Thursday, November 29, 2018

Warung Ilham, Soto Nikmat Asli Nagih




Soto (kiri) dan Rawon (kanan)
Sumber: sumber: https://bit.ly/2BFmQqW


Saya baru pindah ke kota kecamatan bernama Lawang di Kabupaten Malang. Dari Surabaya sekitar 1,5 jam saja dengan bus atau pribadi. Setiap berkunjung ke Malang, Batu dan sekitarnya pasti pengunjung melewati Lawang jika datang dari arah Surabaya, Pasuruan, Mojokerto dan sekitarnya. Karena saya masih baru di tempat ini jadi saya belum banyak mengeksplorasi tempat makan. Beberapa yang saya coba tak terlalu meninggalkan kesan. Satu warung yang melegenda yang membuat saya terkesan dengan cita rasanya yang luar biasa.

Adalah Warung Ilham yang berada di Pasar Lawang. Untuk mencapai warung ini jika Sahabat berkendara dengan mobil maka parkir saja di halaman deretan ruko dekat Pasar Lawang. Kemudian berjalanlah menuju jalan tepat di sebelah pos polisi Lawang. Jalan masuk ke arah pasar dan cari pertigaan alias jalan kecil di sebelah kanan Sahabat. Masuk ke jalan kecil yang penuh pedagang ini dan kemudian lihat saja di sisi kanan. Ada warung kecil mungkin hanya 30 meter dari ujung jalan masuk.

Jika Sahabat bermotor, maka parkir saja di parkiran motor bekas bioskop lama. Keluar dari parkiran belok kiri menuju jalan besar dan cari jalan kecil di sisi kiri. Jika bingung pastikan Sahabat masuk jalan pasar yang dilewati angkot warna hijau muda terang atau minibus. Jika sudah bertemu dengan angkot yang mencari penumpang dari pasar maka Sahabat sudah di jalan yang benar. Tinggal cari jalan kecil sebelah kiri dan kemudian jalan lurus. Warung Ilham ada di kanan jalan.

Warung ini kabarnya sudah buka lama sekali entah dari tahun berapa. Penjualnya sekarang yang usianya sudah 60an adalah generasi kedua. Dulu warung ini letaknya bukan di lokasi sekarang. Kebakaran pasar membuat warung pindah tempat. Ukuran warung sangat kecil dibanding dengan kemasyurannya. Minuman the hangat dalam gelas kecil sudah tersedia di meja tinggal diangkut, lazimnya warung zaman baheula.

Menu yang dijual adalah nasi rawon, nasi soto, nasi lodeh, dan nasi kare ayam. Favorit saya adalah nasi soto.  Saya sebut nasi soto karena jika di Surabaya umum orang bisa membawa pulang kuah soto tanpa nasi, maka di sini tidak diperkenankan. Harus sebungkus nasi dan seplastik kecil kuah soto yang dijual “paketan”. Nah sotonya ada dua jenis dnegan kuah yang sama. Soto ayam atau soto empal, bukan soto daging ya.

Favorit saya adalah soto empal. Empalnya empuk dan gurih, cukuplah ukurannya untuk disantap bersama semangkuk nasi diguyur kuah soto dengan koya kelapa sangrai. Ini juga salah satu perbedaan antara soto di Surabaya yang mayoritas soto Lamongan. Soto Lamongan koyanya dari kerupuk yang diremukkan, sementara soto Ilham dan soto di Lawang pada umumnya menggunakan koya dari parutan lembut kelapa yang disangrai.

Kuah soto tidak sebening dan sekuning soto Lamongan tetapi cenderung ke kuning keruh kecoklatan. Rasa kemiri cukup menonjol dibanding dengan rasa kunir. Sotonya tidak sesegar soto Lamongan, tapi tidak juga membuat enek. Cita rasanya gurih dan pas nikmatnya.

Lebih enak lagi jika dilengkapi dengan kerupuk udang yang diletakkan dalam stoples kaca jadul. Warung ini memang sangat sempit, mayoritas pembelinya adalah usia lima puluh tahunan ke atas. Bagi saya suasana warung seperti ini membuat saya berada kembali ke dunia anak-anak ketika saya dan Eyang pergi makan di warung bersama. Suasanan yang hangat dan nyaman walau hampir kursi tak bisa diatur berjarak lebar dengan pelanggan warung yang lain.

Seporsi nasi soto dihargai Rp 14.000,- Harga yang jauh di atas warung soto di pasar-pasar di Surabaya. Tetapi cita rasa yang dimiliki sungguh membuat lidah bergoyang dan bagi penikmatnya harga ini masih sangat amat wajar.  Yuk mampir ke Warung Ilham jika berkunjung ke Lawang.Oh ya, warung buka mulai dari sekitar jam enam pagi sampai sekitar jam sembilan.


#BloggerPerempuan
#BPN30DaysChallenge2018

Wednesday, November 28, 2018

5 Fakta Unikku

https://www.apa.org/topics/personality/



Aih, dari semua topik ini yang paling tricky. Saya rasa ini perlu karena postingan yang listicle dan yang seru tentang penulis bisa jadi hal menarik yang tak membosankan. Saya juga ingin tahu fakta tentang Sahabat, maka beri saya link di kolom komentar dan saya akan segera berkunjung ke blog Sahabat. Untuk kali ini kepo adalah hal yang perlu hehehe. Maukah Sahabat mengenal saya lebih lanjut? Silakan baca fun facts berikut ini ya:

INFP (Introvert (I), Intuitive (N), Feeling (F), Perceiving(P).
Dikutip dari www.16personalities.com deskripsi tipe krpribadian ini adalah Kepribadian Mediator adalah idealis sejati, selalu mencari celah kebaikan bahkan pada orang atau kejadian terburuk sekalipun, mencari cara untuk membuatnya menjadi lebih baik. Walaupun mereka mungkin dirasa pendiam, tidak ramah, bahkan pemalu, Mediator memiliki api dan semangat di dalam dada yang benar-benar dapat bersinar.

Tidak seperti tipe kepribadian yang lebih sosial, Mediator akan memfokuskan perhatian mereka hanya kepada beberapa orang, satu aksi bermanfaat – diketahui hanya sedikit orang. Jika mereka tidak berhati-hati, Mediator dapat kehilangan diri dalam petualangan mereka selamanya dan mengabaikan pemeliharan kehidupan sehari-hari. Mediator seringkali terhanyut dalam pikiran yang dalam, menikmati kontemplasi hipotetis dan filosofis lebih dari tipe kepribadian apa pun
Jadi ya, memang betul, saya tidak bersahabat dengan banyak orang, bahkan mungkin tak punya sahabat. Menjaga persahabatan yang sangat amat kuat pun biasa saja. Hanya memang saya merasa saya punya banyak teman yang siap membalas chat saya hehehe.
Saya tidak suka pekerjaan rumah 
Saya orang yang paling tidak rapid an malas mengurus pekerjaan rumah tangga. Alhamdulillah, Allah memberikan saya suami yang serba kebalikan dari saya termasuk urusan rumah. Ia orang yang rapi dan pandai menata rumah. Jadilah menuci baju, ngepel dan menyapu menjadi pekerjaannya. Tetapi saya tetap mengambil alih urusan dapur. Untuk yang satu ini saya tetap berkuasa dan tidak ada keinginan untuk meminta bantuannya.

Anti Horor
Saya paling tidak suka segala sesuatu yang berbau mistis dan horor. Saya tidak pernah nonton film horor di bioskop dan saya menjauhi aneka percakapan yang seram-seram. Oke, kadar keimanan saya memang masih kurang, jadinya saya masih saja takut terhadap hantu, dedemit, dan sebagainya walaupun sudha tahu bahwa derajat saya sebagai manusia jauh lebih tinggi daripada mereka.

Aneka Ide Nol Eksekusi
Saya orang yang punya banyak sekali ide di kepala tapi eksekusinya jauh panggang dari api. Pikiran saya selalu membayangkan akan hal-hal kreatif ini dan itu yang kemudian terkalahkan oleh kemalasan yang luar biasa. Ketidakmampuan untuk mengatur waktu adalah hal yang membuat saya banyak mengabaikan ide yang sudah dipikirkan dengan baik.

Pekerja Sosial
Saya selalu berkeinginan untuk jadi pekerja sosial dan melakukan aneka kegiatan sosial. Lingkungan, kesejahteraan hewan, pendidikan, kesehatan, apa pun saja jika saja saya punya kesempatan maka saya akan dengan senang hati melakukannya. Menurut saya menjadi pekerja sosial walau tak digaji asal ada makanan dan kesehatan yang sudha tertanggung bukanlah suatu masalah. Saya meyakini kekayaan yang sejati itu dari seberapa banyak saya mampu menolong orang, berkontribusi pada masyarakat, dan dari kesenangan hati.
Nah, ii lima fakta tentang saya, maka apa fakta menarik Sahabat? Tulis di blog sahabat dan share link nya ya di kolom komentar di bawah ini. Saya akan dnegan senang hati membacanya.

Satu Bikin Seru, Media Sosial di Sudut Pandangku



https://bit.ly/2Lo9dyV


Sahabat, berapa akun media sosial yang Sahabat punya? Saya punya Instagram saja di gawai saya. Facebook sudah uninstall. Oh satu lagi, saya punya Twitter yang saya pakai untuk mendaftar link atau  ikut serta dalam beberapa kompetisi menulis. Tapi selebihnya hanya punya Instagram menurut saya sudah cukup.

Ah berbicara tentang media sosial itu tak ada habisnya. Banyak episode, banyak drama, banyak problematika, dan banyak manfaat dan juga keburukannya. Episode yang saya maksud adalah seperti halnya telenovela yang trendi di akhir tahun 90-an dan digantikan oleh drama India, kemudian sinetron Indonesia, diputar bertahun-tahun, dan itulah media sosial buat saya. Ada masa ketika Friendster merajalela. Bahasan kuliah tentang akun si ini dan si itu. Tak punya akun ini berarti out of date, kuno, katrok. Maka akun pun saya buat dengan pemanis ini dan itu, tujuannya mendapat banyak teman tapi juga akhirnya banyak hal-hal palsu yang saya buat agar jati diri tak nampak jelas.

Dari Friendster perlahan netter pindah Facebook. Boyongan ini juga jadi episode baru karena kemudian banyak sekali perkembangan Facebook sampai akhirnya saya tinggalkan karena menurut saya tidak lagi asyik, tidak lagi informatif, dan terkesan tua. Sekarang, saya setia pada Instagram. Mungkin karena saya orangnya visual dan malas membaca cerita dengan ribuan kata, maka cukup dibatasi sedikit saja di captionnya, tapi gambar menceritakan seribu makna di dalamnya.

Drama dan problematika yang saya maksud dari media sosial adalah tentang riuhnya pemberitaan tentang politik, selebritis, makan banyak, makanan enak, sampai obrolan dan guyonan seru ojek online. Caci maki, hujat, dan saling tuduh mewarnai drama postingan media sosial. Problem baru, hal yang harusnya informative malah jadi bahan celaan, bahan gunjingan, bahan saling menjatuhkan. Oh kekuatan jari ini sungguh luar biasa.

Inilah keburukan media sosial yang dikontrol oleh mereka yang tidak melek literasi digital. Saya pun jengah dengan hal ini. Karenanya blogging sebagai salah satu media untuk menyuarakan pikiran saya akan saya isi dengan hal-hal yang, semoga, bermanfaat. Lelah kan diri ini ketika jari mulai menggulir di gawai dan yang muncul di linimasa adalah tentang cercaan si A dan si B. Atau pendapat akun tertentu yang dikomentari amat sangat kasar oleh pengikut akun tersebut atau yang sekedar mampir. Betapa memang dosa ini mudah didapat, tanpa perlu bertemu muka tinggal hujat saja. Ih ngeri.
Yuk bermedia sosial yang sehat Sahabat.

#BloggerPerempuan
#BPN30DaysChallenge



Sunday, November 25, 2018

Senggugut

Photo by rawpixel.com from Pexels



Tari meremas sprei kasur yang menghangat karena ditimpa tubuhnya semalam. Keriput sprei mengikuti gerak tubuhnya yang beringsut, mengejang, menggelinjang, diikuti peluh dan kernyitan kedua alis mata dari tengah malam. Matanya terpejam rapat selaras dengan bibirnya yang terkatup. Terkadang bibir jadi korban digigit gigi yang menikuti riuhnya situasi perut.

Di rahim otot-otot saling serang, menegang, mengencang, menjadi-jadi ketika dindingnya meluruh. Pembuluh darah menyerah pada tekanan otot dan memutus suplai darah dan oksigen. Keluar bahan kimia alami bernama prostaglandin yang melahirkan jutaan rasa nyeri. Senggugut.

Tari tetap berada di kasurnya yang tidak lagi nyaman. Semua terasa berat dan menyakitkan. Ia tidak akan masuk kerja hari itu. Tak berdaya ia menunggu sesorang datang dan menerobos masuk kamarnya, mungkin ada yang iba membuatkannya teh panas atau membantunya menegakkan punggung.


#ODOPBatch6
#OneDayOnePost

Macet

sumber: https://cookpad.com/id/resep/4653108-lontong-kikil



Hari ini Dewi tersenyum lebih lebar dari biasanya ketika menyapa Bu Parman tetangganya sebelum berjalan keluar gang menunggu datangnya angkot. Sesekali ia tersenyum kecil, tersipu-sipu dengan masih berdiri bersama calon penumpang lain. Bibirnya dikulum beberapa kali, kebiasaannya sejak kecil jika semua berjalan manis.

30 menit kemudian Dewi sampai di depan SMA nya dulu. Setelah membayar ongkos ia merapikan bajunya dan membetulkan letak tali tas di bahunya. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya, jri tangannya seketika sedingin es, dan tak disadarinya senyum di bibir tetap mengembang.
“Dewi, sorry lama ya tunggu aku?”suara merdu dan sekelebat wangi tubuh membuatnya menoleh. Indra, teman SMA nya datang menghampirinya. Wajahnya tetap sama, air mukanya juga sama, hanya bidang dadanya yang melebar, tegap tubuhnya juga berbeda dari dulu.

“Oh Indra, apa kabar?” Dewi menutupi gejolak hatinya dengan basa-basi bertanya kabar.

“Baik. Ayo Wi langsung aja yuk?” Indra tanpa basa-basi mengajak Dewi menuju ke sisi samping sekolah, jalan kecil dengan jajaran rumah dinas kosong tak berpenghuni dan beberapa waruung kecil di kedua sisi jalan. Pandangan Dewi langsung menuju ke salah satu warung tenda besar yang mungkin bisa menampung lebih dari 50 pembeli. Ia mengikuti Indra dan segera mengambil tempat di salah satu kursi kosong depan laki-laki tua sekitar 75 tahunan yang asyik menyeruput kuah dari mangkuknya sampai berbunyi ramai.

“Pesen seperti biasanya kan WI?”Tanya Indra memastikan.

“Iya.” Dewi menjawab singkat dan kemudian larut dalam obrolan panjang bersama laki-laki yang selalu dikaguminya itu.

Hampir tujuh menit berlalu dan seorang pelayan membawa nampan berisi dua piring lontong dan dua mangkuk sup kikil sapi. Ia dan Indra terdiam dan kemudian kompak mengambil sendok dan garpu di wadah di atas meja. Dewi melihat mangkuknya dengan takjub. Irisan daging berlemak dari bagian kaki sapi berpadu dengan kuah kuning kunyit dan aneka rempah lain. Wangi gurih semerbak menggelontorkan liur dari pangkal leher memenuhi mulutnya.  Bawang goreng yang berenang bebas di atas permukaan sup membuatnya kalap untuk memasukkan tiga sendok penuh sambal dan mengaduk perlahan campuran daging kaki sapi, otot, dan lemak.

Dewi ingat betul dokter memintanya untuk berhenti makan lemak hewani yang gurih tiada tara dari masakan apapun. Kolesterolnya jahat membuat sendi-sendi kehilangan kelicinan ketika saling berpadu. Tapi ini hari khusus. Ada Indra yang mengajaknya bertemu membicarakan desain interior karyanya yang dipesan kantornya minggu lalu, ada juga ajakan menikmati semangkup sup kikil sapi dari Inda pujaannya dulu dan sekarang.

Dewi menyorongkan sendok melewati tumpukan dadu lontong dan sepotong lontong berhasil menempel di sendoknya. Ditanamkan sendok itu pada limpahan daging kaki sapi yang berlemak. Diambilnya potongan yang paling besar ditelannya dengan penuh keyakinan.

Mendadak nafasnya tersengal. Dewi berusaha menelan potogan daging dan mengambil nafas di saat yang bersamaan. Tenggorokannya tercekat. Makin ditelan makin tersiksa. Tangannya dikepal-kepalkan seakan kekuatan menelan terkumpul di situ. Ia menepuk bahu Indra, sambil membuka rahang selebar-lebarnya. Daging kaki sapi macet mandeg di kerongkongannya. Keras menutup rongga kerongkongan.  Hanya di tangan Indra ia berharap ada bantuan.



#ODOPBatch6
#Fiksibebas

Review Cerpen Ketika Kucingmu Pergi Sebentar


Ketika Kucingmu Pergi Sebentar ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia 

Dari sekian banyak cerpen yang ada di lakonhidup, ada satu yang langsung menarik hati saya. Cerpen ini berjudul Ketika Kucingmu Pergi Sebentar. Saya pilih karena saya adalah penyuka kucing, jadi saya berharap akan membaca cerita yang menarik.

Buat saya cerpen ini indah dari susunan kata dan kalimatnya. Penulis yang sudah banyak menerbitkan karyanya tentu punya jam terbang tinggi tetapi isi dan alur certanya biasa saja. Konflik kurang greget. Walaupun sejalan dengan ide awal yang dibangun, tentang apa yang terjadi ketika si kucing pergi, tetapi cerita ini terkesan biasa saja. Untuk cerpen yang diterbitkan di harian besar saya punya ekspektasi lebih.

Cerpen menggambarkan tentang dua orang pedagang pasar yang kenal baik, bahkan sudah seperti saudara yang kemudian saling hajar dan mengakibatkan pasar terbakar karena si kucig menghilang. Salah satu pedagang, Rusli dituduh sengaja menghilangkan kucing liar yang disayang Matondang. Nah, di cerpen ini tidak dijelaskan bagaimana Matondang menyayangi kucingnya. Kucing liar yang tak sengaja tidur di depan lapak milik Rusli diusir, kemudian diterima oleh Matondang. Penulis tidak jelas menggambarkan bagaimana kuatnya ikatan hati antara Matondang dan si kucing yang diberi nama Roro Kendul.

Roro Kendul digambarkan membawa rezeki. Ini pun tak jelas seperti apa kedahsyatan Roro Kendul sehingga kepergiannya layak dibayar dengan adu jotos yang berujung terbakarnya pasar. Bagi saya yang suka kucing, walaupun hanya menawarkan tempat tidur dan makan, saya bisa menggambarkan kesedihan hati saya ketika, misalnya si kucing hilang. Saya juga bisa menceritakan mengapa kucing sangat berharga buat saya. Tapi di cerpen ini tak dijelaskan sedramatis itu.

Rusli juga diceritakan mengusir Roro Kendul ketika pertama kali ditemukan di toko. Tidak diceritakan jika misalnya Rusli punya perangai buruk, suka menyiksa kucing dan lain sebagainya. Jadi saya menyimpulkan Matondang berperangai sangat buruk sehingga mudah emosi ketika tak bisa menemukan Roro Kendul. Tak ada hal istimewa di diri Roro Kendul tapi hanya Matondang yang beringas. Maka kemudian saya jadi bertanya-tanya, lalu apa spesialnya si Roro Kendul ini. Benarkah ia pembawa rezeki dan keberuntungan?

Terbakarnya pasar karena kedua toko milik Rusli dan Matondang yang tetap menyala sampai pagi menjadi penutup cerita yang dramatis. Tapi penambahan drama kebakaran ini buat saya jadi kurang natural. Alur dan jalan ceritanya bagus tapi isi ceritanya kurang menggigit.

Bagaimana pendapat Sahabat, tertarik membaca cerpen ini? Silakan baca dengan klik link disini.



#ReviewCerpenLakonHidup
#ODOPBatch6
#TantanganReviewCerpen


Friday, November 23, 2018

Ayo Bergabung di Blogger Perempuan

sumber: khttps://www.pexels.com/photo/beach-woman-sunrise-silhouette-40192/

Mengapa memilih bergabung di Blogger Perempuan? Mengapa tidak? Sahabat, saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk bergabung di jaringan blogger perempuan yang sudah mampu mendekatkan lebih dari 4000 blogger di seluruh nusantara. Karena itu saya pilih untuk bergabung di sini.

Dunia blog dan IT sebagian besar dikuasai oleh laki-laki. Saya berusaha belajar dan dengan menemukan komunitas ini maka segalanya jadi lebih menyenangkan. Beberapa alasan spesifiknya sih seperti yang berikut ini:
  1. Saya perempuan, dan karena itu saya ingin bergabung dengan komunitas yang berisi perempuan-perempuan yang inspiratif bagi saya. Untuk saya, semua perempuan yang memulai suatu hal sebelum saya adalah inspirator.
  2. Platform Blogger Perempuan mewadahi parablogger untuk saling berbagi pengalaman lewat niche spesifik yang “perempuan banget”.
  3. Saya bisa berkumpul, bertemu, dan belajar dari para blogger perempuan (untuk saat ini saya sudah bersua dengan beberapa lewat medsos, semoga segera terwujud lewat acara kopi darat).
  4. Blogger Perempuan menyediakan pelatihan blogging dan aktivitas yang mendukung blogging baik melalui kegiatan offline dan online.
  5. Blogger Perempuan juga mengajak para anggota untuk bisa berdaya lewat karya-karyanya yang bisa menghasilkan uang.

Beberapa alasan ini membuat saya makin jatuh cinta dengan jaringan blog wanita ini. Semangat membangun antarperempuan adalah suatu hal yang patut dirayakan dan didukung oleh semua perempuan Indonesia.
Terlepas dari alasan di atas, saya ingin membiasakan diri untuk terus menulis dan menulis. Mengikuti tantangan adalah sebuah hal yang hampir menjadi kewajiban bagi saya. Sekali saya berhenti aktif menulis maka sulit untuk memulainya kembali. Karenanya begitu tuntas menyelesaikan satu program tantangan menulis maka saya mencari tantangan berikutnya.
Thanks God I’ve found Blogger Perempuan. Tantangannya keren, komunitasnya kece, dan banyak kejutan lain yang saya temukan setelah mempelajari tentang komunitas top markotop ini.
Jadi, saya mengajak sahabat-sahabat sekalian untuk ikut mendukung tantangan 30 Hari Menulis di Blog oleh Blogger Perempuan. Buktikan jika perempuan bisa jadi blogger keren, setidaknya itu cita-cita saya. Semoga terwujud.  

#BPN30DayChallenge
#BloggerPerempuan

Sang Kala

Sumber gambar: https://www.huffingtonpost.com/2013/12/31/time-art_n_4519734.html “Ceritakan padaku apa yang perlu kudengar.” “...