Sunday, November 18, 2018

Lara Brizo

Photo by Emiliano Arano from Pexels


“Kita tidak akan mungkin bisa bersama.” Brizo berkata lembut dengan penuh kesedihan dalam suaranya. Aku menatap matanya yang berlari menghindari tatapanku. Aku tahu hari ini akan tiba. Brizo mengangkat dagunya dan melempar pandang jauh ke horizon. Aku menikmati keindahan paras Brizo dengan rambut jahe menyala hangat yang selalu menyala di batinku.

“Akhirnya hari ini datang juga.” aku berkata pasrah. Kebas rasa tubuhku, inikah perasaan orang yang ditinggalkan seseorang yang dicintai? Karena terlalu menyakitkan sampai tak ada rasa yang tersisa? Apakah besok atau lusa rasa pedih itu menyerang? Datang terlambat?

“Kau sudah menduganya? Atau sudah lama memikirkannya?” Brizo bertanya tanpa menoleh ke arahku. Ia tetap melihat jauh ke lepas pantai.

Aku diam saja tak menggubris pertanyaannya. Aku berusaha menjaga semua akal sehatku setelah berbulan-bulan lamanya rehat untuk mengalah pada keyakinanku. Seberapa kuat aku menjaga kewarasanku toh kisah cinta dua alam ini takkan bisa dipertahankan. Sudah berkali-kali aku menerima, menolak, menimbang, mempertanyakan, dan menjawab, apakah mungkin cintaku pada dewi air ini bisa kekal abadi. Bagaimana nasibnya dan apa yang terjadi padaku jika kami bersatu?

“Aku tak akan melupakan pengorbananmu saat menolongku kala terhunus pedang Aegaeon. Aku takkan lupa amukan badai yang dibuatnya sampai kau dan awak kapalmu hampir meregang nyawa. Dalam keadaan seperti itu Tuhan membuka matamu, melihatku bertarung dengan setan badai dewa Aegaeon, entah kekuatan apa yang kau punya tapi kau selamatkan aku darinya. Siapa yang menyangka baling kapalmu mengenai rantai emas yang terikat di tubuhnya. Jika kau tidak istimewa, kau tidak akan bisa menyelamatkanku. Melihat kami pun kau tak bisa. Maka aku berjanji akan selalu menjagamu.”

“Tapi kemudian kau meninggalkanku.” kujawab dengan pertanyaan paling egois yang kutahu pasti menyakiti Brizo.

“Aku menjaga nelayan dan mereka yang berlayar. Sampai kapanpun tugasku adalah panggilan jiwaku.” jawabannya kurang memuaskanku walaupun apa yang dikatakannya benar.

“Maka kembalilah kau ke alammu. Jaga kapal-kapal yang berlayar di lautmu. Aku tak akan pergi melaut lagi. Aku tak ingin mengingat kisah ini kembali. Melihat lautan seperti menaburi luka dengan garam. Kau takkan pernah tahu betapa besar cintaku padamu. Aku tak bisa memaksamu tapi aku juga tak bisa memaksa diriku untuk berlapang dada menerima pahitnya kisah ini. Kau tahu jalan pulangmu.” aku meninggalkan Brizo, berjalan menjauhi pantai perlahan tanpa melihat lagi ke arahnya. Perpisahan paling kejam yang bisa kulakukan. Tapi ini semua untuk kebaikan kita berdua.
Makin aku menahannya, makin berat kepergiannya. Makin aku menguatkan diri, makin sakit hatiku. Ia tak tahu aku sudah mengumpulkan semua totem, jimat, dan alat untuk mengubahku jadi makhluk laut, walau jadi kasta paling rendah di negerinya. Setelah ada lima puluhan langkah, kubuang semuanya dari tas kulit kayu yang melingkari pinggangku. Aku pergi dengan sedih dan amarah yang entah kutujukan untuk siapa.

***
Brizo, sang dewi penjaga nelayan merasakan kesedihan yang membuncah. Sudut matanya tergenang penuh dan sambil memegang perut, ia berenang ke tengah lautan. Menenggelamkan diri di sana dan memanggil kawanan lumba-lumba yang akan mengawal masuk ke istananya. Dinyanyikan dengan pilu lagu untuk angin dan camar, dibisikkannya pesan untuk selalu menjaga si pelaut, sang terkasih. Dibawanya janin buah kasih sayangnya pada pelaut yang tidur lelap di rahimnya ke rumahnya. Kelak ia akan jadi dewa yang kuat di laut yang mampu mempertahankan laut dari jarahan manusia, dan ia akan melindungi mereka yang diamuk ombak buatan Aegaeon, si dewa badai.


Catatan:

Dalam kepercayaan Yunani Kuno Brizo adalah dewi penjaga pelaut, nelayan, dan orang-orang di laut. Dia dipuja oleh kaum hawa dari daerah Delos yang biasanya melarung makanan di kapal-kapal kecil sebagai persembahan.

Aegaeon atau lebih dikenal sebagai Poseion adalah raja laut yang menguasai sungai, badai, banjir, kekeringan, gempa bumi dan bencana lainnya. Dia mengatur segala aspek kelautan. Ia adalah anak dari Oceanus dan Tethys

Thursday, November 15, 2018

Timor Lorosa'e

Photo by Dio Hasbi Saniskoro from Pexels


“Mengapa kita tinggal di sini Kak?” suara Lerowai membuyarkan lamunanku.

“Karena kita memang ditakdirkan tinggal di sini.” jawabku singkat.

“Takdir itu apa?” tanyanya lagi.

“Nanti kau tau. Sana bantu ibu, cepat.” usirku yang tak mau lagi diusik dengan rentetan pertanyaan Lerowai, adik bungsuku.

Lerowai menurut saja meninggalkanku di beranda rumah. Ia menaiki lantai papan reot rumah kami yang bunyinya seperti meringkik tak kuat menahan beban kami bersembilan yang tinggal di atasnya. Aku melihat jauh mencoba mencari cakrawala tapi yang nampak hanya semburat mega mendung menyeruak di langit sisi barat yang seharusnya cerah.

Aku mengumpulkan semua harapanku untuk melihat jauh ke depan tapi yang kupunya hanya kesedihan dan amarah yang membuncah. Kedua rasa bengis itu seperti ingin meluap keluar dari ragaku tapi tercekat sampai di pangkal leherku. Tak bisa aku murka padanya yang telah memberikanku banyak kenikmatan. Tak bisa aku berpaling dari rasa cinta yang bukan dari hatikusaja, tapi menguar dari seluruh pori-poriku juga.

Baru tahun lalu aku pergi diundang bertemu dengan orang terhormat yang menyematkan bintang jasa di dadaku. Dijabatnya tanganku, digoncangkan dan dengan mata berkaca-kaca diucapkan banyak terima kasih darinya atas usahaku memajukan tanah kelahiranku, menghapus buta aksara, mendorong anak dan orang tua hidup jorok seperti babi peliharaan kami yang berkeliaran dekil dan berkubang kotor, tak terhitung banyaknya hal yang diselamati oleh orang itu atas jasaku. Aku ingat ia bilang, “Kau anak muda harapan bangsa. Kami berhutang banyak padamu. Tanah kelahiranmu butuh 100 orang sepertimu. Kamu kebanggaan Indonesia.” indah bukan?

Teringat olehku syair syahdu lagu Indonesia Raya stanza ketiga yang menggetarkan kalbu itu. Janji dan baktiku pada negeri bernama Indonesia tak akan hilang, walau kini aku terusir jauh, terlempar, terserak bersama ratusan orang dari kampungku melewati batas buatan manusia yang bernama Pos Lintas Batas Negara. Tanda jasaku tak mampu menyelamatkanku dari perpecahan yang terlalu keji ini. Hanya dengan adik dan ibuku aku hidup di tanah asing ini.

Ayahku mati ditembak milisi anti-kemerdekaan Timor-Leste yang dibantu tentara Indonesia. Hanya karena saat itu ayah lupa mengelap keringatnya dengan kaus FRETILIN. Diteriakkannya cinta Indonesia tapi tak digubris. Ayahku, panutan hidupku, terkapar oleh mereka yang negaranya kucintai. Sanggupkah aku bertahan melawan murka nestapaku?

Indonesia, tanah yang suci,
Tanah kita yang sakti,
Di sanalah aku berdiri, 
N'jaga ibu sejati.
Indoneisa, tanah berseri,
Tanah yang aku sayangi,
Marilah kita berjanji,
Indonesia Abadi.
S'lamatlah rakyatnya,
S'lamatlah putranya,
Pulaunya, lautnya, semuanya,
Majulah Neg'rinya,
Majulah pandunya, 
Untuk Indonesia Raya.


Tuesday, November 13, 2018

Mandul

https://www.pexels.com/photo/relationship-failure-problem-sad-39483/



Awan mendung terlihat di sisi langit sebelah barat. Gumpalannya tebal, hitam pekat dengan sedikit serabut awan keputihan mengelilingi. Di sisi langit timur,  cahaya terang nampak menerobos langit, jatuh ke sisi kota yang lain. Kelabunya langit tak berbeda dengan  Mirna. Ada mendung di hatinya dan sekarang ia mengumpulkan semua kekuatannya untuk mendapat jatuhnya cahaya Ilahi di batinnya. Pandangannya kabur, tertutup genangan air dari pangkal sampai sudut kelopak mata. Sesak dadanya tapi ia menekan semua rasa agar tidak tumpah tetesan air kesedihannya.

“Sabar nduk, semua sudah ada yang mengatur. Ikhlaskan ya nduk?” suara ibunda Mirna memecah kesunyian.

“Iya bu.” Jawab Mirna singkat.

“Ayo kita pulang nduk. Ke rumah ibu saja hari ini. Ndak usah pulang ke rumahmu, nanti ibu yang bicara sama si mbah, nduk.” Kata-kata wanita yang menginjak usia tujuh puluhan itu meluncur dengan suara paling bijak yang dimilikinya.

Mirna mengiyakan . Mereka berdua meninggalkan ruangan tunggu di pengadilan agama setelah mengikuti putusan sidang talak hari itu. Selesai sudah perjuangannya mempertahankan status sebagai istri  dari suami yang sangat dikasihi. Ia mengalah pada nasib.

“Makanya nduk nanti kalau kamu sudah kenal suami baru biar ibu bawa dulu ke Mbok Minah. Dia bisa tahu laki-laki yang sehat dan yang mandul, jadi ndak kebablas1 begini lo nduk. Anak itu perlu untuk keutuhan rumah tangga. Wis to2 nduk cari laki-laki yang mau sama kamu itu gampang.” Ibunda Mirna menarik lengan Mirna dan menghentikan mobil penumpang umum yang lewat. Mirna hanya diam seperti biasa,  ia menuruti perintah wanita yang melahirkannya itu.

1 Ndak kebablas: bahasa Jawa, tidak terlanjur, tidak terjadi.
2 Wis to : bahasa Jawa, sudahlah.



#tugasdomestikdrama



Thursday, November 8, 2018

Manifes 70

https://bit.ly/2RHOKaG



“Edi, sudah cek manifest 70?” suara berat lelaki tambun pertengahan lima puluh tahunan memecah lamunan Edi yang duduk di dekat pintu Logana Ekspres, ekspedisi tempatnya bekerja.

“E…sudah Pak. Sudah saya cek dua kali.” jawabnya tergagap antara kaget dan takut.

“Oke. Dua puluh menit lagi ya jadwalnya.” Hindun lelaki yang jadi pengawas kerja Logana Ekspres mengingatkan Edi dan dirinya sendiri tentang jadwal kereta yang akan masuk stasiun.

“Siap Pak.” Edi menjawab singkat dan bangkit meninggalkan tempat duduk. Ia melangkah menuju pintu belakang ruangan ekspedisi Logana Ekspres. Sambil berjalan ia perhatikan cat oranye kekuningan kusam di dinding tua yang mulai melembung terkena lembab udara. Papan pengumuman putih di dinding kanannya sudah menguning mengikuti waktu yang tak bisa ditipu. Tiang penyangga tua abu-abu dicat kasar, khas warna bangunan tempo dulu, gagah berdiri walau ditemani karat yanglebih tua dari umur cat.

Di depan matanya terhampar jajaran rel berbatu rapi tertumpuk di tengahnya. Dari kejauhan nampak bangku dekat peron sudah penuh oleh penumpang. Ia menengadah dan nampak langit sedikit mendung. Angin enggan datang tapi suhu dingin mulai menerpa kulit. Seketika ia merinding. Tak ada sebab, datang saja serbuan rasa aneh yang membuat bintik kecil di tangannya muncul dan membangkitkan rambut di bawah siku sampai pangkal lengannya. Edi kalut dalam perasaan yang serba aneh.

Selang kurang dari dua menit nampak kereta penumpang dari Malang masuk ke jalur dua, berjarak satu jalur rel saja dari tempatnya berdiri di pinggir peron. Edi menatap nanar gerbong yang melintas dengan penumpang yang sudah berdiri meninggalkan kursi menuju pintu gerbong masing-masing. Degup jantungnya berkejaran mengikuti kereta yang lambat bergerak memastikan lokomotif berhenti tepat beberapa meter sebelum ujung stasiun. Keringat dingin mulai membanjiri kemeja oranye pudar dengan krah baju yang apek. Edi perlahan memaksakan diri melihat sampai ekor kereta berhenti tepat di hadapannya. Nyaris tanpa suara lokomotif pembawa enam gerbong penumpang itu tak bergeming,  lalu sigap berdiri, berhenti total di depannya.

Berduyun-duyun penumpang turun melewati tangga besi sorong yang diletakkan tepat di depan pintu gerbong. Kebanyakan berwajah kuyu, perjalanan panjang melelahkan mereka. Ada juga satu dua yang nampak tegang, berjalan tergesa dengan kopor jinjing hampir menyaruk segala yang ada di dekatnya. Mungkin mereka orang-orang yang terlambat dari janji yang disepakati. Stasiun ramai sejenak, kuli angkut sibuk sejenak, pengeras suara berkoar mengabarkan informasi ini itu, dan langit masih tetap mendung.

Edi memukul pahanya yang mulai kebas. Ia mengajak semua anggota tubuhnya bangun lagi dan bersiap menghadapi tugas selanjutnya. Tak ada yang boleh lemah, semua harus kuat dan saling bekerja. Tangan, kaki, lengan, pergelangan kaki pun harus siap menopang berat tubuh dan berlari menuju gerbong barang tempat aneka rupa barang yang dicatat sesuai manifes 70 berdiam. Edi meyakinkan dirinya lagi, ia siap menyambut kereta selanjutnya tiba. Ia akan segera berlari ke arah gerbong barang, memanggul isi barang, membantu teman mendorong barang yang berat, memastikan semua barang sesuai manifes, minta tanda tangan persetujuan petugas gerbong barang, memeriksa kembali pemindahan barang, dan segera makan di warung Bu Dar. Ya, makan goreng pisang dan minum seteguk teh manis hangat di warung Bu Dar akan mengakhiri rentetan misinya pagi itu. Semua tergambar jelas, semua terencana dengan baik baginya.

Edi sedikit semringah memikirkan warung Bu Dar. Ia sudah mempersiapkan izin untuk menyelinap sejenak ke warung pojok stasiun dekat tempat langsir kereta. Dirabanya kantong celana kanan depan, terasa lipatan dua lembar kertas. Ia perkirakan ada sepuluh ribu rupiah jumlahnya. Besok hari gajian, jadi boleh ia memanjakan diri sejenak di warung Bu Dar untuk hadiah bagi tugas pertamanya pagi ini nanti.

Beberapa petugas dari ekspedisi yang sama , tiga orang kawan, datang dan ikut berdiri di sebelahnya. Dua di antaranya hanya mengangguk dan tersenyum ke Edi, Edi membalas dengan tubuh sedikit dibungkukkan dan senyum yang dibuat setulus mungkin. Sekarang Edi berdiri kikuk. Dia bukan anak kemarin sore, tapi ia selalu merasa seperti pegawai yang masuk kerja pertama kali. Ia sadar dirinya sudah sering berulah, ia pun tak ingin melakukannya, mungkin karena itu semua segan padanya. Tidak, bukan segan, tapi enggan berteman dengannya, tak ada yang mau kena masalah karena berdekatan dengan Edi.

Degup jantung yang sudah setenang riak sungai kecil kembali bergemuruh. Perasaan tak disukai membuatnya kembali tak nyaman dan tak yakin akan rencana eksekusi misi pagi ini, termasuk rencana kunjungan ke warung Bu Dar. Edi menengok ke belakang dan melihat jarum jam besar di kantornya. Kereta akan tiba.

Dentang merdu lonceng buatan diteriakkan dari ruang siaran stasiun. Suara merdu petugas informasi wanita mengisi keheningan antara Edi dan kawan-kawannya. Kereta tujuan Merak dari Madiun masuk di jalur satu dan suara wanita ini seperti kaset yang diputar berulang-ulang, hampir sama setiap saat. Edi pun menghafal pasti kata per kata yang disiarkan ke penjuru stasiun.

“Mohon perhatian, sesaat lagi kereta api Krakatau akan tiba di stasiun Cirebon. Bagi anda yang akan mengakhiri perjalanan di stasiun Cirebon kami persilahkan untuk mempersiapkan diri. Periksa dan teliti kembali barang bawaan anda jangan sampai ada yang tertinggal. Untuk keselamatan anda tetaplah berada di tempat duduk sampai kereta berhenti dengan sempurna. Terimakasih atas kepercayaan anda menggunakan jasa layanan kereta api Indonesia, sampai jumpa pada perjalanan berikutnya.” suara penyiar wanita itu serasa menusuk jantung Edi. Jantungnya berdebar tak karuan. Ia terus menerus merapal doa menguatkan badan dan nyalinya.

Gerbong barang berhenti sebelum peron, letaknya di ekor kereta membuat Edi dan kawannya bergegas menggeser tanjakan kayu bertiang besi untuk menyorong barang ke atas peron. Edi bersiap melompat naik ke gerbong dan seketika ia melihat wajah tua ayahnya. Ia heran mengapa ayahnya ada di stasiun pagi ini. Seharusnya sang ayah berjualan rokok di depan Toko Tjian di dekat Pasar Kanoman. Ia ingin menyapa ayahnya tapi lidahnya kelu.

Edi heran melihat ayahnya bercucuran keringat dengan wajah pucat dan bibir bergetar berdiri hanya sedepa darinya. Mayat bergelimpangan dengan ceceran potongan tubuh tak berbentuk mengitari ayahnya. Edi ingin menggapai tangan sang ayah, tapi ayahnya bergeming. Menatapnya dengan mata kosong. Gerbong penuh dengan lolongan kesakitan dan minta tolong. Belum genap Edi memahami apa yang terjadi, ia melihat gerbong itu tiba-tiba remuk ditabrak lokomotif dari sisi kanan. Ayahnya lenyap dan ia meraung memanggil ayahnya keluar dari himpitan gerbong yang runtuh. Tak ada sahutan.

Suara laki-laki, anak-anak, wanita dan orang tua berteriak minta tolong dengan tangisan pilu. Tak ada yang datang membantu. Gerbong-gerbong kereta saling himpit, saling tumpuk, saling terkam, lemas sudah tubuh Edi melihat bencana di depan matanya. Nafasnya tersengal-sengal dan ia merasakan bau tajam menusuk hidungnya. Bau yang sangat dikenalnya, balsam! Bau ini membuyarkan adegan gerbong celaka dengan penumpang sekarat dan ayahnya di dalam. Ia bisa melihat cahaya menjadi lebih terang.

Dengan bau balsam yang lebih kuat daripada nyalinya Edi siuman. Seorang kawan menatapnya sinis dan pergi meninggalkan kerumunan yang berdiri mengelilingi tubuhnya. Ia bisa melihat dengan jelas Karsiman, polisi khusus kereta api dua puluh lima tahunan membantunya duduk dan memberinya teh manis hangat. Anggota kerumunan bubar cepat meninggalkan Edi setelah ia duduk sempurna bersandar dinding peron, tiga meter dari pintu belakang kantor ekspedisinya.

Karsiman memijit pundak Edi. Hanya mereka berdua sekarang di lantai peron. Kuli barang dan pegawai ekspedisi sibuk memindahkan barang. Kereta terakhir bagi Edi.

Edi menahan genangan air mata yang hampir turun jatuh. Serangan panik bukan hanya terjadi kali ini saja, sudah berkali-kali mendatanginya. Kali ini, pingsan ketiganya, tak ada lagi kerja di ekspedisi. Kata-kata Pak Hindun, si pengawas, minggu lalu masih jelas di ingatan, “Kamu pingsan lagi tak ada pekerjaan di sini. Ngerti kamu? Kita orang cari pegawai yang sehat, bukan orang sakit yang lihat kereta langsung semaput.” Itu katanya.



Edi berterima kasih pada Karsiman, satu-satunya teman yang mau membantunya siuman. Kawannya seekspedisi sudah hafal dengan pingsannya Edi. Tak ada lagi yang simpati. Mereka malah kewalahan, sibuk mengeluarkan barang kiriman mandat dari pelanggan, keluar dari gerbong barang. Edi yang pingsan menjadi penghambat tim kerja cepat. Andai mereka tahu, tiga puluh dua tahun yang lalu Edi kecil mendapati ayahnya dipenjara sebagai masinis yang dituduh lalai menghilangkan nyawa dua ratus penumpang kereta, menabrakkan rangkaian keretanya dengan kereta lain yang sedang melaju dari arah berlawanan. Andai bisa Edi mengatakan yang sejujurnya, ia anak masinis terkutuk yang lelah menghadapai hukuman hakim, cela masyarakat, dan jadi kambing hitam kecelakaan kereta di hari nahas itu.  Bagi ayahnya hukuman tak adil harus ditanggung, keberangkatan dan laju kokomotifnya semua karena restu kepala stasiun yang sampai sekarang tetap melenggang hidup makmur tanpa nista.

Ayah Edi dipenjara, miskin tanpa tunjangan pensiun. Edi kecil terlalu rapuh untuk menerima kejamnya dunia. Semua jadi hakim dan ia tumbuh jadi orang yang selalu dibayangi kecelakaan yang tak pernah dialaminya. Cukup cerita ayahandanya saja sudah membuat Edi ikut bersalah menghilangkan nyawa ratusan orang yang sedang dijemput ajal suatu pagi di Oktober berdekade yang lalu.

Jika Edi berkata yang sejujurnya, Logana Ekspres tak akan mempekerjakannya. Ayah pemilik ekspedisi dulu tewas di kecelakaan kereta yang dilajukan ayah Edi, kemarahan mereka pada si masinis apes masih membara sampai sekarang.



 #Tantanganfiksi1
#ODOPBatch6







Wednesday, November 7, 2018

Susu di Pagi Hari

Photo by rawpixel.com from Pexels



Tiga hari dalam seminggu aku gembira menanti Jim. Tukang susu yang mengantarkan susu segarku dalam dua botol kaca ukuran 500ml. Terkadang aku memesan ukuran dua liter jika orang tuaku datang berkunjung. Mereka bilang susu di rumahku lebih enak dari susu di rumah mereka di timur London. Terkadang aku juga memesan yogurt, kentang, roti sourdough dan crumpets untuk sarapanku yang harus rendah gula. Kudengar crumpets sangat bagus untuk penderita diabetes.

Pertemuanku dengan Jim sendiri adalah bagian yang tidak ingin kuhilangkan dalam bagian hidupku. Dulu ketika aku masih bekerja di Shoreditch, kawasan bisnis bekas kawasan miskin di London, aku hanya mendapati botol susu yang berbaris rapi di dalam lemari pendingin. Inez, pembantuku sudah menatanya agar siap kuminum ketika pulang kerja. Setelah aku berhenti bekerja aku mulai mengambil sendiri botol susu dari depan pintu rumah, dan kemudian tak sengaja bertemu dengan Jim.

Jim seusiaku, tinggi tubuhnya hampir enam kaki. Dahinya sedikit lebar tertutup sedikit saja oleh ikal rambut kecoklatannya. Pipinya bersemu kemerahan karena lembab udara London di pagi hari. Sedikit cambang tersisa entah disengaja atau tidak ada di kedua sisi pipi dan menjalar ke dagunya. Wajahnya nampak sedikit kasar tapi guratan di sudut bibirnya menunjukkan dia orang yang ramah. Bau tubuhnya bercampur antara eau de toilette, pewangi mobil pengantar susu dan gurih lemak susu. Tapi itu bau tubuh yang kusuka. Jantan, sederhana, dan wangi.

Awalnya kutawarkan teh hangat padanya dan kuberikan beberapa pai labu yang kumasak malam sebelumnya. Hanya sebagai ucapan terima kasihku atas jasanya mengantarkan susu tepat waktu. Lama kelamaan kami banyak bicara dan aku undang dia mampir ke rumahku setelah ia selesai mengantar susu. Tidak lama karena ia harus segera kembali ke majikannya. Beberapa kali kuundang dia datang makan malam tetapi sering ditolaknya karena ia tinggal di dekat Peter Dairy, perusahaan susu dan aneka olahan turunannya milik si majikan. Ya, 75 mil bukan jarak yang dekat.

Hatiku terpaut pada Jim. Aku ingin mengenalnya lebih jauh. Mungkin bukan cinta juga bukan sayang, tetapi aku merasa membutuhkannya. Bertemu dengannya membuat hari-hariku menyenangkan. Entah mnegapa itu terjadi. Kehadiran Jim memberi efek yang menenangkan sekaligus menegangkan. Aku menikmatinya.

Semalam ia berjanji akan mengunjungiku sore hari untuk makan malam yang lebih awal. Ia tetap mengantarkan susu di pagi hari dan segera kembali ke Southampton agar bisa mengunjungiku sore harinya. Karenanya, seperti hari Senin dan Jumat, aku menunggunya di depan pintu rumahku. Sudah kubuatkan seporsi chip butty, sandwich berisi kentang goreng dengan saus tomat, mayonais, dan saus coklat dalam  tangkupan roti bermentega asin. Kumasukkan dalam kotak makan yang sudah kukeringkan dari mesin pencuci piring tadi pagi.

Aku tersenyum melihat van berlogo Peter Dairy berhenti di depan jalan rumahku. Aku berdiri siap menyambut Jim. Seorang pria tua turun membuka kap belakang van dan menurunkan 3 botol susu pesananku sambil melihat catatan pengiriman.

“Pagi ma’am.”sapanya ramah.

“Di mana Jim.”tanyaku heran mengabaikan salamnya.

“Oh, I’m so sorry ma’am mulai sekarang aku yang menggantikan Jim. Anak muda itu semalam tewas di dekat Salisbury dalam kecelakaan setelah selesai mengantar susu. Semoga Anda tidak kecewa aku menggantikan Jim. Semoga ia tenang di sana.” Ucapnya lirih dan kemudian menyodorkan tangan untuk kujabat, “Aku pamannya.”  



Monday, November 5, 2018

Halloween 101: Oh Ini Ternyata Jack O’ Lantern Itu

Photo by rawpixel.com from Pexels



Sahabat pasti tahu kan apa yang khas saat Halloween? Ya, yang khas di Halloween adalah buah labu yang diukir dengan dua mata dan mulut bergerigi yang bersinar. Labu ini disebut Jack O’Lantern. Apa hubungan Jack dengan lentera atau penerangan (lantern).

Cerita tentang Jack O’Lantern bermula di Irlandia berabad-abad yang lalu. Adalah tokoh mitologi yang bernama Stingy Jack . Stingy dalam bahasa Indonesia artinya pelit. Suatu hari Jack bertemu dengan setan dan mengundangnya untuk minum bersama. Karena Jack pelit maka ia kemudian mengakali agar ia tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli minuman. Jack akhirnya memperdayai setan, ia minta setan berubah menjadi koin agar ia bisa membeli minuman. Setan berhasil ditipu dan kemudian ketika sudah menjadi koin, Jack meletakkan koinnya di dekat salib perak sehingga setan tidak bisa berubah kembali ke wujud aslinya.

Jack kemudian membuat perjanjian dengan setan. Ia akan membebaskan setan dengan syarat setan tidak akan mengganggunya selama setahun dan jika Jack mati jiwanya tidak akan bisa dimiliki setan. Setan setuju dan kemudian Jack terbebas dari gangguannya. Perjanjian ini berulang lagi di tahun berikutnya.

Jack kembali mengundang setan dan kali ini menggunakan tipuan yang berbeda. Jack meminta setan untuk naik ke atas pohon dan mengambilkan buah untuknya. Setan menyetujui. Dari bawah pohon Jack mengukir lambang salib di batang pohon dan setan pun tidak bisa turun ke bawah karena ia takut salib. Jack membuat perjanjian lagi untuk membebaskan setan dengan syarat ia tidak akan diganggu selama 10 tahun.

Jack kemudian mati. Arwahnya tidak bisa dimiliki setan, walaupun setan sangat ingin untuk memiliki jiwa Jack dan membalas kekesalannya. Tuhan tak berkehendak untuk mengantar Jack ke surge karena ia sudah berbuat hal yang tidak menyenangkan dan bermain-main dengan setan. Setan pun tak kehabisan akal, ia menghalangi Jack untuk pergi ke neraka. Jack hanya bisa berada di alam kegelapan dan hanya bisa berjalan diterangi dengan pijar batu bara Jack pun mengumpulkan batu bara dan memasukkannya dalam lobak kecil untuk menerangi jalannya dan berkelana ke dunia kegelapan dan dunia manusia.

Berdasar mitos ini maka masyarakat Irlandia kemudian menggantung kentang dan lobak kecil yang sudah diberi lubang mata dan hidung untuk menakut-nakuti Jack dan arwah lain yang hendak masuk ke rumah. Orang-orang di Inggris menggunakan buah beet yang kebih besar. Para imigran Inggris yang pindah ke Amerika kemudian menemukan bahwa labu lebih mudah diukir dan ukurannya juga lebih besar, lebih menakutkan. Maka jadilah labu dipakai dan jadi pengganti Jack O’Lantern yang sangat pas.



Referensi:
www.history.com

Saturday, November 3, 2018

Halloween 101, Sebaiknya Perlu Tahu

Photo by Aleksandar  Cvetanović from Pexels



Jika Sahabat aktif di media sosial mungkin Sahabat menemukan cuitan lucumulai akhir bulan kemarin  yang memplesetkan Halloween dengan kebiasaan buruk orang Indonesia. Cuitan seprti, “Halloween bukan budaya Indonesia. Budaya Indonesia itu ditinggal pas lagi sayang-sayangnya atau budaya Indonesia itu janjian jam 10 datengnya jam 12.”  dan lain sebagainya meramaikan berbagai lini masa. Halloween memang bukan budaya Indonesia bahkan tidak selalu dirayakan di luar negeri.

Apa yang Sahabat tahu tentang Halloween? Hantu? Pakaian seram? Nah jika Sahabat mengenal Halloween dengan harinya orang-orang berpakaian seram, sudahkah Sahabat mengetahui sebenarnya Halloween itu?

Halloween dirayakan di beberapa negara barat pada tanggal 31 Oktober. Halloween sebenarnya singkatan dari kata All Hallow's Evening, yang sama artinya dengan All Saints' Eve alias malam orang-orang suci dalam perayaan orang-orang Kristen di barat. Asal muasal perayaan Halloween sebenarnya masih diperdebatkan. Festival yang ramai dirayakan di Amerika Serikat ini diyakini berasal dari kaum Celtic dari Inggris yang diadaptasi selama berabad-abad oleh tradisi Kristen bercampur dengan kebiasaan para imigran.

Ada yang menyebut bahwa Halloween tak ada kaitannya dengan ajaran Kristen. ini murni budaya kaum pagan. Orang pagan adalah mereka yang jadi pengikut sempalan Kristen, yang kemudian dianggap sebagai bukan murni ajaran Kristen yang umum terjadi di abad kuno akhir. Merka juga melakukan aneka penyembahan dan ritual-ritual ghaib sehingga dianggap bukan ajaran murni Kristen.  Ada juga yang menyebut bahwa Halloween merupakan festival untuk merayakan akhir dari musim panen oleh orang-orang pagan Celtic.

Sebagian orang meyakini bahwa ini Halloween adalah waktu ketika dinding yang memisahkan dunia manusia dan dunia lain menjadi tipis dan kemudian bisa dimasuki oleh makhluk-makhluk jahat yang akan merusak hasil panen. Karenanya ada persembahan makanan yang disediakan para petani dan penduduk Gael saat itu, ditambah dengan api unggun besar untuk mengusir arwah.

Di masa modern seperti sekarang kebiasaan paling umum yang dilakukan orang-orang saat Halloween adalah mengenakan kostum seram dan kemudian datang ke rumah-rumah untuk melakukan trick or treating. Di abad ke 16 orang-orang berpakaian seram , umumnya berpakaian seperti hantu untuk menipu arwah atau hantu yang dipercaya keluar saat itu. Orang-orang Kristen kemudian mengadaptasi dengan melakukan kegiatan soulling, yaitu mendoakan arwah teman atau kerabat. Mereka yang mendatangi rumah-rumah dan kemudian berdoa kemudian diberi makanan. Jadi kebiasaan datang ke rumah-rumah dan kemudian mendapatkan makanan, yang sekarang didapat adalah gula-gula atau permen adalah dari kegiatan mendoakan arwah.

Istilah trick or treating dibawa ke Amerika tahun 1927 oleh para imigran. Di Amerika sendiri trick or treating.  berkembang menjadi hadiah untuk mereka yang sudah melakukan prank alias mengerjai orang dengan cara menakut-nakuti. Kostum pun berkembang dari yang hanya menggunakan baju menyerupai hantu menjadi aneka macam karakter mulai dari firaun, mumi, tokoh horror dari film-film terkini dan kemudian menjadi aneka bentuk kreatif.

Nah sekarang Sahabat sudah tahu bukan apa itu Halloween? Kira-kira banyakkah orang-orang atau teman-teman Sahabat yang merayakan Halloween? Apa saja yang dilakukan oleh mereka yang ber-Halloween ria? Share di kolom komentar ya J


Referensi:
https://www.telegraph.co.uk/news/2018/10/31/halloween-2018-trick-or-treating-really-celtic-tradition/

Sang Kala

Sumber gambar: https://www.huffingtonpost.com/2013/12/31/time-art_n_4519734.html “Ceritakan padaku apa yang perlu kudengar.” “...