Saturday, September 8, 2018

Street Feeding, Pemberi Asa Penghuni Jalan.

sumber gambar: https://bit.ly/2wTCjzL


Pagi hari dihujani hangat sinar matahari mengantarkan warga kota bergegas menuju tempat tugasnya. Tiap hari jalanan hiruk pikuk dipenuhi perpindahan warga kota dengan alat transportasinya. Dalam kesibukan kaum urban di sepanjang jalan gang, jalan kecil, jalan sempit beraspal, dan bagian jalan lainnya, makhluk Tuhan lain berjalan mengedarkan pandangan mencari penghidupannya. 

Mamalia berkaki empat ini banyak kita jumpai dengan mudah di mana-mana. Kucing adalah binatang yang bisa jadi akan ditemukan di seluruh penjuru dunia. Tahukah Sahabat binatang ini sudah ada 9500 tahun yang lalu dan bahkan spesies kucing liar yang hidup bebas, tidak bersentuhan dengan manusia, sudah ada sekitar 130,000 tahun yang lalu? Para arkeologis telah mengumpulkan bukti dan menelusuri jejak nenek moyang kucing. Diperkirakan kucing sudah dipelihara sebagai hewan peliharaan di rumah-rumah di wilayah yang sekarang menjadi bagian dari Siprus daerah timur Mediterania sampai Teluk Persia. 

Sejak awal kemunculannya, kucing menjadi hewan piaraan di daerah dataran yang mendapat irigasi dari Sungai Nil, Yordan, Tigris dan Eufrats, tempat pemburu pertama kali bermukim. Felis catus, mamalia berbulu berkaki empat ini bahkan pada jaman Mesir Kuno sudah menjadi biantang piaraan, disembah dan dimumikan untuk menemani pemiliknya menuju ke kehidupan selanjutnya.

Kucing kemudian berkembang biak dan melalui perdagangan, perpindahan penduduk, perang dan aneka perjalanan sejarah manusia, kucing berpindah dari nenek moyangnya di daratan Afrika Utara dan Asia Barat menuju ke segala penjuru dunia. Sampai sekarang pun kucing masih menjadi hewan peliharaan nomor satu, mengalahkan anjing. Jika kita kembali pada fakta sejarah bagaimana kucing pada masanya bahkan sempat disembah, maka hal ini tidaklah mengherankan. 

Bercampur antara satu jenis dengan jenis yang lain, kawin, dan beranak pinak dalam jumlah besar. Jumlah kucing di seluruh dunia diperkirakan mencapai sekitar lebih dari 220 juta sampai 600 juta. Ini hampir sama jumlahnya dengan tiga kali lipat penduduk Indonesia. Perkembangan populasi kucing juga jauh lebih pesat dibanding dengan anjing. Kucing betina pertama kali birahi saat berumur 7-8 bulan atau 10-11 bulan yang berlangsung selama 4-10 hari, kadang hanya 4-5 hari. Bahkan pada banyak kasus di usia empat bulan kucing betina sudah bunting. 

Berdasarkan penelitian American Society for the Prevention of Cruelty to Animals seekor kucing betina bisa menghasilkan lebih dari seratus anak kucing di masa produktifnya. Sementara induk dan anak-anaknya bisa berkembang biak menjadi 420,000 anak kucing lagi dalam waktu hanya tujuh tahun. Fakta yang mengejutkan bukan?

Akibat dari hal ini, banyak sekali ditemukan kucing baik itu dewasa maupun anakan di jalanan, termasuk di Indonesia. Kesadaran pemilik kucing yang kurang tentang sterilisasi kucing menyebabkan jumlah populasi kucing meningkat. Tragisnya mereka lebih senang memelihara induk kucing dan membuang anak kucing yang biasanya sekali kelahiran berjumlah tiga sampai lima ekor ke pasar, tempat pembuangan sampah, dan tempat tak layak lainnya. 

Pemilik kucing telah lalai bahwa yang dibuang adalah makhluk Tuhan yang bernyawa. Ikatan kuat pada induk kucing yang sudah lebih dahulu dipelihara biasanya membuat pemilik menjadi tega membuang anak kucing. Jalanan akhirnya menjadi tempat anak kucing, yang jika beruntung bisa tumbuh dewasa, untuk bertahan hidup. Sayangnya banyak yang mendapat perlakuan kasar (abusive) dari manusia tak bertanggung jawab. Terlepas dari ukurannya, kucing tetap makhluk bernyawa.

Adalah gerakan street feeding yang digagas oleh perorangan maupun kelompok. Street feeding adalah usaha untuk memberi makan kucing jalanan agar tidak hidup kelaparan dan mengalami malnutrisi. Ada banyak orang yang berempati dan kemudian terpanggil hatinya untuk menyisihkan uang dan membeli makanan kucing, yang kemudian secara khusus dibagikan sambil menyusuri jalanan kota. Makanan kucing dalam kemasan dibagikan pada satu atau beberapa kucing. Ada yang membawa wadah khusus berisi beberapa ratus gram makanan kucing sembari berangkat ke tempat kerja, ada yang sengaja meluangkan waktu sesampai di rumah dan berkendara perlahan sambil memanggil kucing datang lantas diberi makan, ada pula yang bersekutu berkelompok dan mencari tempat-tempat dengan populasi kucing terbanyak dalam lingkungan paling parah dan menyedihkan. 

Jalanan adalah tempat yang sangat berbahaya bagi kucing. Ada ratusan kendaraan bermotor, cuaca panas terik dan hujan deras, dan juga manusia yang kasar memperlakukan makhluk ciptaan-Nya. Akun Instagram seperti @gardasatwa, @pedulikucing, @pedulikucingjalanan dan ratusan akun sejenis berupaya menularkan dan mendorong masyarakat untuk lebih peduli pada lingkungan sekitar dan memberikan kesejahteraan bagi kucing liar. 

Upaya mengasihi makhluk Tuhan ini mungkin terdengar sepele atau bisa jadi dianggap perbuatan sia-sia. Toh nantinya ada banyak anak kucing dilahirkan tak terhingga jumlahnya. Tetapi perbuatan baik apa pun pasti mendapatkan balasannya. Dan jika mengebiri kucing agar tidak terlampau banyak jumlahnya belum mungkin dilakukan pada kucing liar di jalan, maka membuat mereka hidup dengan layak tidak kelaparan adalah juga sebuah upaya untuk menebar semangat cinta kasih pada seluruh isi bumi.

Walaupun tindakan utama untuk mencegah populasi kucing jalanan adalah dengan melakukan pengebirian, tetapi upaya awal untuk menyejahterakan mereka dengan memberi makan adalah upaya yang patut didukung. Seyogyanya kita semua manusia memahami bahwa bumi diciptakan oleh Tuhan lengkap dengan segala isinya. Bahwa kehidupan di muka bumi harus dilaksanakan secara seimbang dan berkasih sayang bukan hanya ditujukan pada sesama manusia tetapi juga bagi semua penghuni bumi. 

Jauh sebelum kita, manusia modern dilahirkan, kucing sudah didewakan. Pastilah ada keistimewaan padanya yang menjadikan bangsa Mesir kuno memujanya. Demikian juga halnya bagi umat muslim, Nabi Muhammad, sangat menyayangi kucing. Kepada para sahabatnya, Nabi berpesan untuk menyayangi kucing peliharaan, layaknya menyayangi keluarga sendiri. Betapa teladan sudah ditunjukkan dan kebanyakan manusia masih lalai dalam mengasihi binatang teristimewa kucing. 


#komunitasonedayonepost
#ODOP_6 

Referensi:
https://www.theguardian.com/science/2007/jun/29/genetics.sciencenews
https://animals.howstuffworks.com/pets/just-how-many-house-cats-are-there-the-world.htm
http://www.imetmis.com/kucing-kawin-hamil/





Friday, September 7, 2018

ASUS Laptopku, Please Ganti ASUS T100TA Saya dengan ASUS VivoFlip TP410


ASUS VivoFlip TP410 giveaway? Yay, ini yang ditunggu-tunggu. Sudah waktunya Kak ASUS T100TA rehat dulu, istirahat sepuas-puasnya. Saya penggemar berat produk ASUS. Mulai dari notebook sampai ponsel semuanya ASUS. Menuliskan postingan ini membuat saya bernostalgia dengan gawai ASUS saya.

Saya membeli ASUS T100TA hasil menabung bertahun-tahun setelah sebelumnya menggunakan notebook merk lain yang ukuran layarnya besar dan body-nya berat. Tiap hari dipikul ke kantor rasanya punggung tak kuasa lagi. Saat itu sempat browse beberapa merk tapi yang paling menggoda adalah produk ASUS Transformer (T100TA). Yang bikin jatuh hati tentu saja karena ini notebook hybrid, gabungan antara tablet dan notebook.




Bobotnya ringan, ergonomis, dan pastinya praktis. Layar kecilnya tetap nyaman dipakai untuk berselancar di dunia maya dan menyelesaikan tugas-tugas. Layarnya full touch dan bisa menjadi tablet ketika dilepas dari dockingnya dengan hanya menekan satu tombol dan ketika dipasang kembali juga konektivitas nol gangguan. Saya bisa nonton drama Korea favorit sambil tiduran dengan nyaman berbekal tablet, dan menyelesaikan pekerjaan dengan nyaman ketika mengembalikan fungsinya sebagai notebook.

Penggunaan notebook saya normal tanpa kendala sampai sekarang sekitar 4 tahun lamanya. Hal yang menggiriskan hati adalah ketika ujung atas layar terantuk meja dan rompal sedikit, kecil saja tapi membuat saya nelangsa. Untungnya kinerja laptop berjalan normal. Saya menambah perlindungan d bagian layar dengan menambahkan screen guard yang malah meninggalkan bekas baret sehingga layar tidak nyaman dipandang. Saya biarkan saja walaupun bagian layar akhirnya terlihat jorok.
Ia sudah cukup lelah. Dipaksa menyala sampai lebih 10 jam sehari. Belum lagi jika nonton berepisode-episode drama yang melodramatis. Ah, waktunya ganti laptop. Orang lain boleh ingin ganti presiden tapi saya cukup ganti notebook.

Pucuk dicinta ulam tiba, adalah kuis giveaway dari @asusid , hadiahnya luar biasa cakep. Ada ASUS VivoFlip TP410. Membaca review tentang laptop ini membuat saya ngiler dan terbayang-bayang. Coba tengok spesifikasi kerennya, layarnya 14 inchi full HD tetapi super ringan, sangat ergonomis, yang tetapbisa berfungsi sebagai laptop atau tablet. Prossesornya Intel® Core™ i7 dengan grafis NVIDIA® GeForce® 930MX. Uh la la

Tak seperti notebook saya yang body-nya plastik, yang satu ini body-nya aluminium, pastinya tampilan luarnya terlihat sangat klasik dan berkelas. Soal nonton, pakai ASUS VivoFlipTP410 lebih nyaman pastinya. Bagaimana tidak, di layar 14 inchi full HD yang frame nya dibuat mirip dengan layar 13 inchi. Mungkinkah? Mungkin dong, teknologi NanoEdge bezel Display ultra-narrow 8mm membuat tampilan layarnya 78% selaras dengan rasio layar ke tubuh user, nonton jadi lebih nyaman. Belum lagi teknologi 178˚ wide-view yang membuat warna dan kontras layar tetap tajam dan jernih, walaupun dilihat dari sudut samping. Ohoooo nonton bareng banyak teman pun tetap enak nih.

Untuk entertainment suara pasti penting dong. Jika di notebook saya yang lama menggunakan ALTEC Lansing maka untuk ASUS VivoFlip TP410 memakai SonicMaster yang menjanjikan suara jernih dan senyata aslinya dibanding jenis laptop lain. Pst…ini teknologi baru yang dikembangkan oleh tim ASUS Golden Ear dan ICEpower® loh.

Karena saya bukan gamer maka saya biasanya tak memusingkan tentang performa laptop untuk gaming. Tapi bagaimana mungkin saya tidak terpana dengan prosessor Intel Core i7 generasi ke 7 yang memoriny 16 GB dengan kapasitas SSDmencapai 256 GB dan 1 TeraByte HDD. OS nya? WINDOWS 10 Pro, nah kurang apa coba? Ini sih performa luar biasa dalam desain elegan yang super ringan.

 Saya harus banyak berdoa, semoga saya berjodoh dengan ASUS VivoFlip TP410. Sebagai writer-wannabe notebook / laptop adalah kawan sejati. Tanpanya apa artinya? I love ASUS and I keep my finger crossed for the extravagant ASUS VivoFlip TP410 free giveaway prize. Thank you for the giveaway contest "ASUS Laptopku Blogging Competition by uniekkaswarganti.com "

https://www.uniekkaswarganti.com/2018/08/asus-laptopku-blogging-competition.html


Thursday, September 6, 2018

Jomlo, Kenapa Tidak? Jadilah Jomlo berkualitas dengan 4 Hal Ini

sumber gambar: https://bit.ly/2wMLt1I


Sahabat, tahukah Sahabat apa arti kata jomlo? Sahabta sudah membaca kata ini dengan benar “jomlo”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang betul adalah jomlo bukan jomblo. Artinya? Tentu saja pria atau wanita yang belum punya pasangan hidup.

Siapa yang jomlo, angkat tangan. Eits, jangan salah Sahabat, menjadi jomlo bukan hal yang memalukan dan bukan juga hal yang membuat minder. Bahagialah jadi jomlo. Kok bisa? Nah coba simak alasan-alasan Sahabat wajib bahagia walau jomlo, karena jomlo pun bisa berkualitas.

1. Berbahagialah dengan Kondisi Sahabat Sekarang

Banyak orang yang berlomba-lomba mencari pasangan (pacar) atau pasangan hidup (suami). Tak ada yang salah dengan hal ini, tapi tak ada salahnya juga Sahabat tidak menghabiskan waktu memikirkan hal yang satu ini karena yang terpenting adalah menikmati apa yang Sahabat miliki saat ini.
Banyak cara untuk menjadi bahagia walau tanpa pasangan. Caranya adalah tingkatkan kebahagiaan dengan cara banyak bersyukur. Terdengar mudah dan klise ya? Memang mudah kok, tapi nyata. Bersyukur atas apa yang dimiliki sekarang dan bersyukur atas hal-hal kecil di sekitar akan membuat Sahabat lebih menikmati hidup. Coba tuliskan setiap hari hal-hal yang patut disyukuri, saya yakin daftarnya bisa ratusan, atau mungkin tak terhingga?

Jangan lupa untuk mencari hal-hal yang membuat Sahabat bahagia, orang-orang yang membuat Sahabat senang, datangi mereka dan belajarlah lebih banyak dari mereka. Bersenang-senanglah dengan mereka dan berbahagialah dengan hal-hal baru yang Sahabat temukan.
2. Cari Tahu Diri Sahabat yang Sesungguhnya

Pernahkah Sahabat menemui seseorang yang berubah ketika ia dekat dengan pasangan barunya? Berubah menjadi orang lain bukan seperti ia yang dulu? Ternyata hal ini umum terjadi, hubungan dengan lawan jenis bisa mengubah seseorang. Jika jadi lebih baik sih oke, tapi jika lebih buruk? Nah, ada baiknya Sahabat mulai mengenali diri sendiri. Eksplorasi diri dengan mengikuti aneka kelas-kelas online dan offline, yang gratis atau yang berbayar. Cari potensi diri dan temukan kebahagiaan Sahabat yang sesungguhnya. Pada akhirnya Sahabat akan menyadari bahwa jadi jomlo pun bisa bahagia dan bermanfaat untuk diri sendiri dan lingkungan.

3. Jatuh Cintalah Pada Diri Sendiri

Ini bukan narsis, ini hal yang hakiki (meminjam istilah kekinian). Hubungan yang terpenting bukan melulu hubungan kita dengan lawan jenis, tetapi hubungan Sahabat dengan diri sendiri. Bagaimana berdamai dengan diri sendiri, mengelola konflik, mengejar cita-cita, membahagiakan diri, dan menghargai segala capaian diri betapa pun kecilnya.

Cobalah mengumpulkan lebih banyak rasa kasih sayang dan kembalikan rasa sayang itu pada lingkungan sekitar. Lihat orang-orang yang bisa bahagia hanya dengan membantu sesama. Ketika Sahabat tidak repot memikirkan pujaan hati tapi fokus pada diri sendiri, untuk selalu menumbuhkan rasa sayang, maka ini akan mewujud juga pada kasih sayang kita terhadap sesama, outer circle kita.

Rasa mencintai diri sendiri juga muncul dalam aneka kegiatan positif loh. Coba Sahabat ingat sudahkah sahabat mengonsumsi makanan yang bergizi dn berimbang? Sudahkah Sahabat berolah raga untuk menjaga tubuh agar sehat? Seberapa sering Sahabat membiarkan tubuh terpapar racun dan hal yang membahayakan akibat konsumsi makanan tak sehat, rokok, dan gaya hidup amburadul? Rawatlah tubuh Sahabat sembari merawat jiwanya, niscaya jadi jomlo pun hidup tetap berkualitas.

4. Lakukan Apa Yang Sahabat Suka
Jangan biarkan orang lain menghalangi Sahabat mencoba hal baru dan melakukan hal yang diinginkan, tentu saja dalam koridor positif ya, bukan kegiatan yang merugikan badan, jiwa, lingkungan, dan negara. Walaupun banyak orang mencibir, jangan menyerah. Toh ini adalah hidup Sahabat yang perlu diisi dengan hal-hal yang menyenangkan. Ibarat pepatah, anjing menggonggong kafilah tetap berlalu. Coba dan kerjakan dulu.

Saya sendiri sudah menerapkan hal ini. Saya berpikir profesi penulis itu menyenangkan. Bisa dikerjakan di mana saja, membuat diri sendiri bahagia dan bisa menularkan kebahagiaan bagi orang lain. Maka saya belajar dan diam-diam mengikuti aneka kelas menulis saat saya sedang kerja kantoran. Ketika saya bercerita saya ingin menjadi penulis di masa depan, saya mendapatkan cibiran dari rekan kerja sekaligus atasan saya. Pekerjaan sebagai penulis tak akan menjamin finansial saya, begitu ungkapnya.

Saya tak menggubris dan tetap belajar. Tentunya saya belum menghasilkan uang dari kegiatan menulis saya, namanya juga pemula. Tapi, saya mendapatkan kebahagiaan luar biasa dari kegiatan menulis. Lama kelamaan saya berpikir bukankah kebahagiaan adalah hal yang lebih penting daripada uang?

Jadi, jangan minder dan galau jika Sahabat jomlo. Jadilah jomlo yang berkualitas dengan banyak menonjolkan kualitas positif Sahabat. Kesuksesan dan cinta akan mendatangi Sahabat. Jika pun bukan cinta dari lawan jenis, maka mungkin akan ada banyak cinta dari orang-orang dan lingkungan sekitar yang menghujani Sahabat. Yuk, jadi jomlo bahagia yang berkualitas.



#komunitasonedayonepost
#ODOP_6 

Wednesday, September 5, 2018

Masyarakat Indonesia Jauh dari Bahagia, Negara Apa Paling Bahagia di Dunia?

Sumber gambar: https://bit.ly/2J3tKL4

Sahabat, apakah Anda orang yang bahagia? Menurut Sahabat, apakah masyarakat Indonesia adalah orang-orang yang berbahagia? Rupanya tingkat kebahagiaan bisa diukur loh, walaupun tentu saja mengukur tingkat kebahagiaan seseorang sama sulitnya dengan mencari jarum di tumpukan jerami. Bagaimanapun hal ini tak mustahil untuk dilakukan dan bisa diukur secara ilmiah. 


Dalam penelitian ilmu sosial, tingkat kebahagiaan diartikan sebagai penilaian seseorang terhadap total kualitas hidupnya sebagai kehidupan yang positif. Singkatnya bagaimana seseorang merasakan kepuasan dan kesenangan pada hidupnya. Karena penilaiannya subjektif, maka penelitian tentang tingkat kebahagiaan dilakukan dengan bertanya pada masing-masing orang tentang hidupnya, apakah ia cukup bahagia atau tidak. 


Cara untuk mengukur kebahagiaan ini adalah lewat survei. Responden akan menjawab beberapa pertanyaan dalam kuesioner. Jawaban kemudian dijadikan data yang dihitung dan dikonversi ke dalam skala penilaian kebahagiaan. Secara internasional ada beberapa kuesioner yang lazim dipakai dengan perbedaan pendekatan dan persepsi kebahagiaan seperti  Oxford Happiness Inventory – Inventarisasi Kebahagiaan Oxford (Argyle and Hill), Subjective Happiness Scale – Skala Kebahagiaan Subjektif (Lyubomirsky & Lepper), Satisfaction with Life Scale – Kepuasan dengan Skala Kehidupan(Deiner,Emmons, Larsen and Griffin) 


Sahabat, mengukur tingkat kebahagiaan masyarakat suatu negara ternyata cukup penting karena ukuran ini bisa menunjukkan tingkat perkembangan masyrakat itu sendiri. Dengan mengetahui seberapa bahagia suatu masyarakat mulai dari persepsi kebahagiaan dari pekerjaan, perumahan, ekonomi, sampai kesehatan; maka pembuat keputusan bisa lebih baik dalam menentukan arah kebijakan negara. 


Tahukah Sahabat negara manakah yang masyarakatnya paling bahagia? Indonesia berada di urutan berapa ya? Nah berdasarkan studi oleh Gallup World Poll yang dilaporkan dalam World Happiness Report tahun 2018, 10 besar negara dengan penduduk paling bahagi dari survey di tahun 2015 – 2017 adalah: 
  1. Finlandia
  2. Norwegia,
  3. Denmark,
  4. Islandia
  5. Swiss,
  6. Belanda
  7. Kanada
  8. Selandia Baru
  9. Swedia
  10. Australia

Indonesia berada di posisi 96 jauh dari negara tetangga Singapura di posisi ke 34 dan Malaysia di posisi 35. Indonesia tepat berada di bawah Vietnam. Menariknya, Jepang yang secara ekonomi melesat di atas Malaysia berada di posisi ke 54.


Sumber: World Happiness Report 2018


Beberapa hal yang menjadi pembeda kebahagiaan masyarakat tiap negara tentunya adalah pendapatan per kapita. Pendapatan per kapita adalah besarnya pendapatan rata-rata penduduk di suatu negara.Selain pendapatan hal lain yang mempengaruhi kebahagiaan adalah jaminan sosial, tingkat harapan hidup, kebebasan, dan persepsi terhadap korupsi. Nah rupanya masyarakat Indonesia masih rendah penilaiannya terhadap tindak pidana korupsi, tak heran ini turut mempengaruhi tingkat kebahagiaan.

Uang memang hal utama yang menentukan kebahagiaan masyarakat dunia sejauh ini selain tentu saja jaminan sosial dan keamanan. Semoga tingkat kebahagiaan masyarakat Indonesia bisa melesat masuk ke 50 besar di tahun selanjutnya. Nah, menurut Sahabat dari skala 1-10 seberapa besarkah tingkat kebahagiaan Sahabat?


#komunitasonedayonepost
#ODOP_6 


Sumber:
https://s3.amazonaws.com/happiness-report/2018/WHR_web.pdf

Arti Kebahagiaan

Sumber gambar: https://bit.ly/2Q8QCJV


Sahabat, pagi ini satu pertanyaan kecil muncul di pikiran saya. Apakah kebahagiaan itu? Saya mencoba mencari tahu arti dari kebahagiaan dan tentu saja definisinya amat banyak, tergantung dari pendapat masing-masing orang.

Kebahagiaan menurut kamus kurang lebih berarti keadaan bahagia, merasakan atau menunjukkan kepuasan dan kesenangan Nah, masalahnya kepuasan dan kesenangan masing-masing orang pasti berbeda. Takaran kebahagiaan juga hampir pasti berbeda tiap orang bukan?

Bagi saya sendiri, kebahagiaan adalah keadaan ketika saya tidak sedih, tidak kesepian, merasa bersyukur dan tenang menjalani kehidupan. Jika saya menilik kembali perjalanan hidup saya ke belakang, maka bisa saya katakan bahwa ukuran kebahagiaan saya sungguh berbeda dari tahun ke tahun. Dulu mendapat uang saku dari nenek bisa membuat senyum seminggu penuh, sekarang bisa membeli buku favorit saja sudah luar biasa gembira. Dulu, menjadi pekerja penerima gaji tetap bulanan membuat saya bahagia, sekarang tanpa pendapatan bulanan pun ternyata saya masih bahagia.

Masih tentang pekerjaan, dulu bisa bekerja dengan tenang dan santai walaupun masuk di hari Sabtu membuat saya bahagia. Justru libur panjang membuat saya tak bersemangat. Sekarang, menghabiskan waktu untuk belajar menulis, bisa membaca buku yang saya suka dan mencoba resep baru adalah hal yang jauh lebih membahagiakan daripada rutinitas kantoran tiap hari. Dulu saya merasa pekerjaan membuat saya lebih aktif dan lebih “hidup”, sekarang kadang saya menyesali betapa banyak waktu terbuang hanya untuk berkutat di kantor tanpa mencoba hal-hal baru di luar rutinitas dan berkomunitas.

Sejalan dengan kebahagiaan, kesedihan saya di masa lalu juga berbeda dengan di masa sekarang. Dulu sedih ketika tidak bisa nonton konser artis kesayangan, sekarang lebih sedih jika suami sakit dan mendadak melupakan semua hingar bingar berita artis antah-berantah itu. Dulu sepi tanpa teman terasa menyiksa, sekarang sepi tanpa suami jauh lebih tersiksa (ehem ehem…). Dulu saya menghabiskan waktu dengan sebanyak mungkin pergi ke mall, jalan-jalan keliling kota, atau berwisata ke spot turis yang menarik. Sekarang pergi ke luar rumah sudah berat rasanya, tak pergi ke mall sebulan pun tak masalah. Ternyata punya waktu seharian untuk diri sendiri di depan laptop sambil mencurahkan ide sudah luar biasa membahagiakan rasanya.

Saya setuju jika hal terkecil pun bisa menciptakan kebahagiaan, apapun itu. Karena jika bersyukur pada apapun yang didapat dan dimiliki maka kebahagiaan niscaya terwujud. Jika kebahagiaan adalah tujuan hidup maka bukankah semuanya akan mudah dicapai dengan rasa syukur yang melimpah? Setidaknya itu yang saya rasakan, makin banyak mengeluh makin jauh dari rasa bahagia. Makin jeli melihat aneka nikmat yang didapat maka kebahagiaan itu dekat sekali.

Bicara tentang kebahagiaan dalam skala global, ternayata indeks kebahagiaan masyarakat dunia juga dipelajari secara ilmiah dan dibuat rankingnya. Kebahagiaan masyarakat Indonesia pada umumnya ternyata masih jauh dari negara tetangga. Dan negara-negara kaya ternyata tak menjamin penduduknya bahagia. Nah lo….Sahabat bisa tahu lebih banyak tentang ranking kebahagiaan masyarakat dunia di sini

Ternyata kebahagiaan ini adalah hal yang fundamental dalam hidup ya? Bisa dipelajari secara ilmiah, dirasakan secara spiritual, dan dicapai dengan nyata. Bagaimana dengan Sahabat? Apa arti kebahagiaan menurut sahabat dan sudahkah merasa bahagia hari ini?


#komunitasonedayonepost
#ODOP_6 

Monday, September 3, 2018

Musik, Bahasa Perasaan Bahasa Universal

sumber gambar: https://bit.ly/2NLjEgO


Hari ini saya mendengarkan lagu Seungri (1,2,3!). Saya suka sekali mendengarkan lagu ini karena irama yang gembira dan melodinya ceria. Video musiknya juga bagus, lucu, dan ceria. Hanya mendengarkan intronya sudah membuat mata terbelalak bersemangat, bagian refrainnya apalagi, membuat bergoyang. Menulis postingan ini sambil mendengarkan lagu Seungri membuat saya bersemangat, sepertinya saya akan mengulang-ulang lagu ini beberapa kali lagi sampai nanti waktu tidur menjelang.

Gara-gara lagu ini juga saya penasaran, sebenarnya bagaimana secara umum musik bisa membuat perasaan saya berubah-ubah. Bisa membuat saya bahagia dan sebaliknya juga sedih. Ternyata music adalah bahasa. Irama dan ritmenya diterjemahkan oleh otak sama seperti otak mencerna bahasa.
Ya, musik adalah sebuah bahasa tepatnya bahasa emosi tentang perasaan. Jika Anda pernah belajar bahasa maka Anda pasti tahu bahwa bahasa mengandung struktur dan ada syntaxnya. Syntax menurut ilmu linguistik berarti salah satu cabang ilmu bahasa yang mempelajari bagaumana sebuah kalimat terbentuk dari frasa dan bagian yang lebih kecil yaitu kata. Secara etimologis pengelompokan kata menjadi frase, dan kata menjadi kalimat ini disebut sebagai syntax.

Syntax juga ditemukan dalam musik. Bukan berupa kata, tetapi melodi, ritme, dan harmonisasi musik adalah syntaxnya. Musik instrumental tanpa lirik juga memiliki syntax, karena sesungguhnya tiap musik punya melodi, ritme, dan harmonisasi yang memicu otak kita untuk membuat persepsi seperti bahasa. Walau hanya musik instrumental tanpa lirik, tetap saja otak kita suara yang berbeda ritme dan kecepatan menstimulasi otak. Otak bekerja menangkap aneka suara di lingkungan kita dan membuat persepsi yang dipahami oleh diri kita.

Prinsip kerja otak sama dengan ketika kita mendengarkan orang berbicara, ada intonasi dan nada, penekanan dalam tiap kata dan kalimat mempengaruhi persepsi kita tentang maksud yang dimiliki pembicara. Lebih lanjut ketika mendengarkan lagu otak kita memiliki asosiasi sesuai dengan pengalaman kita. Misalnya ketika kita mendengarkan tentang lagu nina bobo yang dulu dinyanyikan ibu, perasaan kita tenang dan damai, ketika kita mendengarkan lagu dengan melody yang kurang lebih sama maka otak mengasosiasikan perasaan yang sama dengan lagu nina bobo.
Hal lain yang perlu diketahui adalah bahwa ketika mendengar musik maka sel-sel otak yang disebut neuron cermin (mirrors neurons) memicu rasa empati kita. Sel-sel otak ini berempati dengan perasaan yang muncul dari musik, memicu emosi yang sama dari tubuh kita yang dihasilkan oleh sistem lymbic, bagian dari emosi di otak.

Tak mengherankan walau mendengarkan musik dengan genre yang berbeda dari apa yang biasa kita dengar otak bisa mempersepsikannya dan membuat perasaan kita ikut terbawa. Ketika mendengarkan lagu dengan lirik bahasa asing pun kita bisa menikmatinya dan larut dalam melodinya. Musik memang bahasa universal yang bisa dipahami siapapun, karena otak bekerja bukan dari menelaah arti per kata dalam lirik tapi dari campuran ritme, melodi, dan harmonisasi lagu.


Sumber:
https://www.insidescience.org/video/why-does-music-make-us-emotional



#komunitasonedayonepost dan #ODOP_6


Thursday, August 23, 2018

Ketika Bromo Tak Seindah Itu

sumber: malangtoday.net



Ketika mencari destinasi wisata terbaik Jawa Timur maka dengan mudah saya googling dan ketikkan kata kunci. Bromo pasti masuk sebagai salah hasil pencarian. Lebih tiga belas tahun setelah berhasil mencapai puncaknya, saya meyakini ini adalah tempat wisata dengan kenangan paling berkesan. Bukan keindahan si maha tinggi, tapi kenangan anak dan ibu yang terpintal disana.

Apa yang paling indah dari gunung ini? Pasirnya? Waktu saya ke sana lautan pasir menghampar. Wajarnya memukau saya, tapi karena datang terlampau siang dan kembali ke hotel terlalu cepat, jadi bagi saya lautan pasir yang seharusnya wow itu jadi biasa saja.

Kawah gunung yang indah harusnya jadi salah satu pesona. Saya pikir juga begitu, tapi ketika saya naik ke puncak, ya terlihat seperti kawah saja. Saya mengharapkan sesuatu yang lebih. Mungkin saya naik ke puncak yang salah, atau saya melewatkan upacara Kasada yang termasyur itu sehingga kawah tak ubahnya ceruk besar dengan asap yang sedikit mengepul.

Sunrise? Oh saya tidak melihatnya. Matahari sudah tinggi dan saya lupa keindahan apa yang berbekas dari sang surya. Saya meninggalkan hotel hampir jam enam pagi. Matahari sudah muncul dan tentu saja the sun has risen, matahari telah terbit.

Perjalanan melewati lekuk dataran tinggi sampai ke Gunung Bromo wajibnya indah. Saya tak terlalu menikmati karena jantung berdebar takut melewatkan matahari terbit. Akhir cerita saya memang pengunjung yang datang terlambat. Jalanan yang indah jadi biasa saja tak istimewa. Oh ya, sehari sebelumnya saya dan rombongan sudah nyasar sampai terlambat dari rombongan lain tiga jam lamanya. Saya sudah puas naik turun bukit sampai mual. Mungkin karena ini perjalanan dari hotel ke Bromo jadi biasa saja, bisa jadi saya terlalu takut mual lagi.

Bicara tentang mual, kemualan itu justru salah satu yang indah. Mama membaringkan saya di pangkuan beliau dan memijat leher agar saya tak mual sore hari sebelum sampai di Bromo. Pasir yang menghampar tak seindah kekaguman mama akan kuasa Allah yang menaburkan jutaan pasir jadi satu lautan. Kawah gunung yang jadi penghabisan saya menaiki puluhan anak tangga ke puncak tak semenantang berkuda dari parkiran mobil ke undakan pertama menuju puncak. Berkuda bersama mama melewati kerikil dengan kuda yang mendengus jauh lebih menarik.

Oh ya, tentang sunrisenya? Tak sehangat kala saya menikmati sarapan di hotel sesudah perjalanan super singkat ke Bromo sambil menghirup teh panas. Dibandingkan kemolekan sang gunung yang angkuh berdiri dihujani decakan kagum pengunjung, semua masa yang saya habiskan bersama mama adalah yang paling indah.

Tiga belas tahun dan saya masih mengingat dengan baik apa yang kami lakukan berdua di sana. Bukan gunung dan segoro wedi (1) yang membekas di memori, tapi perjalanan singkat saya dan mama menuju Bromo, menghadiri kawinan sepupu yang dimantu lurah desa di kaki Bromo, dan cerita-cerita antara kami berdua di bus dan mobil sewaan dari Mojokerto, Tulungagung, dan Probolinggo.

Kenangan itu adalah liburan terakhir bersama mama. Kenangan paling indah, perjalanan wisata mama di bumi yang peghabisan. Jika saya bisa kembali ke masa itu, bukan Bromo yang saya perlukan. Cukup tidur bersebelahan sambil memijat mama sepanjang malam.


(1) lautan pasir

Sang Kala

Sumber gambar: https://www.huffingtonpost.com/2013/12/31/time-art_n_4519734.html “Ceritakan padaku apa yang perlu kudengar.” “...