan. Tapi ini semua untuk kebaikan kita berdua.
Makin aku menahannya, makin berat kepergiannya. Makin aku menguatkan diri, makin sakit hatiku. Ia tak tahu aku sudah mengumpulkan semua totem, jimat, dan alat untuk mengubahku jadi makhluk laut, walau jadi kasta paling rendah di negerinya. Setelah ada lima puluhan langkah, kubuang semuanya dari tas kulit kayu yang melingkari pinggangku. Aku pergi dengan sedih dan amarah yang entah kutujukan untuk siapa.

***
Brizo, sang dewi penjaga nelayan merasakan kesedihan yang membuncah. Sudut matanya tergenang penuh dan sambil memegang perut, ia berenang ke tengah lautan. Menenggelamkan diri di sana dan memanggil kawanan lumba-lumba yang akan mengawal masuk ke istananya. Dinyanyikan dengan pilu lagu untuk angin dan camar, dibisikkannya pesan untuk selalu menjaga si pelaut, sang terkasih. Dibawanya janin buah kasih sayangnya pada pelaut yang tidur lelap di rahimnya ke rumahnya. Kelak ia akan jadi dewa yang kuat di laut yang mampu mempertahankan laut dari jarahan manusia, dan ia akan melindungi mereka yang diamuk ombak buatan Aegaeon, si dewa badai.


Catatan:

Dalam kepercayaan Yunani Kuno Brizo adalah dewi penjaga pelaut, nelayan, dan orang-orang di laut. Dia dipuja oleh kaum hawa dari daerah Delos yang biasanya melarung makanan di kapal-kapal kecil sebagai persembahan.

Aegaeon atau lebih dikenal sebagai Poseion adalah raja laut yang menguasai sungai, badai, banjir, kekeringan, gempa bumi dan bencana lainnya. Dia mengatur segala aspek kelautan. Ia adalah anak dari Oceanus dan Tethys

Thursday, November 15, 2018

Timor Lorosa'e

Photo by Dio Hasbi Saniskoro from Pexels


“Mengapa kita tinggal di sini Kak?” suara Lerowai membuyarkan lamunanku.

“Karena kita memang ditakdirkan tinggal di sini.” jawabku singkat.

“Takdir itu apa?” tanyanya lagi.

“Nanti kau tau. Sana bantu ibu, cepat.” usirku yang tak mau lagi diusik dengan rentetan pertanyaan Lerowai, adik bungsuku.

Lerowai menurut saja meninggalkanku di beranda rumah. Ia menaiki lantai papan reot rumah kami yang bunyinya seperti meringkik tak kuat menahan beban kami bersembilan yang tinggal di atasnya. Aku melihat jauh mencoba mencari cakrawala tapi yang nampak hanya semburat mega mendung menyeruak di langit sisi barat yang seharusnya cerah.

Aku mengumpulkan semua harapanku untuk melihat jauh ke depan tapi yang kupunya hanya kesedihan dan amarah yang membuncah. Kedua rasa bengis itu seperti ingin meluap keluar dari ragaku tapi tercekat sampai di pangkal leherku. Tak bisa aku murka padanya yang telah memberikanku banyak kenikmatan. Tak bisa aku berpaling dari rasa cinta yang bukan dari hatikusaja, tapi menguar dari seluruh pori-poriku juga.

Baru tahun lalu aku pergi diundang bertemu dengan orang terhormat yang menyematkan bintang jasa di dadaku. Dijabatnya tanganku, digoncangkan dan dengan mata berkaca-kaca diucapkan banyak terima kasih darinya atas usahaku memajukan tanah kelahiranku, menghapus buta aksara, mendorong anak dan orang tua hidup jorok seperti babi peliharaan kami yang berkeliaran dekil dan berkubang kotor, tak terhitung banyaknya hal yang diselamati oleh orang itu atas jasaku. Aku ingat ia bilang, “Kau anak muda harapan bangsa. Kami berhutang banyak padamu. Tanah kelahiranmu butuh 100 orang sepertimu. Kamu kebanggaan Indonesia.” indah bukan?

Teringat olehku syair syahdu lagu Indonesia Raya stanza ketiga yang menggetarkan kalbu itu. Janji dan baktiku pada negeri bernama Indonesia tak akan hilang, walau kini aku terusir jauh, terlempar, terserak bersama ratusan orang dari kampungku melewati batas buatan manusia yang bernama Pos Lintas Batas Negara. Tanda jasaku tak mampu menyelamatkanku dari perpecahan yang terlalu keji ini. Hanya dengan adik dan ibuku aku hidup di tanah asing ini.

Ayahku mati ditembak milisi anti-kemerdekaan Timor-Leste yang dibantu tentara Indonesia. Hanya karena saat itu ayah lupa mengelap keringatnya dengan kaus FRETILIN. Diteriakkannya cinta Indonesia tapi tak digubris. Ayahku, panutan hidupku, terkapar oleh mereka yang negaranya kucintai. Sanggupkah aku bertahan melawan murka nestapaku?

Indonesia, tanah yang suci,
Tanah kita yang sakti,
Di sanalah aku berdiri, 
N'jaga ibu sejati.
Indoneisa, tanah berseri,
Tanah yang aku sayangi,
Marilah kita berjanji,
Indonesia Abadi.
S'lamatlah rakyatnya,
S'lamatlah putranya,
Pulaunya, lautnya, semuanya,
Majulah Neg'rinya,
Majulah pandunya, 
Untuk Indonesia Raya.


Tuesday, November 13, 2018

Mandul

https://www.pexels.com/photo/relationship-failure-problem-sad-39483/



Awan mendung terlihat di sisi langit sebelah barat. Gumpalannya tebal, hitam pekat dengan sedikit serabut awan keputihan mengelilingi. Di sisi langit timur,  cahaya terang nampak menerobos langit, jatuh ke sisi kota yang lain. Kelabunya langit tak berbeda dengan  Mirna. Ada mendung di hatinya dan sekarang ia mengumpulkan semua kekuatannya untuk mendapat jatuhnya cahaya Ilahi di batinnya. Pandangannya kabur, tertutup genangan air dari pangkal sampai sudut kelopak mata. Sesak dadanya tapi ia menekan semua rasa agar tidak tumpah tetesan air kesedihannya.

“Sabar nduk, semua sudah ada yang mengatur. Ikhlaskan ya nduk?” suara ibunda Mirna memecah kesunyian.

“Iya bu.” Jawab Mirna singkat.

“Ayo kita pulang nduk. Ke rumah ibu saja hari ini. Ndak usah pulang ke rumahmu, nanti ibu yang bicara sama si mbah, nduk.” Kata-kata wanita yang menginjak usia tujuh puluhan itu meluncur dengan suara paling bijak yang dimilikinya.

Mirna mengiyakan . Mereka berdua meninggalkan ruangan tunggu di pengadilan agama setelah mengikuti putusan sidang talak hari itu. Selesai sudah perjuangannya mempertahankan status sebagai istri  dari suami yang sangat dikasihi. Ia mengalah pada nasib.

“Makanya nduk nanti kalau kamu sudah kenal suami baru biar ibu bawa dulu ke Mbok Minah. Dia bisa tahu laki-laki yang sehat dan yang mandul, jadi ndak kebablas1 begini lo nduk. Anak itu perlu untuk keutuhan rumah tangga. Wis to2 nduk cari laki-laki yang mau sama kamu itu gampang.” Ibunda Mirna menarik lengan Mirna dan menghentikan mobil penumpang umum yang lewat. Mirna hanya diam seperti biasa,  ia menuruti perintah wanita yang melahirkannya itu.

1 Ndak kebablas: bahasa Jawa, tidak terlanjur, tidak terjadi.
2 Wis to : bahasa Jawa, sudahlah.



#tugasdomestikdrama



Thursday, November 8, 2018

Manifes 70

https://bit.ly/2RHOKaG



“Edi, sudah cek manifest 70?” suara berat lelaki tambun pertengahan lima puluh tahunan memecah lamunan Edi yang duduk di dekat pintu Logana Ekspres, ekspedisi tempatnya bekerja.

“E…sudah Pak. Sudah saya cek dua kali.” jawabnya tergagap antara kaget dan takut.

“Oke. Dua puluh menit lagi ya jadwalnya.” Hindun lelaki yang jadi pengawas kerja Logana Ekspres mengingatkan Edi dan dirinya sendiri tentang jadwal kereta yang akan masuk stasiun.

“Siap Pak.” Edi menjawab singkat dan bangkit meninggalkan tempat duduk. Ia melangkah menuju pintu belakang ruangan ekspedisi Logana Ekspres. Sambil berjalan ia perhatikan cat oranye kekuningan kusam di dinding tua yang mulai melembung terkena lembab udara. Papan pengumuman putih di dinding kanannya sudah menguning mengikuti waktu yang tak bisa ditipu. Tiang penyangga tua abu-abu dicat kasar, khas warna bangunan tempo dulu, gagah berdiri walau ditemani karat yanglebih tua dari umur cat.

Di depan matanya terhampar jajaran rel berbatu rapi tertumpuk di tengahnya. Dari kejauhan nampak bangku dekat peron sudah penuh oleh penumpang. Ia menengadah dan nampak langit sedikit mendung. Angin enggan datang tapi suhu dingin mulai menerpa kulit. Seketika ia merinding. Tak ada sebab, datang saja serbuan rasa aneh yang membuat bintik kecil di tangannya muncul dan membangkitkan rambut di bawah siku sampai pangkal lengannya. Edi kalut dalam perasaan yang serba aneh.

Selang kurang dari dua menit nampak kereta penumpang dari Malang masuk ke jalur dua, berjarak satu jalur rel saja dari tempatnya berdiri di pinggir peron. Edi menatap nanar gerbong yang melintas dengan penumpang yang sudah berdiri meninggalkan kursi menuju pintu gerbong masing-masing. Degup jantungnya berkejaran mengikuti kereta yang lambat bergerak memastikan lokomotif berhenti tepat beberapa meter sebelum ujung stasiun. Keringat dingin mulai membanjiri kemeja oranye pudar dengan krah baju yang apek. Edi perlahan memaksakan diri melihat sampai ekor kereta berhenti tepat di hadapannya. Nyaris tanpa suara lokomotif pembawa enam gerbong penumpang itu tak bergeming,  lalu sigap berdiri, berhenti total di depannya.

Berduyun-duyun penumpang turun melewati tangga besi sorong yang diletakkan tepat di depan pintu gerbong. Kebanyakan berwajah kuyu, perjalanan panjang melelahkan mereka. Ada juga satu dua yang nampak tegang, berjalan tergesa dengan kopor jinjing hampir menyaruk segala yang ada di dekatnya. Mungkin mereka orang-orang yang terlambat dari janji yang disepakati. Stasiun ramai sejenak, kuli angkut sibuk sejenak, pengeras suara berkoar mengabarkan informasi ini itu, dan langit masih tetap mendung.

Edi memukul pahanya yang mulai kebas. Ia mengajak semua anggota tubuhnya bangun lagi dan bersiap menghadapi tugas selanjutnya. Tak ada yang boleh lemah, semua harus kuat dan saling bekerja. Tangan, kaki, lengan, pergelangan kaki pun harus siap menopang berat tubuh dan berlari menuju gerbong barang tempat aneka rupa barang yang dicatat sesuai manifes 70 berdiam. Edi meyakinkan dirinya lagi, ia siap menyambut kereta selanjutnya tiba. Ia akan segera berlari ke arah gerbong barang, memanggul isi barang, membantu teman mendorong barang yang berat, memastikan semua barang sesuai manifes, minta tanda tangan persetujuan petugas gerbong barang, memeriksa kembali pemindahan barang, dan segera makan di warung Bu Dar. Ya, makan goreng pisang dan minum seteguk teh manis hangat di warung Bu Dar akan mengakhiri rentetan misinya pagi itu. Semua tergambar jelas, semua terencana dengan baik baginya.

Edi sedikit semringah memikirkan warung Bu Dar. Ia sudah mempersiapkan izin untuk menyelinap sejenak ke warung pojok stasiun dekat tempat langsir kereta. Dirabanya kantong celana kanan depan, terasa lipatan dua lembar kertas. Ia perkirakan ada sepuluh ribu rupiah jumlahnya. Besok hari gajian, jadi boleh ia memanjakan diri sejenak di warung Bu Dar untuk hadiah bagi tugas pertamanya pagi ini nanti.

Beberapa petugas dari ekspedisi yang sama , tiga orang kawan, datang dan ikut berdiri di sebelahnya. Dua di antaranya hanya mengangguk dan tersenyum ke Edi, Edi membalas dengan tubuh sedikit dibungkukkan dan senyum yang dibuat setulus mungkin. Sekarang Edi berdiri kikuk. Dia bukan anak kemarin sore, tapi ia selalu merasa seperti pegawai yang masuk kerja pertama kali. Ia sadar dirinya sudah sering berulah, ia pun tak ingin melakukannya, mungkin karena itu semua segan padanya. Tidak, bukan segan, tapi enggan berteman dengannya, tak ada yang mau kena masalah karena berdekatan dengan Edi.

Degup jantung yang sudah setenang riak sungai kecil kembali bergemuruh. Perasaan tak disukai membuatnya kembali tak nyaman dan tak yakin akan rencana eksekusi misi pagi ini, termasuk rencana kunjungan ke warung Bu Dar. Edi menengok ke belakang dan melihat jarum jam besar di kantornya. Kereta akan tiba.

Dentang merdu lonceng buatan diteriakkan dari ruang siaran stasiun. Suara merdu petugas informasi wanita mengisi keheningan antara Edi dan kawan-kawannya. Kereta tujuan Merak dari Madiun masuk di jalur satu dan suara wanita ini seperti kaset yang diputar berulang-ulang, hampir sama setiap saat. Edi pun menghafal pasti kata per kata yang disiarkan ke penjuru stasiun.

“Mohon perhatian, sesaat lagi kereta api Krakatau akan tiba di stasiun Cirebon. Bagi anda yang akan mengakhiri perjalanan di stasiun Cirebon kami persilahkan untuk mempersiapkan diri. Periksa dan teliti kembali barang bawaan anda jangan sampai ada yang tertinggal. Untuk keselamatan anda tetaplah berada di tempat duduk sampai kereta berhenti dengan sempurna. Terimakasih atas kepercayaan anda menggunakan jasa layanan kereta api Indonesia, sampai jumpa pada perjalanan berikutnya.” suara penyiar wanita itu serasa menusuk jantung Edi. Jantungnya berdebar tak karuan. Ia terus menerus merapal doa menguatkan badan dan nyalinya.

Gerbong barang berhenti sebelum peron, letaknya di ekor kereta membuat Edi dan kawannya bergegas menggeser tanjakan kayu bertiang besi untuk menyorong barang ke atas peron. Edi bersiap melompat naik ke gerbong dan seketika ia melihat wajah tua ayahnya. Ia heran mengapa ayahnya ada di stasiun pagi ini. Seharusnya sang ayah berjualan rokok di depan Toko Tjian di dekat Pasar Kanoman. Ia ingin menyapa ayahnya tapi lidahnya kelu.

Edi heran melihat ayahnya bercucuran keringat dengan wajah pucat dan bibir bergetar berdiri hanya sedepa darinya. Mayat bergelimpangan dengan ceceran potongan tubuh tak berbentuk mengitari ayahnya. Edi ingin menggapai tangan sang ayah, tapi ayahnya bergeming. Menatapnya dengan mata kosong. Gerbong penuh dengan lolongan kesakitan dan minta tolong. Belum genap Edi memahami apa yang terjadi, ia melihat gerbong itu tiba-tiba remuk ditabrak lokomotif dari sisi kanan. Ayahnya lenyap dan ia meraung memanggil ayahnya keluar dari himpitan gerbong yang runtuh. Tak ada sahutan.

Suara laki-laki, anak-anak, wanita dan orang tua berteriak minta tolong dengan tangisan pilu. Tak ada yang datang membantu. Gerbong-gerbong kereta saling himpit, saling tumpuk, saling terkam, lemas sudah tubuh Edi melihat bencana di depan matanya. Nafasnya tersengal-sengal dan ia merasakan bau tajam menusuk hidungnya. Bau yang sangat dikenalnya, balsam! Bau ini membuyarkan adegan gerbong celaka dengan penumpang sekarat dan ayahnya di dalam. Ia bisa melihat cahaya menjadi lebih terang.

Dengan bau balsam yang lebih kuat daripada nyalinya Edi siuman. Seorang kawan menatapnya sinis dan pergi meninggalkan kerumunan yang berdiri mengelilingi tubuhnya. Ia bisa melihat dengan jelas Karsiman, polisi khusus kereta api dua puluh lima tahunan membantunya duduk dan memberinya teh manis hangat. Anggota kerumunan bubar cepat meninggalkan Edi setelah ia duduk sempurna bersandar dinding peron, tiga meter dari pintu belakang kantor ekspedisinya.

Karsiman memijit pundak Edi. Hanya mereka berdua sekarang di lantai peron. Kuli barang dan pegawai ekspedisi sibuk memindahkan barang. Kereta terakhir bagi Edi.

Edi menahan genangan air mata yang hampir turun jatuh. Serangan panik bukan hanya terjadi kali ini saja, sudah berkali-kali mendatanginya. Kali ini, pingsan ketiganya, tak ada lagi kerja di ekspedisi. Kata-kata Pak Hindun, si pengawas, minggu lalu masih jelas di ingatan, “Kamu pingsan lagi tak ada pekerjaan di sini. Ngerti kamu? Kita orang cari pegawai yang sehat, bukan orang sakit yang lihat kereta langsung semaput.” Itu katanya.



Edi berterima kasih pada Karsiman, satu-satunya teman yang mau membantunya siuman. Kawannya seekspedisi sudah hafal dengan pingsannya Edi. Tak ada lagi yang simpati. Mereka malah kewalahan, sibuk mengeluarkan barang kiriman mandat dari pelanggan, keluar dari gerbong barang. Edi yang pingsan menjadi penghambat tim kerja cepat. Andai mereka tahu, tiga puluh dua tahun yang lalu Edi kecil mendapati ayahnya dipenjara sebagai masinis yang dituduh lalai menghilangkan nyawa dua ratus penumpang kereta, menabrakkan rangkaian keretanya dengan kereta lain yang sedang melaju dari arah berlawanan. Andai bisa Edi mengatakan yang sejujurnya, ia anak masinis terkutuk yang lelah menghadapai hukuman hakim, cela masyarakat, dan jadi kambing hitam kecelakaan kereta di hari nahas itu.  Bagi ayahnya hukuman tak adil harus ditanggung, keberangkatan dan laju kokomotifnya semua karena restu kepala stasiun yang sampai sekarang tetap melenggang hidup makmur tanpa nista.

Ayah Edi dipenjara, miskin tanpa tunjangan pensiun. Edi kecil terlalu rapuh untuk menerima kejamnya dunia. Semua jadi hakim dan ia tumbuh jadi orang yang selalu dibayangi kecelakaan yang tak pernah dialaminya. Cukup cerita ayahandanya saja sudah membuat Edi ikut bersalah menghilangkan nyawa ratusan orang yang sedang dijemput ajal suatu pagi di Oktober berdekade yang lalu.

Jika Edi berkata yang sejujurnya, Logana Ekspres tak akan mempekerjakannya. Ayah pemilik ekspedisi dulu tewas di kecelakaan kereta yang dilajukan ayah Edi, kemarahan mereka pada si masinis apes masih membara sampai sekarang.



 #Tantanganfiksi1
#ODOPBatch6







Sang Kala

Sumber gambar: https://www.huffingtonpost.com/2013/12/31/time-art_n_4519734.html “Ceritakan padaku apa yang perlu kudengar.” “...