Sunday, October 7, 2018

Furrever Home - Perkenalan (Bagian 2)

sumber gambar: http://blog.bookthesurprise.com/friendship-day-surprise-ideas/


“Aaah…siapa kamu? Jangan sakiti aku?” teriakku memelas. Bau busuk itu makin tercium kuat.

“Eh, diam ah. Jangan berisik.” Jawabnya.

Aku terdiam bukan karena keinginanku tapi karena bau busuk menyengat bercampur dengan basah lengket di mataku. Anehnya rasa nyeri dan kelopak mata yang berat jadi sedikit berkurang, ringan walau tetap berbau busuk.

Aku mengerjap dan segera membuka mata. Mataku terbuka! Keduanya! Aku menengadah, segera melihat yang berbau busuk dan aku terkejut, tidak pernah aku melihat wujud seperti itu.  Apa ini yang disebut monster?

“Hei! Nak! Aku sama seperti jenismu, mengapa kamu membelalakkan mata begitu? Sudah bisa melek lebar kamu?”

“Eh, iya.” aku masih bingung menjawab pertanyaannya.

“Untung bisa kubersihkan semua kotoran di matamu. He he…maaf ya, aku bau pastinya. Tapi kamu beruntung Nak, aku cuma makan dari tempat sampah di ujung got ini. Biasanya lebih bau lagi mulutku. Eh tunggu, badanku! Yah, penuh lumpur dan sampah. Aduh, aku jorok sekali he he.” Ia menyerocos panjang lebar. Banya bicara tapi ia baik. Kurasa ia baik, semoga ini nyata.

“Tadi aku jilat matamu. Pernah juga aku membersihkan mata Sangmin. Umurnya mungkin dua minggu lebih muda darimu. Ia masih butuh ibunya, ah masa kamu tidak mengenal Sangmin? Dia kecil, lucu, sedikit kurus dan pendiam. Ah kamu harus banyak bergaul. Tapi… Sangmin mati.” cerocosannya diakhiri suara pelan penuh kesedihan. Aku makin bingung siapa dia dan mengapa dia ada di sini. Siapa pula Sangmin itu?

“Mengapa kamu sendirian di sini Nak? Ayo kita ke sisi sebelah sana, kita perlu membersihkan tubuh. Ayo kubantu.” tanpa persetujuanku dia langsung memepetkan badannya ke badanku, aku menghindar dan seketika mengikutinya. Aku tidak ingin badanku tertular bau busuknya, tapi aku juga tak ingin sendirian di sini.

Aku mengikutinya berjalan. Kudengar kecipak air karena langkah kakiku memecah aliran air yang ternyata menggenangi dasar got. Ah aku ada di dalam got besar. Baiklah, sedikit demi sedikit otakku mulai bekerja.

“Sangmin itu seperti kamu. Sendirian. Ditinggal ibunya. Matanya penuh kotoran, lama dia sendirian sampai aku datang banyak belatung sudah hinggap di sana. Oh Sangmin, kasihan sekali anak itu. Kujilati sampai bersih pun dia tak tertolong. Dia mati di sebelahku. Oh anak malang itu.” kali ini suaranya penuh kesedihan.

Aku makin tahu apa yang terjadi padaku. Aku di dalam got besar, aku ditinggalkan ibuku, mataku penuh kuman yang bisa jadi habitat belatung beranak pinak, nasibku sama dengan Sangmin, sedikit lebih baik.

“Kita ke mana?” tanyaku.

“Sebentar lagi kita sampai. Kita bersihkan tubuh dulu. Dingin tapi tak mengapa. Jangan jauh-jauh dariku.”

“Sangmin itu siapa?”

“Anak kecil pemberani. Aku mengasihinya walau hanya sebentar kami bersama. Tak mudah tinggal di tempat seperti ini. Kurasa kamu juga belum makan beberapa waktu makan. Apa yang sudah kamu makan selama ini? Tikus? Sampah?” tanyanya padaku.

“Iya, ada anak tikus. Kumakan tadi, lama sekali aku tidak tahu entah pagi, siang, atau malam, semuanya gelap dann samar.”

“Tak mengapa, asal kamu berani dan kuat. Kamu pasti pemberani. Pasti. Aku saja tidak mau lama-lama ada di sini, ada Mori, penguasa di sini. Yakin kamu belum pernah menemuinya, Nak?”

“Tidak”

“Baguslah. Semoga kamu memang anak pemberani seperti pikirku. Aku Luz. Umurku tiga tahun. 

Apa kamu punya nama?” pertanyaannya sulit kujawab. Ibu belum pernah menamaiku. Ibu biasanya memanggilku Uk.

“Uk. Itu saja yang kudengar dari ibu.”

“Uk? Nama yang aneh. Kupanggil kamu Yusha. Dari dulu aku suka nama itu. Bagaimana? Setuju?”
Aku diam saja dan tak lama mengangguk. Aku lebih suka Uk daripada Yusha. Tapi nama Uk sendiri terdengar aneh.

“Stop. Berhenti di sini. Maju sedikit, ayo.” perintahnya padaku yang ragu karena kami mendekati pancuran dari pipa patah. Air mengalir dari pipa.

“Ayo, maju Yusha. Kamu kan pemberani.” ajak Luz.

Mendengar kata pemberani kekuatanku datang. Aku maju dan berdiri tepat di bawah pancuran air. Tidak deras air yang jatuh tapi aku takut juga dengan air.

“Ya, begitu. Jangan takut. Goyangkan badanmu. Kibaskan juga ekormu. Bersihkan tubuhmu.” kudengar perintah Luz. Aku terpusat pada air dan badanku. Dingin dan menggelitik aneh rasanya tapi sekaligus menyegarkan. Kutahan rasa takutku dan aku mundur lagi menjauhi pancuran setelah mungkin empat kali kibasan ekor dan enam kali goyangan kepalaku terguyur air.

“Luz?” aku memanggil, tidak ada sahutan. Ia tidak ada di sampingku? Kulihat kiri dan kanan dia tidak ada. Apakah aku ditipu? Aku kedingingan dan sekarang benar-benar ketakutan. Aku bisa melihat tapi aku tidak mengenal tempat ini.

“Luz!”

(bersambung)

 #komunitasonedayonepost
#ODOP_6 


Furrever Home - Terjebak (Bagian 1)



“Ayo jalan cepat, jangan saling dorong. Jalan cepat tapi teratur. Ya, begitu. Ayo cepat!”

Aku mendengar seorang yang usianya mungkin sama dengan ibu berseru pada yang lain untuk berjalan cepat. Mungkin pada anak-anaknya. Aku pusatkan pikiran, aku pejamkan ebih rapat mataku yang sudah susah terbuka itu dan kucari asal suara penuh kalimat perintah tadi. Samar kudengar suara langkah kaki, tiga, dua, ah…kurasa ada empat langkah anak yang mengikutinya. Iyaitu tadi suara ibu dan anak-anaknya. Kemana mereka hendak pergi? Aku akan memanggil mereka, aku ingin ikut dalam rombongan mereka. Kucoba bersuara tetapi aku sendiri tidak bisa mendengar suaraku. Kutunggu tetapi tida ada yang menyahut, oh…kurasa mereka sudah berjalan menjauhiku.

Aku bingung dengan suara yang berganti di sekitar telingaku. Kadang kudengar suaraku snediri yang berbisik, kadang suaraku yang lantang berteriak pun tak terdengar. Ada suara gemuruh, sesuatu yang terseok, tersapu, kadang jejak langkah diikuti suara lompatan kaki, ketukan benda, suaraku yang melengking parau apakah suara-suara aneh ini? Sudah kubuat semua daun telingaku terbuka sempurna, kudorong otot-otot yang mengumpul di ujung daun telinga menguat menangkap puluhan atau ratusan suara asing yang ada di sekitarku. Sudah kujenjangkan leher sebisa yang aku mampu untuk membuatku menengadah sedikit lebih tinggi sehingga bisa kuraih suara yang mengudara dan akan kukirimkan ke lubang telingaku, tapi kurasa tak ada artinya. Aku tetap tak tahu di mana aku berada, siapa yang ada di dekatku dan yang ada jauh di sana. Aku ingin tahu.

Mungkin sudah empat malam aku di sini. Ini pun aku tak pasti tahu. Bagaimana aku bisa tahu siang dan malam jika mataku susah terbuka. Bagaimana aku tahu siang dan malam jika telingaku tidak mampu memahami apa yang jauh dan dekat. Kugerakkan kakiku, masih ada kekuatan. Aku diam meringkuk lagi. Tidak dingin, kurasa cuaca hangat. Sepertinya ada hangat sinar jatuh di tengkukku, apa itu sinar matahari? Sepertinya saja, kurasa aku salah. Ah aku serba tidak tahu. Kurasakan badanku hangat dari dalam, terkadang rasa dingin seperti es menjalar cepat dari ujung kuku kaki sampai ke telinga, biasanya aku menangis jika campuran rasa panas dan dingin ini datang.
Aku rindu ibuku. Ibu biasanya mengajakku tidur bersama, aku bisa menyusu nikmat air susunya, aku bisa mengendus bau tubuhnya yang tidak pernah kutemukan lagi. Aku memang sudah bisa berjalan tertatih dan sering menjauh ketika ibu mendekatiku. Ibu tidak pernah memaksaku minum air susunya. Aku minum semauku, berbeda dengan saudaraku yang selalu meneguk banyak-banyak air susu ibu. Aku masih ingat waktu itu. Hal terakhir yang kuingat aku yang paling kurus dari anak ibu lainnya. Empat minggu waktu menyusu sepenuhnya dikuasai oleh saudaraku yang rakus, tapi aku tetap kuat dan sehat. Ibu selalu senang melihatku, aku yakin itu. Ibu selalu penuh kasih padaku. Ibu sayang semua anaknya tapi menurutku ibu paling sayang padaku.

Aku tertunduk lesu. Lapar. Sedih terutama, mengingat ibu aku makin sedih. Kurasa ibu paling sayang padaku tetapi mengapa aku sendirian di sini. Kurasa aku menangis, tetapi air mata itu tidak terasa membasahi mataku. Aku membawa kotoran menjijikkan itu menggantung di mataku selama aku ada di sini. Samar bisa kulihat kaki-kakiku, tapi bisa jadi aku salah juga. Mungkin yang kulihat lantai putih sama seperti ubin tempatku tinggal dulu. Perut melilit ini terkadang membuatku cepat lupa apa yang kupikirkan, bisa juga membuatku memikirkan hal-hal yang tidak-tidak. Aku jadi teringat hangatnya pelukan ibu dan berganti menjadi kegeraman hati mengapa aku tertinggal sendirian di sini tanpa ibu dan saudaraku. Ketika pikiranku telanjur sibuk mereka dan membuat kesimpulan tiba-tiba sesuatu menyengat mengejutkanku sampai kepalaku bergetar hebat. Pedih yang aneh seperti ribuan semut menggigit bersamaan di kedua bola mataku.

Tuhan, apa ini? Aku meraung sambil menggoyangkan kepala bermaksud membuat kotoran tebal di kedua mataku rontok, kubayangkan bagaimana biasanya aku menepis semut dari tubuhku, sekarang harus kutepis kuat-kuat maka kugoyangkan kepalaku ke kiri dan ke kanan. Aku makin pusing karena lambung kosong tanpa sari pati makanan, kesedihan, kebingungan, dan kemarahan bercampur menjadi ketakutan kuat. Aku menjerit memanggil dan marah sekaligus pada ibu. Kecamuk hati dan raga ini ternyata hanya membuatku makin lemah dan tak ada daya.

Aku tertidur.

Aku melihat ada semburan warna berjajar melengkung indah sekali menghiasi langit. Aku terkejut ketika ada lengan ibu merangkulku. Aku hafal lengan dan bau ibu. Akhirnya ibu datang, hore. Ibu duduk bersamaku masih melingkarkan lengannya di badanku. Hangat rasanya. Aku tidak lagi merasakan sakit di mataku. Rombongan kuman dan debu yang bersekongkol menjadi gumpalan di mataku sudah hilang, ibu membersihkannya untukku. Oh ibu, betapa aku menyayanginya. Kupandang wajah ibu yang cantik, kutanyakan kalimat yang sama sejak ia mulai menghangatkanku dengan pelukannya, mengapa ia meninggalkanku. Ia tak menjawab. Aku menunggu dan bertanya lagi tapi ia tak menjawab. Mungkin ibu memang merahasiakannya, tak mengapa, kita semua punya rahasia. Maka tetap kupandangi warna-warna di langit itu.

Aku tertidur lagi di pelukan ibu. Kurasakan bau ibu makin hilang dan berganti bau yang akrab juga untukku. Aku tak peduli, yang penting ada ibu. Tidurku nyenyak sampai aku terbangun karena badanku basah. Aku terkejut mengapa ibu memandikanku, tetap tidak bisa jelas kulihat ada apa sebenarnya tetapi aku langsung saja menggeser pantat. Kaki kugerakkan malas sampai aku berpindah tempat mungkin hanya sehasta saja dari tempat awal. Bau ibu sudah hilang dan bau tempat ini tercium lagi. Ah sudahlah, aku harus tenang sekarang. Ibu sudah ada di sini.

Suara gemuruh terdengar jelas. Ibu diam saja dan yang ribut malah suara air bergolak menghantam dinding. Ah! Air! Cepat-cepat aku bangun lagi, angkat kaki dari situ dan perlahan menggeser badan mungkin beberapa hasta ke sisi kanan tubuhku. Aku sadar, aku masih terjebak di tempat yang sama. Tidak ada ibu, tidak ada kehangatan, tidak ada wangi tubuh ibu, hanya bau menyengat lumpur dan sampah yang kucium.

Mengapa aku masih terjebak di sini? Aku menangis lagi, kali ini kutambah raungan yang paling kencang yang pernah kubuat. Suaraku harus mengalahkan gelontoran air yang mulai membasahi kakiku di sini. Semuanya kabur, samar, dan berbau tetapi aku harus memanggil ibu lagi. Kali ini harus lebih lantang daripada yang pernah kuteriakkan, harus. Aku terus meronta lewat suara yang melengking, memekik menggema penuh nelangsa, sampai kurasakan dingin lembab menabrak tubuhku dan sungguh busuk berbau. Apa ini?

(bersambung)

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6 

Rawon Budhe Mar



“Badruuuuun!” pekikan keras Budhe Mar membangunkan Badrun yang masih lelap bergelung sarung.  Hari sudah siang tapi bujang seusia SMA ini tetap tekun tidur. Setengah bangun Badrun beringsut mencoba malas melangkahkan kaki ke arah suara bibiny. Ia kaget menemukan kakak ibunya memegang centong dengan tangan lainnya mengangkat sisi kain penutup kakinya sebelah kiri. Peluh turun berkejaran dari dahi si bibi dan bau rawon menyeruak memenuhi warung. Baunya sedap bercampur bau debu, ternyata kuah menyapu hampir seluruh lantai warung.


“Lho, Budhe kenapa?” Badrun terheran-heran, bertanya tetap dari posisinya di depan gawang pintu warung.

Turu tok ae. Tidur saja kau ini. Mbok ya bangun dari tadi. Aku gedebag-gedebug­  kamu tetap ngorok tidur pulas. Ini loh ulah Abu Meong. Awas kalo dia ke sini.” Budhe Mar bersungut-sungut, suaranya naik dua nada, lebih memekakkan telinga.

“Loh, dhe masa Abu Meong makan rawon? Kan ga suka rawon dia.” Badrun membela Abu Meong yang sudah lenyap bagai tahu nasibnya di ujung centong bulat keras berlogam tebal peninggalan zaman Mbah Maryamah, legenda rawon keluarga Badrun.

“Lha dia naik kompor. Ambil ikan di mangkuk plastik dekat tirisan tempe. Sebelahnya kan panci rawon Drun. Tak gepuk, kupukul pakai centong, eh dia lompat. Abu Meong lolos, panciku isi rawon ngguling, miring dan tumpahlah semua isinya.” Budhe Mar sengit menceritakan kronologi kejadian lima menit yang lalu itu.

Badrun terdiam, dia tahu dia pasti kena hukuman. Karena Abu Meong kelaparan, rawong jadi tumbalnya. Bukan sepenuhnya kesalahan Abu Meong, ini kesalahan budhe nya yang kurang hati-hati. Badrun mencoba membuat pembelaan baru. Ia masih menyusun kata-kata terbaiknya ketika kemudian ia mendengar suara wanita tua lain, yang sama sengit dengan suara bibinya.

“Mbak Mar. Iki opo se? Ini bagaimana? Rawon kok kecut, asam sekali Mbak.” Bu Ngatmo berkacak pinggang menenteng panci aluminium kecil berisi rawon.

“Lho, kenapa Bu Mo?” Tanya Budhe Mar.

“Coba dirasakan sini Mbak. Wah tamuku kasihan mbak, masa makan rawon rasa asem begini. Pantas saja tak ada yang habis makan nasi rawon tadi, cuma empal goreng yang dilahap habis.” Bu Ngatimo masih menggerutu setelah komplain selesai disampaikan.

Budhe Mar berjingkat menghindari tumpahan rawon di lantai menuju jendela samping warung, tempat Bu Ngatmo berdiri. Dengan tergesa diseruput kuah rawon yang disendok dengan sendok yang asal saja diambilnya dari dekat kompor. Ia terkejut dan mencecap, mengernyitkan alis dan kembali menyendok kuah agak banyak dan terbatuk-batuk.

Bener to Mbak Mar?”

“Eh…iya bu. Ngapunten. Minta maaf Bu. Saya tidak sengaja, mungkin tadi terburu-buru keluak kupas salah dengan asam matang. Rasanya jadi tak karuan. Mohon maaf Bu. Saya ganti rawon baru. Nanti saya antar Bu, masak dulu saya. Mohon maaf Bu.” suara Budhe Mar penuh kecemasan.

Ora usah Mbak. Tamune wis mulih.  Tak perlu Mbak. Tamu saya sudah pulang.” Bu Ngatmo menjawab sini sambil ngeloyor pergi tak lupa membawa pancinya.

“Tuh kan dhe, untung sisa rawon tak dijual ke orang lain, sudah tumpah karena Abu Meong.” kali ini Badrun perccaya diri mengucapkan kalimat yang meluncur mulus dari bibirnya.

“Ngawur! Sana bersihkan lantai warung!” Budhe Mar melengkingkan suaranya kembali. Kini turun satu nada dari yang terakhir.

#TantanganODOP4 #onedayonepost #odopbatch6 #fiksi/#nonfiksi

Petualangan Malam Jumat

Photo by Simon Robben from Pexels



Hanya mereka yang beruntung saja yang bisa mendapatkan keajaiban di malam Jumat. Kau bisa saja menganggap ceritaku ini bohong belaka, kawan. Tapi kau sepenuhnya akan berubah pikiran setelah membaca kisahku di malam Jumat kala itu.

Oh ya, pesanku sebelum kau baca seluruh kisahku cuma satu, dalam hidup kau harus selalu berusaha. Sekali berhenti, usaha dan harapan akan menguap habis. Jadi, untukmu yang senasib dneganku dulu, kau harus banyak-banyak berusaha.

Baiklah, kumulai kisahku ya.  Sudah lebih puluhan kali aku melihat wanita muda dengan guguran rambut halus dari bajunya menghampiriku. Aku tidak mengenalnya, yang jelas wanita itu ada. Dia selalu datang setengah jam sampai satu jam setelah bulan mungkin muncul. Ia akan meraup dari kantong plastik segenggam biskuit enak yang dibalur dengan cacahan ikan berlemak dengan jeli bening yang sama amisnya dengan si ikan. Jika kau hanya makan dari sampah, maka sulit sekali bagiku untuk menjelaskan seperti apa rasa biskuit berlapis jeli itu.

Bau wanita itu juga aneh. Tak seperti bau wanita berbaju lebar dengan warna-warni memusingkan yang berjalan terburu-buru dan membawa anak kecil yang suka menghentak-hentakkan kaki ketika menemuiku di jalan yang mereka susur. Bau wanita itu kombinasi bauku, bau roti, kue, biskuit, dan juga bau keringat. Wanita yang umumnya kubau hanya punya wangi tanpa gurih dan keringat apek. Jika suatu hari kamu bertemu wanita berbau aneh yang kuceritakan, jangan lari. Berusahalah mendekat, mungkin nasibmu akan baik sepertiku. Nah, ini yang kubilang tadi, berusahalah. Baru juga kuawali cerita sudah kunasihati kau berkali-kali tentang kuat semangat dalam berusaha.

Usahaku lainnya setelah mengenal wanita itu adalah dengan giat berlari. Aku sengaja berlari sekencang-kencangnya ketika melihatnya dari jauh, lebih tepatnya aku mengintai dengan teliti sebelum ia datang ke arahku. Jadi aku bisa mempersiapkan pose terbaikku untuk menyambutnya. AKu juga bisa menghitung kecepatan lariku. Harus pas dan tak mengejutkannya.

Aku ketagihan biskuit balur jeli ikan itu, maaf aku harus mengatakan yang sejujurnya. Ketagihan ini berbahaya, aku tahu, tapi apa boleh dikata, naluriku seirama dengan perut keronconganku yang kopong. Aku harus mencari cara untuk memuaskan kebutuhanku akan biskuit jeli ikan itu. Aku memilih malam jumat untuk bergerak,  mengapa saat itu? Karena di malam Jumat hari lebih sepi dan makin sedikit orang berlalu lalang. Tanyakan pada manusia jika kau sempat, mengapa mereka malas keluar di malam Jumat.

Jadi di malam Jumat itu, aku yang sudah mempersiapkan mental dan tekad melahap sedikit saja biskuit pemberian si wanita. Walau aku ingin makan banyak, aku menahannya. Ia selalu meninggalkan hamparan biskuit yang telah diletakkannya di jalan dan menjauh membiarkanku makan. Tapi saat itu, kumakan seidkit saja dan kuikuti ia berjalan. Ia berusaha menyorongkan badanku kembali ke teritoriku, tapi aku tetap mengikutinya. Kubuat suara manja paling manis dari yang pernah diajarkan ibuku, dan aku terus mengekornya.

Selama aku mengikutinya, sesering itu juga ia mengusirku. Aku tahu ia melakukannya tak sungguh-sungguh. Ia takkan tega menyuruhku kembali lebih 1000 langkah ke teritoriku. Kuikuti saja dirinya dan walau sempat diiming-imingi aneka remahan biskuit, aku tetap tegas mengikutinya.

Entah berapa jauh aku sudah dari tempat asalku, tapi akhirnya wanita ini berhenti di depan pagar rendah bersambung pagar kayu dan kawat. Aku melihat ke arahnya, menatap kuat-kuat dan berusaha menarik perhatiannya. Ia tak menggubrisku, buru-buru ditutup saja pagar itu. Aku ada di luar dan mulai kulancarkan usaha untuk mendapatkan perhatian lagi darinya. Aku berjalan mondar-mandir di depan pagar rumahnya dan membuat suara manis lagi. Suara manis yang memilukan. Nanti kuajarkan padamu suatu hari bagaimana melakukannya.

Usaha ini tentu saja berhasil. Tak lama wanita itu membuka pagarnya, memanggilku dan mengelusku lembut. Aku berhasil masuk dalam daerah kekuasaan si wanita. Aneka bau-bauan dari sejenisku dan wangi gurih biskuit ditambah keringat si wanita melenakanku. Aku telah membawa diriku masuk ke gudang makanan. Usahaku tak sia-sia.


#komunitasonedayonepost
#ODOP_6 

Wednesday, October 3, 2018

Chip dan Mangkuk Kuning




Setiap melihat mangkuk kuning itu aku bahagia. Sudah puluhan kali aku terkecoh tapi aku tetap senang. Ya, aku terkecoh ketika mangkuk itu diletakkan dekat wajahku. Kupikir isinya biskuit, seringkali kosong. Entah keisengan macam apa yang dilakukan ratu padaku.

Kadang mangkuk kuning itu kupikir berisi biskuit, ternyata ikan asap. Kadang kupikir kosong, ternyata ada ikan goreng panas mengepul di sana. Pernah juga kupikir isinya pudding ikan, ternyata hanya air sisa minum yang tumpah dan menggumul bersama sisa lemak ikan sebelumnya.

Mangkuk itu berceruk dua. Cukup dalam dan lebar sehingga bisa menampung banyak makanan. Dulu ratu, kusebut ia ratu karena ia tampaknya berkuasa atas segala isi duni tempatku tinggal, hanya menawariku makanan yang diletakkan asal saja di lantai. Pernah juga dialasi kertas atau daun. Lama-lama ia merasa itu kurang sopan dan diberinya aku mangkuk kuning berceruk dua. Entah untuk apa ceruk satunya, tapi aku selalu makan dari kedua ceruk itu dan ratu tak keberatan.

Oh ya, tentang namaku, Chip, ini murni pemberian ratu. Suatu hari ia membaca buku tebal dari pengarang favoritnya. Aku yakin buku itu bukan buku humor, karena ratu terkadang menyeka air mata sambil membaca walaupun lebih banyak ia tertawa terpingkal-pingkal. Mana ada buku humor yang sekaligus membuat pembacanya menangis? Ia melihatku ketika berhenti membaca di halaman 200 sekian dan kemudian menunjukku. Ia berkata,”Chip! Kamu Chip, karena kamu adalah Chip.”
Sungguh aku tak paham apa maksud ratu. Nama itu tampaknya lebih penting baginya dibanding anggapanku atas nama baruku. Setelah Chip kemudian ia menyebut Enong, Sleamot, Jose, Rizal, dan Abu Meong secara berurutan. Semua ditujukan pada kawan-kawanku yang terbengong-bengong sambil menjilati makanan mereka.

Aku berharap nama ini bermakna bagus. Aku tahu ada chocolate chip yang lezat dan tampaknya sesuai dengan diriku yang hitam kecoklatan. Tapi aku tak pongah, siapa tahu Chip sebenarnya nama yang tak berarti. Kosong saja tanpa makna.

Ah, tak usah kurisaukan. Selagi si mangkuk ini ada di sini aku tinggal berharap ratu datang tepat waktu untuk menghidangkan makananku. Nanti setelah makan siang aku akan berdiskusi dengan Enong dan Selamot, apakah kisah penamaan mereka sama denganku? Oh ya, aku juga akan membahas bagaimana jadwal makan dari mangkuk kuning berceruk dua dengan mereka.  

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6 



Si Nomor Enam Belas



Hujan rintik-rintik mengiringi kedatangan si Nomor Enam Belas di rumah padat penghuni, nomor dua dari pojok gang. Taro, salah satu penghuni tertua menunggu dengan masam di sisi pagar. Ia tidak suka penghuni baru, salah, lebih tepatnya ia tidak suka semua penghuni di dalam rumah. Baginya, kekuasaan mutlak ada padanya. Ia yang mengawasi rumah dari tetamu yang dinanti dan yang tak dinanti. Ketika si Enam Belas masuk ke teras rumah, Taro pergi menjauh acuh saja. Ia tak suka si Nomor Enam Belas.

Si Nomor Enam Belas tidak menyukai rumah itu, tempat tinggal barunya. Semua yang asing baginya sangat mengusik kedamaian. Dulu ia tinggal di jalanan, diperlakukan kasar, sering mencuri makanan, dan berlari ketakutan, ada atau tiada orang yang mengejarnya. Hidup di jalanan sangat susah. Air bersih dan tempat tinggal layak sulit didapat. Makanan pun kadang ada dan tak ada. Ketakutan selalu menyergapnya. Bahkan panggilan nona muda yang menyapanya penuh kasih juga sebuah ancaman besar. Kini, ia sudah berada di tempat baru.

Semua terasa begitu cepat tadi sore. Di hari Minggu sore yang masih hangat karena sang surya enggan beranjak berganti posisi dengan rembulan, nona manis yang menyapanya tempo hari datang dengan banyak makanan. Dipanggilnya si Nomor Enam Belas dengan lembut dan dirayu-rayu agar mendekat dan menyantap sardin berlemak dengan kuah yang baunya bisa membangunkan penggeemar ikan dari seluruh penjuru. Si Nomor Enam Belas sudah tahu ada sesuatu yang janggal. Makanan yang ditawarkan nona manis itu terlalu mewah untuk dirinya yang kumal tak terurus. Rasa lapar memang kejam, mengalahkan harga dirinya. Apalah daya, setelah berpikir kurang dari tujuh detik ia mendekati sardine nikmat itu dan melahap sampai habis.

Sardin punya kekuatan magis yang membuat semua yang sedikit memakannya jadi ingin lebih. Ada daya pikat yang menimbulkan ketagihan tak terhingga. Nona manis mengetahui hal ini dan menambahkan lebih banyak sardin di dalam perangkap yang dibawanya. Si Nomor Enam Belas bagai kerbau tercocok hidung segera mengikuti sardin yang memanggil dari dalam perangkap. Tanpa ragu dilahap hampir habis sardine yang tersedia.  Tepat sebelum habis nona manis menutup perangkap dan tersenyum gembira. Si Nomor Enam Belas telat meronta, telat meraung. Sungguh terlambat adalah persamaan kata dari nasib buruk baginya.

Begitulah bagaimana si Nomor Enam Belas sampai di rumah yang ternyata dimiliki nona manis. Ia menghindari tatapan mata penghuni rumah lain. Taro terutama yang paling sinis menyambut.  Ia sudah pasrah akan nasib hidupnya. Jika memang Tuhan berkehendak menutup cerita suka dukanya di dunia, tak mengapa, ia sudah bersiap.

Dalam ketakutan ia diberi makanan lebih banyak lagi. Kali ini aneka biskuit gurih yang dulu pernah dimakannya. Dulu ketika ia belum dibuang di jalanan atas kealahan yang tak pernah diketahui, rahasia sampai sekarang. Rasa lapar ada, tapi rakus telah menjelma jadi kecemasan. Jangan-jangan setelah dikenyangkan ia akan disiksa, begitu pikir si Nomor Enam Belas. Mungkin nona manis hanya pura-pura baik, siapa tahu maksud sebenarnya gadis itu?
Di kamar berdinding hijau kusam dengan kaca lebar berbingkai kayu tua dicat putih, si Nomor Enam Belas meringkuk. Ini kamar terbersih dan terhangat yang pernah dimilikinya. Ada makanan, minuman, dan alas empuk untuk tidur. Tapi semuanya asing. Keterasingan ini ditambah dengan tatapan berpasang-pasang mata yang ingin tahu siapa dirinya dari balik jendela. Ia ingin memejamkan mata tapi sulit. Di dekat mangkuk makanan ia melihat kalung kulit bergasper karet dengan bandul keemasan bertuliskan sebuah nama, Almond.

Malam itu, di sebelah kamar si Nomor Enam Belas, nona manis mengunggah citra si Nomor Enam Belas dalam memori yang sudah penuh oleh aneka perkara hidup. Sambil memeluk Taro yang datang dan berbaring di dekatnya, nona manis berbisik, “Si Nomor Enam Belas itu bernama Almond mulai saat ini, baik-baiklah kau padanya.” kemudian ia mengecup Taro dan pergi tidur.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6 

Monday, October 1, 2018

Si Penghuni dan Keajaibannya

Photo by Terje Sollie from Pexels


Dulu, di rumah lama yang disewa Mako, ia tinggal bersama saudara perempuan dan ayahnya. Sang kakak, empat tahun lebih tua darinya dan ayahnya sekitar 60 tahunan. Sang ayah yang tinggal sakit-sakitan. Sakit menahun yang melumpuhkan sebagian tubuhnya. Rumah selalu sepi jika Mako dan kakak perempuannya tak ada di rumah. Tapi sang ayah tak pernah sendiri, ada tiga belas makhluk yang suka mendengkur dengan mata terbuka yang awas mengintai segala sesutunya.

Pernahkah kau dengar ada yang bisa mendengkur dengan mata terbuka? Makhluk ini bisa melakukannya. Mereka juga sering membuat cakaran di permukaan yang kasar tapi lunak. Aneh kan? Di mana ada permukaan yang kasar tapi lunak? Oh ada banyak, misalnya kotak kayu ringan, kardus tua, dan barang-barang favorit manusia seperti kasur pegas.

Di rumah lama makhluk ini berbagi teritori. Ada yang menguasai kamar belakang, tepat di bagian gulungan kasur tua ia berdamai dengan hidupnya. Ada yang menyukai menyembunyikan diri di antara gundukan baju yang belum diseterika, ada juga yang suka bersembunyi di bawah mesin cuci. Tak peduli betapa berisiknya mesin gendut putih-biru itu, ia akan tetap bersembunyi di sana. Jika pun diintip, tak terlihat apa-apa lagi kecuali dua mata yang kadang berkilat, waspada dengan kehadiran orang lain yang bukan berasal dari kaumnya.

Ketiga belas makhluk ini berjalan santai tapi tak pernah terdengar langkahnya. Tidak, mereka tidak langsing. Hampir semuanya bertubuh sintal sampai bisa dibilang tambun. Perut bergoyang penuh lemak, beberapa terlihat menggelambir. Kebanyakan tak nampak leher karena sudah tertimbun daging tebal dan pasti ada lemaknya. Kakak perempuan Mako menyadari kehadiran makhluk tanpa suara ini bisa membahayakan penghuni rumah, maka ia menghafalkan di mana masing-masing biasa tinggal. Ia juga berusaha memberi lonceng kerincing agar bisa menghindar ketika makhluk itu berjalan santai mengelilingi rumah.

Tak ada yang lolos dari gangguan mereka. Sang ayah yang hanya bisa berbaring adalah mangsa empuk bagi makhluk itu. Hanya sebagian kecil saja yang suka mengganggu, sisanya terlalu malas untuk bergerak. Gangguan yang mereka lakukan sedikit saja misalnya menginjak perut sang ayah dan menggosokkan pantat ke pipi sang ayah. Oh itu benar, tindakan ini tak terpuji, tapi bagi mereka itu bukanlah sebuah cela. Mereka suka mengendus pantat dan saling menggaruk perut. Jilat-menjilat satu sama lain juga tak terhindarkan. Terkadang mereka melakukannya terang-terangan, tampak oleh Mako dan kakaknya. Sering juga mereka sembunyi hanya untuk saling jilat dan garuk.

Ajaibnya mereka membuat suasana rumah selalu hangat. Tak banyak yang mereka lakukan, tapi dengan kehadiran saja rumah itu lebih hidup. Semua yang ada di dalam rumah betah dan malas pergi keluar rumah. Hanya membuka jendela pun rasanya berat. Hal yang paling seru dilakukan adalah mengurung diri seharian dengan para makhluk yang mendengkur, mengganggu, dan  sibuk makan.
Oh ya, mereka suka biskuit, ayam rebus, dan jelly ikan. Jika kau menemukan mereka di rumahmu, coba kau biarkan. Tunggu keajaiban apa yang bisa mereka lakukan untuk menghidupkan rumahmu. Semoga beruntung ya.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6 

Sang Kala

Sumber gambar: https://www.huffingtonpost.com/2013/12/31/time-art_n_4519734.html “Ceritakan padaku apa yang perlu kudengar.” “...