Showing posts with label Masyarakat. Show all posts
Showing posts with label Masyarakat. Show all posts

Tuesday, September 11, 2018

Bukan Cuma Baca dan Tulis, Ini 5 Jenis Literasi Yang Sahabat Perlu Tahu

sumber gambar: https://bit.ly/2b5fHnH
Topik literasi lagi? Jangan bosan untuk menggali pengetahuan lebih banyak tentang literasi Sahabat. Mengapa? Karena literasi sangat penting dan dibutuhkan dalam hidup manusia. Seperti artikel sebelumnya yang bisa Sahabat baca di sini, literasi bukan hanya persoalan membaca dan menulis. Literasi adalah kemampuan individu untuk bisa memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari dengan kemampuan membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memahami aneka simbol-simbol dan arti sosial dalam kehidupan bermasyarakat.

Sahabat, istilah literasi sebenarnya berasal dari bahasa Latin yaitu Literatus yang artinya adalah orang yang belajar. UNESCO mendefinisikan literasi sebagai seperangkat keterampilan yang nyata, khususnya keterampilan kognitif dalam membaca dan menulis, terlepas dari bagaimana, darimana, dan dimana keterampilan yang dimaksud diperoleh. Lebih lanjut, pemahaman seseorang akan literasi juga dipengaruhi oleh kompetensi bidang akademik, konteks nasional, institusi, nila-nilai budaya serta pengalaman.

Di era modern ini konsep literasi berkembang mencakup definisi yang lebih luas. Literasi mencakup juga kemampuan untuk menggunakan bahasa, angka, gambar, komputer dan alat-alat lain yang dipakai untuk memahami dan mengkomunikasian pesan, mendapat pengetahuan baru, memecahkan masalah di bidang matematika dan penggunaan sistem-sistem simbol dari sebuah budaya. Literasi juga meliputi kemampuan untuk mengakses pengetahuan lewat teknologi dan kemampuan untuk memahami konteks pemasalahan yang kompleks.

Kunci dari literasi adalah kemampuan membaca. Dengan membaca maka individu akan mampu untuk memahami bahasa tertulis, memahami simbol dan makna tertulis serta di tahap selanjutnya bisa memahami keseluruhan isi teks tertulis dan mengkomunikasikannya dengan baik. Ternyata kebasaan membaca akan sangat membantu kehidupan, ya?

Sahabat, tahukah Anda bahwa di dalam kegiatan membaca ada ilmu-ilmu dasar kebahasaan yang tanpa sadar Sahabat pelajari juga. Ada pemahaman tentang bunyi ucapan (fonologi), pola ejaan (ortografi), arti kata (semantik), tata bahasa (syntax) dan susunan kata (morfologi) yang saling berkaitan dan untuk memahaminya diperlukan pemahaman yang baik serta kelancaran membaca (fluency) juga. Ketika bisa menguasainya maka Sahabat akan mudah untuk memberikan analisis terhadap aneka isu dan informasi dengan lebih baik.

Masih ingatkah Sahabat dengan aneka perdebatan tak santun di media sosial akhir-akhir ini? Ini bukan hanya masalah tentang adat istiadat dan sopan santun, tetapi bagaimana cara mengonsumsi informasi, mengartikan dan mengomentarinya dengan bijak dan masuk akal. Kemampuan menggunakan media ini juga termasuk dalam kecakapan literasi loh. Yuk disimak aneka jenis kecakapan literasi yang perlu Sahabat tahu.

Literasi Media: yaitu kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi dan menghasilkan komunikasi bermakna dalam berbagai situasi. Orang yang punya kemampuan literasi media akan bisa berpikir kritis terhadap apa yang mereka lihat, dengar dan baca dari buku, koran, majalah, televisi, radio, film, musik, iklan, video games, internet dan jenis teknologi baru lainnya.

Literasi Komputer: yaitu kemampuan untuk menggunakan komputer dan software yang berkaitan untuk keperluan-keperluan yang membutuhkannya. Jadi Sahabat bisa menyimpulkan sendiri ya menggunakan software untuk melanggar privacy orang termasuk kegiatan literasi positif atau tidak hehe.

Literasi Digital : Yaitu kemampuan literasi yang bukan hanya terpaku pada kemampuan teknis untuk mengoperasikan peralatan digital dengan baik tetapi juga mencakup aneka kemampuan kognitif yang diperlukan dalam menyelesaikan aneka permasalahan dalam lingkungan digital. Contohnya, kegiatan berselancar di dunia maya untuk mendapatkan informasi, bekerja dengan pusat data, chatting di chat room dan lain sebagainya.

Literasi Informasi: Yaitu literasi yang berkaitan dengan kemampuan untuk memperoleh informasi, mengidentifikasi, mengevaluasi dan secara efektif menggunakan informasi untuk mengatasi masalah yang ditemukan.

Literasi Teknologi : Yaitu kemampuan untuk menggunakan teknologi secara bertanggung jawab dalam berkomunikasi, memecahkan masalah, mengakses, mengatur, mengevaluasi, dan menciptakan informasi untuk meningkatkan upaya belajar dalam aneka bidang ilmu sebagai cara memperoleh pengetahuan di abad ke 21 ini.

Sahabat, penjelasan tentang aneka jenis literasi di atas hendaknya bisa dijadikan masukan untuk lebih menikmati dan mempelajari dunia literasi. Mari mulai dengan cara yang paling sederhana yaitu banyak membaca. Membaca membuat kita melek literasi. Anyway, sudah berapa buku kah yang dibaca bulan lalu?

Referensi:
https://teach.its.uiowa.edu/sites/teach.its.uiowa.edu/files/docs/docs/Types_of_Literacy_ed.pdf
https://en.wikipedia.org/wiki/Literacy



#komunitasonedayonepost
#ODOP_6 

Monday, September 10, 2018

Bersahabat dengan Literasi

sumber gambar: https://bit.ly/2NGN0wX

Istilah literasi tentunya tak jamak lagi didengar. Tapi apakah Sahabat mengetahui apakah literasi itu sebenarnya? Apakah literasi hanya berkaitan dengan kegiatan menulis dan membaca saja?  Ternyata kegiatan literasi tidak hanya mencakup dua hal itu saja loh, menurut organisasi pendidikan, ilmu pengetahuan dan budaya PBB (UNESCO) literasi bermakna aplikasi dan hubungan sosial yang terwujud dan berkaitan dengan pengetahuan, budaya, dan bahasa.

Di tahun 2003 UNESCO juga mendeklarasikan gerakan melek literasi dikarenakan pentingnya kegiatan literasi ini. Seseorang yang menguasai informasi literasi akan mampu untuk menganalisis, mengevaluasi, dan memecahkan masalah dengan baik. Ternyata kemampuan memahami bacaan melalui kegiatan membaca sangat positif bagi perkembangan kehidupan individu.

Saat ini teknologi sudah mengisi tiap lini kehidupan. Coba Sahabat ingat, kapan terakhir kali, hanya di hari ini, Sahabat menggunakan gawai? Sekarang pun Sahabat membaca postingan ini lewat gawai kan? Nah, teknologi informasi yang sedemikian cepat perkembangannya mempengaruhi pula bagaimana kita bisa mengolah informasi. Kurangnya kemampuan dalam bidang literasi akan membuat kita dalam memahami bahasa tertulis, bahasa lisan, dan juga memahami pesan dan mengkomunikasikan pesan tersebut dengan benar.

Sahabat mungkin lebih menyukai nonton video di YouTube daripada membaca buku, apalagi menulis. Ketika Sahabat nonton video sesungguhnya otak Sahabat diarahkan oleh tayangan yang dilihat, otak menyerap informasi satu arah saja. Sementara jika membaca koran, majalah, atau buku, sebenarnya ada komunikasi dua arah yang tak disadari.

Ketika Sahabat membaca maka Sahabat perlu menginterpretasikan susunan kata per kata yang dirangkai dalam kalimat itu. Sahabat juga menarik kesimpulan dan bahkan ikut membayangkan peristiwa yang ditulis. Kemampuan memahami bacaan tertulis juga akan menambah kosa kata tanpa disadari. Semakin banyak Sahabat membaca maka semakin mudah Sahabat mengungkapkan pikiran dengan kalimat yang tertata baik, semakin mudah Sahabat memahami pesan tertulis dan pastinya semakin membantu Sahabat menjalani hidup. Ingat, pada intinya dalam kehidupan sosial kita interaksi dilakukan secara lisan dan tertulis.

Memiliki dasar yang kuat dalam bidang literasi juga akan membuat karir Sahabat menanjak baik. Proses rekrutmen dilakukan dengan menulis surat lamaran dan CV yang baik. INi juga membutuhkan skill menulis dan membaca yang cukup. Kemampuan dasar literasi yang baik juga akan membantu dalam pekerjaan seperti misalnya untuk membuat presentasi.

Dalam komunikasi non-verbal juga dibutuhkan kemampuan literasi yang mapan. Misalnya komunikasi jarak jauh via pesan singkat, WA, atau e-mail. Sahabat harus mampu menyampaikan pesan dengan tepat hanya lewat bahasa tertulis. Sering kali pesan tidak diterima dengan baik karena tidak bisa menuliskan dengan kalimat yang tepat dan efektif.

Teknologi terbukti sudah mengubah peradaban. Banyak hal yang hilang dan banyak hal yang tercipta karena teknologi. Selayaknya Sahabat mengimbangi informasi yang cepat datang dengan kemampuan literasi yang mumpuni. Ayo bersahabat denganliterasi, mulai dari diri sendiri dan ajak orang-orang terkasih di sekitar Sahabat. Jika tahu pentingnya literasi, jangan ragu lagi untuk bersahabat dengannya ya?




#komunitasonedayonepost
#ODOP_6 

Referensi:
http://www.stevenson.edu/online/blog-news-events/importance-of-literacy
http://literasi.jabarprov.go.id/baca-artikel-473-literasi-membawa-bangsa-lebih-pandai-dan-bijak.html



Sunday, September 9, 2018

Kalimas dalam Langkah Kaki, Menikmati Wajah Kota Tercinta




Jika ditelisik lebih dalam lagi, banyak sisi menarik yang bisa digali dan dikuak dari Surabaya. Walaupun Surabaya kota industri dengan banyak mall  dan pusat perbelanjaan yang bertebaran di hampir semua sudut kota, ada hal yang bisa kita nikmati dari kota ini.  Aneka lanskap kota, sejarah kota, dan orang-orangnya menjadi hiburan tersendiri jika kita bisa menangkap keunikannya.Tidak melulu bersantai hanya dilakukan di tempat-tempat keramaian, gunung, pantai dan lainnya.

Salah satu kegiatan pelesiur sederhana yang menantang dan unik adalah dengan berjalan kaki menjelajah kota pahlawan. Saya salah satu yang pernah menikmati pelesir nyeleneh ini. Adalah sebuah kegiatan yang dinamai Kalimas On Feet dilakukan oleh pegiat sejarah Dhahana Adi, akrab dipanggil Mas Ipung mengajak masyarakat umum di tahun 2013 lalu. Sesuai nama, saya berekreasi menyusuri Sungai Kalimas dan menyelami jantung kota dengan berjalan kaki. Bersama beberapa teman baru, saya bertemu di Taman Bungkul, taman cantik yang dibangun dengan keseriusan dan berbuah banyak penghargaan. Kami menyusuri Sungai Kalimas dari hulu ke hilir berjalan kaki, on feet. Karena hulu Kalimas ada di Mojokerto kami ambil start dari Taman Bungkul berjalan ke arah Jalan Darmokali dan terus masuk ke dalam gang padat penduduk sampai kami menemukan Sungai Kalimas di daerah Ngagel.

Sungai Kalimas dipilih sebagai jalur pelesir kami  karena dulu sungai ini adalah jalur perdagangan utama. Sungai yang membelah kota Surabaya ini adalah sungai penting pada jamannya yang menghubungkan pelabuhan Kalimas dan nadi perdagangan kota. Siapa yang menyangka sungai yang sekarang berbatasan dengan pemukiman padat penduduk di bantaran kalinya adalah sungai yang sudah dipakai sebagai jalur masuk ke ibukota Kerajaan Majapahit di Trowulan. Bahkan menurut catatan sejarah di sungai ini terjadi pertempuran antara Raden Wijaya, pendiri Majapahit melawan pasukan Tartar dari Mongol sekitar abad ke 11.

Pada masa penjajahan Belanda, di bawah VOC sungai ini membawa aneka komoditas perdagangan, pertanian, dan hasil bumi lainnya dari pelabuhan Kalimas,, melewati wilayah pecinan, kampung arab menuju ke pusat kota dan pusat pemerintahan. Pada masa kini sungai ini sudah dilupakan cerita dan keberadaannya oleh warganya sendiri. Rumah warga berjarak hanya sekitar 5 meter dari Kalimas. Ini pun sudah jauh lebih baik daripada dulu kala ketika sungai ini kotor tak terawatt. Melalui elesiran kali ini saya jmenjadi peserta yang ingin mengingat kembali sejarah kota sambil bersantai, mencari keunikan dan cerita kota serta menikmati udara pagi Surabaya.

Hari itu, Minggu pagi sekitar jam 9 pagi saya sampai di daerah Keputran. Hiruk pikuk pedagang Pasar Keputran mulai berkurang. Yang tetap ada bau sampah menyengat yang menemani saya menghela napas sejenak di taman kecil tepat di pinggir Kalimas di persimpangan Jalan Kayoon – Jalan Gubeng. Menyeberangi jembatan Gubeng saya mendapati gjalan kecil yang disebut gang Pattaya oleh masyarakat karena terkenal sebagai tempat berkumpul para gay. Saat itu dinding-dinding belakang bangunan yang memunggungi sungai penuh gambar, coretan, ratapan, makian, dan juga nomer HP para gay. Jalan kecil ini saya susuri terus sampai mengarah ke jembatan Gubeng dekat Monkasel. Ada pemancing ikan dengan kail, jala, dan ada juga yang hanya sekedar duduk-duduk santai.

Terus berjalan di bawah matahari yang mulai terik saya melewati Taman Prestasi. Ada sampan wisata yang bisa dinaiki di taman ini menyusuri Sungai Kalimas sampai ke arah Ketabang Kali. Saya dan teman-teman lainnya memilih untuk berjalan. Saya temukan patok pembatas kecamatan di pinggir jalan sebagai penanda sudah saya lewati kecamatan satu masuk ke kecamatan lain. Yang paling menarik bagi saya adalah kawasan kota tua nya Surabaya. Memasuki wilayah Krembangan saya melihat gedung-gedung tua colonial dengan lebih seksama. Sejarah mencatat gedung Polrestabes punya terowongan yang terhubung dengan penjara Kalisosok di kawasan JMP. Gedung besar di kiri kanan dekat kawasan Jembatan Merah adalah peninggalan bersejarah yang masuk dalam bangunan cagar budaya.

Menyeberangi Jembatan Merah masuk ke Jalan Panggung saya mengarah pada gudang-gudang tua yang membisu dimakan usia. Debu-debu dan jalan yang bergelombang penuh dengan truk terparkir rapi. Di bangunan ini ramai dipakai untuk foto pre-wedding, sayang banyak yang mungkin hanya berfoto tapi melewatkan cerita kejayaan wilayah yang sekarang sepi ini.

Masih ada bekas rel di depan barisan gedung dan gudang tua yang berdiri gagah menghadap aliran Kalimas. Di ujung jalan ada Jembatan Petekan yang jadi jembatan satu-satunya yang bisa membuka bagian bawahnya ketika kapal masuk. Ah siapa sangka dulu kapal-kapal besar pembawa hasil bumi melalui jembatan yang kini jadi kaki tua reyot berkarat di pinggir jalan raya yang tingginya sudah hampir separuh badan jembatan. Sayapun baru melihat jembatan itu, tidak pernah saya tahu jembatan itu sudah ada jauh sebelum kota ini mempercantik diri dalam moderenisasi.

Dengan sisa-sisa tenaga dan panas matahair yang smeakin menyengat saya mengatur nafas kembali dan melaraskam langkah kaki yang gontai. Saya mau mencapai tujuan akhir saya, pelabuhan Kalimas. Pelabuhan ini pun sekarang lalu lintas hilir mudiknya sudah hilang digantikan oleh Pelabuhan Tanjung Perak.  Semakin asing ujung kota ini bagi saya. Yang ada hanyalah gudang-gudang dengan nama PT ini itu yang dipenuhi truk-truk besar. Tidak ada rumah penduduk terlihat. Gersang dengan warung-warung kecil dan tukang tambal ban berceceran. Inikah akhir pusat geliat warga Surabaya? Nampaknya memang seperti itu. Kawasan ini tidak bersahabat untuk pemukim, cocok untuk berniaga dan berekspedisi kirimmengirim barang.

Toh tujuan tercapai. Dengan usaha keinginan terpenuhi. Usaha untuk berjalan kaki, melawan panas, merancang tak memaknai semua detil kehidupan kota yang saya susuri. Perjalanan saya terhenti di pelabuhan tradisional Kalimas. Saat itu sekitar jam 1 siang. Pelabuhan yang dipunggungi rumah sakit pelabuhan ini bertembok tinggi tak Nampak pelabuhan dari luar. Rasa puas melawan lelah kaki dan kekaguman akan cerita kota membawa saya pada perasaan campur aduk. Apalagi saat saya benar-benar melihat eprahu tradisional. Yang punya layar, yang badannya dari kayu bukan badan besi, yang berhenti entah dalam perbaikan atau sudah lelah berlayar. Saya puas. Saya benar-benar sampai di pelabuhan. Tempat semua perasaan saya dalam pelesir ini berlabuh. Capek tapi puas.

Saya sudah menangkap cerita kota dalam lensa pandang saya. Inilah wajah kota dan manusianya. Hidup dalam rutinitas hari Minggu yang tidak biasa. Jika hanya dimaknai sebagai kehidupan biasanya orang biasa maka tidak ada menariknya pelesiran saya. Tapi saya mencoba memahaminya sebagai sebuah wisata manusia kota dan sejarahnya. Ada selalu hal menarik mata, hidung, dan batin saya. Ada rumah-rumah dengan pompa air tangan jadul di depan rumah yang sekarang sudah jarang ditemui. Ada perahu tambang yang menyeberangkan kami dengan 2000 Rupiah per orang dari jalan kampung ke arah Ngagel, dekat hotel Novotel. Ada tempat yang akrab disebut BAT oleh warga, yang  dulunya kantor British American Tobacco. Ada nelayan pencari ikan sapu-sapu dalam sampan-sampan kecilnya, ada anak muda pamer skill berdiri seimbang di papan skateboard, ada cerita kota tua pecinan, daerah gay, taman mesum yang jadi taman keluarga, dan banyak cerita lainnya. 

Wajah kota pun terus berganti sejalan dengan langkah kaki kami.Betapa menarik kehidupan masyarakat kota berubah wajah hanya dari bentuk bangunan, pilihan coretan mural, pilihan warna tembok rumah, dan nama jalan. Kaya, sungguh kaya warga kota ini akan kemajemukan dalam segala aspek kehidupan.


#komunitasonedayonepost
#ODOP_6 


Saturday, September 8, 2018

Street Feeding, Pemberi Asa Penghuni Jalan.

sumber gambar: https://bit.ly/2wTCjzL


Pagi hari dihujani hangat sinar matahari mengantarkan warga kota bergegas menuju tempat tugasnya. Tiap hari jalanan hiruk pikuk dipenuhi perpindahan warga kota dengan alat transportasinya. Dalam kesibukan kaum urban di sepanjang jalan gang, jalan kecil, jalan sempit beraspal, dan bagian jalan lainnya, makhluk Tuhan lain berjalan mengedarkan pandangan mencari penghidupannya. 

Mamalia berkaki empat ini banyak kita jumpai dengan mudah di mana-mana. Kucing adalah binatang yang bisa jadi akan ditemukan di seluruh penjuru dunia. Tahukah Sahabat binatang ini sudah ada 9500 tahun yang lalu dan bahkan spesies kucing liar yang hidup bebas, tidak bersentuhan dengan manusia, sudah ada sekitar 130,000 tahun yang lalu? Para arkeologis telah mengumpulkan bukti dan menelusuri jejak nenek moyang kucing. Diperkirakan kucing sudah dipelihara sebagai hewan peliharaan di rumah-rumah di wilayah yang sekarang menjadi bagian dari Siprus daerah timur Mediterania sampai Teluk Persia. 

Sejak awal kemunculannya, kucing menjadi hewan piaraan di daerah dataran yang mendapat irigasi dari Sungai Nil, Yordan, Tigris dan Eufrats, tempat pemburu pertama kali bermukim. Felis catus, mamalia berbulu berkaki empat ini bahkan pada jaman Mesir Kuno sudah menjadi biantang piaraan, disembah dan dimumikan untuk menemani pemiliknya menuju ke kehidupan selanjutnya.

Kucing kemudian berkembang biak dan melalui perdagangan, perpindahan penduduk, perang dan aneka perjalanan sejarah manusia, kucing berpindah dari nenek moyangnya di daratan Afrika Utara dan Asia Barat menuju ke segala penjuru dunia. Sampai sekarang pun kucing masih menjadi hewan peliharaan nomor satu, mengalahkan anjing. Jika kita kembali pada fakta sejarah bagaimana kucing pada masanya bahkan sempat disembah, maka hal ini tidaklah mengherankan. 

Bercampur antara satu jenis dengan jenis yang lain, kawin, dan beranak pinak dalam jumlah besar. Jumlah kucing di seluruh dunia diperkirakan mencapai sekitar lebih dari 220 juta sampai 600 juta. Ini hampir sama jumlahnya dengan tiga kali lipat penduduk Indonesia. Perkembangan populasi kucing juga jauh lebih pesat dibanding dengan anjing. Kucing betina pertama kali birahi saat berumur 7-8 bulan atau 10-11 bulan yang berlangsung selama 4-10 hari, kadang hanya 4-5 hari. Bahkan pada banyak kasus di usia empat bulan kucing betina sudah bunting. 

Berdasarkan penelitian American Society for the Prevention of Cruelty to Animals seekor kucing betina bisa menghasilkan lebih dari seratus anak kucing di masa produktifnya. Sementara induk dan anak-anaknya bisa berkembang biak menjadi 420,000 anak kucing lagi dalam waktu hanya tujuh tahun. Fakta yang mengejutkan bukan?

Akibat dari hal ini, banyak sekali ditemukan kucing baik itu dewasa maupun anakan di jalanan, termasuk di Indonesia. Kesadaran pemilik kucing yang kurang tentang sterilisasi kucing menyebabkan jumlah populasi kucing meningkat. Tragisnya mereka lebih senang memelihara induk kucing dan membuang anak kucing yang biasanya sekali kelahiran berjumlah tiga sampai lima ekor ke pasar, tempat pembuangan sampah, dan tempat tak layak lainnya. 

Pemilik kucing telah lalai bahwa yang dibuang adalah makhluk Tuhan yang bernyawa. Ikatan kuat pada induk kucing yang sudah lebih dahulu dipelihara biasanya membuat pemilik menjadi tega membuang anak kucing. Jalanan akhirnya menjadi tempat anak kucing, yang jika beruntung bisa tumbuh dewasa, untuk bertahan hidup. Sayangnya banyak yang mendapat perlakuan kasar (abusive) dari manusia tak bertanggung jawab. Terlepas dari ukurannya, kucing tetap makhluk bernyawa.

Adalah gerakan street feeding yang digagas oleh perorangan maupun kelompok. Street feeding adalah usaha untuk memberi makan kucing jalanan agar tidak hidup kelaparan dan mengalami malnutrisi. Ada banyak orang yang berempati dan kemudian terpanggil hatinya untuk menyisihkan uang dan membeli makanan kucing, yang kemudian secara khusus dibagikan sambil menyusuri jalanan kota. Makanan kucing dalam kemasan dibagikan pada satu atau beberapa kucing. Ada yang membawa wadah khusus berisi beberapa ratus gram makanan kucing sembari berangkat ke tempat kerja, ada yang sengaja meluangkan waktu sesampai di rumah dan berkendara perlahan sambil memanggil kucing datang lantas diberi makan, ada pula yang bersekutu berkelompok dan mencari tempat-tempat dengan populasi kucing terbanyak dalam lingkungan paling parah dan menyedihkan. 

Jalanan adalah tempat yang sangat berbahaya bagi kucing. Ada ratusan kendaraan bermotor, cuaca panas terik dan hujan deras, dan juga manusia yang kasar memperlakukan makhluk ciptaan-Nya. Akun Instagram seperti @gardasatwa, @pedulikucing, @pedulikucingjalanan dan ratusan akun sejenis berupaya menularkan dan mendorong masyarakat untuk lebih peduli pada lingkungan sekitar dan memberikan kesejahteraan bagi kucing liar. 

Upaya mengasihi makhluk Tuhan ini mungkin terdengar sepele atau bisa jadi dianggap perbuatan sia-sia. Toh nantinya ada banyak anak kucing dilahirkan tak terhingga jumlahnya. Tetapi perbuatan baik apa pun pasti mendapatkan balasannya. Dan jika mengebiri kucing agar tidak terlampau banyak jumlahnya belum mungkin dilakukan pada kucing liar di jalan, maka membuat mereka hidup dengan layak tidak kelaparan adalah juga sebuah upaya untuk menebar semangat cinta kasih pada seluruh isi bumi.

Walaupun tindakan utama untuk mencegah populasi kucing jalanan adalah dengan melakukan pengebirian, tetapi upaya awal untuk menyejahterakan mereka dengan memberi makan adalah upaya yang patut didukung. Seyogyanya kita semua manusia memahami bahwa bumi diciptakan oleh Tuhan lengkap dengan segala isinya. Bahwa kehidupan di muka bumi harus dilaksanakan secara seimbang dan berkasih sayang bukan hanya ditujukan pada sesama manusia tetapi juga bagi semua penghuni bumi. 

Jauh sebelum kita, manusia modern dilahirkan, kucing sudah didewakan. Pastilah ada keistimewaan padanya yang menjadikan bangsa Mesir kuno memujanya. Demikian juga halnya bagi umat muslim, Nabi Muhammad, sangat menyayangi kucing. Kepada para sahabatnya, Nabi berpesan untuk menyayangi kucing peliharaan, layaknya menyayangi keluarga sendiri. Betapa teladan sudah ditunjukkan dan kebanyakan manusia masih lalai dalam mengasihi binatang teristimewa kucing. 


#komunitasonedayonepost
#ODOP_6 

Referensi:
https://www.theguardian.com/science/2007/jun/29/genetics.sciencenews
https://animals.howstuffworks.com/pets/just-how-many-house-cats-are-there-the-world.htm
http://www.imetmis.com/kucing-kawin-hamil/





Sang Kala

Sumber gambar: https://www.huffingtonpost.com/2013/12/31/time-art_n_4519734.html “Ceritakan padaku apa yang perlu kudengar.” “...