![]() |
sumber: Photo by Matthias Zomer from Pexels |
“Bu, ayo makan.”aku mengajak ibuku makan.
“Nggak mau. Sudah. Pergi. Sana pergi!” hardik ibu padaku.
“Ibu belum makan. Sudah waktunya makan malam ini bu. Dari
tadi ibu belum makan.”aku mulai meninggikan nada suaraku. Aku memaksanya makan.
Kusorongkan sendok penuh isi nasi, sayur labu siam dan sesuwir ayam goreng ke
mulut ibu yang rebahan di ranjang.
“Nggak mau!” Ibu menjerit dan menepis keras tanganku
sehingga sendok terpental jatuh ke lantai dengan nasi, sayur, dan lauknya
berhamburan.
Aku beranjak pergi dan dengan kesal kulempar piring ke dekat
ember penuh air untuk menyuci piring. Prang…piring itu pecah dua keping di
lantai. Aku membuka pintu depan rumahku dan duduk di teras rumah.
Sudah beberapa hari ini ibuku malas makan. Setiap ditanya
jawabnya sudah makan, padahal aku tahu ibu belum makan. Ibu hanya tidur dan
terus tidur. Kutanya apa yang diinginkan, ibu hanya menjawab tidak mau. Padahal
aku belum menawarkan apa-apa.
Semalam lebih parah. Ibu tiba-tiba memanggilku sekitar jam
sepuluh malam ketika aku asyik membaca di kamarku. Ibu menanyakan di mana ayah
dan Tante Rosida. AKu bilang mereka sudah tiada dan ibu berargumen panjang
lebar bahwa mereka datang ke rumah kemarin, mereka masih hidup, aku durhaka
mengatakan yang tidak benar, aku pembohong, dan segala macam hal. Tadi pagi ibu
masih menanyakan lagi tentang mereka, sampai kubawa surat kematian ayah dan
kubacakan keras-keras tulisannya agar ibu mendengar tapi ibu tetap membantah
semua fakta jelas itu.
Aku juga mulai jengkel karena ibu di kamar mandi lama
sekali. Sejak ibu banyak tidur, ibu sering mandi dengan durasi dua kali lipat
dari biasanya dan sering lupa mengancingkan baju. Ada saja kancing yang belum
masuk ke lubangnya. Ibu juga sering mengomel tentang sandal kesayangan beliau
yang katanya tidak enak dipakai. Padahal letaknya terbalik sisi kiri dan kanan, pernah juga ibu
menginjak sol bagian luar dan diseret saja di dalam rumah.
“Rin! Ibu mau ke rumah Bu Dar.” Ibu keluar dari kamar beliau
sudah rapi dengan baju tunik beliau dan celana panjangnya.
“Ibu, jilbabnya dipakai dulu. Aduh…masa lupa sih?” aku
berseru mengingatkan. Tumben ibu ingat hari ini ada arisan PKK, pikirku.
Ibu berbalik masuk kamar dan keluar sudah memakai jilbab.
Jilbab kemarin lusa yang digantung di belakang pintu kamar dipakai lagi. AH
sudahlah, mungkin memang keinginan beliau begitu. Susah berdebat dengan orang
tua pikirku lagi.
“Assalamualaikum.” Ibu memunggungiku dan pergi keluar pintu.
Kujawab salam ibu sambil meletakkan gelas di atas lemari pendingin dan kemudian
berjalan mematikan TV. Setelahnya aku berjalan menghampiri pintu hendak menutup
pintu dan ibu sudah tidak terlihat lagi di teras. Dan lagi-lagi pagar rumah
tidak ditutup ibu. Ibu pikun sekali.
Tiba-tiba jantungku berdegup kencang. Pikun! Otakku berseru
membangunkan kesadaranku. Apa ibu mulai pikun? Demensia? Aku membuka gerbang
dan menuju ke rumah Bu Dar yang hanya di sebelah rumah. Kucari ibu dan beliau
tidak ada, tidak ada yang melihat ibu. Aku membalik badan dan kucari ibu dalam
kendaraan yang lalu lalang di depan rumahku.
Nihil.
Catatan:
Pikun atau demensia adalah penyakit yang mempengaruhi kinerja otak. Baca selengkapnya di sini.
Pikun atau demensia adalah penyakit yang mempengaruhi kinerja otak. Baca selengkapnya di sini.
#komunitasonedayonepost
No comments:
Post a Comment