Sunday, March 10, 2019

Sang Kala

Sumber gambar: https://www.huffingtonpost.com/2013/12/31/time-art_n_4519734.html




“Ceritakan padaku apa yang perlu kudengar.”

“Aku tak yakin perlu atau tidak aku bertukar cerita padamu. Aku terlalu sibuk memikirkan tentang masa depan. Tidakkah kau punya hal lain untuk dikerjakan?” kuusir sosok pengganggu yang duduk tenang di sampingku.

“Ah, kau hanya memikirkan tentang hal yang sudah tidak bisa berganti. Sudah mutlak. Percuma kau pikirkan itu. Lagipula siapa yang bisa memperkirakan masa depan? Manusia tak punya kekuatan untuk mengubah apa yang sudah digariskan, sudah tertulis di buku kehidupan. Diberitahu pun manusia terlalu bodoh untuk membuat persiapannya. Manusia terlatih untuk menyesali masa lalu. Itu  sudah paten, manusia memang pandai membuat hatinya gundah karena masa lalu. Ayolah, kau ceritakan saja apa yang menarik dari masa lalumu. Aku siap mendengarkan.” katanya.

Aku hampir tak bisa mendengar ceramah panjang pengganggu itu sampai selesai. Apa yang dikatakannya memang benar semuanya. Aku terlalu khawatir tentang hal yang berada jauh dari kuasaku, masa depan. Bagaimanapun aku tak biasa bercerita pada orang asing. Apalagi ia datang tiba-tiba ketika aku benar-benar ketakutan dan sedang tidak ingin berbicara apapun karena aku sibuk memikirkan apa yang akan terjadi pada nasibku.

Setelah keheningan yang melintas di antara kami berdua, tepatnya setelah ia selesai membetulkan jubah hitam yang mengganggu posisi duduknya, akhirnya aku menyerah. Lebih baik bercedrita untuk mengusir rasa cemas dan sepiku di sini. Senyampang ada yang menemaniku, tak mengapalah kuceritakan tentang masa laluku.

“Baik, kurasa aku punya sesuatu yang ingin kau dengar.” ujarku.

“Akhirnya! Aku siap mendengarkanmu.” Kulihat sudut mulutnya sedikit terangkat, ia puas aku menyerah pada tawarannya.

“Jadi, dulu aku orang yang merugi.”

“Tahu darimana kau merugi? Pernah kau hitung untung rugimu? Sudah kau timbang dengan baik?” baru satu pernyataan dariku dan ia mematahkannya.

 “Aku rugi karena telah terbuang waktuku yang ternyata amat sangat sedikit ketika akhirnya ibu meninggal. Kupikir saat itu ia hanya sakit biasa, kambuh dan keadaan baik-baik saja di rumah. Tapi ketika ayah memintaku pulang dan aku masih pulang dengan enggan. AKu ingin menghabiskan wkatu lebih banyak di kota S dengan kekasihku. Tapi ternyata ketika aku pulang, keadaan ibu sangat parah. Belum dua jam aku di rumah, ibu sudah dibawa ke kota S untuk dirawat lagi. Aku kembali ke kota S dan sedikit menggerutu, mengapa aku harus pulang jika ternyata ibu dibawa ke kota S, aku tidak perlu bolak-balik kan. Hanya lima hari kemudian ibuku meninggal. Aku menyiak-nyiakan waktu yang bisa kuhabiskan bersamanya, aku merugi.”

“Kau yakin ini cerita yang perlu kudengar? Memang terdengar menyedihkan tapi kurasa kau masih punya hal yang lebih buruk dari ini.” jawabnya enteng.

“Aku pergi pulang dari rumah sakit ke rumah tempatku tinggal di kota S, menjalankan kewajibanku sebagai pekerja seakan semuanya biasa saja seperti hari-hari sebelum ibuku tidur lemah di rumah sakit. Jika aku tahu ibu meninggal setelah lewat hari kelimanya di kota S, aku tak akan meninggalkannya hanya untuk pekerjaanku yang upahnya tak seberapa itu. Aku ingin punya lebih banyak waktu dengannya. Aku merugi.”

“Lalu? Apalagi?” si pengganggu masih ingin tahu.

“Ibu ingin minum sari buah jeruk saat sakit di malam pertamanya di kota S. Tepat ketika aku menghabiskan sari buah di dekat kasurnya dan aku tak bisa membelikannya segelas saja. Sampai sekarang aku masih mengingatny. Hanya karena aku malas mencari penjual sari buah untuk menghilangkan rasa pahit di mulutnya. Aku menyesal dan aku merugi.”

“Hm…menarik. Tapi masih ada yang jauh lebih menarik dari ceritamu itu.” tanggapannya atas ceritaku.

Dan mendengarnya mengatakan hal itu makin membuatku merasakan sesak di dada, seakan banyak beban berusaha menyeruak keluar dan sebaliknya rasa bersalah masuk merayap ke dalam tubuhku. Penyesalanku yang sudah kukubur dengan baik sekarang menjadi dan perlahan berkuasa atas diriku. Semuanya terasa pedih dan menyakitkan.  

“Ibu meninggal dalam usapanku, hanya bersamaku. Di saat ia mengembuskan nafas terakhirnya aku sedang menyeka wajahnya dan aku tak tahu jika tarikan nafas terakhirnya pagi itu adalah penanda jiwanya sudah pergi, hanya raganya yang masih bersamaku. Aku merugi, harusnya aku bangun lebih pagi dan menatap wajahnya lebih lama. Harusnya malam sebelum ia meninggal aku tidak tidur, memijit kaki atau sekedar mengajaknya bicara, aku yakin ibu bisa mendengarku walau ia sudah tak lagi sadar. Aku merugi.”

“Oh ya, aku banyak mendengar cerita penyesalan seperti ini.” Sekali lagi tanggapan dingin meluncur begitu saja dari ucapnya.

Aku makin tertantang untuk menceritakan hal-hal dramatis dari masa laluku padanya, untuk membuatnya lebih iba padaku. Maka kulanjutkan lagi, “Aku dulu tak pernah dekat dengan ayahku. Jarang berbicara dengannya dan tahu-tahu ia lumpuh akibat darah tinggi yang kemudian membuatnya makin sulit bicara. Harusnya aku lebih banyak mengajaknya bererita tentang apapun. Aku adalah darah dagingnya dan tanpanya aku tak ada di dunia. Aku merugi.”

Si pengganggu hanya diam. Maka kupikir aku sudah sedikit mendapat simpatinya. Kuingat lagi hal buruk yang kusesali di masa laluku dan kuceritakan lagi padanya.

“Aku membuang masa mudaku untuk memadu kasih dengan banyak laki-laki. Tak ada yang memberiku cinta sejati, sampai saat ini. Semuanya busuk. Aku membuang waktu untuk hal yang tidak berguna.” Sambil mengatakan empat kalimat ini semakin sedih aku dibuatnya, jauh lebih sedih daripada ketika kuceritakan bagian orang tuaku padanya. Aku merasa sudah menyia-nyiakan waktu hidupku benar-benar untuk hal yang tak berguna. Melakukan hal yang tak disukai kedua orang tuaku, bahkan sejujurnya aku sendiri juga benci mengakui bahwa aku tidak pernah menginginkan seorang pun dari mereka menjadi suamiku.

Si pengganggu sedikit memalingkan sisi wajah sebelah kirinya, ke arahku. Aku tahu aku mulai mengatakan hal yang menarik buatnya, dan kemudian tanpa kusadari kalimat berikutnya meluncur dari bibirku.

“Aku sangat merugi. Kuhabiskan waktuku untuk memuja lelaki, mengejar kehidupan duniawi, menghadiri aneka acara pelesiran yang menguras kantongku tanpa hasil yang berarti, kubuang waktuku untuk bersenang-senang karena aku ingin bahagia di dunia. Aku merugi karena tidak kupakai sedikit waktuku untuk beribadah pada-Nya, memuji nama-Nya, berjalan ke rumah-Nya dan memohon ampunan-Nya. Aku sangat merugi tak bisa menjaga tubuh yang sudah diberikan-Nya padaku, tak bisa menggunakan akal sehatku untuk hal yang baik, dan tak menjaga ucapanku dari hal yang sangat dibenci-Nya. Aku manusia yang merugi!” pekikku tak terkontrol dengan air mata mengucur deras membasahi pipiku.

“Itu yang ingin kudengar. Baguslah jika kau mampu mengingatnya. Semua kini sudah terlambat, jangan sibuk memikirkan apa yang akan terjadi dan tak perlu lagi kau ingat apa yang sudah kau lalui. Semuanya sudah tercatat rapi dan pasti terjadi. Jadi sekarang nikmati saja penyesalanmu dan aku pamit.” Si pengganggu meninggalkanku.

Cepat sekali ia pergi seperti sekelebat bayangan. Aku sendiri lagi di tanah lembab ini. Ragaku kaku terbujur dalam balutan kain mori menunggu siapa lagi yang akan datang dan membuatku nyeri mengingat hidupku di dunia kala itu.  
  


Sunday, February 17, 2019

Perdebatan Sudah Dimulai

https://bit.ly/2Gv3okk



Hari yang kutunggu dan tak kuharapkan sudah terjadi
Tak lama lagi kedua kutub berseberangan itu akan saling adu misi dan visi
Aku berusaha mengencangkan volume lagu pengiring hari
Tapi adzan berkumandang jadi terpaksa volume harus mati
Nanti setelah ini kupilih lagi lagu-lagu pengacak konsentrasi
Agar aku tak terpaku mendengarkan televisi tua yang diisi siaran TVRI
Aku ingat betapa diriku berusaha menghindari peduli pada perdebatan atau dialog tentang dua kubu itu
Tapi tak bisa kubohongi diriku yang selalu membaca linimasa Instagram tentang mereka yang berseteru
Tidak, Instagram tak bohong, apa yang sering kulihat akan sering dimunculkannya tak malu-malu
Dan aku tak henti-hentinya berusaha abai tapi juga ingin tahu
Aku sudha menetapkan pilihanku untuk sibuk dengan urusan persalinanku
Paling tidak aku bisa santai tak merasa bersalah pada nuraniku atau orang-orang di sekitarku
Karena aku, dengan izin-Nya akan melahirkan generasi penerus bangsaku
Biarkan nanti aku sibuk menepuk dan menyusui jabang bayiku
Kuserahkan urusan pemenang jadi pemimpin negara padamu
Nanti tunggu saja apa komentarku
Semoga aku tak seculas itu mengulas pedas mengomentari dengan tak bermutu
Jika yang menang bukan yang kudukung diam-dam dalam hatiku



Rezekiku Tak Semata Pundi Uangku


sumber gambar: https://bit.ly/2IwP6S7


Semua pasti sudah tahu apa itu rezeki, atau ada yang belum tahu? Saya pernah nonton video singkat motivator kondang Merry Riana yang menegaskan bahwa rezeki tidak sama dengan gaji atau uang yang kita dapatkan. Rezeki bukan semata materi tapi rezeki adalah segala kenikmatan yang kita dapatkan yang bisa berwujud macam-macam.

Kesehatan misalnya, itu rezeki. Bayangkan jika Sahabat sakit, maka Sahabat terpaksa mengeluarkan uang bukan? Berkurang uang dan berkurang kenikmatan hidup. Maka kesehatan adalah sebuah rezeki. Begitu juga dengan anak, pasti semua pernah mendengar ungkapan anak adalah rezeki, tapi toh sesering apapun kalimatg itu digaungkan banyak pula jumlah mereka yang menyia-nyiakan anak dan menganggapnya sebagai beban. Kekerasan pada anak apalagi dilakukan oleh orang tua sendiri, bukankah berarti sudah mengabaikan rezeki?

Kali ini saya tak membahas panjang lebar tentang seluk beluk rezeki, cara mendapatkan rezeki dan lain sebagainya tentang menambah rezeki. Saya hanya ingin bercerita tentang rezeki dalam kaca mata saya. Sebagai orang dengan kepribadian INFP yang salah satu cirinya adalah idealis, maka saya pun berpedoman pada idealisme saya sendiri. Saya percaya bahwa berpikir positif akan menghasilkan hal yang positif dan banyak bersyukur akan mendatangkan rezeki. Sebaliknya, membayangkan hal buruk akan menghasilkan hal buruk dan menggerutu tak akan membawa kebahagiaan. Saya tak butuh penjelasan logis untuk hal ini, saya percaya dan itu memang terjadi. Maaf ya, ini memang ciri INFP J

Kembali ke masalah rezeki, bagi saya apapun itu jika membuat hidup saya lebih mudah dan senang ya itu rezeki. Baru saja tetangga mengetuk pintu dan sekotak nasi kuning saya dapatkan, rezeki buat saya. Mandi dengan air mengalir kencang, ah ini juga rezeki karena di rumah kontrakan terdahulu air mengalir tak sekencang sekarang dan kualitas airnya pun buruk. Seminggu ditinggal suami yang sakit tentu bukan hal yang mengenakkan, tapi Alhamdulillah ada rezeki untuk tetap belanja apa yang saya inginkan walaupun suami tak sempat meninggalkan uang belanja dan saya maklum karena keadaannya yang sakit. Dalam kesunyian rumah yang diisi saya dan bapak saya yang stroke pun masih ada rezeki dapat hiburan tendangan dari janin yang saya kandung. Si jabang bayi adalah rezeki yang luar biasa, saya dapatkan cepat tanpa menunggu lama. Nah jika mengingat hal-hal seperti ini apa masih boleh saya mengeluh tentang ini dan itu? Jumlah rezeki yang saya dapatkan jauh lebih besar daripada kesulitan hidup saya.

Adabanyak hal yang bisa saya tuliskan dan mungkin tak cukup waktu sehari untuk menuliskannya tetapi saya ingin menyampaikan bahwa bisa menuliskan postingan ini pun sebuah rezeki. Tanpa kemampuan menulis, tanpa punya laptop, tanpa punya ponsel, tanpa ada listrik, tanpa ada indera penglihatan, tanpa ada akal, tanpa ada nyawa mana mungkin saya bisa menuliskannya? Maka saya sangat bersyukur pada Allah yang sudah memberikan limpahan rezekinya. Sekali lagi, rezeki bukan melulu uang, sering kali ia tak bisa dinominalkan. Tak ternilai.

Monday, December 3, 2018

Merah Darah

https://bit.ly/2AI3wHK




“Gimana tadi Dik sekolahnya?”tanyaku pada Siti putriku.

“Tadi ada orang dari puskesmas Ma. Cerita-cerita gitu di depan kelas. Kasih tau kalo ga boleh jajan smebarangan.”celotehnya.

“Oh ya? Berapa orang yang datang Dik? Ada dokternya?”tanyaku lagi.

“Tadi itu…2 orang Ma. Yang satu pakai baju coklat yang satu lagi pakai baju batik Ma.”jawab Siti.

“Kenapa ga boleh jajan sembarangan Dik?”aku mencoba menguji putriku apakah ia mendengarkan penjelasan petugas penyuluhan puskesmas di sekolahnya atau tidak.

“Ya itu Ma, pakai pewarna Ma. Kan warnanya merah, ijo, kuning menyala gitu ma. Kata pak dokter tadi itu pewarna berbahaya. Terus banyak jajan yang digoreng pakai minyak hitam. Tadi dikasih liat gambarnya Ma, hitam banget. Itu katanya pak dokter sudah dipakai goreng lebih sepuluh kali tapi nggak diganti.”Siti bersemangat menjelaskan. Senang putriku bisa mengingat pesan [enyuluh kesehatan dengan baik.

“Trus apalagi?”aku terus bertanya.

“Ya itu Ma, jajan depan sekolah sering ga dibungkus. Tar dihinggapi lalat. Terus bawa penyakit. Bisa mencret Ma.”

“Gitu ya Dik? Ya sudah makan dulu.”Aku menghentikan penjelasannya sambil menyodorkan mangkuk bakso berkuah bening dengan butiran bola daging besar menggugah selera. Kami mampir makan bakso di warung bakso Pak Di langganan kami.

“Adik pakai kecap saja ya?”ulasku sambil menuang beberapa tetes kecap manis ke mangkuk baksonya

“Iya Ma. Loh mama pakai saus?”Kan tadi kata pak dokter ga boleh ma pakai saus merah. Katanya itu pewarnanya ngga bagus ma”Siti berargumen ketika melihatku menuangkan saus tomat berwarna merah darah pekat ke dalam mangkukku.

“Ngga apa-apa. Mama udah besar. Siti masih kecil jadi ga boleh pakai saus merah.”jawabku singkat sambil terus menuang saus merah darah  dari botol kaca ke dalam mangkuk sampai kuahnya mengental merah darah. Kutambah 3 sendok sambal dan kusantap.

Siti melongo melihatku.



#ODOPBatch6

Sunday, December 2, 2018

Penantian


https://bit.ly/2zBn40M


Perlahan jariku menggerakkan kelambu tebal berwarna hijau muda yang membatasi tempatku berbaring dengan pasien lain. Kupegang lengan kananku dan kupencet perlahan bagian bawah lipatan dalam tanganku, tegang dan keras. Jarum infus masih menempel di dekatnya. Aku menengadah ke atas dan silau lampu ruangan membuatku mengerjap, kuingat-ingat berapa lama aku sudah ada di sini. Kuhitung sudah lima hari sudah lamanya.

Aku gerakkan perlahan lengan kananku yang berinfus, kugeser bantal yang menopangnya agar lenganku bisa jatuh ke kasur, sejajar dengan lengan kiriku. Sedikit pegal rasanya. Kugerakkan ujung jari tangan kananku dan kuraba selimut lembut yang wangi cairan desinfektan. Cukup lembut selimut ini untuk ukuran rumah sakit umum daerah pinggiran.

Kurasakan sakit yang aneh di bagian perut bawahku. Aku penasaran apa sayatan itu berbekas. Bagaimana para dokter itu mencabikku di meja operasi, apa mereka sudah memperlakukanku sebaik-baiknya dengan membuat guratan pasca operasi yang layak. Atau mungkin nanti berbekas lebar? Kubuang pikiran jelek itu dan aku kembali terpekur dalam penantianku.

Ada hal yang lebih penting lagi. Sudah lewat 12 jam, ah salah sudah sehari semalam dan dua jam lagi, tepat dua jam lagi akan masuk hari kedua pasca operasiku dia tak kunjung datang. Aku tidak bisa membuatnya berjanji dan aku tahu dia juga tak bisa menjanjikan apa-apa padaku. Tuhan tolong segera kirim dia, kini aku ketakutan sendiri di ruangan tempat aku berbaring. Dulu aku acuh menganggap kehadirannya. Sering malu aku dibuatnya jika orang lain tahu tentang keberadaannya. Sekarang aku teramat sangat membutuhkannya. Tuhan yang Maha Pengampun, ampunilah dosaku dan tolonglah umatmu ini, aku memejamkan mata sembari berdoa.

“Ma, gimana?” suamiku datang kembali dari kamar obat dan mengambil kursi duduk di sampingku.

“Belum Pa.”jawabku.

“Belum kentut Ma?” suamiku menatap wajahku yang memelas.

“Belum, gimana nih pa?”aku merengek setengah khawatir.

“Coba kutanya perawat jaga ya. Tunggu ya Ma?”suamiku bergegas keluar ruangan.

Duh kentut mengapa kamu belum juga datang? Kamu maha penting melebihi segala urusan duniawiku pasca operasi. Datangnya dirimu pertanda usus dan organ tubuh dalam lainnya di pencernaan sudah bangun dan sudah bisa bekerja mengolah makanan. Kentutku, segeralah datang.


#ODOPBatch6
   

Kawan Lama

https://bit.ly/2lPjAkF


Sore ini seperti biasa selepas Ashar wanita berdaster itu berjalan menyusuri gang. Usianya sekitar 56 tahunan. Kadang ia memakai jilbab, kadang rambutnya dikonde cepol kecil. Ia selalu memakai gaun rumah yang dibuat longgar. Setiap hari selalu salin pakaian, berbedak dan berjalan tergesa langkah teratur.

Hari ini dijinjingnya kursi kecil dari plastik. Tujuannya satu, ke ujung gang, Ia akan menunggu temannya datang. Temannya selalu datang dan mereka akan bercengkerama, bicara ngalor-ngidul tentang topik apa saja yang menarik hati mereka berdua. Mereka selalu bertemu di pos kamling RT lima.  Posnya tepat di sisi jalan raya di sebelah mulut gang. Pos selalu terkunci dengan beberapa kursi plastik tempat orang duduk meronda di malam hari,  jadi wanita tua berdaster membawa kursi kecilnya sendiri.

Ia sampai di pos kamling. Sedikit membungkuk ia mencari tempat yang pas untuk kursinya. Diperiksanya kerikil pinggir jalan, dicungkil satu yang menurutnya tidak pada tempatnya dan diletakkan kursinya. Pas! Giliran pantat diparkir di atas kursi. Nyaman sudah, tinggal temannya yang belum datang.

Tak lama berselang ia mulai tertawa. Bahagia hatinya temannya sudah datang tidak terlambat. Wanita tua berdaster mulai bercerita tentang kegiatan belanjanya kemarin. Ia memasang wajah kesal, harga-harga naik dan ia bertemu musuh masa kecilnya. Bicaranya mulai berapi-api, ia mengingat semua kebencian pada teman masa kecilnya itu. Sedikit sumpah serapah terlontar juga dari mulutnya sambil bercerita. Kesal hati dan dendamnya membuatnya tak henti bercerita tentang belanjaan dan musuhnya.

Ia terus mengajak teman ngobrolnya bicara tentang banyak hal. Kadang ia tertawa karena memang lucu ceritanya, kadang nadanya datar, dan kadang penuh amarh, seperti cerita belanja kemarin hari yang tak sengaja bertemu musuh. Ia tak henti bercerita, sesekali melihat sekilas ke arah segelintir orang yang melewatinya cepat-cepat. Ia tak peduli dan terus bercerita.

Hari makin senja dan menjelang waktu Maghrib ia berpamitan dengan temannya. Sedikit tertawa terkekeh ia berpamitan dan beranjak pergi. Tak lupa ia ambil kursi plasti kecilnya dan berjalan masuk gang kembali ke rumahnya. Esok di jam yang sama ia akan kembali ke pos kamling, temannya pasti menunggu. Ia berjalan melewati ibu-ibu yang baru pulang dari pengajian di masjid kampung di gang itu. Ia tidak menyapa dan terus berjalan ke rumah.  Para ibu tadi melihat wanita tua berdaster dan mulai membahas hal yang sama, mengasihani wanita tua berdaster yang berkawan dengan khayalannya, berbicara dengan angin setiap hari di jam yang sama tanpa terlewat satu hari pun. Kadanga bicara dan kadang memaki tanpa ada teman bicara. Ibu pengomentar mengingatkan kelompoknya agar selalu rileks, tidak stres, agar tidak gila. Ia menutup komentarnya sambil tertawa terkekeh dalam nasihat yang dibungkus dengan nada melucu. 


#ODOPBatch6

Hanya Aku Bukan Kamu

https://bit.ly/2QaSOEj


Dalam bara renjana yang meletup sekuat magma, kuredam kuat semua rasa dalam-dalam. Tidak, kau tidak berkata apa yang harus kulakukan dengan deburan ombak rindu tak tentu arah ini. Dalam sua kita terdahulu sampai esok pun tak pernah kau tunjukkan padaku apa yang harus kubuat.

Apa hanya aku yang merindu sementara kau tak rasa? Apakah kebas hati kekal denganmu? Sedikit kuminta untuk penawar luka, hingga lara tak menganga tapi tak ada rasa itu padaku. Walau berat kutanggung hadirmu kutunggu, biar seperti benalu yang kusut masai mengakar kuat di nuraniku.

Hanya aku yang merindu dan bisu yang kudengar dari ucapmu.


#TantanganProsaLiris
#ODOPBatch6
#OneDayOnePost

Thursday, November 29, 2018

Warung Ilham, Soto Nikmat Asli Nagih




Soto (kiri) dan Rawon (kanan)
Sumber: sumber: https://bit.ly/2BFmQqW


Saya baru pindah ke kota kecamatan bernama Lawang di Kabupaten Malang. Dari Surabaya sekitar 1,5 jam saja dengan bus atau pribadi. Setiap berkunjung ke Malang, Batu dan sekitarnya pasti pengunjung melewati Lawang jika datang dari arah Surabaya, Pasuruan, Mojokerto dan sekitarnya. Karena saya masih baru di tempat ini jadi saya belum banyak mengeksplorasi tempat makan. Beberapa yang saya coba tak terlalu meninggalkan kesan. Satu warung yang melegenda yang membuat saya terkesan dengan cita rasanya yang luar biasa.

Adalah Warung Ilham yang berada di Pasar Lawang. Untuk mencapai warung ini jika Sahabat berkendara dengan mobil maka parkir saja di halaman deretan ruko dekat Pasar Lawang. Kemudian berjalanlah menuju jalan tepat di sebelah pos polisi Lawang. Jalan masuk ke arah pasar dan cari pertigaan alias jalan kecil di sebelah kanan Sahabat. Masuk ke jalan kecil yang penuh pedagang ini dan kemudian lihat saja di sisi kanan. Ada warung kecil mungkin hanya 30 meter dari ujung jalan masuk.

Jika Sahabat bermotor, maka parkir saja di parkiran motor bekas bioskop lama. Keluar dari parkiran belok kiri menuju jalan besar dan cari jalan kecil di sisi kiri. Jika bingung pastikan Sahabat masuk jalan pasar yang dilewati angkot warna hijau muda terang atau minibus. Jika sudah bertemu dengan angkot yang mencari penumpang dari pasar maka Sahabat sudah di jalan yang benar. Tinggal cari jalan kecil sebelah kiri dan kemudian jalan lurus. Warung Ilham ada di kanan jalan.

Warung ini kabarnya sudah buka lama sekali entah dari tahun berapa. Penjualnya sekarang yang usianya sudah 60an adalah generasi kedua. Dulu warung ini letaknya bukan di lokasi sekarang. Kebakaran pasar membuat warung pindah tempat. Ukuran warung sangat kecil dibanding dengan kemasyurannya. Minuman the hangat dalam gelas kecil sudah tersedia di meja tinggal diangkut, lazimnya warung zaman baheula.

Menu yang dijual adalah nasi rawon, nasi soto, nasi lodeh, dan nasi kare ayam. Favorit saya adalah nasi soto.  Saya sebut nasi soto karena jika di Surabaya umum orang bisa membawa pulang kuah soto tanpa nasi, maka di sini tidak diperkenankan. Harus sebungkus nasi dan seplastik kecil kuah soto yang dijual “paketan”. Nah sotonya ada dua jenis dnegan kuah yang sama. Soto ayam atau soto empal, bukan soto daging ya.

Favorit saya adalah soto empal. Empalnya empuk dan gurih, cukuplah ukurannya untuk disantap bersama semangkuk nasi diguyur kuah soto dengan koya kelapa sangrai. Ini juga salah satu perbedaan antara soto di Surabaya yang mayoritas soto Lamongan. Soto Lamongan koyanya dari kerupuk yang diremukkan, sementara soto Ilham dan soto di Lawang pada umumnya menggunakan koya dari parutan lembut kelapa yang disangrai.

Kuah soto tidak sebening dan sekuning soto Lamongan tetapi cenderung ke kuning keruh kecoklatan. Rasa kemiri cukup menonjol dibanding dengan rasa kunir. Sotonya tidak sesegar soto Lamongan, tapi tidak juga membuat enek. Cita rasanya gurih dan pas nikmatnya.

Lebih enak lagi jika dilengkapi dengan kerupuk udang yang diletakkan dalam stoples kaca jadul. Warung ini memang sangat sempit, mayoritas pembelinya adalah usia lima puluh tahunan ke atas. Bagi saya suasana warung seperti ini membuat saya berada kembali ke dunia anak-anak ketika saya dan Eyang pergi makan di warung bersama. Suasanan yang hangat dan nyaman walau hampir kursi tak bisa diatur berjarak lebar dengan pelanggan warung yang lain.

Seporsi nasi soto dihargai Rp 14.000,- Harga yang jauh di atas warung soto di pasar-pasar di Surabaya. Tetapi cita rasa yang dimiliki sungguh membuat lidah bergoyang dan bagi penikmatnya harga ini masih sangat amat wajar.  Yuk mampir ke Warung Ilham jika berkunjung ke Lawang.Oh ya, warung buka mulai dari sekitar jam enam pagi sampai sekitar jam sembilan.


#BloggerPerempuan
#BPN30DaysChallenge2018

Wednesday, November 28, 2018

5 Fakta Unikku

https://www.apa.org/topics/personality/



Aih, dari semua topik ini yang paling tricky. Saya rasa ini perlu karena postingan yang listicle dan yang seru tentang penulis bisa jadi hal menarik yang tak membosankan. Saya juga ingin tahu fakta tentang Sahabat, maka beri saya link di kolom komentar dan saya akan segera berkunjung ke blog Sahabat. Untuk kali ini kepo adalah hal yang perlu hehehe. Maukah Sahabat mengenal saya lebih lanjut? Silakan baca fun facts berikut ini ya:

INFP (Introvert (I), Intuitive (N), Feeling (F), Perceiving(P).
Dikutip dari www.16personalities.com deskripsi tipe krpribadian ini adalah Kepribadian Mediator adalah idealis sejati, selalu mencari celah kebaikan bahkan pada orang atau kejadian terburuk sekalipun, mencari cara untuk membuatnya menjadi lebih baik. Walaupun mereka mungkin dirasa pendiam, tidak ramah, bahkan pemalu, Mediator memiliki api dan semangat di dalam dada yang benar-benar dapat bersinar.

Tidak seperti tipe kepribadian yang lebih sosial, Mediator akan memfokuskan perhatian mereka hanya kepada beberapa orang, satu aksi bermanfaat – diketahui hanya sedikit orang. Jika mereka tidak berhati-hati, Mediator dapat kehilangan diri dalam petualangan mereka selamanya dan mengabaikan pemeliharan kehidupan sehari-hari. Mediator seringkali terhanyut dalam pikiran yang dalam, menikmati kontemplasi hipotetis dan filosofis lebih dari tipe kepribadian apa pun
Jadi ya, memang betul, saya tidak bersahabat dengan banyak orang, bahkan mungkin tak punya sahabat. Menjaga persahabatan yang sangat amat kuat pun biasa saja. Hanya memang saya merasa saya punya banyak teman yang siap membalas chat saya hehehe.
Saya tidak suka pekerjaan rumah 
Saya orang yang paling tidak rapid an malas mengurus pekerjaan rumah tangga. Alhamdulillah, Allah memberikan saya suami yang serba kebalikan dari saya termasuk urusan rumah. Ia orang yang rapi dan pandai menata rumah. Jadilah menuci baju, ngepel dan menyapu menjadi pekerjaannya. Tetapi saya tetap mengambil alih urusan dapur. Untuk yang satu ini saya tetap berkuasa dan tidak ada keinginan untuk meminta bantuannya.

Anti Horor
Saya paling tidak suka segala sesuatu yang berbau mistis dan horor. Saya tidak pernah nonton film horor di bioskop dan saya menjauhi aneka percakapan yang seram-seram. Oke, kadar keimanan saya memang masih kurang, jadinya saya masih saja takut terhadap hantu, dedemit, dan sebagainya walaupun sudha tahu bahwa derajat saya sebagai manusia jauh lebih tinggi daripada mereka.

Aneka Ide Nol Eksekusi
Saya orang yang punya banyak sekali ide di kepala tapi eksekusinya jauh panggang dari api. Pikiran saya selalu membayangkan akan hal-hal kreatif ini dan itu yang kemudian terkalahkan oleh kemalasan yang luar biasa. Ketidakmampuan untuk mengatur waktu adalah hal yang membuat saya banyak mengabaikan ide yang sudah dipikirkan dengan baik.

Pekerja Sosial
Saya selalu berkeinginan untuk jadi pekerja sosial dan melakukan aneka kegiatan sosial. Lingkungan, kesejahteraan hewan, pendidikan, kesehatan, apa pun saja jika saja saya punya kesempatan maka saya akan dengan senang hati melakukannya. Menurut saya menjadi pekerja sosial walau tak digaji asal ada makanan dan kesehatan yang sudha tertanggung bukanlah suatu masalah. Saya meyakini kekayaan yang sejati itu dari seberapa banyak saya mampu menolong orang, berkontribusi pada masyarakat, dan dari kesenangan hati.
Nah, ii lima fakta tentang saya, maka apa fakta menarik Sahabat? Tulis di blog sahabat dan share link nya ya di kolom komentar di bawah ini. Saya akan dnegan senang hati membacanya.

Satu Bikin Seru, Media Sosial di Sudut Pandangku



https://bit.ly/2Lo9dyV


Sahabat, berapa akun media sosial yang Sahabat punya? Saya punya Instagram saja di gawai saya. Facebook sudah uninstall. Oh satu lagi, saya punya Twitter yang saya pakai untuk mendaftar link atau  ikut serta dalam beberapa kompetisi menulis. Tapi selebihnya hanya punya Instagram menurut saya sudah cukup.

Ah berbicara tentang media sosial itu tak ada habisnya. Banyak episode, banyak drama, banyak problematika, dan banyak manfaat dan juga keburukannya. Episode yang saya maksud adalah seperti halnya telenovela yang trendi di akhir tahun 90-an dan digantikan oleh drama India, kemudian sinetron Indonesia, diputar bertahun-tahun, dan itulah media sosial buat saya. Ada masa ketika Friendster merajalela. Bahasan kuliah tentang akun si ini dan si itu. Tak punya akun ini berarti out of date, kuno, katrok. Maka akun pun saya buat dengan pemanis ini dan itu, tujuannya mendapat banyak teman tapi juga akhirnya banyak hal-hal palsu yang saya buat agar jati diri tak nampak jelas.

Dari Friendster perlahan netter pindah Facebook. Boyongan ini juga jadi episode baru karena kemudian banyak sekali perkembangan Facebook sampai akhirnya saya tinggalkan karena menurut saya tidak lagi asyik, tidak lagi informatif, dan terkesan tua. Sekarang, saya setia pada Instagram. Mungkin karena saya orangnya visual dan malas membaca cerita dengan ribuan kata, maka cukup dibatasi sedikit saja di captionnya, tapi gambar menceritakan seribu makna di dalamnya.

Drama dan problematika yang saya maksud dari media sosial adalah tentang riuhnya pemberitaan tentang politik, selebritis, makan banyak, makanan enak, sampai obrolan dan guyonan seru ojek online. Caci maki, hujat, dan saling tuduh mewarnai drama postingan media sosial. Problem baru, hal yang harusnya informative malah jadi bahan celaan, bahan gunjingan, bahan saling menjatuhkan. Oh kekuatan jari ini sungguh luar biasa.

Inilah keburukan media sosial yang dikontrol oleh mereka yang tidak melek literasi digital. Saya pun jengah dengan hal ini. Karenanya blogging sebagai salah satu media untuk menyuarakan pikiran saya akan saya isi dengan hal-hal yang, semoga, bermanfaat. Lelah kan diri ini ketika jari mulai menggulir di gawai dan yang muncul di linimasa adalah tentang cercaan si A dan si B. Atau pendapat akun tertentu yang dikomentari amat sangat kasar oleh pengikut akun tersebut atau yang sekedar mampir. Betapa memang dosa ini mudah didapat, tanpa perlu bertemu muka tinggal hujat saja. Ih ngeri.
Yuk bermedia sosial yang sehat Sahabat.

#BloggerPerempuan
#BPN30DaysChallenge



Sunday, November 25, 2018

Senggugut

Photo by rawpixel.com from Pexels



Tari meremas sprei kasur yang menghangat karena ditimpa tubuhnya semalam. Keriput sprei mengikuti gerak tubuhnya yang beringsut, mengejang, menggelinjang, diikuti peluh dan kernyitan kedua alis mata dari tengah malam. Matanya terpejam rapat selaras dengan bibirnya yang terkatup. Terkadang bibir jadi korban digigit gigi yang menikuti riuhnya situasi perut.

Di rahim otot-otot saling serang, menegang, mengencang, menjadi-jadi ketika dindingnya meluruh. Pembuluh darah menyerah pada tekanan otot dan memutus suplai darah dan oksigen. Keluar bahan kimia alami bernama prostaglandin yang melahirkan jutaan rasa nyeri. Senggugut.

Tari tetap berada di kasurnya yang tidak lagi nyaman. Semua terasa berat dan menyakitkan. Ia tidak akan masuk kerja hari itu. Tak berdaya ia menunggu sesorang datang dan menerobos masuk kamarnya, mungkin ada yang iba membuatkannya teh panas atau membantunya menegakkan punggung.


#ODOPBatch6
#OneDayOnePost

Macet

sumber: https://cookpad.com/id/resep/4653108-lontong-kikil



Hari ini Dewi tersenyum lebih lebar dari biasanya ketika menyapa Bu Parman tetangganya sebelum berjalan keluar gang menunggu datangnya angkot. Sesekali ia tersenyum kecil, tersipu-sipu dengan masih berdiri bersama calon penumpang lain. Bibirnya dikulum beberapa kali, kebiasaannya sejak kecil jika semua berjalan manis.

30 menit kemudian Dewi sampai di depan SMA nya dulu. Setelah membayar ongkos ia merapikan bajunya dan membetulkan letak tali tas di bahunya. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya, jri tangannya seketika sedingin es, dan tak disadarinya senyum di bibir tetap mengembang.
“Dewi, sorry lama ya tunggu aku?”suara merdu dan sekelebat wangi tubuh membuatnya menoleh. Indra, teman SMA nya datang menghampirinya. Wajahnya tetap sama, air mukanya juga sama, hanya bidang dadanya yang melebar, tegap tubuhnya juga berbeda dari dulu.

“Oh Indra, apa kabar?” Dewi menutupi gejolak hatinya dengan basa-basi bertanya kabar.

“Baik. Ayo Wi langsung aja yuk?” Indra tanpa basa-basi mengajak Dewi menuju ke sisi samping sekolah, jalan kecil dengan jajaran rumah dinas kosong tak berpenghuni dan beberapa waruung kecil di kedua sisi jalan. Pandangan Dewi langsung menuju ke salah satu warung tenda besar yang mungkin bisa menampung lebih dari 50 pembeli. Ia mengikuti Indra dan segera mengambil tempat di salah satu kursi kosong depan laki-laki tua sekitar 75 tahunan yang asyik menyeruput kuah dari mangkuknya sampai berbunyi ramai.

“Pesen seperti biasanya kan WI?”Tanya Indra memastikan.

“Iya.” Dewi menjawab singkat dan kemudian larut dalam obrolan panjang bersama laki-laki yang selalu dikaguminya itu.

Hampir tujuh menit berlalu dan seorang pelayan membawa nampan berisi dua piring lontong dan dua mangkuk sup kikil sapi. Ia dan Indra terdiam dan kemudian kompak mengambil sendok dan garpu di wadah di atas meja. Dewi melihat mangkuknya dengan takjub. Irisan daging berlemak dari bagian kaki sapi berpadu dengan kuah kuning kunyit dan aneka rempah lain. Wangi gurih semerbak menggelontorkan liur dari pangkal leher memenuhi mulutnya.  Bawang goreng yang berenang bebas di atas permukaan sup membuatnya kalap untuk memasukkan tiga sendok penuh sambal dan mengaduk perlahan campuran daging kaki sapi, otot, dan lemak.

Dewi ingat betul dokter memintanya untuk berhenti makan lemak hewani yang gurih tiada tara dari masakan apapun. Kolesterolnya jahat membuat sendi-sendi kehilangan kelicinan ketika saling berpadu. Tapi ini hari khusus. Ada Indra yang mengajaknya bertemu membicarakan desain interior karyanya yang dipesan kantornya minggu lalu, ada juga ajakan menikmati semangkup sup kikil sapi dari Inda pujaannya dulu dan sekarang.

Dewi menyorongkan sendok melewati tumpukan dadu lontong dan sepotong lontong berhasil menempel di sendoknya. Ditanamkan sendok itu pada limpahan daging kaki sapi yang berlemak. Diambilnya potongan yang paling besar ditelannya dengan penuh keyakinan.

Mendadak nafasnya tersengal. Dewi berusaha menelan potogan daging dan mengambil nafas di saat yang bersamaan. Tenggorokannya tercekat. Makin ditelan makin tersiksa. Tangannya dikepal-kepalkan seakan kekuatan menelan terkumpul di situ. Ia menepuk bahu Indra, sambil membuka rahang selebar-lebarnya. Daging kaki sapi macet mandeg di kerongkongannya. Keras menutup rongga kerongkongan.  Hanya di tangan Indra ia berharap ada bantuan.



#ODOPBatch6
#Fiksibebas

Review Cerpen Ketika Kucingmu Pergi Sebentar


Ketika Kucingmu Pergi Sebentar ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia 

Dari sekian banyak cerpen yang ada di lakonhidup, ada satu yang langsung menarik hati saya. Cerpen ini berjudul Ketika Kucingmu Pergi Sebentar. Saya pilih karena saya adalah penyuka kucing, jadi saya berharap akan membaca cerita yang menarik.

Buat saya cerpen ini indah dari susunan kata dan kalimatnya. Penulis yang sudah banyak menerbitkan karyanya tentu punya jam terbang tinggi tetapi isi dan alur certanya biasa saja. Konflik kurang greget. Walaupun sejalan dengan ide awal yang dibangun, tentang apa yang terjadi ketika si kucing pergi, tetapi cerita ini terkesan biasa saja. Untuk cerpen yang diterbitkan di harian besar saya punya ekspektasi lebih.

Cerpen menggambarkan tentang dua orang pedagang pasar yang kenal baik, bahkan sudah seperti saudara yang kemudian saling hajar dan mengakibatkan pasar terbakar karena si kucig menghilang. Salah satu pedagang, Rusli dituduh sengaja menghilangkan kucing liar yang disayang Matondang. Nah, di cerpen ini tidak dijelaskan bagaimana Matondang menyayangi kucingnya. Kucing liar yang tak sengaja tidur di depan lapak milik Rusli diusir, kemudian diterima oleh Matondang. Penulis tidak jelas menggambarkan bagaimana kuatnya ikatan hati antara Matondang dan si kucing yang diberi nama Roro Kendul.

Roro Kendul digambarkan membawa rezeki. Ini pun tak jelas seperti apa kedahsyatan Roro Kendul sehingga kepergiannya layak dibayar dengan adu jotos yang berujung terbakarnya pasar. Bagi saya yang suka kucing, walaupun hanya menawarkan tempat tidur dan makan, saya bisa menggambarkan kesedihan hati saya ketika, misalnya si kucing hilang. Saya juga bisa menceritakan mengapa kucing sangat berharga buat saya. Tapi di cerpen ini tak dijelaskan sedramatis itu.

Rusli juga diceritakan mengusir Roro Kendul ketika pertama kali ditemukan di toko. Tidak diceritakan jika misalnya Rusli punya perangai buruk, suka menyiksa kucing dan lain sebagainya. Jadi saya menyimpulkan Matondang berperangai sangat buruk sehingga mudah emosi ketika tak bisa menemukan Roro Kendul. Tak ada hal istimewa di diri Roro Kendul tapi hanya Matondang yang beringas. Maka kemudian saya jadi bertanya-tanya, lalu apa spesialnya si Roro Kendul ini. Benarkah ia pembawa rezeki dan keberuntungan?

Terbakarnya pasar karena kedua toko milik Rusli dan Matondang yang tetap menyala sampai pagi menjadi penutup cerita yang dramatis. Tapi penambahan drama kebakaran ini buat saya jadi kurang natural. Alur dan jalan ceritanya bagus tapi isi ceritanya kurang menggigit.

Bagaimana pendapat Sahabat, tertarik membaca cerpen ini? Silakan baca dengan klik link disini.



#ReviewCerpenLakonHidup
#ODOPBatch6
#TantanganReviewCerpen


Friday, November 23, 2018

Ayo Bergabung di Blogger Perempuan

sumber: khttps://www.pexels.com/photo/beach-woman-sunrise-silhouette-40192/

Mengapa memilih bergabung di Blogger Perempuan? Mengapa tidak? Sahabat, saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk bergabung di jaringan blogger perempuan yang sudah mampu mendekatkan lebih dari 4000 blogger di seluruh nusantara. Karena itu saya pilih untuk bergabung di sini.

Dunia blog dan IT sebagian besar dikuasai oleh laki-laki. Saya berusaha belajar dan dengan menemukan komunitas ini maka segalanya jadi lebih menyenangkan. Beberapa alasan spesifiknya sih seperti yang berikut ini:
  1. Saya perempuan, dan karena itu saya ingin bergabung dengan komunitas yang berisi perempuan-perempuan yang inspiratif bagi saya. Untuk saya, semua perempuan yang memulai suatu hal sebelum saya adalah inspirator.
  2. Platform Blogger Perempuan mewadahi parablogger untuk saling berbagi pengalaman lewat niche spesifik yang “perempuan banget”.
  3. Saya bisa berkumpul, bertemu, dan belajar dari para blogger perempuan (untuk saat ini saya sudah bersua dengan beberapa lewat medsos, semoga segera terwujud lewat acara kopi darat).
  4. Blogger Perempuan menyediakan pelatihan blogging dan aktivitas yang mendukung blogging baik melalui kegiatan offline dan online.
  5. Blogger Perempuan juga mengajak para anggota untuk bisa berdaya lewat karya-karyanya yang bisa menghasilkan uang.

Beberapa alasan ini membuat saya makin jatuh cinta dengan jaringan blog wanita ini. Semangat membangun antarperempuan adalah suatu hal yang patut dirayakan dan didukung oleh semua perempuan Indonesia.
Terlepas dari alasan di atas, saya ingin membiasakan diri untuk terus menulis dan menulis. Mengikuti tantangan adalah sebuah hal yang hampir menjadi kewajiban bagi saya. Sekali saya berhenti aktif menulis maka sulit untuk memulainya kembali. Karenanya begitu tuntas menyelesaikan satu program tantangan menulis maka saya mencari tantangan berikutnya.
Thanks God I’ve found Blogger Perempuan. Tantangannya keren, komunitasnya kece, dan banyak kejutan lain yang saya temukan setelah mempelajari tentang komunitas top markotop ini.
Jadi, saya mengajak sahabat-sahabat sekalian untuk ikut mendukung tantangan 30 Hari Menulis di Blog oleh Blogger Perempuan. Buktikan jika perempuan bisa jadi blogger keren, setidaknya itu cita-cita saya. Semoga terwujud.  

#BPN30DayChallenge
#BloggerPerempuan

Review Buku : Tommy Si Pengadu dan Cerita-cerita lainnya



dibaca di Ipusnas


Judul Buku          : Tommy Si Pengadu dan cerita-cerita lain
Penulis                 : Enid Blyton
Penerbit              : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan               : Kesatu 1985
Halaman              : 196

Bulan November ini ingin saya isi dengan banyak membaca buku cerita anak. Kangen rasanya mengingat kembali ke masa kecil. Saya sudah beberapa kali menuntaskan buku cerita anak dan banyak pelajaran yang bisa saya tauladani sebagai orang dewasa.

Buku yang saya pilih adalah karya Enid Blyton. Saya acak saja memilih membaca buku ini dari Ipusnas. Dan oh di tengah buku saya baru sadar sepertinya saya mengenal buku ini, seperti sudah membaca sebelumnya. Dan benar saja, saya sudah membacanya ketika saya masih SD dulu. Saya inget cerita “Bila Mainan Marah” dan “Tempat Tidur Berjalan” dari buku ini. Oh betapa luar biasa otak yang dicipta Tuhan, bisa membuat saya mengingat kembali hal yang terjadi puluhan tahun yang lalu.

Buku ini berisi tujuh cerita:

  1. Gara-gara Uangnya Terbang
  2. Terompet Mobil Idaman
  3. Krak!Krak!Krak!
  4. Bila Mainan Marah
  5. Tommy SI Pengadu
  6. Tempat Tidur Berjalan
  7. Binky Si Tukang Pinjam

Tiap cerita memberikan pesan yang sangat berharga bagi pembacanya. Ilustrasinya bagus, khas cerita Eropa, dan kalimat sederhana tapi penuh makna membuat saya yang orang dewasa pun sangat menikmati cerita demi cerita nya.

Beberapa pelajaran yang bisa diambil dari cerita-cerita di buku ini adalah tentang menjadi anak yang aktif yang bisa menghargai alam lebih dari uang (Gara-gara Uangnya Terbang), ini bisa jadi cerita yang sangat mendidik bagi anak-anak kita kelak. Cerita berjudul Terompet Mobil Idaman mengajarkan tentang kerja keras dan ekonomi kreatif loh. Menarik bukan? Krak!Krak!Krak! berpesan tentang menjadi anak yang penurut dan banyak cerita dengan pesan moral yang penting dan aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.

Enid Blyton piawai menggambarkan dunia anak dan bagaimana memberikan pesan pada anak-anak lain di seluruh dunia untuk berbuat baik dan menjadi anak manis. Showing di buku ini juga sangat indah walaupun disampaikan dengan singkat. Buktinya sampai saya membaca buku ini lagi di usia saya sekarang, saya masing mengingat tentang bunga mangkokan. Entah apa imajinasi saya tentang bunga mangkokan sama dengan yang ada di luar negeri tapi kekuatan tulisan sederhana Enid Blyton memberikan memori yang membekas sampai saya dewasa.

Pelajaran lain dari cerita-cerita di buku ini baiknya tidak saya ceritakan di sini. Silakan baca dan nikmati buku ini. Sekali lagi, buku anak tidak melulu cocok dibaca oleh hanya anak-anak. Karena orang dewasa pun bisa belajar banyak darinya.


#TantanganReviewBuku
#ODOPBatch6
#KelasFiksi





Thursday, November 22, 2018

Review Film – The Help

Poster film The Help (kiri) dan parodi poster tersebut (kanan)
sumber: https://bit.ly/2zlVHrf


Film ini teradaptasi dari novel berjudul sama karya Kathryn Stocketts (2009). Film ini berkisah para asisten rumah tangga (the help) Amerika di tahun 1960an. Di masa itu segregasi antara kulit putih dan kulit hitam sangat kental terasa. Para asisten rumah tangga sekaligus pengasuh anak-anak kecil di masa itu pun mengalami diskriminasi dan perilaku rasis dari para majikan. Mereka berangkat kerja dengan bus khusus yang isinya hanya orang kulit hitam, mereka tinggal id perkampungan kulit hitam, dan anak-anak gadis mereka sudah dipersiapkan menjadi asisten rumah tangga, generasi selanjutnya. Sementara itu tuan rumah adalah orang-orang sosialita kulit putih yang lebih tahu tentang cara bersosialisasi daripada mengurus anak. Bahkan mendiamkan anak yang rewel saja mereka tidak tahu caranya, termasuk bagaimana jika si kecil ingin buang air.

Perilaku rasis dari sejawat sosialita ini mendapat tentangan dari Skeeter, seorang gadis cerdas yang bercita-cita menjadi jurnalis dan penulis. Ia awalnya menulis sebuah kolom tentang masalah urusan domestik rumah tangga di koran yang menggajinya. Karena tidak terbiasa mengurus rumah maka ia bertanya pada salah satu asisten rumah tangga yaitu Aibileen. Percakapannya pun dilakukan dengan takut-takut karena kemudian Aibileen diminta untuk bercerita tentang kehidupannya sebagai asisten rumah tangga kulit hitam di rumah kulit putih.

Ia akhirnya mengagkat isu tentang perilaku diskriminasi yang diterima oleh para asisten rumah tangga. Salah satu yang paling saya ingat adalah tentang toiet yang dipisah antara kulit hitam dan kulit putih. Toilet kulit hitam dianggap kotor, penuh dengan kuman, dan bisa menyebarkan penyakit berbahaya. Banyak hal-hal lainnya yang kemudian bisa menjadi sebuah bukti perilaku rasis warga Amerika.

Di tahun itu juga pembunuhan terhadap John F. Kennedy, presiden Amerika Serikat, pembela kesetaraan hak asasi manusia dan kesetaraan kulit hitam dan putih terjadi. Semua orang kulit hitam dipersekusi dan makin ketakutan. Bagi Aibileen, menyuarakan pendapat untuk proyek buku Skeeter sama seperti mengadu nyawa bagi Aibileen dan asisten rumah tangga lainnya.

Adalah seorang pembantu yang bernama Minnie yang merasa terhina karena suatu malam di tengah hujan petir deras ia tak bisa menggunakan toiletnya yang ada di luar rumah. Ia nekad memakai toilet majikan dan kemudian dipecat karenanya. Demi hak dasarnya yaitu persamaan hak menggunakan toilet dan hak-hak lain maka ia mendorong Aibileen dan asisten rumah tangga lain yang lebih dari speuluh orang jumlahnya untuk bersuara lewat buku yang ditulis Skeeter.

Film ini adalah salah satu film yang menjadi box office di peluncuran perdananya. Berbagai penghargaan juga berhasil disabet baik oleh para artisnya. Academy Award untuk aktris wanita terbaik, dan Golden Globe Award untuk artis pendukung wanita terbaik adalah dua dari sekian banyak pengharagaan yang diberikan untuk film ini.

Terlepas dari penghargaan dan popularitas yang disabet, film ini menjadi pengingat akan sejarah kelam bangsa besar seperti Amerika Serikat yang sebenarnya sampai sekarang pun masih berjuang melawan rasisme. Ini juga menjadi catatan bagi saya dan bisa jadi Sahabat semua, untuk belajar tentang kesetaraan hak dan antirasisme.

Bagian paling saya suka di film ini adalah ketika Minnie berganti majikan dan bekerja di kediaman Celia, yang dikucilkan teman-teman kulit putihnya karena ia dianggap sebagai wanita murahan karena menjadi istri dari mantan pacar salah satu kaum sosialita. Celia adalah wanita baik yang tidak rasis dan bersahabat. Ia juga memperlakukan Minnie lebih dari sekedar asisten rumah tangga.

Bagian lain yang saya suka adalah ketika buku yang ditulis Skeeter berhasil terbit dan menjadi best seller. Semua orang membacanya, bahkan para elit sosialita yang kemudian menjadi malu dan saling lempar tudingan, padahal jelas-jelas mereka adalah kaum rasis yang ditulis di buku.

Bagi saya film ini ratingnya 4,5 dari 5. Sangat menghibur, sangat realistis, dan sangat menyenangkan untuk ditonton berkali-kali. Saya berniat menontonnya lagi akhir pekan ini untuke kelima kalinya J



#TantanganReviewFilm
#ODOPBatch6
#OneDayOnePost

The Story Of My Name

https://bit.ly/2qXVSV1



If I'm gonna tell a real story, I’m gonna start with my name.
(Kendrick Lamar)

Mengapa makopako jadi nama blog saya? Ah sebenarnya saya malu untuk menceritakan hal ini karena sifatnya personal sekali dan ya bisa dibilang alay a la  muda-mudi lah. Tapi karena ini adalah bagian dari tantangan #BPN30DaysChallenge2018 maka apadaya, rahasia dapur harus dibuka.
Adalah saya dan suami, yang saat itu masih jadi pacar yang sering mengolok satu sama lain. Olokan romantis penuh candaan yang membuat kami jadi makin mesra ehem ehem. Waktu itu pacar suka tidur. Masa pacaran kami yang berjarak membuat komunikasi hanya lewat pesan WhatsApp. Karena suka tidur, jam 7 malam pun pacar saya sudah tidur, maka kemudian saya juluki si koala. Karena faktanya koala bisa tidur lebih dari 12 jam sehari.

Buatnya, saya pun begitu. Bulat seperti koala yang melingkar di pohon. Maka saya adalah koala kedua. Akhirnya, karena kami sama-sama koala maka pacar jadi papa koala yang disingkat Pako dan saya adalah mama koala yang disingkat Mako. Alay ya? Atau sweet romantic sih sebenarnya? Hahahaha, bagaimana menurut sahabat?

Saya menggunakan nama makopako karena blog awalnya saya tujukan untuk menulis tentang kehidupan pasangan. Saya agak ragu karena toh saya pun masih baru menikah, belum banyak pengalaman berumah tangga. Tapi saya pikir lagi bukankah cerita tentang kehidupan, terutama kehidupan berumah tangga ini punya kekhasan yang bisa jadi tidak sesuai untuk jadi panutan bagi pasangan A tapi sesuai untuk pasangan B. Karenanya kemudian saya menulis tentang pernikahan, mencari cinta, dan seiring dengan terjunnya saya dalam aneka kompetisi menulis, maka kemudian banyak tulisan fiksi yang masuk. Temanya jadi bercampur dan saya putuskan ini adalah lifestyle blog yang masih mengulas hal-hal menarik tentang kehidupan, sesuai untuk yang sudah menikah atau yang belum.

Oh ya, satu lagi, nama makopako menurut saya berima dan mudah diingat. Tidak panjang dan tidak mudah salah ketik, jadi saya rasa sesuai untuk jadi nama blog. Karena bercerita tentang nama adalah hal yang harusnya pertama kali dibahas, dan menunjukkan siapa saya, maka postingan ini juga jadi pengingat untuk membuat konten blog yang berkaitan dengan pemilihan nama itu sendiri.


#BPN30DaysChallenge2018
#Bloggerperempuan

Wednesday, November 21, 2018

Pilih-Pilih Tema Blog Favorit, Makin Dipilih Makin Pusing?


www.pexels.com


Tema blog apa yang paling menarik untuk ditulis? Tema blog apa yang paling disukai?
Sahabat, pernahkah kebingungan untuk menentukan tema yang sesuai dengan passion dan selera pembaca yang akan memperngaruhi ramainya blog kita? Ini adalah hal yang juga saya alami tiap memulai proyek blogging. Bagi saya ini seperti tantangan besar, menulis untuk kesenangan atau menulis untuk mendapatkan uang? Baiknya sih dua-duanya, tentu saja!


Bagi saya yang masih pemula dalam hal professional blogging maka asal bisa menulis dengan konsisten adalah suatu pencapaian besar buat saya. Menulis tak semudah yang dibayangkan, tetapi juga bukan hal yang sulit luar biasa. Asal ada niat pasti ada jalannya, dan bukan hal yang aneh jika kemudian konsistensi ini menguap begitu saja. Masalah utamanya karena manusia punya banyak urusan dan prioritas yang kacau balau membuat acara blogging juga kacau. Karena itu, selagi saya bisa menuliskan banyak hal di kepala saya maka blogging untuk membuat saya disiplin menulis cukup berhasil.


Akhirnya, temanya gado-gado. Dan yang saya tahu jenis tema ini masuk niche lifestyle. Jika bisa mengerucut pada satu saja jenis tema maka ini akan jauh lebih baik. Kembali pada pertanyaan awal, tema blog apa yang paling menarik untuk disukai? Bagi saya menulis tentang pengalaman hidup dan cerita inspiratif adalah tema yang keren. Tapi jika saya ditanya tema blog yang saya sukai, yang tidak perlu saya tulis sendiri, maka jawabannya adalah blog tentang makanan. Oh saya sangat suka makan makanan.

Sering saya berpikir apakah saya harus membuat blog khusus tentang makanan? Apa yang saya tahu tentang makanan? Apakah saya akan menulis resep-resep makanan padahal saya tak jago masak? Atau saya akan menulis review tentang makanan? Ah, kemudian saya tak banyak hunting makanan akhir-akhir ini.

Baiklah, kemudian saya kembali pada niat awal saya, saya ingin menulis dengan baik, konsisten, rajin, dan informatif. Ada banyak cerita hidup yang bisa saya bagi dan karenanya tema blog tentang lifestyle tampaknya yang paling memungkinkan untuk tetap saya pegang. Oke, saya akan mencoba konsisten untuk mennghasilkan tulisan-tulisan bermutu yang masuk dalam tema lifestyle yang tujuannya adalah untuk membagi informasi dan pengalaman dengan para pembaca. 

Apa tema blog favorit Sahabat?




#BPN30dayChallenge
#BloggerPerempuan



Sang Kala

Sumber gambar: https://www.huffingtonpost.com/2013/12/31/time-art_n_4519734.html “Ceritakan padaku apa yang perlu kudengar.” “...